Just More Time

Just More Time
Berkat Alice



Bus yang kami tumpangi siap untuk berangkat. Supir mulai menyalakan mesin dan menginjak pedal gasnya. Aku melihat Sesil duduk sendirian, entah kemana perginya Alice mungkin kembali ke dimensinya.


Ini adalah kesempatanku mendekati Sesil. "Boleh aku duduk di sini?" tanyaku.


"Silahkan Raka, kebetulan tempat ini kosong" Sesil mempersilahkanku duduk.


Ku dudukan diriku di sebelahnya, rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak berdekatan denganya. Biasanya dia selalu menemaniku tidur, bersamaku setiap waktu kecuali ketika kami sedang bekerja.


"Alice mana Sil?"


"Ah, Alice tadi bilang ada yang mesti ia lakukan di dimensinya"


"Oh begitu, ternyata ada kerjaannya juga anak itu, hahahaha"


"Kamu terlihat dekat dengan Alice ya?"


"Ahh, tidak juga. Kebetulan aku bertemu dengannya. Setelah itu dia selalu muncul tiba-tiba dihadapanku"


"Bagaimana bisa kamu melihat Alice, Raka? Kalau Erik karena ia percaya alien, kalau aku karena tidak sengaja saat Alice kehabisan kekuatannya dan setelah itu aku percaya bahwa Alice bukan manusia. Nahh kalau kamu karena apa?"


"Eemm, eh- itu karena.." aduh aku harus beralasan apa pada Sesil? Gak mungkin kan aku bilang karena aku menyebabkan dia mati, dan Alice marah padaku.


Tiba-tiba terdengar teriakan iren yang duduk di bangku depan "Aaakkhhh awas pak pelan-pelan"


Terlihat bus ini melaju dengan kencang. Berbelok, kekanan dan kekiri menghindari kendaraan yang lain.


Karena bus yang berjalan berbelok-belok tidak sengaja kulitku menyentuh lengan Sesil tanpa balutan kain. Sungguh aku rindu padanya, darahku terasa berdesir, ingin sekali aku menyentuhnya.


"Aduh, gimana ini remnya blong" kata pak supir.


Aku menggelengkan kepala, mencoba mengambil kesadaranku kembali. Bukan saatnya aku memikirkan itu. Kulihat Pak supir sudah sangat panik, mencoba menginjak rem berkali-kali tapi gagal. Semua orang di dalam bus juga tidak kalah paniknya. Aku melihat Sesil yang juga panik melihat keadaan ini. Aku mencoba untuk tetap tenang "Sil, kamu jangan kemana-mana tetap di sini ya?"


"Kamu mau kemana Raka?"


"Aku harus ke depan, tunggu di sini" Aku langsung berlari ke depan bus, menghampiri pak supir


Pak supir membunyikan tlaksonnya berkali-kali. sambil menghidari kendaraan-kendaraan yang juga melintasi jalanan ini. Keadaan jalanan tidak begitu ramai, tapi ada beberapa mobil yang melintas.


Tiba-tiba terlihat di depan sana seorang ibu menggandeng tangan anaknya yang akan menyebrang jalan. Semua orang di dalam bus ini yang melihat itu semua menjadi semakin ketakutan.


Tin.. Tin.. Tin..


Pak supir membunyikan telaksonya lagi. Tapi seakan tidak mendengar ibu dan anaknya itu tetap menyebrangi jalan. Tidak!!! kalau begini bus ini dapat dipastikan menabrak ibu dan anak itu.


Aku melihat ibu itu menoleh, sekilas aku melihat senyum tipis di bibirnya, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat. Kenapa ibu itu malah tersenyum? Seperti sengaja mengantarkan nyawanya.


Pak supir yang panik langsung saja membanting stirnya ke arah kiri jalan. Kalau begini bus ini akan menabrak trotoar jalan.


"Semuanya duduk di tempat masing-masing. Gunakan sabuk pengaman dan berpegangan yang kuat" kataku memperingatkan. Saat ini aku masih berada di samping supir memantau keadaan. Mereka langsung mengikuti instruksi yang aku berikan.


Saat sudah dekat dengan trotoar tiba-tiba bus ini berhenti. Terasa seperti ada yang menariknya dari belakang. Dengan cepat aku berlari ke belakang, Huuff hampir saja. Terlihat Alice berada di sana. Ia tersenyum kepada ku, kemudian menghilang.


