Just More Time

Just More Time
Keanehan



Kami masih berada di ruang UKS saat ini.


"Aku gak bisa kembali ke dimensiku sementara waktu, tak ada tenaga yang tersisa untuk menembus dimensi, dan sekarang orang lain bisa melihatku" Alice menjelaskan keadaannya.


"Serius?? Segitu parahnya kah dampaknya bagimu Alice?" aku tak menyangka dampaknya akan separah ini.


"Yahh mau gimana Raka, kan sudah aku jelaskan bahwa kekuatanku hanya tersisa sedikit, sisanya itu aku gunakan sewaktu menolongmu dan Sesil"


"Tidak apa-apa Alice, kamu bisa tinggal di rumahku kalau mau?" Sesil menawarkan Alice sementara di rumahnya.


"Ide yang bagus, soalnya gak mungkin aku atau Erik pulang bawa anak perempuan, bisa di introgasi habis-habisan sama ibu dan bapak"


"Iya, aku juga setuju. Akan lebih nyaman kalau Alice bersamamu Sil. Baik-baik ya di rumah Sesil Alice. Jangan nakal, jangan merepotkan di sana?" Erik berkata bagai kakak yang memberi petuah pada adiknya.


"Haii bocah, aku bukan anak kecil, sembarangan saja kau bilang aku nakal! Lagi pula aku juga tak mungkin merepotkan. Hanya numpang tidur saja, gak makan 1 tahun pun bukan masalah bagiku" Alice berkata sarkas tak terima dengan perkataan Erik.


"Jadi kamu gak makan dan gak minum Alice?" tanya Sesil penasaran. Pasalnya Sesil belum mengenal Alice, hanya tau dia bukan manusia.


"Yahh begitulah, makan juga bisa, gak makan juga bukan masalah. Makan hanya untuk memanjakan lidah, bukan suatu kebutuhan seperti kalian. Cuma karena tidak makan aku gak bakalan mati." Jelas Alice


"Kalau gitu ayo kita pulang alice, apa kamu sudah kuat bangun?" ajak Sesil


Alice mendengar itu langsung saja bangun, berdiri dah melangkah kesana kemari ingin menunjukkan bahwa dirinya kuat, dan sudah tidak apa-apa.


"Baguslah Alice, ayo.."


Kami semua pulang ke rumah masing-masing. Karena hari memang sudah mulai sore, matahari mulai membenamkan dirinya.


Sesil POV


Aku pulang bersama mahluk yang telah menyelamatkan nyawaku hari ini, seorang anak cantik berambut pendek. Entah dari mana dia berasal, aku belum sempat menanyakannya. Yang jelas aku tau, dia anak yang baik.


"Mahh, Sesil pulang" kataku saat memasuki pintu rumah


"Sesil, kenapa kok pulangnya kesorean?" tanya mama dan memperhatikan anak yang sedang bersamaku.


"Tadi ada tugas tambahan ma, dan ini adiknya temanku. Dia sementara mumpang menginap di sini ya mah?"


"Memang keluarganya kemana Sil?"


"Temanku dan keluarganya sedang ada urusan di luar kota, Alice gak bisa ijin dari sekolahnya, jadi temanku menitipkan Alice kepadaku" ini hanya alasanku saja kepada mama, tak mungkin aku mengatakan bahwa alice bukan mahluk bumi.


"Jadi namanya Alice, Haaiii Alice.. selamat datang" sapa mama


"Haiii Diana.. uppsss.. maaf.. maksudku tante Diana"


"Dari mana kau tau nama tante Alice?"


Alice terlihat berpikir melihat sekeliling mencari sesuatu.


Dan matanya tertuju pada foto mama dan papa yang di bawahnya tertulis Fahri dan Diana.


"Dari sana" Alice menunjuk foto itu.


"Wahhh matamu kau jeli sekali Alice" kata mama menanggapi Alice.


Aku tau sebenarnya bukan dari situ Alice tau nama mama, entah dari mana, foto itu hanya alasannya saja.


