
aku mencoba untuk menahan tangis ini! Lagi? Dengan memegang kepalaku sambil tertunduk mencoba untuk menutupi wajahku yang mulai dibasahi air
"Ali?" Lirih Anya yang memegang bahuku, membuatku terkejut dengan cepat aku mengusap air mataku
"Emh.. Anya! Aku.. Aku.." Ucapanku yang terbata bata
"Katakan padaku Anya! Semuanya! Tentang Naura! Kumohon!" Bujukku dengan nada lirih
"Tidak! Aku tidak bisa! Selama kau masih tidak menyadari kesalahanmu!" Tegas anya yang langsung berlalu
"Kesalahan? Kesalahan apa Anya katakan padaku...!" Lirihku yang sesekali mengacak ngacak rambutku
***
Hari demi hari, aku mengirim bunga untuk Naura dan sesekali memastikan keadaannya yang setiap harinya semakin membaik
Entah apa? Dan bagaimana? Aku menjawab pertanyaan Anya? Sedangkan aku masih tak tau dari mana pertanyaan itu ada sedangkan aku tak benar benar paham apa yang terjadi
Setiap harinya aku berdoa untuk kesembuhan Naura, tak lupa kuselipkan curahan hatiku yang bimbang dalam hal ini
Ya Allah berikanlah aku petunjuk serta kekuatan untuk Naura!
"Ali?" Ucap umi dibalik Pintu kamarku sambil mengetuk pintu
"Ada apa umi?" Jawabku sambil membereskan sajadahku
"Ada temen kamu! Lagi nunggu diruang tamu! Cepet kebawah ya!"
Temen? Aku tak punya janji dengan Alfin? Atau dengan yang lainnya?
"iya umi, Ali ganti baju dulu." Mendengar jawabanku umi langsung berlalu
Setelah aku selesai segera turun kebawah
"Anya?" Kejutku dengan kedatangan Anya yang sedang duduk dikursi, sesegera mungkin aku duduk dengan berhadapan dengannya
"Ali, Maafkan aku yang egois! Tidak melihat cinta kalian, aku terlalu mementingkan prasaan Naura daripada prasaanmu sendiri."
"Aku mengerti an, tidak apa! kau tidak egois kau hanya berusaha membantu Naura dengan caramu."
"Makasih Al udah ngertiin."
"Iya! Anya? Aku ingin kau ceritakan tentang Naura! Aku mohon!"
"Naura? Kamu tidak tau tentang Naura! Yang kamu tau tentang Naura hanya dari luar, kau langsung menyimpulkan bahwa Naura yang telah membuatmu berdosa!" Tegas Anya
"Tidak! Anya aku tidak pernah sedikitpun berpikir seperti itu!"
"Kau pikir Naura tidak mengatakan apa yang kamu katakan padanya? Kau mengirim pesan untuk menjemput Naura ditaman, aku pikir aku akan melihat Naura yang ceria seperti biasanya, tapi.. aku hanya melihat Naura yang lemah hanya air matanya yang menggambarkan betapa kecewanya dia!" Tegas Anya dengan nada geram
"Anya! Tidak seperti itu aku han..."
"Hanya membuat luka dalam hatinya? Dia mencintaimu! Tapi kau buta Al! Kau tidak bisa melihat ketulusan naura." Anya memotong perkataanku dengan nada yang lebih tinggi
"Cukup anya!" Geramku pada Anya yang tak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan
"Cukup? Kau bilang cukup! Sebelum kau mendengar kenyataannya kau bilang cukup?" Anya yang kesal berdiri lalu bersiap untuk pergi, aku yang duduk mengikutinya dari belakang
"Ingat Ali! Jika kau mencintai Naura aku tunggu kau ditaman!" Aku yang hanya berdiri diambang pintu hanya melihat Anya yang berlalu
Cinta? Apa aku mencintainya? Tidak ini bukan cinta ini tentang temanku yang tak ku mengerti, aku akan datang Anya! Tapi bukan sebagai orang yang mencintai naura, aku akan datang sebagai temannya.
***
"Kau datang Ali? Berarti kau mencintai Naura!" Anya yang sedang duduk dikursi yang sudah menunggu kedatanganku
"Aku datang bukan untuk itu! Aku datang untuk temanku Naura! Aku hanya ingin tau apa yang terjadi padanya! Mengapa itu sulit?" Tegasku yang berdiri dihadapan Anya
"Benarkah? Ali aku tidak menyangka kau memiliki sifat kekanak kanakan seperti ini?"
