
Saat ini Raka dan Alice sepakat untuk bekerja sama menjaga Sesil. Mereka mendapat sinyal bahwa ada orang yang berniat jahat ingin mencelakai Sesil.
"Raka... Alice..." Sesil terbangun, entah ia mendengar atau tidak pembicaraanku dan Alice tadi.
"Sesil, bagaimana keadaanmu? apa yang kamu rasakan?" Aku langsung saja membondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.
Sesil menatap mataku dan tersenyum lembut, ia mempererat genggaman tanganku "Aku tidak papa Raka, sekarang aku baik-baik saja." Sesil beralih menatap Alice, "Terimakasih Alice, kamu selalu membantuku".
"Sama-sama Sil, mulai sekarang aku akan extra mengawasimu. Dan kau jangan jauh-jauh dari Raka. Sepertinya ada yang sedang mengincar nyawamu". Alice menjelaskan situasi yang kami hadapi saat ini.
Tatapan Sesil masih sayu, ia belum pulih sepenuhnya "Kenapa orang itu mengincar nyawaku?"
"Entahlah Sil, aku juga tidak mengerti. Aku akan berusaha menyelidiki masalah ini. Sekarang aku harus kembali ke dimensiku. Energiku terkuras saat mengeluarkan racun dan mengobati lukamu tadi".
"Maafkan aku yang selalu menyusahkanmu Alice" Sesil tertunduk, ia merasa bersalah karena membuat Alice selalu dalam bahaya untuk menolongnya.
"Sudah menjadi kewajibanku, dan aku sama sekali tidak keberatan melakukannya. Raka, pastikan Sesil selalu ada bersamamu. Aku pergi dulu" tanpa menunggu jawabanku, setelah mengucapkan itu Alice langsung menghilang.
"Sil, aku benar-benar minta maaf karena menyuruhmu memegang ular itu tadi. Aku tidak tau kalau ternyata ular itu bukan ular biasa, Alice mengatakan bahwa kakek tua dan ular suci tadi hanya orang yang menyamar, orang itu ingin mencelakaimu, dan mereka bukan mahluk bumi ini"
"Tidak perlu minta maaf Raka, kamu gak salah. Semua ini kecelakaan. Jadi maksudmu kakek dan ular tadi mahluk seperti Alice?"
"Aku tidak tau mereka sebangsa dengan Alice atau tidak. Tapi Alice mengatakan mereka bukan berasal dari bumi".
Pandangan Sesil tertunduk, entah apa yang ia pikirkan. "Kamu tidak perlu cemas Sil, aku dan Alice akan selalu ada di sampingmu"
"Terimakasih Raka, sekarang ayo kita kembali?"
"Apa bisa berdiri?"
Sesil mencoba berdiri, aku membantunya. Baru beberapa langkah Sesil sempoyongan, hampir saja ia jatuh kalau aku tidak segera menangkap tangannya.
"Aaahhhhkkk turunkan aku Raka, aku bisa berjalan sendiri" Sesil sedikit memberontak saat aku mengendongnya.
"Berjalan seperti tadi? kamu bisa jatuh Sesil. Jarak kita dengan bus masih jauh"
"Aku malu Raka, bagaimana kalau ada yang lihat"
Aku mengedarkan pandangan, melihat sekeliling. Sudah sepi, sepertinya teman-teman sudah kembali. "Tidak ada orang di sini"
"Kalau begitu turunkan aku bila sudah dekat, aku gak mau yang lain melihat" Sesil mengatakannya sambil malu-malu.
"Baiklah, eratkan peganganmu. Aku akan sedikit berlari". Sesil mengalungkan lengannya di leherku. Dan aku mulai sedikit berlari takut kalau yang lain kelamaan menunggu. Saat akan sampai, aku menurunkan Sesil sesuai permintaannya.
Rombongan kami terlihat, mereka sedang berkumpul mendengarkan arahan dari Pak Andre. Aku dan Sesil pun ikut bergabung.
"Anak-anak, tadi bapak dan dewan guru yang ikut kemari telah berembuk. Kami sepakat jadwal akan di ganti. Hari ini kita akan menginap di sini saja. Kebetulan Bu Tika punya vila yang cukup besar di dekat sini."
"Akhirnya aku bisa merasakan tinggal di vila" kata Emil.
"Gak perlu ribet-ribet mendirikan tenda" kata Dewi.
Banyak siswa yang merasa senang dengan perubahan jadwal ini.
"Besok kita akan lanjutkan ke pantai Pandawa dan pantai Kuta. Karena jarak dari sini lebih dekat ke pantai Pandawa, maka dari itu bapak merubah rutenya. Setelah dari Kuta baru kita akan ke Bedugul. Apa penjelasan bapak bisa di mengerti?"
"Siap mengerti pak" jawab siswa serentak.
"Kalau begitu sekarang kalian silahkan masuk kedalam bus, untuk pemimpin grup tolong anggotanya di absen terlebih dahulu" tambah Pak Andre.
"Siap laksanakan pak" anggota osis menjawab serentak.
Rombongan ini pun bubar dan menuju busnya masing-masing. "Sil, kamu masuklah duluan. Aku harus mengabsen mereka terlebih dahulu".
"Oke, aku tunggu di dalam". Sesil pun naik ke bus.
Seperti sebelumnya aku berdiri di depan bus, mengabsen anak-anak yang masuk. "Raka, kamu tadi kemana aja? Aku, Miska, dan Mery mencarimu dan Sesil" Erik menyapa dan mengajalku ngobrol sembari menemaniku mengabsen di depan bus.
"Aku tadi ke goa di sebelah kiri agak unung dari tempatmu dan Misaka berfoto. Gimana uda puas foto berduaannya?"
"Tentu saja belum, masih ada 3 tempat lagi. Aku harus mengumpulkan foto berdua Miska sebanyak-banyaknya untuk kenang-kenangan. Biar Miska gak kesepian kalau jauh dari aku"
"Huuuu kepedean kamu Rik. Mau jauh kemana juga kamu? paling di seputar kota Y"
"Hehehe suka bener kamu kalau ngomong Raka. Udah lengkap?" tanya Erik sambil melihat daftar absen yang ku pegang.
"Udah, ayo masuk" Kami berdua masuk ke bus, tak lama berselang pak supir juga masuk. Dan bus mulai berjalan ke vila milik Bu Tika.
Aku duduk di samping Sesil, seperti janjiku kepada Alice. "Sil, berikan ponselmu?"
"Hem, untuk apa Raka?"
"Sudah berikan saja". Sesil mengeluarkan poselnya dari tas selempang yang ia kenakan dan menyerahkannya padaku.
Aku mengetikkan nomerku di ponselnya, kemudian misscall ponselku sendiri untung save nomernya. "Simpan!!! kalau ada apa-apa cepat hubungi aku" aku menyerahkan kembali ponsel Sesil dan di sambut dengan senyum manisnya.
"Baik, akan ku simpan. Kamu perhatian sekali kepadaku Raka"
"Tentu, nanti di vila tidak mungkin aku bisa selalu di sampingmu. Jadi kalau terjadi sesuatu cepat hubungi aku"
Sesil hanya membalasnya dengan senyum yang penuh arti.