Just More Time

Just More Time
Jadian



Kami sampai di vila milik Bu Tika. Vila ini sangat luas sekali. Terdapat tiga lantai, dengan bangunan yang sangat megah. Aku yakin Bu Tika orang yang sangat kaya, dilihat dari aset yang ia miliki. Untungnya kami di sini menginap secara gratis. Vila ini sangat terawat dan bersih, ku lihat ada beberapa orang yang bertugas merawat vila ini. Mereka menyambut kedatangan kami.


Setelah itu, kami masuk kekamar masing-masing yang sudah di bagi sebelumnya oleh Pak Andre. Tentunya anak laki-laki akan sekamar dengan laki-laki juga. Begitu pula dengan anak perempuan. Hari ini sungguh melelahkan. Aku memasukki kamar dan segera membersihkan diri. Kemudian bersiap pergi tidur.


Di vila semua berjalan lancar, tidak terjadi hal-hal aneh seperti sebelumnya. Syukurlah, aku dapat tidur dengan nyenyak dan akan mulai aktifitas kembali di pagi ini.


Pagi ini kami akan berangkat ke pantai sesuai jadwal yang di tentukan. Saat ini kami menikmati sarapan yang sudah di sediakan pengurus vila.


"Anak-anak menurut informasi yang saya terima, saat ini di pantai Kuta obaknya sangat tinggi. Tidak memungkinkan untuk kita bermain di tepi pantai" Kata Bu Tika.


"Yaahhh, jadi gimana dong Bu?" Tanya iren.


"Bagaimana kalau kita belanja saja ke pasar Sukowati? Jadi main di pantainya bisa di pantai Pandawa saja" usul Mery.


"Boleh juga tuh"


"Iya bener, jadikan tetap bisa ke pantai"


"Sekalian belanja buat oleh-oleh"


"Yes, bisa puas nihh belanja. Disana kan murah-murah"


Hampir seluruh siswa yang setuju dengan ide Mery. Mereka tentunya tidak ingin melewatkan untuk shopping. Anak perempuan yang terlihat bersemangat untuk itu.


"Bagaimana Pak Andre apakah anda setuju dengan ide Mery?" tanya Bu Tika.


"Saya setuju saja bu, dari pada tetap ke Kuta sangat berbahaya bila anak-anak bermain di pantai. Takut kalau terseret ombak. Kalau hanya melihat-lihat di tepi pantai pasti kurang seru. Mereka akan bosan"


"Baik lah, Bagaimana guru-guru yang lainnya?" tanya Bu Tika lagi.


"Kami setuju bu"


"Benar, bu jadi bisa sekalian beli oleh-oleh buat yang di rumah"


"Iya bu, saya juga setuju"


Semua guru-guru mengatakan setuju dengan ide itu.


"Baik lah, kita sudah sepakat ya tidak jadi ke Kuta dan akan di ganti ke pasar Sukowati. Setelah sarapan kita akan ke pantai Pandawa dulu, sepertinya sempat kalau mau melihat sunrise disana." Bu Tika berkata sambil melihat jam di pegelangan tangannya. Karena waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi. Kami memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar bisa lebih lama menikmati liburan.


Akhirnya siswa memasuki bus satu persatu. Seperti biasa tugasku mengabsen mereka di depan bus. Setelah selesai aku masuk ke dalam bus, ku lihat Sesil sudah menungguku dan tersenyum ke arahku.


"Bagaimana tidurmu?" kataku saat mendudukan diri di sebelah Sesil.


"Sangat nyeyak, makanya aku merasa sangat segar pagi ini" Sesil menjawab sambil tersenyum ke arahku. Sepertinya aku akan sering melihat senyumnya lagi.


"Syukurlah, kamu harus selalu ada bersamaku Sil?"


"Tapi Sil, aku sudah janji dengan Alice akan menjagamu selama dia masih menyembuhkan luka dalamnya. Aku bisa kena bogem mentahnya Alice kalau sampai kamu terluka"


"Tapi Raka gak perlu sampai seperti itu, kalau aku mau ke toilet masa iya kamu juga ngikut gitu?"


"Emm, gak papa kalau itu mau kamu. Aku juga ikut kalau perlu masuk kedalam juga" kataku menggodanya.


"Dasar mesum kamu, otak cowok itu ya gak jauh-jauh, semua sama aja" Sesil berkata sambil memukul pelan lenganku.


"Kan kamu sendiri yang minta tadi. Aku hanya mengikuti maumu" kataku dengan cueknya.


"Hah? kapan aku mintannya? Gak, gak.. pokoknya aku bisa jaga diri sendiri. Gak perlu selalu berdua deh kalau kemana-mana. Lagian nihh ada Mery dan Miska yang selalu bareng sama aku. Kamu gak perlu khawatir berlebihan gitu Raka. Entar kalau ada apa-apa aku langsung hubungi kamu kok. Kamu ini sudah kaya bodyguard aja" cocos Sesil panjang lebar, padahal kemarin dia setuju dengan ideku menyuruhnya selalu bersamaku. Kenapa hari ini dia berubah pikiran? sungguh susah memahami tingkah wanita.


"Baiklah, terserah kamu saja Sil. Lagian aku maunyanya bukan jadi bodyguardmu."


"Terus apa namanya kalau selalu ngintilin aku kemana-mana"


"Pacar kamu. Yang selalu bersamamu dan menjagamu." kata-kata itu keluar loss saja dari mulutku ini. Aku juga tidak menyangka akan mengatakan ini.


Wajah Sesil bersemu merah mengdengar ucapanku tadi. Dia membuang muka menghadap jendela menyembunyikan raut wajahnya yang sedang malu. Sangat menggemaskan.


"Bagaimana?" Aku bertanya sambil menatap lekat wajahnya. Terlalu cepat mungkin, tapi aku sudah tidak bisa berlama-lama memendamnya lagi.


"Bagaimana apanya Raka?" Sesil menjawab masih tidak berani menatapku.


"Jawabanmu?"


"Jawaban apa?" Sesil masih mengelak.


"Ck-, Sil aku tanya kamu mau gak jadi pacarku?"


"Sejak kapan kamu suka sama aku Raka?" tanya Sesil, kini ia berani menatap wajahku. Melihat ekspresiku. Menatap lekat manik hitamku, mencoba mencari kebenaran atas jawaban yang akan aku berikan.


"Sejak lama, aku sudah lama menyukaimu Sil. Walaupun kita baru saja berkenalan. Aku ingin selalu bersamamu, menjadi seseorang yang bisa kamu andalkan dan melindungimu" Aku berkata jujur, karena memang sudah sangat lama aku mencintainya. Bahkan kami telah menikah di kehidupan sebelumnya.


Ia tersenyum, "Baiklah, aku mau"


"Mau apa?"


"Mau jadi pacarmu Raka. Kamu ini gak ada romantis-romantisnya ya? nembak cewek di dalam bus"


Aku tergelak, tertawa mendengar pernyataannya. Memang aku bukan tipe pria yang romantis. Apa lagi pria yang pandai merangkai kata dan menggombal wanita. Bukan seperti diriku, aku lebih suka to the poin langsung. Dan membuktikannya dengan tindakan tanpa banyak kata dan gombalan.


"Jadi kita resmi pacaran nihh?" tanyaku


"Hemmm..." Sesil hanya berdehem, melipat kedua tangannya di depan dada, dan melihat ke jendela. Tapi kulihat gurat kemerahan di wajah putihnya itu. Apa dia sudah mulai mencintaiku? kenapa malu-malu gitu sih? bikin gemas pengen aku makan. hahahaha..