Just More Time

Just More Time
Hampir saja



"Rak... Raka... iii.. itu.. itu anak kecil yang tanding basket sama aku kemaren !!" Erik terlihat ketakutan dan menunjuk ke arah Alice berada.


Aku dan alice menoleh hampir berbarengan ke arah Erik


"Kamu bisa liat dia Rik?" tanyaku yang sudah penasaran, pasalnya kemaren Anis tidak dapat melihat keberadaan Alice.


"Iya bisa, memang dia siapa Ka? hantu? kok bisa tiba-tiba muncul?" kata Erik masih dengan wajah pucatnya


"Haaaiii bocah ingusan jangan pernah samakan aku dengan hantu" Alice yang tak terima melipatkan ke dua tangannya di depan dada.


"Ka- kamu juga kemaren menghilang begitu saja, sebenarnya mahluk apa kamu?"


"Dia.. " aku melirik ke arah Alice sepertinya dia tak peduli kalau aku katakan hal sebenarnya kepada Erik


"Dia bukan berasal dari bumi ini Rik" kataku


"Maksud kamu Raka? Alien??"


Aku mengangguk, yang di bicarakan masih ngambek karena di bilang hantu.


"Seriusss??? Aku bertemu Alien??" kini wajah pucat Erik seketika berubah jadi wajah gembira.


Apa bagusnya bertemu alien?


"Haaii !!! bisa tidak gak usah teriak-teriak bocah" protes Alice.


"Maaf.., boleh aku memegangmu?" tanya Erik penuh antusias, mukanya bagai anak kecil yang sedang minta es cream.


Alice tak menjawab, tak ada penolakan juga.


Langsung saja Erik memajukan tubuhnya dan mencubit ke dua pipi Alice "Alien yang lucu, menggemaskan"


"Aduhhh sakiiittt jangan kuat-kuat"


"Kamu gak takut Rik, sama Alien?"


"Gak.. malah aku senang bisa bertemu Alien sungguhan. Gak nyangka aku termasuk orang yang beruntung. Kamu kok bisa pelihara Alien ini Raka? aku juga mau"


"Haaiii kau enak saja aku di bilang peliharaan. Dia itu yang budak ku" kata Alice menunjuk ke arahku


Tapi aku tidak begitu menanggapi kata-katanya, ada hal lain yang mengusik pikiranku.


"Alice kenapa Erik bisa melihatmu? apa kamu sengaja menampakkan dirimu?"


"Kau pikir aku sengaja? Kemarin waktu bertemu dia di lapangan basket aku juga bingung kenapa dia bisa melihatku. Tapi setelah melihat reaksinya sekarang aku tau sebabnya"


"Apaa???" tanyaku penasaran


"Karna dia percaya aku ada" jawab Alice.


"Maksudmu?? aku tidak mengerti?"


"Dia percaya bahwa Alien itu ada, hanya orang yang percaya kalau aku ada yang bisa melihatku"


Yang di bicarakan masih saja betah menatap Alice, seperti sangat terkesima, sesekali mentoal toel pipi, atau tangan Alice. Untungnya Alice dalam mode santai. Biasanya dia galak dan ketus


"Aku tidak percaya kamu ada, tapi kenapa aku bisa melihatmu?" kataku


"Karena kau penyebab kecelakaan itu dan aku memang menampakkan diri di depanmu"


Sekarang aku jadi mengerti, ternyata seperti itu.


"Haaaiii bocah sampai kapan kau akan menatapku seperti itu? kemaren kau melihat ku biasa saja"


" Karena aku gak tau kemaren kamu Alien, boleh aku juga memanggilmu Alice?" tanya Erik.


"Terserah kau saja lah" kemudian Alice menghilang.


Erik terliat seperti kehilangan suatu hal yang berharga saat melihat Alice pergi. Ada rasa kecewa di raut wajahnya.


"Sudah.. dia memang sering seperti itu, datang tak di jemput, pulang tak di antar. Main ngilang sendiri" kataku.


"Aku belum puas melihatnya Raka, selama ini aku banyak nonton dan mengumpulkan film-film tentang Alien berharap bisa bertemu mereka"


"Yaa nanti juga paling dia muncul lagi"


"Kok bisa kamu kenal sama Alice?"


"Ceritanya panjang Rik, kamu juga pasti gak akan percaya kalau aku ceritakan"


Erik hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kapan aku bisa ketemu Alice lagi Raka? baru juga sebentar aku sudah kangen"


"Woooiiii sadar... Alice masih kecil, masa iya anak kecil di embat" yang benar saja kalo Erik jatuh hati dengan Alice yang bertubuh kecil dan berumur tua itu.


Aku hanya menggelengkan kepala, gak mengerti jalan pikiran Erik. Ternyata ada ya orang di bumi ini yang percaya bahwa Alien itu nyata.


Aku sendiri kalau tidak melihatnya langsung gak nungkin percaya, apa lagi hanya karena nonton film-film.


