
Setelah Naura dan Reval mandi mereka langsung menuju meja makan yang sudah bersiap dengan masakan Shifa yang enak, apalagi Naura menyukai salah satu masakan Shifa yaitu Semur cumi-cumi
Naura, aku hanya ingin melihat mu bahagia. Jika aku benar-benar harus merelakan mu dengan pria lain, tidak apa! Tapi aku harus tau pria macam apa yang kau pilih. Coleteh benak Reval yang memandangi Naura yang sedang makan dengan lahap
Setelah mereka usai makan Naura berbincang bincang dengan Shifa ditaman belakang, Reval hanya terdiam didepan jendela kamarnya
Seseorang berjalan dari luar pintu kamar, membuka kenop perlahan dan mulai menghampiri Reval yang hanya memandang jendela kamarnya
"Reval!" Teriak Naura yang mengejutkan Reval sambil memegang pundaknya
"Naura? Peluk aku sebentar saja!" Lirihnya yang langsung membalikkan badan dan memeluk Naura dengan lembut
Naura yang tenggelam dalam dada Reval merasa heran dengan sikap Reval yang menjadi lembut
"Ada apa!" Lirih Naura dengan suara yang tidak jelas
Reval tidak berkutik dengan apa yang Naura ucapkan dia memeluk Naura dengan lembut sambil memejamkan matanya
Perlahan Reval melepaskan pelukannya dan memegang pipinya Naura
"Hey, Ada apa? Apa kau demam? Tidak panas, lalu kenapa?" Tanya Naura yang sesekali menaruh tangannya dikening Reval
"Pertemukan aku dengan pria pilihanmu!" Pinta Reval pada Naura yang tepat didepannya
"Baiklah! Malam ini kita akan kerumah Anya, Bersiaplah!" Jawab Naura yang langsung berlalu meninggalkan kamar Reval
"Entah aku akan bisa merelakanmu atau tidak." Lirih Reval yang memandangi bayangan Naura yang mulai menghilang
***
Setelah aku bersiap, aku langsung menuruni tangga menuju Reval yang sedang duduk bersama Fatimah
MasyaAllah mereka Manis sekali!
"Hey ayo kita pergi!" Ucapku yang berdiri dihadapan Reval
"Baiklah!" Jawab Reval dengan singkat yang beranjak dari tempat duduknya dan berlalu
"Fatimah sayang, ibu kan lagi mandi. Nanti tolong beritahu ibu kalo Ka Nana sama ka Reval pergi ke apartemen ka Anya!" Lembutku yang membelai pipi kanan Fatimah, Anggukan lucu yang Fatimah berikan sebagai jawaban
"Baiklah, Assalamualaikum." Ucapku yang langsung berlalu pergi menuju Reval yang sudah siap dihalaman
Kamipun melaju menuju apartemen yang disinggahi Anya, sesampainya kami disana aku langsung mengetuk pintu Anya
"Assalamualaikum!" Ucap ku dengan sedikit tak sabar sekaligus gembira
"Waalaikumsalam, siapa?" Sahut Anya yang terdengar sedang tidak dekat pintu
"Seseorang!" Jawabku dengan kecicikan menahan tawa
"Dasar jahil." Bisik Reval yang bersandar didekat pintu kamar Anya
"Siapa sih!" Ketus Anya yang langsung membuka pintu, betapa terkejutnya Anya melihat Naura yang berdiri didepannya
"Naura!" Teriak Anya seakan tak percaya sekaligus gembira, dengan refleks Anya memeluk Naura dengan erat
"Dasar cewek! Terlalu berlebihan!" Bisik Reval dengan mata memalas
"Diam kau! Kau pikir aku tidak mendengarnya?" Tegasku dengan mata yang mengisyaratkan agar Reval menjaga mulut nya
"Eh Naura siapa dia?" Tanya anya yang diacuhkan oleh Reval
"Dia orang menyebalkan, ayok aku mau masuk!" Ucapku yang langsung nyelonong masuk
Anya hanya menyungging senyum di bibirnya dan membuntuti Naura yang masuk lalu duduk di sofa. Lalu Anya langsung mengambil beberapa cemilan dan minuman untuk disuguhkan
"Apa kau tidak mau masuk?" Teriakku yang kemudian Reval muncul dari ambang pintu dan menyusul ku untuk duduk di sofa
"Jangan buat wajah yang seperti itu!" Ketusku pada Reval yang dingin sekaligus seperti orang yang tidak bernyawa
"Apa? Aku begini salah! Begitu salah juga!" Timbal Reval yang membela dirinya dengan nada dingin
"Seharusnya aku tidak ke Indonesia, sebaiknya aku ke New York saja!" Bisik Reval dengan nada ketus
"Hey! Aku mendengar itu!" Tegas Naura yang mulai kesal dengan sikap Reval yang tidak bersahabat seperti biasanya
Reval hanya terdiam dengan keadaan sifat dinginnya, lalu Anya kembali dan menyajikan beberapa makanan ringan dan minuman nya
"Anya, kau tau. Aku ingin sekali bercerita banyak kepadamu!" Ucapku dengan senyuman
"Kurasa akupun seperti itu!" Jawab Anya
Disitu kami mulai bertukar cerita, tentang apa yang sudah terjadi selama dua tahun terakhir ini.
Aku tidak pernah menyangka hal itu bisa terjadi! ternyata serumit ini? Ya Allah berikanlah ketabahan bagiku untuk menghadapi semua ini...