Aku langsung berlari kembali ke depan untuk melihat keadaan ibu dan anak tadi. Tapi tak seorang pun berada di sana. Kemana perginya ibu dan anak tadi?


Semua orang yang berada di bus merasa lega, keadaan tadi benar-benar memacu jantung mereka.


"Pak kemana perginya ibu dan anak tadi?" tanyaku kepada supir.


"Entahlah nak, bapak yang panik sudah tidak memperhatikan lagi. Yang bapak pikirkan keselamatan penumpang"


"Ren, sadar ren" aku menggoyangkan bahunya.


"Rak.. raka" Iren mulai menatapku.


"Kenapa ren? kamu gak kenapa-kenapa kan?"


Iren menggeleng, "I.. ibu dan anak tadi.."


"Kenapa ibu dan anak tadi? mereka gak ketabrak kan?"


Iren kembali menggeleng "Lalu kenapa mereka? katakan yang jelas ren?"


"Me.. mereka, mereka menghilang"


"Hah? menghilang? maksud kamu gimana?"


"Tadi saat bus ini hampir menabrak trotoar, tepat sebelum bus ini berhenti ibu dan anak itu menghilang begitu saja"


"Serius kamu?" aku yang kaget akan perkataan iren meninggikan suaraku. Sontak semua mata tertuju padaku. Sadar akan kesalahan yang ku perbuat aku menurunkan volume suaraku. "serius ren? kamu gak salah liatkan?"


"Gak Raka, aku yakin banget. Aku melihatnya sendiri tadi"


"Untuk sementara tolong kamu rahasiakan apa yang kamu liat ren, jangan sampai yang lainnya tau. Aku takut mereka akan merasa ketakutan dan tour ini tidak akan berjalan lancar. Kamu bisa kan ren?"


Iren mengangguk, karena sebagai anggota osis dan pemandu grup ini kami harus bisa menjaga agar tour ini berjalan dengan lancar.


"Nanti aku coba selidiki, sebaiknya kamu pindah kebelakang dengan Sesil. Disana tempat dudukku tadi, biar aku yang di sini"


"Baik Raka, terimakasih" Iren beranjak pergi menuju tempat aku dan Sesil duduk tadi.


Aku menghampiri pak supir "Jadi gimana pak? apa perjalanan bisa dilanjutkan apa tidak?"


"Sebentar, bapak coba jalankan bus ini dengan pelan" Pak supir memundurkan bus agar kembali ke posisi semula dan bisa mencoba berjalan kembali di jalan raya ini.


"Tidak mungkin!" seru pak supir


"Ada apa pak?" tanyaku


"Remnya gak blong, tapi tadi-" pak supir terlihat bingung dengan apa yang terjadi. "Tadi itu rem ini benar-benar gak berfungsi nak. Bagaimana mungkin sekarang berfungsi dengan normal?"


"Pak tolong kecilkan suara anda, saya tidak mau membuat teman yang lainnya heboh" pintaku.


"Iya nak, maafkan bapak. Bapak masih gak habis pikir dengan kejadian ini"


"Yang penting sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan pak, saya harap bapak lebih berhati-hati lagi mengendarai bus ini"


"Iya pasti nak, bapak akan hati-hati. Bapak juga syok dengan kejadian tadi. Ada baiknya kita berdoa dulu"


Pak supir meminta kepada seluruh penumpang bis untuk berdoa menurut kepercayaannya masing-masing agak perjalanan ini berjalan lancar dan tanpa hambatan.


Kemudian bus pun kembali melaju dengan normal, sesaat setelah bus ini kembali berjalan baru terlihat bus ke 2 di belakang. Ternyata mereka tertinggal cukup jauh, dan tidak melihat semua kejadian menegangkan tadi. Syukurlah tidak terjadi hal yang tak di inginkan.


Untung saja tadi ada Alice yang membantu, menarik bus ini dari belakang sehingga bus ini bisa berhenti tepat pada waktunya.


Tapi tunggu dulu, apa ibu dan anak yang tiba-tiba menghilang tadi ulah Alice? Apa rem bus yang kembali baik juga Alice yang melakukannya?