
Seakan takdir mempermainkan ku, semua yang terjadi tidak masuk logika. Kembali ke masa lalu, dan sekarang bertemu alien. Butuh waktu untuk mencerna semuanya.
"Alice aku gak bisa kalau kamu menyuruhku menjauhi sesil. Tapi aku juga gak akan membiarkannya mati"
"Kau harus memilih raka"
"Aku yakin pasti ada cara lain menyelamatkan sesil tanpa aku harus menjauhinya alice"
"Entahlah.., kalau cara terbaik menurutku ya seperti itu. Cari saja sendiri cara lain kalau ada"
"Aku pasti akan menemukan caranya, tapi sekarang bisakah kamu kembalikan aku alice? aku harus melanjutkan pelajaran" tanyaku kepada alice
"Tanpa kau pinta, aku memang mau mengusirmu keluar dari dimensiku, aku hanya ingin memberitahumu hal itu saja tadi" alice menjawab dengan nada sewot.
Keadaan menjadi seperti semula, aku sekarang berada tepat di depan pintu ruang osis. Tapi tak ada hal berubah di sini. Masih sama saat aku ditarik ke dimensi alice, tetap pada jam istirahat.
Semakin banyak saja beban pikiranku, aku melangkah gontai ke ruang kelas.
Sssruuuttttt.....
"Hai anak muda, bersemangatlah sedikit. Paling tidak kau bisa melihat sesil kembali" alice tiba-tiba muncul di sebelahku.
Aku melihat sekitar, takut kalau-kalau ada orang yang melihat keberadaan alice.
"Haiii, aku di sini. Kau tidak melihatku?" kata alice sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapanku.
"Bukan begitu alice, kamu ini. Bagaimana kalau ada yang lihat? aku disangka membawa anak kecil ke sekolah"
"Orang-orang tak bisa melihatku !!!" alice berkata dengan santainya.
"Benarkah??"
Aku melihat anis bendahara osis dan mencoba memanggilnya untuk membuktikan ucapan alice.
"Haaiii nis !!! bisa kemari sebentar?"
Anis yang sedang melintas menoleh dan segera mendatangiku.
"Ya, ada apa raka?" tanya anis
"Begini apa bisa aku minta tolong, kumpulkan anggota osis untuk rapat sepulang sekolah nanti?" sambil melirik ke arah alice aku mengatakan itu.
Alice tersenyum penuh kemenangan, saat anis tak ada reaksi. Sepertinya hanya aku yang dilihatnya di situ.
"Baiklah raka, nanti ku infokan ke teman-teman. Ada lagi?"
"Emmmhh.. kamu gak liat ada anak kecil?" kataku masih penasaran.
"Anak kecil?? tidak. Anaknya siapa yang berkeliaran di sekolah? Kamu jangan ngaco raka."
"Bener gak liat ada anak kecil di sini?" aku menunjuk sisi di sebalah kiri ku. Dimana alice berdiri
Anis melihat ke arah yang ku tunjuk, kemudian melihat ke arahku lagi "Raka, kamu nakut-nakutin aku? gak lucu tau raka" anis pergi begitu saja setelah mengatakan itu.
"Gimana??? masih gak percaya?" tanya alice
Aku jadi bingung, kenapa aku bisa melihat alice sedangkan anis tidak?
"Jadi kamu seperti hantu yang gak kelihatan?" tanyaku.
"Jangan samakan aku dengan mahluk rendahan itu ya!!! aku berbeda" kata alice sarkas, lalu ia menghilang begitu saja.
Apa aku salah bicara ya, pikirku.
Pelajaran pun berlanjut, aku tidak bisa konsentrasi selama pelajaran berlangsung. Semuanya masih sangat mengganggu pikiranku.
"huutttzzz huutttzzz.." erik mencoba memanggilku
"apaan rik?" kataku dengan berbisik
"Kok bengong aja, kesambet ntar"
"kesambet setan cantik mau, hihihi"
"Yee, itu mah aku juga mau hahaha"
"Erikk.. ada apa?" tegur pak danil guru biologi.
Erik gelagapan, dia tidak sadar tertawa dengan suara lumayan keras, sampai terdengar oleh pak danil.
"Tidak pak, saya sedang mencoba merasakan nafas saya. Kenapa ya pak nafas bisa terasa panas?"
Kebetulan saat itu pak danil sedang menjelaskan tentang pernafasan pada manusia di depan kelas.
