KING AL 'S

KING AL 'S
Perhatian



Ketika Alan menyuapinya, Pikiran Zeta sudah melayang entah kemana. Zeta sendiri tidak yakin tidak akan terjadi apapun setelah ini.


Zeta mengunyah sayuran itu, perutnya seakan di aduk-aduk ditambah lagi lintasan lintasan yang berlalu lalang di otak nya menambah parah keadaan. Masih berusaha menelan nya dengan susah payah, akan tetapi ketika akan tertelan, perutnya semakin menjadi tak karuan dan benar saja semua kembali lagi tidak jadi tertelan.


“ Huek.. heukk.., ” makanan itu ingin kembali keluar lagi.


Zeta membekap mulutnya sendiri supaya tidak muntah di meja makan, beranjak dari tempat duduk berlari menuju lift.


“ Tidak,,, naik pun aku tak kan bisa menunggu lama. ” batin Zeta.


“ Zee. ” Teriak Alan kala melihat Zeta berlari meninggalkan meja makan.


Zeta pun berbalik arah tidak jadi naik lift, berlari kesana kemari dengan membekap mulutnya sendiri, semua orang jadi ribut karna ketika mereka bertanya dia tidak mau menjawab.


“ aaaaaaa, dimana kamar mandinya sich ini rumah atau apa sich ... aku sudah tidak tahan ingin muntah. ” jerit batin Zeta.


“ Zee, mau kemana. ” Alan berteriak mengikuti Zeta berlari kesana kemari seakan mencari sesuatu, tapi yang ditanya sama sekali tidak menghiraukannya.


Terlintas di benak Zeta, “ yaaa dapurr kesana saja disana ada wastafel, aku tak tahannn. ”


Zeta berlari ke arah dapur karna tak bisa menemukan dimana kamar mandi yang ada di lantai bawah, karna tergesa-gesa dia tak sengaja menabraki orang - orang yang berada di sekitar situ.


“ itu diaa wastafel. ” Suara hati Zeta.


“ Razetaaaaa. ” Teriak Alan yang masih terus mengikuti Zeta berlari dan menuju dapur.


“ Hoek.. hoekkk.. hoekkk..., ” Zeta memuntahkan semua makanan yang baru saja dimakannya di wastafel yang ada di dapur.


Alan terkejut melihat Zeta memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya, segera dia berlari mendekat. Setelah sampai di samping Zeta di peganginya rambut panjang Zeta supaya tidak terkena muntahan, dan juga memijit tengkuk leher belakang Zeta supaya lebih membaik.


“ Uhuk.. uhukk.., ” Zeta terbatuk batuk karna tenggorokannya terasa sangat tidak nyaman.


“ Hoekk....hoekkk..., ” Dah keluar semua makanan di dalam perutnya.


“ Zee are you okeyyy? ” tanya Alan dengan kwatir Karna melihat Zeta muntah terus.


Badan Zeta sudah lemas, diraih nya tisu yang di ambilkan maid yang ditaruh disebelahnya untuk membersihkan mulutnya.


Chef yang memasak, masakan itu pun jadi gelisah karna masakannya Nona Muda nya menjadi muntah-muntah.


“ Zee, sudah baikan. “ tanya Alan dengan memegang pundak Zeta dari belakang dan mengusap peluh di dahi Zeta dengan tisu.


“ Aku tak apa. ” Zeta menjawab dengan suara lirih Karna badannya jadi lemas.


Alan menyandarkan tubuh Zeta yang sudah lemas di dadanya, terus mengusapi peluh yang membanjiri dahi gadis itu.


“ Kamu kenapa? ” tanya Alan.


“ Aku sudah katakan kan aku tak mau tadi tapi kau memaksa. ” Zeta menggerutu dalam hati.


Zeta menggelengkan kepalanya yang masih berada pada dada bidang Alan memunggunginya.


“ Kenapa, apa karna salad sayur tadi? ” tanya Alan lagi.


“ Itu mentah. ” jawab Zeta lirih.


“ Memang dia mentah Zee, proses penyajiannya memang begitu. ” ucap Alan dengan suara lembutnya.


“ Itu Aneh. ” suara Zeta semakin lirih seakan tertelan oleh angin.


Alan mengernyitkan dahi bingung dengan perkataan Zeta, “ apanya yang Aneh sichh. ”


“ Aneh? ” Alan bertanya lagi dengan tangan nya yang masih sibuk mengelap peluh Zeta di dahinya.


“ Itu mentah, aku tak mau makanan kambing. ” Jawab Zeta pelan lambat - lambat.


“ Astagaaaa, apaaa??? ” Pekik Alan terkejut mendengarkan perkataan Zeta.


“ Kambing? ” Alan mengulangi Perkataan yang dilontarkan Zeta, sesaat setelah bertanya lagi tawa Alan pecah sudah.


“ Astagaaaa... hahaha... hahaha. ” Alan tertawa keras tanpa bisa ditahan.


“ Kau menertawakan ku Al. ” Suara Zeta yang terdengar pelan membuyarkan tawa Alan, dia diam seketika.


“ Ma'af Zee. ” ucap Alan.


“Ditempatku sayuran yang dimakan harus matang, tidak mentah. Kalau mentah sama saja seperti dedaunan yang dimakan hewan ternak seperti kambing dan kawannya. ” jawab Zeta pelan.


“ Astagaaa Zeta, ha ha haaaa. ” Alan tertawa lagi mendengar penuturan dari gadis yang sedang bersandar di dadanya itu.


