Just More Time

Just More Time
Perubahan



Mobil yang hampir menabrakku dan Sesil menghilang begitu saja. Tanpa meninggalkan jejak. Lenyap tak tersisa.


Syukurlah aku dan Sesil bisa selamat, Alice datang tepat waktu. Kali ini ia tidak lalai dalam tugasnya menjaga Sesil.


"Alice..." teriakku saat melihat Alice terjatuh lemah tak sadarkan diri di aspal jalanan.


"Apakah nama anak itu Alice?" tanya Sesil terhadapku.


Sesil bisa melihat Alice?? bagaimana mungkin?


Tapi aku tak menghiraukan pertanyaan Sesil, yang ada di pikiranku sekarang hanya menolong Alice.


Ku ajak Sesil menghampiri Alice. Sesil yang masih syok dengan kejadian tadi hanya menurut dan mengikutiku.


"Alice.. Alice.. bangun Alice.." ku angkat tubuh Alice mencoba membangunkannya. Terlihat keringat menyucur di wajahnya.


"Raka... kamu gak papa?" Erik tiba-tiba muncul. "Alice? Alice knp Raka??"


"Aku juga gak tau Rik, tolong bantu aku angkat Alice, kita bawa ke UKS sekolah. Sil, kamu mau kan ikut kami dulu?". Sesil mengangguk, sepertinya dia terlihat bingung.


Aku dan erik mengangkat Alice ke UKS. Sesampainya di sana kami masih mencoba membangunkan Alice. Tapi tak ada reaksi, kami yang manusia ini bingung bagaimana cara membangunkan Alice yang seorang Alien.


"Di film-film yang kamu tonton bagaimana cara membangunkan Alien yang pingsan Rik?" aku bertanya siapa tau ada cara membangunkan Alice.


"Gak pernah ada adegan seperti itu Raka, aku gak tau. Lagian itu cuma film, belum tentu benar."


"Tuhh kamu tau kalau film gak benar, tapi tetap aja percaya Alien nyata"


"Kalau Aliennya aku percaya, tapi kalau jalan ceritannya enggak. Karena kan itu karangan sutradara"


Aku mengeleng-gelengkan kepala" Kok ada orang kaya kamu Rik" kataku


"Yaa ada donk, nihh buktinya aku ada di depanmu. Ohh iya Raka aku tadi kaget saat lihat kamu dan dia (menunjuk ke arah Sesil) sedikit lagi akan tertabrak mobil. Aku berteriak saat itu, tapi tiba-tiba yang ada di depan mataku Alice yang sudah tak sadarkan diri. Aku bingung dengan situasi ini? apa yang terjadi Raka?"


"Aku sebetulnya juga tidak begitu mengerti Rik. Semua terjadi begitu saja, coba nanti kita tanyakan aja sama Alice kalau dia siuman"


Jadi sekarang, kami di sini hanya membiarkan Alice berbaring, sambil menunggunya siuman. Semoga saja Alice tidak papa.


"Sil, kamu gak papa kan? Ada yang luka?" tanyaku, aku sangat menghawatirkannya.


"Aku gak papa, kamu siapa? kenapa tau namaku?" tanyanya


Aku lupa, saat ini kami belum saling mengenal.


Aku menjulurkan tangan "Aku Raka Aditama, teman-teman memanggilku Raka"


"Ohh.. salam kenal Raka. Aku tak perlu menyebutkan namaku, kamu sepertinya sudah tau." Sesil berkata sambil menjabat tanganku.


Aku tersenyum, senang rasanya bisa menyentuh tangan lembutnya.


"Siapa anak itu?" Sesil menujuk ke arah dimana Alice berbaring. "Bagaimana bisa dia sekuat itu menghentikan mobil yang akan menabrak kita tadi?" tanya Sesil lagi


"Eeemmm.. itu... dia sebetulnya.." jujur aku bingung menjawabnya.


Tiba-tiba Alice terbangun. "Alice kamu gak papa? apa yang sakit?" Erik terlihat sangat khawatir.


Aku dan Sesil segera mendekat, terlihat Alice berusaha untuk duduk.


"Yaa, aku gak papa. Hanya saja aku kehilangan kekuatanku. Sama sekali tak tersisa lagi sekarang"


Aku baru ingat perkataan Alice saat berada di dimensinya, bahwa kekuatannya hampir habis karena di gunakan untuk membalikkan waktu. Ternyata dia tidak berbohong.


