
Zeta masih syok mendengar suara dari panggilan yang dijawab Alan, bahkan bayangannya sudah melayang-layang entah kemana memikirkan berbagai macam spekulasi yang muncul di otak nya.
" Apakah aku salah dengar barusan !!! ”
“ Aku yakin telingaku masih sehat untuk mendengar suara apapun itu. ”
“ Apa yang sekarang harus aku lakukan ? ”
“ Kenapa kau memberiku kejutan disaat aku sudah mulai bisa menerima semua keadaan ini. ”
“ Apakah aku sudah memasuki ranah yang salah ? ”
Berbagai macam pertanyaan muncul bersamaan di kepalanya, hanya karna mendengar satu kata yang dia dengar bahkan belum tau kejelasan nya, makanan yang semula terasa nikmat dilidahnya kini tak lagi membuatnya tertarik dibiarkan begitu saja di meja nya tanpa disentuh lagi.
“ Kejutan apa lagi yang akan kau berikan kepadaku, kenapa aku jadi gusar. ” Batin Zeta terus bergolak mencari alasan ingin mendengar jawaban atas kebenaran tapi dalam satu sisi dia sama sekali tidak memiliki hak untuk semua itu.
Zeta menghela napas panjang, baru kemaren dia memutuskan untuk tidak berfikiran negatif kepada Alan tapi sekarang dia sudah dikejutkan dengan mendengar kalimat yang akan membuat siapa saja syok kala mendengarnya. Dia terus merapalkan dikepalanya agar tidak berfikiran yang tidak-tidak karna sesuatu yang didengar belum tentu benar adanya. Dia terus menanamkan hal-hal positif agar tidak berfikiran yang aneh-aneh.
Di lain sisi, Alan masih asyik mendengarkan suara dari seberang line telepon yang bercerita panjang lebar dengan nada yang terlihat bahagia sampai dia melupakan bahwa masih ada orang di depannya. Dia juga terlihat tersenyum bahagia dan sesekali tertawa mendengar penuturan dari lawan bicaranya di telepon sampai lupa situasi kondisi di sekitarnya.
Alan tidak menyadari bahwa gadis di depannya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan antara bingung, bertanya-tanya, dan seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“ Heyyy .... boy Kejar mimpimu jika Program yang kau jalani bulan depan berhasil, bulan berikut nya kau bisa ikut dalam trip tour dunia kita okeyyy. ” ucap Alan tersenyum senang.
“ Aku akan berusaha keras untuk itu agar aku bisa ikutttt. ” ucap dari seberang line telepon dengan girang.
“ I miss youuu pappppp. ” imbuhnya lagi.
“ Sudah lanjutkan belajarmu, kalau tidak kauuu akan aku tinggal keliling dunia bersama saudara saudari mu. ” Alan tersenyum menatap gambar yang berada di panggilan Videocall nya.
“ saudara saudari ? ” Batin Zeta tambah bergolak mendengarkan ucapan Alan barusan, Rasa nya kepala dan hatinya meronta-ronta tidak karuan mendengar percakapan mereka.
“ aaaaaarrrgghhh, Apa apaan sich kamu Zeta itu semua bukan urusan kamu kenapa kamu jadi bingung sendiri. Tapi aku penasaran jika itu an.... arggghhh bisa jadi aku sudah merusak hubungan orang lain. ” Jeritan hati Zeta.
Zeta menatap Alan yang duduk didepan nya, seperti sosok lain lagi dia terlihat semakin tampan dikala tersenyum atau tertawa beda kalau sedang bekerja dia akan menjadi orang yang sangat serius sampai terlihat menakutkan. Dia memang bersikap baik kepada dirinya tapi masih ada balasan yang sangat panjang, beda yang sekarang dilihatnya dia yang sedang tertawa seakan tak punya beban, berbicara santai, pandangan melembut, menunjukkan sikap perhatian kepada lawan bicaranya, terlihat pancaran kasih sayang yang belum pernah Zeta lihat sedari mereka bertemu walaupun dia sendiri tidak tau apa yang mereka sedang bicarakan. Terlihat Zeta sedang mengagumi wajah tampan di depannya yang sedang asyik menelepon itu. “ Hehh.... apa yang barusaja aku lakukan. ” Zeta tersadar dengan lamunannya buru-buru dia menggeleng- gelengkan kepalanya.
“ Dia memang tampan sichh, apalagi kalau melihat perutnya yang kotak - kotak itu aarrghhh. ” Ucap Zeta dalam hati.
“ Astaga kenapa pikiran ku jadi melantur seperti ini, maafkan aku yaa Tuhan. ” Zeta tersenyum sendiri.
