Just More Time

Just More Time
Salah Paham



Tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam tenda tempat kami berada "Raka apa sudah selesai?" tanya orang itu.


Iren yang mendengar suara itu dengan cepat memelukku dan menyatukan kembali bibirnya denganku.


Deg


Jantungku seketika terasa sakit saat tau suara siapa itu, dan lagi posisi kami pasti akan membuatnya salah paham. Iren, gadis ini sangat keterlaluan.


"Raka?? Apa yang kau lakukan?" Aku melihat cairan bening menetes di sudut matanya. Mata indah itu seketika berubah menjadi sendu. Kemudian ia segera berlari keluar.


Aku segera mendorong Iren "Sil tunggu, ini gak seperti yang kamu lihat" aku mengejarnya, tanpa mempedulikan Iren lagi, wanita itu sungguh keterlaluan. Dengan sengaja ia melakukan itu saat tau yang datang adalah Sesil.


Aku mempercepat langkahku, berusaha menahan pergelangan tangannya "Dengerin penjelasanku dulu sayang. Kamu salah paham"


"Mataku gak buta Raka. Aku lihat dengan jelas pakai mataku sendiri. Ternyata semua lelaki sama saja, Kau tidak lebih baji**an dari Max. Kalian sama saja!!! Aku kira kau berbeda karena berkata akan menjagaku, bahkan walaupun nyawamu taruhannya. Ternyata itu hanya omong kosong" Sesil mengatakannya sedikit berteriak dengan penuh emosi. Cairan bening itu juga menetes deras dari kedua mata indahnya. Saat ini kata yang tepat menggambarkan perasaannya adalah Kecewa. Ya, dia telah dikecewakan untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya saat masih berpacaran dengan Max, lelaki itu juga kedapatan oleh Sesil telah berciuman mesra di atap gedung sekolah dengan wanita lain. Bahkan Max sangat menikmati ciumannya, sampai tangannya tidak bisa dikondisikan lagi. Bermain dan meraba ke tubuh wanita itu. Kini pemandangan yang sama kembali terulang di depan mata Sesil. Hatinya saat ini sungguh sakit. Saat melihat Raka berciuman dengan Iren. Tapi situasinya berbeda dengan Raka, Raka hanya di jebak. Iren sengaja melakukannya saat Sesil muncul di antara mereka. Raka pun langsung melepaskan ciumannya, dan sama sekali tidak menikmatinya.


Ehh, apa? Dia mendengarku saat mengatakan akan selalu menjaganya walau nyawaku taruhannya? Ku kira saat itu Sesil masih belum sadar dari pingsannya.


Kupeluk Sesil dengan begitu erat, seakan tak mau kehilangan dia. Sesil meronta di pelukanku "Lepaskan aku dasar baji**an" dia memukul-mukul badanku.


"Aku mohon dengarkan aku, yang ada di hatiku cuma kamu Sesil. Hanya kamu, tidak ada wanita lain. Aku mencintaimu, menyayangimu. Sampai kapan pun, walau harus menembus ruang dan waktu. Kumohon percayalah padaku"


Sesil mengis sejadi-jadinya di dalam pelukanku "Kau bohong raka, kau bohong. Hiks.. hiks.."


"Aku tidak bohong, akan ku buktikan semua perkataan ini suatu saat nanti. Aku dan Iren tidak ada hubungan apa-apa. Gadis itu memang mencintaiku, tapi aku tidak. Cintaku hanya untukmu Sesil, hanya kepadamu" Aku mengeratkan pelukanku lagi, semakin erat merengkuhnya. Aku tak mau kehilangan kepercayaannya, terlebih kehilangan dirinya.


Setelah beberapa saat berada pada posisi ini tangis Sesil berangsur-angsur mereda, ia juga sudah tidak meronta memukulku lagi. "Lepaskan aku Raka, aku tidak bisa bernafas" katanya kemudian.


Aku memeluknya terlalu kencang, terbawa perasaanku. Kemudian ku lepaskan pelukan itu, ku seka jejak cairan bening yang mesih tersisa di pipinya. "Jangan nagis lagi, itu bisa membuatku sakit" aku menatap manik coklatnya lekat.


Sesil tertunduk, "tinggalkan aku, aku ingin sendiri"


Aku mengerti, dia masih kesal. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tawarku.


"Tidak" jawabnya singkat.