"Ayo ke ke kelas, pelajaran sebentar lagi di mulai Rik". Kami berjalan menuju kelas, pagi ini aku belum melihat Sesil. Ada rasa rindu di hatiku.


Tak lama pelajaran di mulai, kami mengikuti pelajaran dengan tertib.


Bel istirahat berbunyi


Aku keluar kelas untuk menghirup udara segar, meluruskan otot-ototku yang kaku karena kelamaan duduk dan menghilangkan penat, pelajaran tadi sungguh menguras otakku.


"Haaii Raka, temanmu itu berisik sekali. Aku malas bila bertemu dengannya lagi" lagi, tiba-tiba Alice muncul di hadapanku.


"Kamu ini hobby sekali muncul tiba-tiba Alice" kataku sarkas, habisnya dia mengagetkanku.


Alice terpaku melihat ke belakangku.


Aku ikut membalikkan badan, ingin tahu apa yang ia liat.


Di situ ada Sesil dengan beberapa temannya sedang bercanda gurau berjalan mendekati kami.


Deg.. deg.. deg..


Jantung ini, selalu tak bisa di kontrol bila berdekatan dengan Sesil. Padahal setelah nikah aku sudah jarang merasakan deg degan seperti ini.


Alice hanya diam mengamati.


"Alice sepertinya dia tak dapat melihatmu?" tanyaku.


"Ya, begitulah" jawab Alice, wajahnya terlihat murung


"Kenapa seperti itu? bukannya kamu mengaku penjaganya?"


"Karena dia tidak percaya aku ada, di kehidupan sebelumnya sampai akhir hidupnya dia tidak tau bahwa aku ada"


Aku mendengarnya sungguh merasa kasihan. Alice yang menjaga Sesil dengan sungguh-sungguh. Tapi semua kerja kerasnya seperti tak berarti, karna ia tak terlihat. Sesil tidak tau selama ini ada Alice yang selalu membantunya.


"Kenapa gak kamu tampakan saja dirimu saja Alice?"


"Tidak bisa sembarangan menampakan diri, harus ada persetujuan pemimpin bila ingin melakukan itu"


Dengan kata lain berarti pemimpi bangsa Alice memperbolehkan ku melihatnya? Tapi kenapa?


"Ohh iya Alice, apa hanya aku yang menyadari bahwa waktu telah di putar balik ke masa lalu?" aku bertanya karena sepertinya hanya aku yang menyadari ini.


"Tidak, harusnya ada 2 orang. Kau dan supir truk yang menabrak Sesil"


"Kenapa begitu?"


"Achhhh.. Raka.. bosan aku menjawab setiap pertanyanmu. Banyak sekali, tidak ada hentinya kau bertanya terus padaku" jawab Alice sambil pergi ke sembarang arah begitu saja.


Aku mengikutinya" Kenapa Alice? jangan buat aku penasaran?"


Alice tak menjawab, dan menghilang lagi.


"Huuufffhhh..." aku menghembuskan nafas. Selalu muncul dan menghilang seenaknya.


Saat pulang sekolah


Aku berjalan menuju parkiran yang letaknya dekat dengan jalan raya.


"Sesil.." gumamku saat melihat Sesil yang sedang berada tak jauh dari tempatku berada.


Dia terlihat seperti hendak menyebrang, ingin rasanya aku berada di sampingnya. Memegang tangannya erat, membawanya menyebrang jalan bersama. Tapi semua itu hanya angan-anganku.


Aku melihat ke arah kiri jalan. Tiba-tiba ada mobil yang melaju begitu kencang.


"Sesil..." teriakku.


Aku berlari, tidakk... jangan sampai mobil itu menabraknya. Aku tidak akan membiarkan Sesil tertabrak lagi seperti yang terjadi di masa depan. Sekuat tenaga aku berlari mencoba menggapai sesil secepat mungkin.


Ku tarik tangannya, tapi tepat saat itu, mobil sudah sangat dekat dengan kami. Tidak sempat! kami pasti tertabrak. Ku peluk erat tubuh Sesil, kalau pun mati kami akan mati bersama, pikirku. Namun tiba-tiba Alice muncul dan menghalau mobil itu dengan ke dua tangannya. Alice sampai termundur beberapa meter. Aku melihat sekitar, waktu seakan terhenti. Orang-orang sekitar kami seperti di pause, tidak bergerak.


Mobil itu berhasil di hentikan oleh Alice, ke adaan kembali seperti sediakala. Aku melihat orang-orang kembali beraktifitas seperti tadi.


"Alice..." teriakku saat melihat Alice terjatuh lemah tak sadarkan diri di aspal jalanan.


Mobil tadi menghilang begitu saja.


Alice kamu sungguh keren.


Jangan lupa kasih dukungan buat Alice, Like, vote, koment, dan tambahkan di daftar favorid kakak