Alan masih sibuk dengan panggilannya untuk mendengar cerita dari seberang line telepon nya, dia terlihat sangat antusias sekali. Tak terasa sudah hampir satu jam dia bicara tanpa menghiraukan sekitarnya lebih tepatnya dia melupakan masih ada Zeta di depan nya yang sedang menunggunya.
Zeta sendiri pasrah mau bagaimana lagi, dia sadar diri supaya tidak terlalu ikut campur dengan urusan yang bukan menjadi urusannya. Lebih tepatnya dia memposisikan dirinya supaya menjadi orang yang tahu diri bahwa tidak semua hal bisa dia ketahui, apalagi ini urusan pribadi.
Sedikit ditambah banyak jadi nya dia semakin penasaran siapakah yang menelepon Alan itu, memang mereka baru kenal bisa di bilang masih seminggu an jadi dia tidak tahu banyak tentang orang yang telah menolongnya itu.
Zeta sudah capek menunggu Alan telepon yang sama sekali melupakan dirinya yang masih berada di depannya, Semakin capek lagi karna dihantui rasa penasaran yang membuat dirinya terus bertanya-tanya.
“ Ya sudah lanjutkan belajarmu, jika kau berhasil dimasa libur sekolah kalian. Kita akan Trip kemana pun yang kalian inginkan okeyy. ” Ucap Alan mengakhiri panggilannya.
Ditaruhnya Handphone yang sudah sedari tadi diajaknya bicara, beralih mengambil gelas air putih lalu meminumnya.
“ ehemmm. ” Zeta berdehem keras mengintrupsi Alan bahwasanya masih ada dirinya didepannya.
Alan tersadar, “ Astaga Zee maafkan aku, aku sampai lupa waktu. ”
Zeta mengangguk kepala, “ Tak apa. ”
“ Mau pulang sekarang ? ” tanya Alan.
“ Terserah kamu saja Al. ” jawab Zeta.
“ Baiklah mari kita pulang, ouhhh.... maaf kau yang pulang aku mau kembali ke kantor. ” Alan terkekeh melihat raut wajah Zeta yang berbeda.
Bagaimana tidak aneh di kepala Zeta banyak sekali tanda tanya berseliweran tapi Alan seakan tidak peka, dia terlihat biasa saja.
“ Sungguh dia tidak menjelaskan apa-apa ? Zeta tidak percaya itu.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan itu sesampainya diluar sudah menunggu para asisten dan bodyguardnya.
“ Risa dan juga kau Jeff, Nona ingin pulang setelah ini, jaga dia dengan baik. ” ucap Alan disela-sela perjalanannya menuju mobil di parkiran.
“ Nick kita kembali ke kantor. ” imbuh Alan.
“ Baik King ” Jawab mereka bersamaan.
Sesampainya di parkiran mobil, Alan membukakan pintu mobil untuk Zeta supaya gadis itu masuk mobilnya. Setelah Zeta sudah duduk didalam mobilnya, diusapnya kepala gadis itu seraya tersenyum.
“ Istirahat lah dirumah Zee, jangan terlalu capek okey. ” Ucapan Alan terdengar sangat lembut.
Zeta menganggukkan kepala dalam hatinya berkata, ” sungguh dia tidak mau menjelaskan kepadaku, apa dia tidak peka bahwa aku penasaran mendengar percakapannya tadi. ”
“ Hati - hati Alan, aku pulang dulu. ” pamit Zeta.
Alan tersenyum menatap gadis didepannya. Menganggukkan kepala dan menyuruh Anak buahnya membawa Zeta pulang ke Mansion megah nya.
Mobil yang ditumpangi Zeta sudah berjalan meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan Alan dia juga sudah masuk mobil dan meninggalkan tempat tersebut menuju ke kantor nya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di dalam mobil Zeta masih bergelut dengan pikirannya sendiri mencari jawaban atas pertanyaannya tapi dia juga tidak berani untuk bertanya kepada siapapun di yang ada di dekatnya karna Risa juga kan sudah lama ikut dengan Alan pasti dia tahu, tapi dia tak kunjung berani bertanya.
“ ahhhhhh aku sungguh penasaran dengan semua ini. ” Zeta terus saja berperang dengan hati dan juga fikiran nya sampai tidak menyadari bahwa mobil sudah memasuki pelataran Mansion Alan.
.
.
.
.
.
.
.
.TBC
# Harap maklum yaaa kalau masih nemu typo dimana mana karna author manusia biasa bukan manusia bisa segalanya, hahahaha maaf yaaa author ketawa jadinya😜😜😜
# salam sayankkk
# Vhiey Vee😘😘😘