"Yaelah, pinter aja nihh bocah ngless" kataku
"Biasanya hembusan nafas terasa panas dapat terjadi karena adanya peradangan pada saluran nafas yaitu tenggorokan yang di sebabkan oleh infeksi virus atau bakteri"
"Apa kamu sedang sakit erik?" sambung pak danil
"Iya pak, sakitnya tuhh di sini" kata erik dengan muka memelas sambil memegangi bagian dadanya.
"Huuu huuuuuu" anak-anak di kelas dengan kompak membalikkan ibu jari mereka.
Pak danil geleng-geleng kepala melihat tingkah erik, dan melanjutkan penjelasan kembali.
Tak terasa jam pelajaran berakhir, seperti kataku kepada anis tadi. Kami akan melaksanakan rapat osis untuk membahas acara tour ke bali.
"Brooo, aku ikut kamu pulang ya? motorku mogok, tadi ke sini naik ojek"
"Tapi aku ada rapat rik, nanti kamu kelamaan nunggunya" kataku
"Gak papa santai aja, dari pada harus naik ojek lagi. Lumayan uang saku ku ntar berkurang hehehe"
"Oke lah kalau gitu, tunggu di sini ya? Kalo uda selesai aku langsung ke sini"
"Okeh siapp bosss" kata erik.
ERIK POV
Sambil menunggu raka yang sedang rapat osis, dari pada bosan aku menuju lapangan basket.
Lapangan terlihat sepi karena anak-anak sudah pada pulang sekolah.
Tapi aku melihat ada anak kecil dengan lihainya memaninkan bola basket. melakukan shooting dan.. masuk.
Selanjutnya ia memainkan bola basket itu kembali, kali ini long shot dari jarak yang cukup jauh. Dan... masuk lagi.
Bola tepat masuk ke ring.
"Wawww... keren" aku berseru.
Anak itu melirik ke arahku. Aku tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihku.
"Haii adik, mau bermain dengan ku? sepertinya kamu butuh lawan" tawarku.
"Apa kau bisa melawanku?" dia seperti meremehkanku.
"Tentu saja, aku akan mengurangi separoh kemampuanku untuk melawan anak kecil sepertimu" kataku yang mulai terpancing.
"Ohh ya? " dia langsung saja mengoper bola ke arahku.
Dia bermain sangat lincah, nafasku sampai ngos-ngosan mengimbanginya.
"Apa sekarang kau masih bermulut besar?" katanya di tengah permainan kami.
"Ternyata kau lumayan juga adik, mungkin karena badanmu kecil jadinya kamu lebih gesit dariku" kataku masih tak mau terima bahwa dia lebih hebat dariku.
"Kalau begitu, keluarkan semua kemampuanmu. Tidak perlu mengeluarkan setengahnya saja kalau kau tak ingin kalah dariku" dia berkata dengan sikap angkuhnya
"Baik kalau begitu maumu, jangan nangis ya kalau nanti kamu kalah adik kecil" kataku tak mau kalah dari ucapannya yang angkuh.
Dia hanya memiringkan sudut bibirnya, meremehkanku.
Kami bermain kembali, kali ini aku akan mengerahkan semua kemampuanku.
Di 10 menit awal aku masih bisa mengimbanginya, 20 menit kemudian aku sudah kembali ngos-ngosan. Dia seakan tak bernafas dan tak lelah, gerakannya masih gesit seperti awal permainan.
Berkali-kali aku kehilangan bola dari tanganku, dan berkali-kali juga ia memasukkan bola ke ring.
Akhirnya aku menyerah.
"Baik adik kecil, kau yang menang.. host.. host.." aku masuh mencoba mengatur nafasku.
Dia tersenyum remeh
"Hanya segitu kemampuanmu? dengan kemampuan seperti itu berlagak mau mengalahkanku? hahahaha"
"Ternyata kamu hebat, tak seperti dugaanku" aku mengakui kekalahanku.
Aku melangkah mengambil bola basket yang tergelinding ke sudut lapangan.
"Kalau boleh tau siapa namamu adik kecil?
Shhuuutttttt......
Aku menoleh.. tiba-tiba anak kecil itu menghilang begitu saja.
Aku terdiam, mukaku pucat pasi !!!!
"Raakkkkaaaa......"
Aku berlari sekencang-kencangnya mencari keberadaan raka.