Just More Time

Just More Time
Bedugul



Setelah melihat berita di surat kabar itu aku saling bertatapan dengan Erik. Entah mengapa timbul perasaan tidak enak yang mengganjal pikiranku setelah membaca berita tersebut. Menurutku khasus ini sangat unik.


"Hanya gejolak alam biasa, tidak perlu khawatir begitu Raka" Erik berkata ketika melihat raut mukaku.


"Memang kelihatan banget ya aku khawatir Rik?" tanyaku.


"Woh, jelas. Nampak banget, mukamu langsung syok gitu habis ngliat surat kabar itu"


"Aku hanya takut saja, bagaimana bisa danau yang begitu tenang tiba-tiba berombak dan bergelombang seperti di laut. Menurutku itu aneh Rik"


"Jangan berlebihan Raka, kau baca sendiri kan tadi. Kata penyelidik, itu hanya ombak biasa yang muncul di danau disebabkan oleh permukaannya yang dangkal. Kondisi danau dapat berubah secara drastis hanya dalam beberapa menit"


"Ya, aku berharap juga seperti itu Erik. Biar kita semua aman dan tentram saat berada di sana".


"Jangan terlalu di pikirkan, kita kesini untuk have fun"


"Heeemmm" aku berdehem menanggapi. "Ayo, kita harus ke bus. Sudah waktunya berangkat ke bedugul" kataku sambil berlalu menuju parkiran tempat bus kami berada.


Kini bus bersiap melaju ke objek wisata kami yang terakhir yaitu Bedugul, lebih tepatnya danau Beratan. Tempat ini berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan wilayah Kabupaten Tabanan dengan Kabupaten Buleleng. Alamat lengkapnya, Jalan Raya Candi Kuning – Bedugul, Desa Candi kuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan.


Saat ini Sesil sudah tidak marah lagi kepadaku. Setelah berbelanja, moodnya membaik. Memang benar ya obat terampuh bagi para wanita adalah berbelanja. Segala, emosi, penat, kegundahanan dan kegalauan akan hilang bila di obati dengan cara berbelanja.


"Sil, aku harap kita selalu bersama di Bedugul nanti" kataku memperingatkan, seketika aku mengingat berita di surat kabar itu.


"Raka, mulai lagi deh kamu" Sesil memutar bola matanya jengah.


"Aku serius Sil, aku tadi baca berita di surat kabar ini." Aku menunjukkan surat kabar yang tadi ku beli. Sesil membaca kata demi kata yang tertera di surat kabar sebagai topik utama terhangat minggu ini.


"Tenanglah, itu hanya gejolak alam biasa" katanya setelah menyelesaikan kegiatan membacanya.


"Huuuffff kamu mengatakan hal yang sama dengan Erik. Baiklah, aku gak akan berlebihan" tapi tetap saja perasaanku tidak enak.


Tak terasa bus kami sampai di area Bedugul. Saat keluar dari bus udara sejuk khas daerah pegunungan menerpaku, karena danau Bratan lokasinya berada pada ketinggian sekitar 1.239 meter di atas permukaan air laut, maka udara sejuk akan terasa di tempat ini.


"Anak-anak sudah waktunya makan siang. Kita akan makan di resto sebelah sana". Kata Pak Andre menunjuk salah satu resto yang tak jauh dari arena parkir.


Sesampainya di sana semua sudah tersedia, makanan prasmanan telaj tertata rapi di atas meja. Sebelumnya Iren telah menghubungi pihak resto ini.


Aku dan semua teman-teman mengambil nasi dan lauk pauk ke piring kami. Berbagai menu khas Bali tersedia di sini. Ada sate lilit, pelecing kangkung, ayam betutu, bebek timbungan, tum ayam, lawar, dan masih banyak lagi. Menggugah selera makanku, tiba-tiba perutku sangat lapar melihat menu yang lezat yang terpampang di depan mata. Pilihanku jatuh ke tum ayam, lawar dan pelecing kangkung. Lalu aku mencari tempat duduk, ku lihat Erik, Miska dan Mery telah duduk di meja sudut ruangan. Aku bergerak mendekat ke arah mereka.


Tak lama Sesil dan Iren ikut duduk bersama kami.


"Raka, nanti bisa bantu menderikan tenda punyaku?" tanya Iren di sela kegiatan makan kami.


"Tentu, nanti aku bantu"Sesil melirik sekilas ke arahku.


