
Saat ini Aku dan Sesil mendudukan diri di tepi pantai. Memandangi matahari yang terlihat mengapung dari ufuk timur seolah telah malu-malu menampakan sinarnya. Aku cukup terkesima dengan semburat cahaya keemasan dari sang surya yang berpadu dengan ombak yang mengalun di pantai yang indah ini. Ombak dan cahaya itu begitu memukau netra ketika bersanding.
Aku kemudian menatap lekat seorang gadis cantik yang duduk di sampingku sembari melipat kedua kaki dan menopang dagunya. Gadis cantik itu juga terkesima melihat cahaya sang surya yang muncul dengan malu-malu. Cahaya sang surya itu menerpa wajah cantiknya, netraku terus menerus menatap wajah gadis itu, bagaikan putri cantik jelita sedang bangkit dari perpaduannya. Senyum tipis tak lepas dari bibir gadis cantik itu saat melihat pemandangan indah di depannya.
"Uda puas belum mandangin aku?" tanya Sesil seketika menoleh ke arah Raka.
Eh, apa? dia menyadarinya?
Aku tersipu, tertangkap basah sedari tadi sedang memandanginya. Aku memalingkan muka menatap sang surya. "Eh, gak kok. Aku dari tadi liatin anak-anak yang main disana" elakku sambil menunjuk anak yang sedang bermain pasir tidak jauh dari kami tempat kami duduk.
"Yang bener? aku tau kok kamu terpaku melihat kecantikanku hehehehe"
"Iya, kamu cantik sayang"
Eh, apa? dia manggil apa tadi? "Sa-Sayang?" tanya Sesil.
"Iya Sayang, kamu kan sekarang pacarku. Gak papa dong aku panggil sayang."
"I-iya sih, gak papa. Cuma aku belum terbiasa dengar dari kamu"
"Mulai sekarang kamu akan terbiasa Sayang" kataku sambil menekankan kata Sayang itu.
Sesil tersipu pipinya memerah, Ahhh, cantiknya.
"Kamu gak mau kesana main sama mereka?" tunjuk Sesil ke arah teman kami yang sedang bermain voli pantai. Ada juga yang sedang asik bermain air di tepi pantai, sebagian ada yang ber-snorkeling melihat indahnya biota bawah laut, ada yang bermain banana boat, ada juga yang sedang duduk-duduk di tepi pantai seperti aku. Mereka asik dengan kegiatannya masing-masing. Sedangkan Erik dan Miska kini telah asik berselfie bersama dengan Mery sebagai fotografernya.
"Nanti aja, masih mau menikmati pemandangan ini" aku masih enggan beranjak, masih ingin menikmati sejenak angin yang bergemuruh di pinggir pantai.
"Ya, sudah. Kalau gitu aku kesana ya?"
"Eh, tunggu aku ikut" aku bergegas bangun.
"Males ach, katanya tadi gak mau" kata Sesil langsung berlari ke tepi pantai. Aku langsung mengejarnya. Kami berlarian di atas pasir dengan bertelanjang kaki. Sesil tidak peduli dressnya kotor, dress berwarna biru muda senada dengan birunya lautan ini.
Sesil mendirikan istana pasir, dan merasa sedih karena istana itu hanyut di bawa ombak.
"Benar kan, kataku tadi juga apa. Kamu membuatnya terlalu dekat ke laut" kataku saat melihat Sesil memanyunkan bibirnya.
"Ya, sudahlah. Ayo bantu aku buat lagi! kali ini yang agak jauh dari laut" Sesil mengatakannya penuh semangat. Tidak capek apa dia?
"Baiklah" aku membantunya membuat istana yang ia inginkan. Cukup lama kami berkuntat dengan pasir putih ini. Sampai akhirnya "Kruuukk" terdengar bunyi sesuatu.
Sesil nyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Kamu lapar lagi?" padahal baru saja beberapa jam yang lalu kami sarapan di villa.
"Bermain di air membuatku merasa lapar lagi, hehehe"
"Baiklah, ayo kita cari makanan" aku menggandeng tangannya, menyusuri pantai yang mulai ramai pengunjung. Matahari telah terbit sepenuhnya.
Sepertinya karena masih terlalu pagi, tak banyak pedagang yang berjualan. Kami terus menyusuri hamparan pasir putih ini.
"Raka, aku mau itu. Kayanya enak" tunjuk Sesil pada salah satu pedagang yang berjualan di tepi pantai. Langsung saja ia menarik tanganku ke tempat tujuannya.
"Gorengannya gek" kata paman yang berjualan itu.
