
Pagi pun datang, Zeta yang terbiasa bangun pagi itu sudah bersiap-siap untuk turun ke lantai bawah setelah membersihkan diri nya, segera untuk melakukan aktifitasnya.
Tak terasa hari-hari berlalu begitu cepat, sudah hampir 2 bulan aku berada disini. Zeta membatin sambil Berjalan menuju dapur.
“ Selamat pagi Nona. ” sapa siapapun yang berpapasan dengan nya.
“ Pagi juga. ” jawab Zeta sambil tersenyum.
Zeta sudah sampai di dapur, membuka kulkas mencari bahan makanan untuk membuat sarapan. Disana juga ada Koki profesional dan ada beberapa maid yang selalu siap siaga untuk membantunya. Para penghuni mansion ini sudah hafal akan kebiasaan Nona Muda nya itu, walaupun banyak yang bekerja di mansion ini tapi Zeta tidak mau bergantung pada siapapun dan untuk makanan Alan dia yang akan membuat dan Koki hanya menambahkan masakan yang tidak bisa dibuat Zeta, itu sudah berlangsung selama Zeta berada di mansion ini. Terkadang para pekerja Alan sampai tidak enak kepada tuan nya karna Zeta masih sibuk capek capek berkutat dengan masakan padahal mereka ada untuk melakukan itu tapi mau bagaimana lagi kalau sudah Nona Muda nya bersikeras.
“ Nona hari ini mau membuat apa? ” tanya Kepala Koki. Seiring berjalannya waktu satu sama lain sudah bisa beradaptasi dan mengakrabkan diri.
“ emmmm... apa yaa!! ” jawab Zeta sambil tersenyum karna dia masih bingung.
“ Mungkin Kari Ayam saja. ” ucap Zeta menatap Kepala Koki dan beranjak mengambil celemek.
“ Baik Nona, saya akan membantu menyiapkan bahannya. ” Kepala Koki menjawab dengan tersenyum sambil beranjak Membuka kulkas mencari bahan untuk membuat Kari Ayam.
Zeta sendiri sudah memakai costum dapurnya dengan menggunakan clemek, mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Mulai meracik bumbu-bumbu membuat Kari Ayam.
Satu jam semua makanan untuk sarapan pagi sudah tertata rapi di meja makan, masakan pembuka, menu utama, makanan penutup, Kopi untuk Alan juga. Zeta berjalan kembali ke dapur melepas clemek yang melekat pada tubuhnya kemudian berpamitan kembali ke atas untuk membersihkan diri serta membangunkan Alan.
Sesampainya di kamar, Zeta segera berjalan ke walk in closet di kamar Alan menyiapkan baju kerja Alan, itu sudah menjadi rutinitas Zeta sejak sebulan yang lalu.
“ Baju kerja sudah, sarapan juga sudah, tinggal orangnya yang belum bangun. “ Zeta bermonolog dengan dirinya sendiri, beranjak menuju ranjang Alan untuk membangunkannya.
“ Alan. ” Zeta mencoba membangunkan Alan dengan pelan supaya dia tidak terkejut.
“ Al... bangun udah pagi. ” ucap Zeta mencoba membangunkan Alan lagi.
“ hmm. ” Alan cuma menggeliat di dalam selimutnya.
“ Alan ayoooo bangun. ” Zeta sudah menaikkan nada suaranya 1 oktaf dan menarik selimut Alan.
“ bentar ... dikit lagi. ” Alan Menjawab dengan suara serak khas bangun tidurnya.
“ Sudah sebentar ini,, ayooo bangun. ” Ditariknya tangan Alan supaya dia membuka matanya.
“ iyhaa.. ” jawab Alan sambil mendudukkan tubuhnya tapi masih memejamkan matanya.
“ Morning Kiss honey. ” ucap Alan sambil menguap.
“ No. ” jawab Zeta.
Ya Semakin hari mereka semakin dekat, Alan juga sudah terang-terangan menunjukkan perhatiannya tapi dia juga masih memantapkan hatinya bahwa rasa yang ia rasakan bukan rasa sesaat.
Ketika mendengar penolakan Zeta, Alan jadi malas bangun, ia menjatuhkan diri lagi dikasur dan menarik lagi selimut tebalnya.
“ Heyyy ayooo bangun, jangan tidur lagi. ” Zeta bersungut sungut karna Alan malah bergelut dengan selimutnya lagi.
“ No. ” suara Alan dari balik selimutnya.
“ Morning Kiss Honey, kalau tidak yaa sudah aku akan tidur lagi. ” ucap Alan sambil membuka selimut sampai lehernya.
“ Ayoooo bangun... tidak ada morning kiss kamu bau tau. ” jawab Zeta sambil menarik tangan Alan.
Dan drama ini berlangsung setiap hari. Setelah 30 menit drama bangun tidur versi Alan selesai. Setelah bersiap siap mereka turun untuk sarapan bersama. Selanjutnya Alan sudah berangkat ke kantor.