"Aku tidak ingin berdebat denganmu!" Tegasku
"Kau ingin tau? Tentang Naura? Kau ingin tau? Baiklah!" Ucap Anya yang pasrah dengan sikap Ali
***
Naura:
Setiap harinya dikasih bubur, padahal aku tidak sakit, aku hanya luka luar akibat kecelakaan kemaren untunglah Anya.. Eh Anya?
"Bu? Anya dimana?" Tanyaku pada ibu yang sedang menyuapiku dengan bubur itu
"Anya katanya ada urusan nanti sore dia kesini ko." Jawab ibu yang lanjut menyuapiku
Mungkin dia dikampus untuk menyelesaikan pekerjaan yang kutinggalkan beberapa hari yang lalu, oh sungguh malang engkau Anya, hihi
Ah iya seketika aku ingat bagaimana pekerjaanku yang kulewatkan padahal ini salah satu ibadahku yang pertama tapi aku tidak bisa melihatnya langsung
"Sayang? Kamu kenapa melamun terus?" Tanya ibu yang menaruh mangkuk keatas meja
"Itu Bu! Tentang poster Naura."
"Ah iya ya? Bagaimana dengan beramalnya berjalan lancar?" Tanya ibu dengan membelai rambutku yang terurai
"Itu dia Bu, udah banyak yang berpartisipasi tapi Naura malah sakit sedangkan besok adalah hari pemberian amal pada anak panti bu, padahal naura pengen banget bisa ketemu anak panti."
"Yaudah gini aja! Nanti kalo kamu sembuh ibu, papah, dan Fatimah. Kita ke panti asuhan untuk beramal yah!" Ajak ibu dengan lembut
"Benarkah Bu? Naura ingin cepet sembuh Bu!" Ceriaku dengan dibalut hangatnya pelukan dari ibu
***
Keesokan harinya aku sudah membaik, aku rindu udara segar dan kegiatanku saat aku sehat
"Bu! Hari ini Naura mau kerumah temen Naura ya?" Bujukku pada ibu yang sedang duduk bersama Fatimah
"Kami baru kemarin keluar dari rumah sakit ko mau pergi aja?" Ketus ibu
"Maaf bu! Ini kan penting banget Bu, kumohon!" Aku mengeluarkan bujukan dengan wajah memelas ku, tentunya ibu terpaksa mengiyakan perkataan ku
Tidak tunggu lama aku langsung menuju Cafe yang sudah ditentukan oleh temanku
"Subhanallah Naura? Kamu Naura?" Tanya temanku yang langsung menyambutku saat pertama kali aku menginjakkan kakiku
"Assalamualaikum! Layla." Salamku pada temanku, diiringi senyuman
"Astaghfirullah! Waalaikumsalam. Maaf aku pangling banget lihat kamu yang bercadar." Nada nya yang gemas membuatku terkekeh ketawa
"Aku serius." Sambungnya dengan merangkul tubuhku dan menyuruhku untuk duduk
"Oke! Kamu disini sama siapa ko aku gak tau? Kamu ada disini."
"Aku membuka usaha disini! Ini cafeku, sebenernya udah lama buka usaha disini tapi kau tau aku sibuk kuliah di London."
"Aku ngerti ko, jadi sekarang tinggal dijakarta?"
"Yap! Dan kita bakalan ke pengajian bareng trus beli buku bareng!" Ucap Layla yang diakhiri tawa kecil
"Tentunya! Gak kaya dulu kamu ke mesjid aku melongo aja ditaman nunggu kau sudah ngaji." Timbalku dengan melempar gelak tawa
"Ah iya aku ingat saat kau sangat bt nungguin aku, aku langsung membujukmu dengan bilang..."
"Yuk kita ketoko buku!" Jawabku dengan diakhiri tawa kecil
***
Sejak saat itu aku dan Layla sering bersama menuntut ilmu di pengajian, saring kali kami juga mengaji dan melakukan ibadah yang lainnya
"Nana? Kamu gak kuliah?" Tanya Layla yang sedang berjalan kaki bersamaku sehabis dari pengajian
"Enggak tiap hari Jum'at mata pelajaranku kosong ko, Mau ke toko buku?"
"Boleh tuh." Jawabnya dengan mengikutiku ke sebrang
Kubuka pintu toko buku tersebut, tidak lupa kuucapkan salam bersamaan dengan Layla
Bersambung...
Author:
Hay Readers author gak bakaln bosen buat ingetin kalian ya supaya dukung author! jangan lupa like, rate, dan vote nya ya!
Dukung Author!