"Anya, pertemukan aku dengan Ali!" Pintaku pada Anya yang berdiri membelakangiku
"Aku bisa mengatur hal itu, tapi apa kau bisa menyiratkan prasaanmu?" Jawab Anya yang langsung memandangku
"Insyaallah aku bisa, Anya!" Tegasku yang meyakinkan Anya
"Besok pukul 08:30 am kita bertemu di Lestoran!" Ujar Anya dengan memegang pipiku
"Kenapa?" Tanyaku yang terheran dengan sikap Reval
"Kau akan mengerti! Baiklah, Aku akan menunggumu dibawah!" Ujar Reval yang berlalu pergi tanpa sapa pada Anya
Dasar tidak sopan! disini ada orang tapi tak mengucapkan salam atau sapa! malah nyelonong pergi...
"Naura, Apa kau masih mencintai Ali?" Mataku terbelalak sesaat aku menundukkan kepalaku
"Sungguh prasaanku tidak bisa disembunyikan! Akan tetapi jika ini yang terbaik aku rela bila harus melepaskan Ali demi Yuli! Sungguh aku seperti orang ketiga diantara mereka!" Lirihku yang melepaskan tetesan air yang menetes membasahi pipiku
"Naura, maafkan aku yang tidak bisa mencegah semuanya terjadi!" Ucap Anya yang penuh dengan penyesalan
"Aku memang seharusnya tidak masuk dalam kisah cinta mereka! Aku yang bersalah karena harus memaksakan cintaku padanya!" Aku mendongak kan kepalaku
Semuanya berakhir... penantianku selama ini hanya membuahkan hasil yang pahit. mengapa harus seperti ini?
"Naura?" Lirih Anya yang berusaha menguatkanku dengan pelukan lembutnya
***
Naura berjalan menghampiri mobil Reval yang terparkir
"Ada apa denganmu?" Ucap Reval yang menghampiri Naura yang sedang berjalan dengan tatapan kosong dan hampa
Tak satupun pertanyaan yang Naura jawab, dia hanya berdiam memandangi jendela mobil dengan tatapan hampa
"Val, besok aku ingin pergi ke Bali!" Ucap Naura tanpa ekspresi ataupun emosi dalam ucapannya
Ini hal baik untuk Reval, seakan dia memiliki kesempatan untuk bersama Naura dan mengambil hatinya. Namun disisi lain dalam lubuk hatinya Reval juga merasakan kesedihan Naura Yang dalam
Sungguh Naura, aku bahagia bisa bersamamu. Tapi disisi lain aku tidak mengharapkan kejadian seperti ini, bersamamu dalam keadaan seperti ini. Benak Reval
"Aku akan membereskan semuanya!" Jawab Reval yang sedang menyetir mobil
***
Naura terdiam dibalkon dengan air mata yang perlahan menetes di pipinya, Reval seakan yang berdiri diambang pintu mencoba mengumpulkan niat untuk bertanya pada Naura
Perlahan Reval menghampiri Naura, entah sebagai sahabat atau sebagai tunangan yang bahagia atas kabar itu
"Aku datang sebagai sahabat!" Ucap Reval yang berdiri didekat Naura yang menatap langit hitam tanpa bintang maupun bulan
"Mengapa kamu harus cepat mengambil keputusan yang akan menyakitimu?" Tanya Reval dengan memandang wajah Naura yang menyembunyikan kepedihan yang dia rasakan
"Kau tidak perlu menjadi sahabatku untuk saat ini, jadilah tunangan yang baik!" Pinta Naura yang langsung bersiap untuk tidur
***
Keesokan harinya seperti apa yang mereka rencanakan, tapi kali ini Reval ikut bersama Naura
Sesampainya Naura di Lestoran, Naura langsung menuju meja yang disinggahi Anya dan Ali
"Assalamualaikum." salam Naura pada mereka yang sedang asik berbincang
"Waalaikumsalam, Naura!" Jawab Ali dengan senyuman yang tersungging dibibir nya
Naura yang berdiri dipersilahkan untuk duduk disebelah Anya
"Apa kabarmu Naura?" Sapa Ali dengan senyuman
"Aku baik!" Ucap Naura dengan dingin dan tidak memandang Ali sedikit pun
"Alhamdulillah, emh ini pasti Reval?" Sapa Ali yang mengulurkan tangannya pada Reval
"Reval, senang berkenalan dengan mu!" Jawab Reval
"Baiklah, sampai jumpa. Assalamualaikum!" Jawab Naura dengan cepat
"Naura? Kenapa pergi?" Cegah Anya yang memegang tangan Naura yang beranjak dari tempat duduknya
"Aku harus pergi, dari kehidupan kalian! Itu yang terbaik!" Tegas Naura yang langsung berlalu pergi
"Apa yang kau lihat? Kejar dia Ali!" Perintah Anya dengan tegas pada Ali yang terkesima
"Naura tunggu!" Teriak Naura yang berlari menghampiri Naura dan Reval
"Naura! Bukankah kamu sudah tau apa yang terjadi? Kenapa kau ingin pergi?" Ucap Ali dengan terengah engah
"Ali, maafkanlah aku yang terlambat ini, tapi semua sudah berakhir kamu menikahlah dengan nya, tolong maafkan aku yang terlambat!" Naura yang dingin berubah dengan Naura yang penuh dengan senyuman
"Tidak Naura! Jangan seperti ini." Lirih Ali pada Naura yang berdiri didepannya
"Reval, ayo pergi!" Pinta Naura dengan tegas
***
*Kutipan*
Jika aku harus merelakanmu, aku ikhlas asalkan kamu bahagia bersamanya.
Dan aku harus pergi, agar engkau bersamanya tanpa harus ada keraguan.