* * *
Hari - hari Zeta di isi dengan bersantai di mansion, capek dirumah dia akan ke luar rumah entah ke kantor Alan atau berjalan jalan kemana pun yang penting tidak membuatnya bosan.
Zeta duduk di sofa teras samping yang menghadap ke kolam renang, menerawang jauh ke depan.
“ Sudah selama ini aku disini tapi sepertinya Alan tidak ingin membicarakan masalah itu, sebenarnya semua ini bagaimana sich. ” Batin Zeta, iya Zeta masih terus mengingat kalimat yang diucapkan Anak kecil yang menyebutkan Alan sebagai Papa nya, tapi Zeta enggan ikut campur kalau memang Alan belum ingin bercerita.
“ Nona Muda... Nona. ” Nina dan juga Risa terus memanggil Zeta karna Mereka melihat Zeta melamun menatap ke depan dengan pandangan kosong.
“ Hehhh ” Zeta tersadar dari lamunannya dan menatap Nina dan Risa bergantian dengan raut wajah bingung.
“ Nona kenapa? ” Tanya Risa.
“ em,, aku tak apa kak. ” jawab Zeta setenang mungkin supaya mereka tidak khawatir.
“ Aku bosan sekali. ” ucap Zeta sambil menoleh ke arah mereka bergantian.
“ Nona ingin jalan-jalan ? ” Tanya Jeff yang tiba - tiba sudah berada diantara mereka.
Zeta menimang - nimang ide jeff.
“ Ide yang tidak buruk. ” ungkap Zeta dengan melihat Jeff.
“ Baiklah saya akan mempersiapkan segalanya. ” ucap Jeff berlalu setelah memberikan hormat.
“ oke. ” jawab Zeta dengan mengacungkan jempolnya. Setelahnya dia juga berlalu ke kamarnya untuk bersiap - siap.
Tiga puluh menit berlalu mereka gunakan untuk bersiap-siap pergi. Sekarang Zeta sudah berada di mobil nya di supiri jeff dan di samping Jeff ada Risa yang selalu mengawalnya juga ketika kemana mana.
“ Ke Mall dulu mungkin yaa, aku ingin membelikan sesuatu untuk Alan. ” batin Zeta.
“ Jeff. ” panggil Zeta.
“ Iya Nona. ” jawab Jeff dari balik kemudi sambil melirik kaca spion yang terlihat Zeta dibelakangnya.
“ Kita Ke Mall dulu yaa, aku ingin cari sesuatu untuk Alan. ” ucap Zeta dengan tersenyum.
Jeff tersenyum balik yang terlihat juga dari spion, “ Nona ingin membelikan hadiah untuk King ? ”
“ Tidak hadiah hanya ingin saja tidak ada rangka apapun. ” Zeta menjawab dengan tersenyum kikuk agak malu.
“ Baiklah Nona kita menuju ke Mall sekarang. ” pungkas jeff lalu membelokkan mobilnya menuju ke arah Mall terdekat.
Lima belas menit kemudian mereka sudah berada di basement Mall, “ Kita sudah sampai Nona. ”
“ Jeff bolehkah aku minta tolong. ” Zeta berucap sebelum keluar mobil.
“ Sebisa mungkin saya usahakan Nona. ” ucap Jeff.
“ Tolong jaga jarak agak jauh yaa supaya tidak menimbulkan keramaian. ” Ucap Zeta.
“ Baik Nona saya akan berada di luar radius 5 meter, tapi Risa akan tetap bersama anda tentunya. ” jawab Jeff.
“ Baiklah. ” Zeta berucap sambil turun dari mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Risa.
Mereka berkeliling mencari barang untuk Alan, Zeta sendiri bingung mau membeli apa karna Alan sudah mempunyai segalanya. Sudah Satu jam berlalu tapi belum dapat apa-apa.
Dasi.
Zeta akhirnya memutuskan akan membelikan Dasi saja yang setiap hari akan dipakai untuk Alan.
Mereka masuk ke store yang menjual berbagai aksesoris yang didalam nya juga menjual dasi kualitas premium.
“ Saya ingin Dasi mbak. ” jawab Zeta.
“ Mari sebelah sana. ” tunjuk karyawan tersebut dan membimbing Zeta menuju deretan Dasi - dasi yang masih terbungkus rapi.
Zeta memilih - milih dasi yang bagus, dia berencana membeli 3 buah yang bagus- bagus untuk Alan, ketika sudah mendapatkan 3 buah dasi yang dianggapnya paling bagus dia beranjak ke meja kasir mengantri untuk membayar belanjaannya ditemani Risa.
“ Berapa mbak? ” tanya Zeta pada pelayan kasir.
“ Semua lim.... ” Belum selesai pelayan kasir itu menjawab pertanyaan Zeta ada seorang gadis cantik sekali menyerobot Zeta dengan mendorong Zeta sampai dia terhuyung kesamping.
“ Heyy ngantri dongg...” Bentak Risa pada gadis itu.
“ Nona anda tidak apa - apa kan ? ” tanya Risa pada Zeta dengan khawatir.