"Gek? namaku Sesil paman bukan gegek" jawab Sesil dengan wajah polosnya.
Aku tertawa "Hahahahaha.. Gegek? nama yang lucu. Maksud pamannya jegek Sil".
"Apa itu Jegek? nama tempat?"
"Jegek artinya cantik, kaya kamu" aku berkata sambil mentoel hidung mancungnya. Lagi, dia tersipu malu. Aku senang sekali menggodanya bila ia tersipu seperti ini. Paman penjual gorengan itu hanya tersenyum melihat interaksi kami.
"Mau beli yang mana gek?" tanya paman itu lagi dengan logat khas orang bali asli. Disitu terlihat ada bakwan, lumpia, tempe goreng tepung, dan tahu.
"Gak, kamu aja. Aku masih kenyang"
Paman itu menyiapkan pesanan sesil, bakwan, lumpia, tempe goreng tepung dan tahu semuanya di gunting menjadi beberapa bagian beralaskan bungkusan nasi yang dibuat seperti corong. Kemudian paman itu menuangkan bumbu kacang "Lomboknya mau berapa gek?" tanyanya.
..."Emm.. 2 aja" jawab Sesil. Lombok juga di gunting kecil-kecil lalu di masukkan ke corong kertas. Kemudian sentuhan terakhir, paman itu memberi tusuk lidi di corong itu.
Kurang lebih seperti itu penampakannya...
"Berapa Beli?" tanyaku.
"Kan aku tadi beli 4 Raka, kok nanya lagi sih?" kata Sesil.
Aku terekeh lagi "Aku gak nanya kamu sayang. Nanya paman ini, Beli bahasa Bali, artinya paman"
"Ohh.."
"Sepuluh ribu Gus" kata paman itu. Aku menyerahkan selembar uang 10 ribu rupiah lalu beranjak pergi.
"Raka, tadi pamannya kok manggil kamu Gus? Nama kamu Raka Agustama apa Raka Aditama sih?" Sesil bertanya sambil yerkekkeh kecil. Tak lupa ia memasukkan gorengan tadi kedalam mulut mungilnya.
"Gus itu Bagus yang berarti tampan. Panggilan 'gus' ini digunakan untuk memanggil anak laki-laki yang secara umur lebih muda" kataku menjelaskan.
"Eemmm gitu, Berarti kamu tampan gitu?"
"Menurutmu?"
"Tidak"
Aku melebarkan bola mataku menatap Sesil, yang bener aja wajahku yang tampan ini dia bilang tidak? apa seleranya seperti Max, Max itu?
"Tidak salah lagi, hihihi" dia berkata tepat di depan wajahku lalu sedikit berlari.
Aku tersenyum melihat tingkah manisnya "Tunggu, jangan lari-lari sambil makan Sesil" Aku mencoba mengjangkaunya dan mensejajarkan lagi langkah kami.
"Kamu tau banyak ya bahasa Bali Raka?"
"Tidak juga, hanya bisa sedikit-sedikit"
"Belajar dari mana?"
"Kebetulan salah satu kerabat ibu ada yang orang Bali, beliau dulu sering berkunjung kerumah kami" jelasku.
"Ohh.. Kamu yakin gak mau? ini enak lho. Unik banget cara makannya, biasa aku makan gorengan ya utuh aja. Terus langsung dicocol deh sama sambel. Kalo ini pakai digunting segala, ditaburi lombok pula, terus bumbunya juga sangat lezat" Sesil berkata sembari memasukkan potongan gorengan itu kemulutnya, mencoba menggodaku seakan mengatakan bahwa kau akan menyesal bila tidak mencobanya, ini sangat lezat.
"Boleh, aku coba ya?" Aku menarik pinggang langsingnya, mendekatkan tubuh kami. Tanganku satunya memegang tengkuk lehernya. Kemudian menempelkan bibirku ke bibir mungilnya, menyesap sebentar. Sesil terkaget dengan mulut menganga dan bola mata membulat. Itu membuat kesempatan untuk lidahku menerobos masuk kedalam rongga mulutnya. "Benar ini sungguh lezat" kataku setelah mendapat apa yang aku mau, sepotong gorengan dari mulutnya.
"Raka, kamu jorok iihh" protes Sesil sambil memukul lenganku pelan dan dia berlalu pergi meninggalkanku.
...Aissss Raka, jorok bener sih!!!...
...Ayo kakak jangan lupa like, koment, and favorid ya?...
...Terimakasih sudah mampir di karya aku....
...Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan jangan lupa bahagia.....
...See you...