"Istirahatlah dulu Alice, kami akan menunggu di sini" Erik membaringkan Alice lagi.


"Alice sebenarnya apa yang terjadi? aku melihat tadi seakan waktu terhenti, orang-orang yang sedang melakukan kegiatan stop begitu saja. Seperti di pause. Tapi itu tidak terjadi kepadaku, Sesil dan kamu?" aku bertanya karena memang sudah sangat penasaran.


"Saat aku mencoba menghentikan mobil itu hanya dengan ke dua tanganku, aku juga terpaksa menghentikan waktu karena tak ingin membuat kehebohan dengan orang-orang sekitar yang melihatku melakukan itu" Alice menjelaskan.


"Yahh, begitulah.. sebenarnya aku bisa menghentikannya hanya dengan menjentikkan jariku, sayangnya kekuatanku hanya tersisa sedikit waktu itu"


"Benarkah Alice, wahh.. luar biasa... kamu benar-benar hebat" Erik berseru.


"Tapi sekarang kekuatanku benar-benar hilang karna terlalu memorsirnya" Alice berkata lesu.


"Apa kekuatanmu tidak bisa kembali?" tanyaku


"Bisa, tapi butuh waktu"


"Berapa lama?"


"Entahlah, aku juga tidak tau. Ohh iya bagaimana ke adaan pengendara mobil itu?"


"Lho bukannya kamu yang memusnahkannya Alice, begitu kamu berhasil menghentikannya, mobil itu menghilang"


"Aku??? aku tidak melakukan apa pun. Tadikan sudah ku bilang, kekuatanku sisa sedikit, ku gunakan untuk menghentikan waktu dan mobil itu Raka. Aku tidak punya kekuatan lagi kalau harus memusnahkan mobil itu" Alice terlihat sesikit kesal


"Aneh.. lalu kemana perginya mobil itu?" ku pikir Alice yang melakukannya. lalu siapa? kenapa bisa menghilang begitu saja?


Sungguh ini menjadi teka teki buatku


"Alice, apa boleh aku memanggilmu begitu seperti yang lainnya? " Sesil bertanya. Bukannya menjawab Alice malah menangis.


Hwuaaaa... hhwwuaa.. huuuu....


"Alice, ada apa? apa aku salah berkata?" Sesil khawatir melihat Alice tiba-tiba langsung nangis begitu.


Aku mengerti perasaan Alice, pasti dia bahagia akhirnya Sesil bisa melihatnya. Orang yang selama ini ia jaga hidupnya dengan mempertaruhkan seluruh kekuatannya kini bisa melihatnya.


"Tidak.. aku.. aku sungguh bahagia. Apa boleh kau lebih dekat lagi kemari Sesil?"


Sesil berjalan mendekat ke ranjang tempat Alice berbaring.


Plukkk..


Alice langsung memeluk Sesil. Awalnya Sesil kaget dengan kelakuan Alice, tapi setelahnya ia membalas pelukan itu dengan lembut, membelai rambut pendek Alice.


"Alice terima kasih banyak kamu sudah menyelamatkanku. Berkatmu aku masih bisa bernafas sekarang." Sesil berkata dengan tulus


"Iya sama-sama Sesil. Senang rasanya bisa memelukmu"


Sesil tersenyum " Setelah melihatnya langsung dan mendengar percakapan kalian tadi, Aku tau kamu berbeda dengan kami Alice."


"Yaa aku memang bukan manusia seperti kalian"


"Terserahlah kamu mahluk apa, aku tidak peduli. Mau kah kamu jadi temanku Alice?" sesil berkata sambil melepaskan pelukannya untuk melihat reaksi Alice.


Alice memeluk sesil kembali " Iya mau.. aku mau Sil" sambil menganggukkan kepalanya. Alice terlihat bahagia sekali, syukurlah. Aku juga ikut bahagia melihat mereka.


"Rakaa..." Erik memanggilku


"Heemmm.."


"Aku juga mau di peluk" Erik sudah melebarkan tangannya ke arahku.


Sontak saja aku menghindar. "Parah kamu Rik, aku masih normal"


Hahahahahaha kami tertawa bersama.


Selalu saja erik bertingkah konyol.


Tak ku sangka aku secepat ini berkenalan dengan Sesil, karena di masa yang dulu aku berkenalan dengannya sewaktu kami tour ke Bali. Sepertinya masa depan telah sedikit berubah. Semoga perubahan ini menuju hal yang baik.