“ Aku tak apa kak, sudah tidak apa biarkan mbak itu duluan. ” ucap Zeta untuk menenangkan Risa yang ia tau sudah menahan emosinya karna gadis itu mendorongnya.
“ Tidak bisa Nona. ” ucap Risa sudah berjalan ke kasir dan menarik gadis itu menuju Zeta untuk minta maaf pada Nonanya.
“ Heyyyyy Lepaskan tanganmu. ” Teriak gadis itu. Tapi Risa tak mau melepaskannya dan trus menariknya Sampai di depan Zeta.
“ Minta maaf pada Nona ku, cepattt. ” Bentak Risa pada gadis itu.
“ Kak sudah lah jangan diperpanjang aku tak apa, lepaskan dia kak. ” ucap Zeta panik karna mereka sudah menjadi pusat perhatian.
Risa mendorong gadis itu ke depan Zeta, “Cepat minta Maaf sekarang. ”
“ Kak aku tak apa. ” ucap Zeta menenangkan Risa.
“ Tidak Nona, dia sudah kurang ajar apalagi dia sudah mendorong kalau sampai Nona terjatuh bagaimana, saya harus bilang apa pad.. ” ucapan Risa terpotong tak kala gadis itu malah balik marah menatap mereka.
“ Heyyy kau buta yaa dia tidak apa-apa kenapa kau repot Sekali. ” sungut gadis itu menatap Risa.
“ Cepat minta maaf kalau tidak kau akan menyesal telah menyentuh Nona kami. ” Bentak Risa pada gadis itu.
“ Tidak Mau,,, aku tidak salah. Kau yang akan menyesal telah cari masalah dengan ku.” Gadis itu membentak balik ke arah Risa.
Adu mulut pun tak terelakkan lagi antara gadis itu dan Risa.
“ Kak sudah lah malu dilihat banyak orang. ” seru Zeta.
“ Nona maaf kan kami, silahkan lanjutkan belanjanya. ” ucap Zeta menatap gadis itu.
Mereka masih adu mulut, saling dorong dari kejauhan Jeff dan para bodyguardnya ingin mendekat, dan di detik yang sama Zeta melihat gadis itu ingin memukul Risa, secepat kilat Zeta berdiri di depan Risa untuk melindunginya.
Plakk...
Bugh, setelah mendapatkan tamparan yang begitu kuat Zeta terhuyung dan kepalanya menghantam meja sebelah kasir dan tak sadarkan diri.
“ Nonaaaaaaa. ” Teriak Risa.
“ Rasain kamu. ” gadis itu berucap sambil tersenyum.
Risa berlari menghampiri Nona nya yang sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri, Setelah memangku kepala Zeta, Risa menoleh ke arah pintu masuk disana dia melihat Jeff berlari ke arah mereka spontan dia berteriak, “ Jefffffff cepat . ”
Jeff dan bodyguard lainnya segera berlari sekencang mungkin menghampiri mereka sesampainya disana mereka syok Nona Muda nya sudah tergeletak tak sadarkan diri.
“ Jeff cepattt tolong Nona. ” Teriak Risa.
“ Ada apa ini. ” tanya Jeff pada Risa.
Risa menunjuk gadis yang berdiri tak jauh dari mereka dengan senyum puas, “ Dia memukul Nona. ”
“ Apa!! ” Jeff syok lalu menatap gadis itu.
“ Tangkap dia jangan biarkan dia lolos. ” Titah jeff tegas dan para bodyguardnya segera menyergapnya.
bip..bip..bip..bip..bip, di waktu yang bersamaan Handphone Zeta berdering Risa dan Jeff saling pandang, raut wajah mereka ketakutan tapi tak urung mencari keberadaan handphone itu.
Setelah ketemu, Risa yang memegang handphone itu ketakutan melihat nama yang tertera di layar.
Prince Al calling.....
“ Bagaimana ini Jeff, King menelpon Nona. ” Risa panik.
“ Heyyy lepaskan akuu berengsek, kalian akan menyesal telah memperlakukan aku seperti ini. ” Teriak gadis itu.
Jeff merebut handphone itu, menghela nafas panjang dan menggeser tombol hijau.
“ Honey, kenapa lama sekali sich jawabnya. ” sapa Alan diseberang line telpon.
“ Maaf King ini Jeff. ” jawab Jeff mencoba untuk tenang padahal dia tau akan kemungkinan selanjutnya.
“ Kenapa kau yang jawab dimana Nona Muda. ” Tanya Alan.
Jefri masih diam belum bisa menemukan alasan yang tepat.
“ Jefffff jawabbbb dimana Nona. ” Bentak Alan.
“ Nona pingsan King. ” ucap jeff pelan.
“ Apaaaaa. ”
.
.
..
.
.
.
.
.
.TBC
# Hay aku baru muncul maaf baru bisa up karna di bulan puasa banyak kegiatan..harap maklum yaa😊
# semoga kita semua selalu dalam lindungan tuhan.
# Salam sayenkk
#Vhiey vee😘😘😘