"Lalu bagaimana dengan tendaku? Siapa yang akan membantu?" katanya Sesil.


"Nanti aku bantu punyamu dulu sayang, baru aku bantu Iren" kataku menjelaskan, tak ingin ia salah paham.


Sesil tersenyum devil melirik ke arah Iren, ada maksud tersendiri dari senyumannya itu.


"Sa-sayang? Ka-kalian pacaran?" Iren menatap ke arahku dan Sesil bergantian.


Apa dia Cemburu? Apa dia tau Iren sudah lama suka kepadaku?


"Oh-, sejak kapan?"


"Baru kemaren" aku menjawab.


"Baru saja ternyata. Syukurlah"


"Apa? Syukurlah?" tanya Sesil kepada Iren dengan menatap gadis itu.


"Ma-maksud aku, syukurlah kalian jadian. Aku turut senang" jawab Iren.


"Wajahmu tidak menggambarkan kalau kau senang" sindir Sesil.


Iren hanya menunduk tak menjawab lagi dan segera menghabiskan makanannya. Sesil kalau sudah cemburu kaya macan betina yang sedang ngamuk. Galak sekali, bukannya ia memang galak ya. Hahahaha.. Terlihat sekali bahwa gadisku ini cemburu, padahal cuma perihal memasang tenda.


"Ayo anak-anak kalau sudah selesai makannya kita berkumpul di lapangan dekat danau Beratan" Bu Tika menjelaskan.


Setelah menyelesaikan makan ini, aku dan yang lainnya bergegas ke tempat yang di instruksikan Bu Tika tadi.


Seketika aku melihat pemandangan Pura yang berada di tengah danau. Nama pura yang berada di tengah danau adalah Pura Ulun Danu Beratan Bedugul. Pura ini terlihat mengapung pada permukaan air danau. Jika kamu pernah memperhatikan gambar lembaran mata uang Rp 50.000 yang lama, terdapat gambar pura Danu Beratan.


Setelah di beri arahan, kami mulai mendirikan tenda sesuai kelompoknya masing-masing. Padahal saat ini siang hari, matahari tepat berada di tengah pusat Bumi. Tetapi di sini masih saja tidak terasa panas, udaranya sang sangat sejuk dan dingin.


Aku telah selesai membantu kelompok Sesil mendirikan tendannya. Kini aku berada di kelompok Iren untuk memenuhi janjiku membantunya.


"Raka, sebelah sini. Bisa tolong bantu aku?" kata Iren di dalam tendanya.


"Ya, tunggu sebentar. Aku selesaikan dulu yang di sini" kataku. Setelah selesai dengan kegiatanku memasang tali tenda, aku menghampiri Iren di dalam. Kulihat ia sedng berdiri membelakangiku. Di dalam sini hanya ada aku dan Iren. "Apa yang bisa ku bantu Ren?" tanyaku saat melangkah masuk kedalam tenda.


Iren berlari kecil menghampiriku, "Aku ingin kau membatuku merubah perasaanmu" katanya lalu dengan lancangnya ia ******* bibirku.


Dengan cepat aku mendorong tubuh mungil Iren "Hentikan Ren, jangan begini" kataku saat pungutan itu terlepas.


"Aku sudah lama mencintaimu Raka, dan kau tau itu. Tolong berikan aku kesempatan, aku akan memberikan apa pun yang kau mau" kata Iren dengan bersungguh-sungguh, terlihat cairan bening tergenang di pelupuk matanya.


"Maaf, hatiku sudah ada yang memiliki. Aku selalu menganggapmu teman baikku. Begitu pula seterusnya. Kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari aku"


Tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam tenda tempat kami berada "Raka apa sudah selesai?" tanya orang itu.


Iren yang mendengar suara itu dengan cepat memelukku dan menyatukan kembali bibirnya denganku.


Kalian gak lupa kan sosok Iren? Bendahara Osis. Dia juga satu bus dengan Raka, itu dia yang atur semuanya dengan maksud bisa mendekati Raka dan duduk berdua dengannya. Tapi Raka memilih untuk duduk berdua dengan Sesil, disitu Iren mulai kesal dan curiga. Sampai akhirnya ia mendapati kabar bahwa mereka berdua pacaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aiissss Iren agresip banget sihh?


Babang Raka gak suka tuh cewek agresip.


Yuk kasih dukungan kalian, like, koment dan jangan lupa tambahkan di daftar favorid kamu ya.. Happy Weekend