“ Heyyy itu memang cara prosesnya begitu, itu sayuran segar dan juga sehat, dan pastinya itu bukan makanan kambing Zetaaaa. ” Ucap Alan dengan lambat-lambat supaya Zeta mengerti.


“ Aku tak pernah makan begituan, ketika kau menyuapiku bayangan dan suara hewan itu langsung memenuhi kepalaku menjadikan perutku mual. ” Suaranya menjadi lirih kembali karna badannya tambah lemas.


“ okey okee aku tak akan memberimu makanan mentah lagi hmm. ” Jawab Alan disela-sela kekehannya.


“ Tapi satu yang harus kamu ingat disini tidak ada makanan kambing, ingat itu okeyy. ” ucap Alan kemudian tertawa lagi tapi tak sekeras diawal mendengar penuturan Zeta.


Setelah di rasa Zeta tak kan muntah lagi, Alan dengan sigap menggendong tubuh mungil itu berjalan ke arah lift naik ke kamarnya. Koko yun mengikutinya di belakang, menekankan tombol lift untuk tuannya.


“ Ko, suruh Kokimu buat Bubur untuk Nona yang matang yaa jangan yang mentah, ingat ituuu Ko. ” Alan terkekeh sambil mengucapkan perintahnya sebelum lift tertutup.


“ Baik King. ” jawab Koko Yun kemudian lift tertutup berjalan naik ke lantai 2.


ting , Suara denting lift terbuka. Alan berjalan dengan menggendong Zeta menuju kamarnya.


Sesampainya di ranjang Zeta, dia menurunkan tubuh Zeta dengan pelan-pelan, diambilnya selimut untuk menyelimuti tubuh lemas Zeta.


“ Sebentar yaaa, habis ini makan lagi. ” ucap Alan sambil merapikan anak rambut Zeta supaya tidak menutupi wajah cantiknya.


Zeta menganggukkan kepala.


Alan memandangi Zeta yang sedang terbaring lemah di atas ranjang karna memuntahkan semua makanan yang baru saja dimakannya karna alasan yang menurut Alan aneh itu.


“ Razetaaaa, rasa ini semakin bersemi di lubuk hatiku. Apakah rasa yang aku miliki ini juga kau rasakan??? Apakah kau bersedia bersama ku dalam suka dan duka ku, apakah kau akan menerima semua rasa yang aku miliki ini kepadamu. Kau gadis yang baik, cantik, hatimu juga baik akankah kau mau menerima ku yang banyak kurangnya ini. ”


Batin Alan ketika memandangi Zeta.


Setelah dua puluh menit berlalu, pintu kamar depan di ketuk dan terdengar sampai kamar dalam, Alan membuka nakas sebelah ranjang Zeta dan mengeluarkan remote gold untuk membuka pintu yang memang disediakan di dalam laci kamar Zeta juga.


tok.. tok... tokkk...


“ Masuk. ” Ucap Alan.


“ Permisi King ini bubur ayam untuk Nona. ” jawab Koko Yun yang mengantarkan pesanan tuannya.


“ Kemarikan Ko. ” Alan mengambil mangkok bubur itu dari nampan yang dibawa Koko Yun.


“ Saya permisi King. ” Koko Yun Pamit undur diri dan berlalu pergi.


“ Zee, bangun makan dulu. ” ucap Alan.


Suara lembut Alan membuyarkan tidur ayam nya. Zeta membuka mata di lihatnya Alan sedang tersenyum manis kepadanya.


“ Makan dulu yaa. ” Ucap Alan sambil membantu Zeta duduk dan bersandar di kepala ranjang.


Alan duduk di tepi ranjang, memangku mangkok bubur ayam untuk Zeta, kemudian mulai menyuapi Zeta perlahan-lahan dengan meniup-niup setiap sendok yang akan diberikannya pada Zeta karna memang masih panas.


“ aaaaaaa. ” Alan menyodorkan sesendok bubur kedepan mulut Zeta.


“ biar aku makan sendiri Al. ” ucap Zeta pelan.


Alan menggelengkan kepala kemudian menggoyangkan sendok yang berisi bubur itu didepan mulut Zeta supaya dia mau membuka mulutnya. Zeta akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan-suapan yang diberikan Alan.


Mata Zeta berkaca-kaca menatap Alan dalam hatinya berkata, “ Jangan terus perhatian kepadaku Alan, aku tidak ingin salah paham atas semua kebaikanmu selama ini. Kau terlalu baik kepadaku bahkan keluargaku saja tak menginginkan ku. ”


Tingakah laku Zeta tak luput dari penglihatan Alan. Melihat mata Zeta berkaca-kaca Alan membelai rambut, mengusap puncak kepala gadis itu.


“ Jangan pernah bersedih sayankk, aku ada bersamamu. ” Alan berucap selembut mungkin kepada Zeta.


“ Terima kasih. ” ucap Zeta.


Alan sangat perhatian kepada Zeta mulai dari mengurusnya kala masih muntah-muntah tadi, menggendongnya, menyuapinya, menungguinya sampai Zeta tertidur dalam mimpi indahnya. Semua dilakukannya tanpa beban didorong rasa yang dimilikinya kepada gadis itu.


“ Good Night sayankkk , sweet dreams baby. ”


Ucap Alan dalam hati sambil mengecup bibir manis Zeta.


Malam itu pun berlalu dengan suasana yang indah, Dalam hati Alan berkata bahwa ia akan bertekad untuk memperjuangkan hatinya mendapatkan Bidadari nya.