
Alice POV
Pagi ini aku terbangun dari tidur nyenyakku, meluruskan otot-otot yang terasa sangat pegal. Membuka mata yang masih sedikit mengantuk. Tersadar aku tidak berada di dimensi yang biasa aku tempati. Melihat ke sampingku, gadis cantik yang selalu ku jaga semasa hidupnya masih tidur terlelap. Dengkuran kecil terdengar dari bibir mungilnya.
Melihat jam yang terpasang di dinding kamar bernuansa pink biru ini. Sudah jam 6, aku harus membangunkan sesil. Dia mestinya sekolah hari ini.
"Sil.. Sil, bangun. Kau harus ke sekolah kan?" aku menepuk tangannya agak ia terbangun
Sesil yang terusik menggeliat dan mulai membuka matanya "Eemmm iya Alice, kamu uda bangun?" dia pun duduk dari posisi tidurnya "tidurlah lagi kalau masih ngantuk, aku akan bersiap"
"Tidak Sil, kemaren kau bilang pada ibumu. Aku di tinggal di sini karena aku juga mesti kesekolah. Jadi aku hari ini akan pura-pura ke sekolah"
"Ohh iya, aku sampai lupa Alice. Eemmm.. sebentar" Sesil beranjak, membuka lemari pakaiannya. "Karena kamu terlihat seperti anak umur 10 tahun, berarti kamu cocok memakai baju ini"
Ku lihat Sesil mengeluarkan baju berwarna putih, dan rok berwarna merah, lengkap dengan dasi dan topi yang juga berwarna merah" Baju apa itu Sil?"
"Ini seragamku saat masih duduk di sekolah dasar, semoga saja muat denganmu Alice"
"Jadi aku harus memakainya? Tidak bisakah ke sekolah memakai bajuku yang sekarang saja?" aku menunjuk bajuku yang selalu ku kenakan. Baju pink dengan rok selutut andalanku.
"Itu bukan seragam sekolah Alice, nanti mama bisa curiga"
"Baiklah kalau begitu, tidak buruk juga" aku menyetujui saran Sesil. Hanya agar mamanya tak curiga.
Sesil bergegas mandi, mengenakan pakaiannya dan bersiap. "Kamu gak mandi Alice?" tanya Sesil
"Mandi? Di planetku tidak ada yang namanya mandi. Kami selalu bersih dan wangi walaupun gak mandi"
"Yang bener Alice, jadi kamu sama sekali belum pernah mandi?"
Aku mengeleng "Tidak ada sejarahnya bangsa kami pernah mandi"
"Terus kalau semisal badanmu kotor belepotan tanah atau apalah, gimana Alice? Tetap gak mandi?"
"Kami tinggal menjentikkan jari, bersih sendiri" kataku
"Ohh Alice tapi sekarang kamu gak bisa melakukannya"
Aku terdiam, benar juga. Saat ini kekuatanku belum kembali "Jadi apakah aku harus mandi?" aku mencium badanku. Sesil pun ikut mendekat dan mengendusnya.
"Eemmm Alice kamu bau masam, dari kemaren keringatan gak mandi. Mandi sana, toh gak akan membahayakan nyawamu hanya sekedar mandi membersihkan diri." Sesil menyarankan.
"Bagaimana caranya? aku tidak mengerti, karena belum pernah melakukannya. Ini yang pertama bagiku"
"Sini aku tunjukkan" Sesil menarikku ke sebuah ruangan yang katanya itu adalah kamar mandi.
"Nanti buka bajumu, lalu mandilah dengan air di sana, pakai sabun ini, jangan lupa sikat gigimu. Ini sikat gigi baru" Sesil menjelaskan sambil menujuk benda-benda itu.
Aku mengangguk paham, setelah Sesil pergi barulah aku melakukan kegiatan mandi ini sesuai dengan petunjuknya tadi. Ternyata mandi itu menyegarkan, air yang dingin menerpa kulitku. Kalau begini aku bisa ketagihan mandi, hihihi.
