
Kami bertiga menuju goa yang bertuliskan ular suci itu, disana ada seorang kakek tua sedang duduk berdiam diri dan memejamkan matanya. Apa mungkin kakek itu adalah penjaga goa ini? pikirku.
"Maaf, permisi.." kataku saat kami bertiga berada di mulut goa.
Kakek tua itu perlahan membuka mata, tersenyum kepada kami. "Silahkan nak, kalau ingin melihat ular suci".
"Apa boleh kami masuk kek?"
"Silahkan saja, jangan takut, ular di sini jinak" kata kakek meyakinkan.
Kami bertiga pun masuk ke dalam goa, disana gelap dan lembab. Tapi cahaya matahari masih bisa masuk, karena kami berada tidak jauh dari mulut goa.
Di sebelah kakek ada seekor ular. Ular suci ini memiliki warna perpaduan antara hitam dan putih. Bentuk tubuh ular ini berbeda dengan ular biasa. Bagian ekornya berbentuk pipih. Bentuk seperti ini biasa dijumpai pada spesies ular laut. Ularnya tidak terlalu besar, sedang melingkar di dekat batu.
"Ular suci yang ada di Tanah Lot bukanlah ular biasa. Oleh masyarakat Bali, ular tersebut dianggap sebagai ular keramat. Bahkan, keberadaannya merupakan salah satu eksistensi sosok penjaga dari Tanah Lot. Para wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot, berkesempatan untuk melakukan interaksi secara langsung dengan ular suci ini." kakek menjelaskan.
"Benarkah kek? apa ular ini bisa di sentuh?" tanyaku.
"Silahkan, ini aman. Tidak pernah ada kejadian wisatawan atau masyarakat yang digigit oleh ular suci penunggu goa ini."
"Apa ular ini tidak berbisa kek?" tanya Sesil.
"Jenis ular ini mempunyai bisa sangat mematikan. Bahkan, bisa dari ular ini, lebih berbahaya kalau dibandingkan dengan bisa ular kobra. Meski begitu, fenomena menariknya seperti yang kakek bilang tadi ular suci tidak pernah menggigit wisatawan atau masyarakat di sini. Padahal, cukup dengan sekali gigit, siapapun bisa kehilangan nyawanya dalam hitungan menit."
Setelah mendengarkan penjelasan kakek, meyakinkanku untuk menyentuh ular itu. Aku mengulurkan tanganku berlahan, sangat pelan, takut kalau ular suci ini terusik akan sentuhanku.
Sampai akhirnya tanganku menyentuk bagian tubuh ular yang bersisik ini. Ular itu diam saja tidak ada reaksi apa pun. Aku menarik kembali tanganku dan melihat kakek itu, sang kaket hanya tersenyum.
"Benar tidak berbahaya, ularnya hanya diam saja. Apa kamu mau mencobanya Sil?"
"Aku gak berani Raka"
"Tidak papa nak, coba saja. Temanmu tadi talah mencobanya dan tidak terjadi apa-apa". Kakek mencoba meyakinkan Sesil.
"Iya Sil, bahkan ularnya gak gerak sama sekali" kataku. Alice yang berada disana sudah melotot, ia mengisyaratkan bahwa Sesil tidak boleh menyentuh ular itu. Tapi aku mengabaikannya. Toh ini aman, tidak pernah ada orang yang terkena gigitannya.
"Baiklah, aku akan mencoba menyentuhnya" Sesil mengulurkan tangannya ragu dan sedikit bergetar.
Sedikit lagi tangan Sesil menyentuh tubuh ular suci ini. Ular ini hanya diam melingkar disana. Tapi tiba-tiba ular itu bergerak dengan cepat dan menggit tangan Sesil "Aaaaggghhhh...."
Dengan cepat aku menarik tangannya. Dan menopang tubuhnya, karena Sesil bergerak mundur ke belakang.
"Semua ini gara-gara kau Raka, sudah ku bilang tidak usah" Alice yang dari tadi hanya diam mengamati membentakku. "Cepat bantu Sesil keluar dari sini".
