
Raka POV
"Ya tujuan utamanya adalah menguasai planet ini" ujar Alice.
Aku, Sesil, dan Kristal membulatkan mata tak percaya. Bumi tempat tinggal umat manusia ingin dikuasai Raja kegelapan? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Bumi akan dipenuhi aura kegelapan sang Raja bila itu di biarkan.
"Apa tidak ada cara menggagalkan rancana Dormammu itu? Aku tidak sanggup membayangkan bila Bumi ini dipenuhi kekuatan kegelapan" Kristal menatap lekat Lucky. Berharap lelaki itu bisa memberikan solusi.
"Satu-satunya cara adalah mengalahkan Dormammu, tapi tentu itu tidak mudah" kata Lucky.
"Kau saja yang memiliki kekuatan mengatakah bahwa itu tidak mudah, bagaimana dengan kami yang hanya manusia biasa?" Aku sedikit kesal dengan jawaban dari kakak Alice. Aku pun tau kalau Bumi mau selamat dari kekuasaan Raja kegelapan, harus ada kekuatan yang mampu mengalahkannya. Tapi itu mustahil bagi manusia biasa seperti kami.
"Bangsa planet Gliese akan tetap membantu, karena ini terkait nyawa keturunan Anthos. Tapi kami tidak dapat membantu banyak. Semua tergantung kepada Alice dan kau Raka" ujar Lucky.
"Aku? Apa yang bisa ku lakukkan?" tanyaku bingung. Menghadapi serangan Naga hitam tadi saja aku merasa tidak berguna.
"Lihat ini!" Lucky mengeluarkan sebuah benda berbentuk bintang kecil berwarna biru dari telapak tangannya. "Ini adalah sumber kekuatan alam yang dimiliki pemimpin. Ia meminjamkannya untukmu Raka. Pemimpin berpesan kau harus membantu Alice melindungi gadis keturunan Anthos ini. Apa kau sanggup?"
"Tanpa kau minta aku akan melindunginya. Tapi benda apa ini? Bagaimana cara menggunakannya?" Aku mengambil benda berbentuk bintang biru itu. Membolak baliknya, dan melihatnya dengan seksama. Seperti mainan bintang anak kecil. Masa ia benda ini memiliki kekuatan?
"Aku tau kau bingung melihat benda itu, mungkin banyak benda serupa dengan Bellatrix di bumi ini. Tapi percayalah Bellatrix mempunyai kekuatan yang amat besar bila kau tau cara menggunakannya. Kelemahan Bellatrix adalah tidak dapat bertahan lama di Bumi. Bintang ini lambat laun akan mengecil."
"Jadi namanya Bellatrix? Bagaimana cara menggunakannya?" Aku sangat penasaran dengan benda ini. Apa mungkin aku bisa menggunakannya?
"Menggunakannya cukup mudah. Hanya tinggal berkonsentrasi atas apa yang kau pikirkan dan kau inginkan. Bellatrix dapat menyerap kekuatan alam. Kau jangan lupa selalu membawanya kemana-mana."
"Apa aku akan memiliki kekuatan seperti Alice?" Ada nada bahagia di pertanyaanku itu. Aku senang bila memiliki kekuatan seperti Alice, itu memudahkanku untuk menjaga Sesil.
"Tentu, bisa jadi lebih kuat dari pada Alice yang sekarang" jawab Lucky.
"Kau dengar Alice? Aku sekarang mempunyai kekuatan yang menyamaimu, aku bisa membantumu menjaga Sesil" kataku mendekat ke Alice dan mengguncang tubuh kecilnya saking senangnya.
"Itu bagus, jadi aku tidak kerepotan sendiri menghadapi Dormammu itu" jawab Alice.
"Baiklah, kau simpan baik-baik Bellatrix itu Raka. Aku akan pamit".
"Kau mau kemana kak? bukankah kau bilang kalau kangen padaku?" ujar Alice.
"Ada satu hal lagi yang harus aku kerjakan. Nanti aku akan menemuimu. Apa kau punya cadangan SETI Alice?"
Alice memunculkan sebuah benda dari ruang kosong, kemudian muncullah benda seperti ponsel zaman jadul. Apa itu yang di sebut SETI?
"Kau benar, ini alat komunikasi bangsa kami" Lucky seakan tau apa isi pikiranku, lalu ia mengambil benda yang di sebut SETI itu dari tangan Alice.
"Simpan yang benar kak, aku tidak punya cadangan SETI lagi" Alice memperingatkan.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi" Lucky mendekat ke tempat Kristal berada sampai tidak ada jarak antara mereka. Lulu lelaki itu memegang pinggang gadis itu.