Selesai mandi aku dibantu Sesil mengenakan baju, seragam putih merah tadi "Nahh Alice, selesai. Kamu imut sekali Alice, cocok pakai seragam ini" Sesil mencubit pipiku. Sepertinya ia gemas melihat penampilanku.
Kami pergi sarapan, masakan Diana memang masakan terenak yang pernah aku rasakan. Aku jadi ketagihan makan kalau seperti ini. Padahal makan atau gak makan tetap saja sama, bangsa kami tidak pernah merasa lapar, makanan hanya untuk memanjakan lidah saja.
"Mah Sesil sama Alice berangkat ya" kata Sesil yang berpamitan dengan Diana
Sekarang kami berada di jalan menuju sekolah Sesil. "Sil aku nanti jalan-jalan saja sekitar sekolahmu, tidak mungkin juga aku betulan pergi ke sekolah"
"Oke Alice terserah kamu saja, hati-hati ya Alice"
Kami pun berpisah arah. Ku jalankan kaki ini tak tentu arah. Ternyata begini ya rasanya menjadi manusia bumi.
Raka POV
Tidak menemukan yang di cari semalam, aku jadi ragu kalau itu hantu. Semalam saja kami tidak menemukannya. Lumayan lama aku dan Erik menelusuri ruang demi ruang di sekolah. Tidak ada satu pun hantu yang kami temui. "Hahahahahah" mengingatnya aku jd tertawa lagi, mengingat bagaimana Erik ketakutan sampai terkencing di celana. Sungguh memalukan.
"Haii Rik, gimana uda di cuci ompolnya?" kataku saat berpapasan dengan Erik di halaman sekolah.
"Huttsss Raka, kamu bisa diam gak, nanti ada yang dengar? Ini kan gara-gara kamu juga yang kurang kerjaan" protes Erik.
"Ya kali uda segede gini ngompol Rik, hahahaha"
"Diem gak? Malu tau Ka. Aku gak bakal lagi mau ikut-iktuan ide anehmu. Cukup sekali itu aja"
"Bercanda bro, biar kamu gak tegang. Dari kemaren tegang terus. Terbukti kan gak ada namanya hantu"
"Ya mungkin karena kita beruntung gak menemukannya"
"Aahh kamu memang terlalu percaya yang gitu-gitu Rik"
"Terserah kamu lah Raka. Ohh iya, gimana keadaan Alice ya? apa kekuatannya sudah kembali?"
"Entahlah Rik, aku belum ada bertemu dengannya"
Kami berjalan ke kelas sambil mengobrol, tak terasa kami telah memasuki kelas. Dan sebentar lagi pelajaran akan di mulai.
"Selamat pagi anak-anak"
"Selamat pagi Pak" jawab kami serentak.
"Sebelum saya memulai pelajaran, saya akan menyampaikan dan mengingatkan kembali mengenai tour kita yang akan di selenggarakan besok. Saya harap kalian menyiapkan keperluan selama di sana. Jangan terlalu banyak membawa barang. Bawa saja barang yang di rasa perlu" Pak Andre menjelaskan. Selain sebagai pembina Osis Pak Andre juga mengajar PKn. Hari ini di jam pertama kebetulan adalah jam beliau.
"Pak nanti kita di sana akan berkunjung ke mana saja?" Reni teman sekelasku yang merupakan juara kelas bertanya.
"Mengingat kita di sana hanya 2 hari, sesuai jadwal yang sudah di susun oleh anggota Osis. Di hari pertama kita akan ke Tanah Lot, Bedugul. Selanjutnya di hari ke dua kita pergi ke pantai Pandawa dan pantai Kuta"
"Jadi kita menginapnya nanti di mana pak?" kali ini Rio yang bersuara. Rio yang merupakan anak paling bandel di kelas. Tapi kalau masalah jalan-jalan dia sangat antusias.
"Kemungkinan akan menginap di Bedugul, mengingat disana tempatnya sejuk, dingin dan luas. Kita bisa mengadakan perkemahan di sana. Untuk makan, kita bisa makan di resto yang terletak di area Bedugul"
Begitu Pak Andre menjelaskan. Banyak sekali pertanyaan dari teman-teman yang antusias akan pergi ke bali. Hingga pelajaran pun berlangsung.