Aku mebopong Sesil keluar dari gua itu. Alice mengikuti kami. "Sandarkan dia di batu itu"
Aku menuruti perintah Alice, rasa bersalah mengeruak di dalam hatiku. Lagi, aku membuat Sesil berada dalam bahaya karena perbuatanku. Wajah Sesil sudah pucat, keringat bercucuran di kening dan pelipisnya.
"Alice bagaimana ini? maafkan aku, aku sungguh minta maaf." rasanya air mataku mau tumpah saat itu juga. Alice duduk di sebelah Sesil, mengulurkan ke dua tangannya ke tangan Sesil yang terkena gigitan ular itu.
"Sil ku mohon bertahanlah. Alice, ayo kita bawa Sesil kerumah sakit" menetes sudah air mataku. Aku tidak mau kehilangan Sesil kembali.
"Tidak akan sempat, bisa ular ini sangat mengerikan. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menangis. Cepat temui kakek tua itu. Tanyakan cara mengatasi ini". Kata Alice masih dengan nada sinisnya.
Aku segera berlari menuruti perintah Alice, pergi kembali ke gua itu untuk meminta petunjuk kakek.
Tapi saat sampai di dalam gua, tak ada seorang pun di sana. Aku belarian ke sana kemari mencari keberadaan kakek tua tadi, nihil tidak ada seorang pun. Bahkan ular yang tadi menggigit Sesil juga tidak ada di tempatnya.
"Aaaahhhhh" Aku berteriak frustasi mengacak rambutku. Kemana perginya kakek tadi?
Kuputuskan kembali ke tempat Sesil dan Alice berada. "Alice, kakek dan ular itu tidak ada di sana". Ku lihat Alice masih dengan posisinya seperti tadi dan memejamkan matanya.
Alice tak menjawab, aku mengamati gerak geriknya. Terlihat cahaya berwarna merah keunguan keluar dari telapak tangannya. Cahaya itu memancar ke tangan Sesil yang terluka karena gigitan ular. Tanganku kini menggemgam tangan Sesil erat, kuharap itu bisa memberikannya kekuatan untuk bertahan. Ku lap keringat yang menetes di pelipisnya. Ku mohon bertahanlah Sil....
Tak berselang lama, wajah Sesil berangsur-angsur membaik, menampakan gurat merah kembali, tidak pucat seperti tadi, sepertinya Alice berhasil.
"Uhhukkk.. uhuuukk.." Alice terbatuk mengeluarkan darah segar dari mulutnya.
"Alice- " kataku. Segera aku bergeser ketempat Alice duduk.
Alice membuka matanya, "Ini bukan bisa ular biasa, sangat beracun. Bila itu hanya ular suci seperti yang di bilang kakek tua tadi. Aku tidak mungkin sampai seperti ini".
"Maksudmu apa Alice?" kataku bingung dengan penjelasan Alice.
"Ular tadi sepertinya bukan berasal dari bumi, butuh banyak energi untuk menghentikan racunnya. Sepertinya ada yang tidak beres. Belakangan ini Sesil sering sekali celaka"
"Kamu benar Alice, aku juga memikirkan hal yang sama sepertimu. Dan lagi kakek tadi beserta ularnya menghilang".
"Mahluk mana yang bisa mengelabuiku? bahkan aku tak merasakan keanehan pada kakek tadi. Dia bisa sangat lihai menyembunyikan auranya, merubah auranya seperti manusia pada umumnya." kata Alice.
"Aku juga tidak mengerti Alice, tapi mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati. Aku akan selalu ada di sisi Sesil. Walaupun aku tak bisa banyak membantu".
"Tidak perlu, kau jauh-jauhlah dari Sesil. Aku bisa menjaganya sendiri".
"Saat ada kamu di sisi Sesil saja, Sesil bisa terluka Alice. Kamu tidak bisa mendeteksinya kan? Jadi, lebih baik kita berkerja sama. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan Sesil. Aku juga akan menjaganya, bahkan bila nyawaku taruhannya".
Alice terdiam, ia terlihat berpikir. "Baiklah, aku setuju, ku pegang kata-katamu Raka".
"Raka... Alice..." Sesil terbangun, entah ia mendengar atau tidak pembicaraanku tadi.
Kasihan ya Sesil selalu dalam bahaya. Sebenarnya siapa yang ingin mencelakakannya?
Happy reading.
Jangan lupa tinggalkan jejak