"Ohh ya, tadi kamu mencariku ada apa?"


"Tidak ada, tidak jadi" dia berlalu pergi.


Huuufff, kuhembuskan nafas panjang. Berharap bisa menghilangkan sesak di dadaku. Mungkin gadisku butuh waktu.


Setelah beberapa saat aku termenung sendiri, menikmati pemandangan indah di sekitar sini. Aku melangkahkan kaki ke tenda yang akan aku tempati. Disana sudah ada Erik dan teman lainnya. Tenda sudah berdiri, tidak ada yang perlu di kerjakan lagi.


"Rik, kamu gak jalan-jalan sama Miska?" tanyaku


"Gak, pasti mau ngajak aku jalan ya?"


"Idih kepedean kamu. Tapi iya juga sih, dari pada jalan sendiri, hehehe"


"Bener mending berdua dari pada sendiri, itu para cewek-cewek udah pada jalan duluan"


"Siapa?" tanyaku.


"Siapa lagi kalau bukan trio wekwek"


"Katanya mau foto dengan latar danau, jadi mereka mau menyewa speed boat".


"Kenapa gak bilang dari tadi Rik?" aku bergegas berlari menuju tepi danau Beratan. Firasatku tidak enak.


Erik berlari menyusulku "Tunggu aku Raka"


Kini aku sudah berada di tepi danau Beratan. Aku melihat Sesil, Miska dan Mery sedang menaiki Speed Boat yang telah mereka sewa, bersiap untuk melaju berputar mengelilingi danau Beratan, dibantu oleh pemandu yang bertugas mengendalikan Speed Boat.


Sial!!! Aku terlambat


"Udah, gak usah khawatir. Gak akan terjadi apa-apa Raka. Kamu liat sendiri kan, sampai sekarang pun keadaan tentram tidak terjadi apa-apa" Erik berkata saat mensejajarkan tubuhnya di sebelahku.


"Apa yang perlu di khawatirkan?" tanya Alice tiba-tiba muncul di antara aku dan Erik berdiri.


"Astaga, Alice. Jantungku mau copot rasanya" Erik berkata sambil memegang dadanya.


Aku hanya sedikit terkejut, semakin lama aku terbiasa dengan kebiasaan Alice yang suka muncul tiba-tiba. Aku melirik sekilas ke arahnya dan berkata "Sudah membaik?"


"Ya, sudah. Sudah cukup semediku. Sekarang tenagaku pulih kembali".


"Syukurlah" aku berkata sambil bersidekap dada.


"Ini, maksudnya gimana? Apanya yang membaik? Kamu sakit Alice?" Erik memborong semua pertanyaan.


"Satu-satu nanyanya bocah. Kamu nanya kaya gerbong kereta, berderet"


"Yahh, maklum lah Alice. Erik ini fans beratmu, harusnya kamu bersyukur. Walaupin bukan artis tapi kamu punya fans" kataku.


"Aisss, kalau fansnya kaya gini mah bencana" Alice menunjuk ke arah Erik.


Erik memanyunkan bibirnya membentuk huruf U "Tega bener kamu Alice!!! Ayo dong jawab pertanyaanku. Jangan bikin aku mati penasaran"


Alice memotar bola matanya "Aku sedikit sakit, bersemedi memulihkan tenaga dan kekuatanku, Puas?"


"Tapi sekarang kau baik-baik saja kan Alice?" tanya Erik yang menatap lekat Alice.


"Ya, kau lihat sendiri. Aku ada di hadapanmu, berarti aku baik-baik saja"


"Syukurlah, kau tau Alice aku mengira kamu sudah kembali ke planetmu. Lama kau tak muncul"


"Tidak mungkin aku kembali, masih ada tugas penting di sini"


"Haii, kalian berdua liat di sana" aku menunjuk ke arah Sesil, Miska, dan Mery berada. Terlihat air gelombang lumayan besar di sekitar mereka. Sesil , Miska dan Mery berpenganan pada sisi Speed Boat.


"Apa yang terjadi?" tanya Alice.


"Mungkinkah yang ku takutkan akan terjadi" kataku.


"Maksudmu apa Raka?"


"Berita di surat kabar, yang menyebutkan bahwa air danau dapat bergelombang di waktu tertentu".


Ayo kasih dukungan kalian, biar author semangat Upnya. 😉