"Aku juga pergi, senang bertemu kalian" kata Kristal.
"Titip kakakku ya kak Kristal. Marahi dia kalau nakal" Alice mengedipkan sebelah matanya. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban. Kemudian Lucky dan Kristal menghilang dari pandangan kami.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Seakan waktu berhenti sama seperti saat Alice menghentukan mobil yang akan menabrak Sesil sebelumnya. Semua orang yang berada di sini berubah menjadi patung. Aku baru menyadarinya. Pantas saja dari tadi kami berbincang-bincang suasana sangat sepi. "Alice apa kau yang melakukan ini?" aku menunjuk ke orang-orang yang terdiam bak patung manekin.
"Waw keren!!!" Seru Sesil. "Apa Raka juga bisa melakukan hal seperti tadi Alice?"
"Tentu ini kemampuan dasar, selama ia membawa Bellatrix dan itu tergantung kemampuan ia melatih konsentrasinya" jawab Alice.
"Woaauwww menakjubkan!! Boleh aku coba?" tanyaku bersemangat. Ini keren, aku bisa menghentikan waktu. Ingin rasanya melompat kegirangan, tapi aku menahannya malu diliat oleh Sesil hehehe.
"Silahkan jika kau bisa" Alice mengendikkan bahunya.
Tentu aku langsung mencobanya. Memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh, pikiranku terpusat ingin menghentikan waktu. Lalu ku buka mataku "Yeeyyy wooaaawww!! Aku berhasil" Aku berseru kesenangan. Tapi itu hanya bertahan sebentar, tak lama orang kembali bergerak melakukan aktifitasnya lagi. Raut mukaku berubah jadi sedikit kecewa.
"Awal yang bagus. Tidak perlu kecewa seperti itu, kau bisa melatihnya lagi nanti" Alice menepuk bahuku, memberikan semangat untukku.
"Alice benar Raka, baru awal saja kau sudah berhasil. Hanya butuh berlatih. Aku bangga padamu" Sesil menggenggam tanganku dan tersenyum lembut.
"Baiklah aku akan giat berlatih, biar bisa secepatnya mahir menggunakan semua kekuatan ini" Semangatku membara. Apa sekarang aku menjadi superhero? Waaww membayangkannya aku jadi senyum-senyum sendiri.
"Baiklah, tidak ada yang perlu aku lakukan lagi di sini. Aku sangat lelah, aku akan kembali ke dimensiku" Alice melipat kedua tangannya di dada.
"Istirahatlah Alice, kau sudah banyak mengeluarkan tenagamu. Kami hanya bermalam di sini. Besok kami kembali ke kota XX" kata Sesil.
"Ya, Sesil benar. Kau istirahatlah dengan tenang, dan terimakasih telah banyak membantu" kataku. Alice mengangguk, kemudian ia menghilang. Kini tinggal aku dan Sesil di sini.
"Sudah malam, ayo kita kembali ke perkemahan. Aku antarkan ke tendamu" Aku menarik tangan Sesil dan kami mulai beranjak dari tepi danau.
"Aku senang Raka" seru Sesil.
"Senang Kenapa?" tanyaku. Kami mengobrol dalam perjalanan menuju area perkemahan.
"Sekaran pacarku adalah manusia super, kau bukan lagi manusia biasa"
Aku tersipu, Manusia super? Aahh rasanya senang sekali mendengar kata itu keluar dari mulut Sesil. "Aku belum terbiasa dengan sebutan seperti itu"
"Mulai sekarang kau harus terbiasa Superheroku"
Sesil mengecup pipiku tiba-tiba. Aku yang kaget dengan serangan dadakan itu sontak membulatkan mata.
"Itu hadiah karena telah berkorban demi menyelamatkanku tadi di danau" Sesil menatap mataku.
Akubtersenyum bahagia "Jika nanti aku bisa menyelamatkanmu dari serangan dormammu itu lagi, apa aku akan mendapatkan hadiah lebih dari sekedar kecupan pipi?" aku menaikkan sudut bibir, menatap dalam mata Sesil. Ia tersipu malu, semburat merah terlihat dari kedua pipinnya. Meski cahaya di sini tidak begitu terang, dengan jarak sedekat ini aku masih bisa melihatnya.
"Akan aku pikirkan" jawab Sesil, kemudian ia berlari kecil.
"Hai, tunggu aku!! Kau harus memberikan yang lebih kalau aku menyelamatkanmu lagi" teriakku sambil mengejarnya.
...****************...
Kebayang gak kalau kalian tiba-tiba jadi superhero kaya Raka, hihihi 🤭😁
Like, vote, koment dan tambah ke favorid ya kalau gak mau ketinggalan aksi Raka selanjutnya..