"Ya sudah Sesil kamu mandi gih, ajak Alice istirahat di kamarmu"


Aku mengangguk, menarik Alice. Alice terlihat melambaikan tangannya ke mama.


Sesampainya di kamar Alice langsung membaringkan tubuhnya di kasurku. Seperti rumahnya sendiri, tanpa rasa sungkan. Aku tersenyum melihat tingkahnya.


"Ohh iya Alice, kalau kamu tak keberatan bisa ceritakan tentang dirimu?" karena aku sangat penasaran, hanya saja mengingat kondisi Alice tadi aku menahan rasa penasaran itu.


Aku terkejut mendengar penjelasan Alice


"Kenapa kau di tugaskan menjagaku Alice?"


"Ceritanya panjang, singkatnya bangsa kami berutang budi kepada kakekk moyangmu beribu-ribu tahun yang lalu, dan berjanji akan menjaga keturunannya agar berumur panjang"


"Sungguh aku tak pernah mendengar tentang itu Alice, dan terimakasih selama ini kamu telah menjagaku" ucapku tulus, aku tak mengira gadis kecil ini telah lama menjagaku.


"Tak perlu berterimakasih Sesil, itu sudah menjadi tugasku, aku juga senang melakukannya, bisa jalan-jalan di bumi. Ternyata bumi itu indah walau banyak suara bising kendaraan yang mengganggu"


"Memang di planet asalmu tidak ada kendaraan?"


"Tentu tidak, kami tinggal berteleportasi atau terbang kalau ingain ke suatu tempat"


"Wahhh hebat sekali" aku berseru sekaligus membayangkannya di otakku, sepertinya menyenangkan bisa teleportasi dan terbang


"Pantas saja sewaktu melihat mama kamu langsung mengenalnya, ternyata seperti itu" sambungku


Alice mengangguk


"Sesil.. kalau sudah mandi ajak Alice makan" terdengar suara mama dari luar.


"Iya mah, Alice aku mandi dulu ya. Kamu tunggu di sini dulu jangan kemana-mana"


Alice mengangguk "Oke"


Aku segera ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah selesai aku mengajak Alice ke meja makan. Walau pun awalnya Alice menolak, dengan alasan ia tak perlu makan, tapi Aku sedikit memaksanya, karena mama akan curiga kalau melihatnya tidak makan. Untungnya Alice mau mengerti.


"Di coba Alice, makan yang banyak ya" mama berkata karena Alice terlihat hanya menatapi makanan yang ada di atas meja.


Alice tersenyum dan mulai menyantap makanannya. "Eeemmm.. enak.. sungguh makanan ini makanan terenak yang pernah aku makan"


Mama tersenyum senang karena masakannya di sukai "Habiskan Alice kalau kau suka"


Tanpa sungkan Alice memakan semuanya, tambah lagi, lagi, dan lagi. Seakan perutnya tak ada kenyangnya, mampu menampung semua makanan.


Aku dan mama hanya tertegun, saling menatap dan kemudian tertawa.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Alice


"Tidak, kamu seperti orang yang gak makan satu minggu Alice, hahahaha" kataku


"Maaf.. " kata alice dengan muka bersalahnya, tapi sedetik kemudian ia nyengir dan mulai makan lagi.


Hahahahaha aku dan mama tertawa lagi..


****


Raka POV


Di kamar sambil tiduran aku memikirkan kejadian tadi, kalau saja Alice tidak datang tepat waktu mungkin sekarang aku sudah tak bernyawa.


Mengingat-ingat kembali kejadian dari awal aku melihat Sesil ingin menyebrang jalan, dan tiba-biba muncul mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya.


Tunggu!!!


Aku langsung terduduk. Mobil itu muncul tiba-tiba, aku mengingat-ingat kembali dengan mendetail.


Saat kami akan di tabrak. Aku sempat melihat ke arah pengemudi, Tidak mungkin!!! Aku mengingatnya kembali kalau-kalau aku salah ingat.


Ingatan ku tetap sama, mobil itu kosong. Tidak ada pengemudi di dalamnya. Bagaimana mungkin??