Just More Time

Just More Time
Hantu?



Hari ini hari minggu, hari dimana aku biasa bermalas-malasan. Tapi tidak dengan hari ini, kejadian kemaren begitu mengganggu pikiranku. Mau di ingat samapai seribu kali pun, ingatanku tetap sama dan aku yakin, aku tidak mungkin salah liat.


Siang bolong gitu masa ada hantu?? Hantu yang bisa mengendarai mobil dan seperti sengaja hendak mencelakai Sesil.


Aku harus mencari tau, karena kalau benar ada yang berniat mencelakai Sesil aku tak akan tinggal diam.


Aku akan menjaganya walau nyawaku taruhannya, tidak ingin menyesal lagi di kemudian hari. Aku bergegas mandi, berpakaian rapi dan keluar kamar.


"Mau kemana pagi-pagi begini Raka?" tanya ibu


"Kamu gak ngigau kan Raka, sekarang hari minggu" bapak juga sedang bersantai karena libur kerja.


"Gak bu, pak, Raka tau ini hari minggu. Hanya saja Raka ada urusan"


"Tumben-tumben kamu sok sibuk" mba Rika baru keluar dari kamarnya.


"Memangnya cuma artis aja yang sibuk, aku juga punya kesibukan mba" kataku.


"Gak sarapan dulu Raka?" tanya ibu.


Aku hanya mengambil selembar roti dan meminum susu di atas meja dengan terburu-buru.


"Raka pergi ya bu, pak, mba" kataku mencium tangan mereka satu persatu.


"Iya hati-hati. Aneh sekali anak itu, gak biasanya hari minggu pergi terburu-buru" bapak yang heran melihat tingkahku.


Mengendarai sepeda motorku, pergi ke tempat kejadian kemaren. Mencari bukti yang tertinggal, semoga saja ada bukti di sana.


Sesampainya di lokasi kejadian, aku memarkirkan motor dan berjalan mendekati lokasi. Beruntung hari masih pagi, jadi tidak banyak kendaraan yang lewat.


Meneliti dan menelisik satu persatu sambil membayangkan adegan yang terjadi kemaren.


Melihat dan mencari bukti yang tertinggal di sana dengan mendetail, tapi nihil. Tak ada satu pun bekas dari insiden itu.


Apa Alice sengaja menghilangkannya?


Akkkhhhh.. kepalaku jadi pusing, tak ada satu pun barang bukti disini. Aku mengacak rambutku frustasi.


Apa benar itu ulah hantu?


Aku mencoba menelpon Erik "Hallo, Raka.. tau gak sih ini hari apa?" terdengar suara serak Erik di seberang sana, sepertinya dia baru bangun tidur.


"Sory Rik, ganggu tidurmu. Ada yang mengusik pikiranku dari tadi Rik"


"Apaan? ada cewek yang kamu taksir?"


"Ini lebih penting lagi, cepat mandi. Aku tunggu di kafe biasa" tanpa mendengar persetujuan Erik langsung ku matikan telpon, kalau tidak pasti dia banyak alasan untuk tidak datang.


Sekitar hampir 1 jam aku menunggu, akhirnya Erik datang. Dengan tampangnya yang masih mengantuk. "Apaan sih Ka? ganggu tidur indahku aja" protesnya


"Ini penting Rik" kataku meyakinkan


"Buruan apaan?"


"Kamu percaya hantu?" tanyaku dengan tampang serius.


"Hantu? kamu nyuruh aku kesini cuma mau nanyain itu?"


"Tunggu dulu, jawab aja dulu pertanyaanku"


"Eemmm.. percaya, mahluk selain kita pasti ada. buktinya Alice saja ada"


Sepertinya aku salah orang menanyakannya kepada Erik, jelas-jelas hal yang mustahil seperti Alien saja ia percaya, aku menepok jidatku sendiri.


"Lha kenapa? aku kan jawab sesuai kepercayaanku?" tanya Erik saat melihatku menepok jidat.


"Pernah liat?" tanyaku lagi


"Iiihhhh amit-amit deh sampai pernah liat, jangan sampai, bisa-bisa terkencing di celana aku"


"Nahh kalau kamu belum pernah liat, jangan dulu bilang hantu itu ada Rik"


"Ech Raka, mahluk begitu tu pasti ada. Kamu ini juga kenapa sih? Pagi-pagi uda bahas yang seram?"


"Gak papa, kamu ingat kejadian kemaren saat aku dan Sesil hampir di tabrak mobil?"


"Ya ingat lah, baru juga kemaren masa iya lupa, kamu kira aku pikun. Terus apa hubungannya dengan hantu?"


"Kemaren waktu aku menarik Sesil, ku kira sudah gak sempat lagi dan kami akan tertabrak. Saat itu aku melihat ke arah mobil itu melaju, sebelum Alice tiba-tiba muncul menghalau mobil itu"


"Terus? dalam mobil ada hantunya gitu?"


"Gak gitu Rik, waktu itu aku liat mobil itu kosong. Gak ada orang sama sekali, gak ada pengendaranya"


"Salah liat kali kamu Ka"


"Gak mungkin aku salah liat, mobil itu begitu dekat, tepat di depanku"


"Jadi maksudmu hantu yang mengendalikan mobil itu?"


"Ini baru spekulasi awal, soalnya aku tadi ke tempat kejadian, gak ada satu pun bukti di sana?"


"Mungkin Alice sengaja menghilangkan bukti, kan dia bilang kemaren bisa heboh kalau ada orang yang liat"


"Nahh, aku juga berpikiran sama Rik. Gini aja deh ntar malam jam 12 kamu ikut aku"


"Hah?? kemana? aku uda pensiun godain om-om Ka"


"Hahh? ngapain? jangan macam-macam deh Ka?"


"Aku pengen buktiin hantu itu ada apa gak"


"Ach kamu aja sendiri Ka, gak usa bawa-bawa aku. Gak berani aku"


"Ayo lah Rik, kamu sahabatku satu-satunya. Mau ya?"


"Gak.. gak. gak.. cari orang lain aja, gak ikut aku kalau melakukan hal konyol gitu"


"Ya udah kalau gitu nanti gak boleh ketemu Alice lagi, kalau ada kamu Alice aku larang mucul"


"Lho.. lho.. kok kaya gitu Ka? jangan lah, aku masih pengen ketemu Alice"


"Makanya ayo lah Rik"


Akhirnya setelah melalui perdebatan panjang, Erik setuju. Dengan syarat hanya sebentar saja.


Jam 12 malam, aku pergi diam-diam. Jangan sampai ada yang tau aku pergi. Aku dan Erik sudah berjanji bertemu di minimarket 24 jam dekat sekolah.


"Uda bawa senter Ka?"


"Udah, nihh" kataku sambil menunjukkan sebuah senter di tanganku.


"Kalau ketahuan satpam gimana?"


"Tenang aja gak bakal ketahuan"


Kami pun menuju pintu gerbang sekolah, keadaan sekolah sangat gelap sekali, hanya lampu depan yang menyala dan lampu di pos satpam.


Kami bersembunyi di tembok dekat pos, kemudian aku melemparkan batu yang lumayan besar ke arah genteng sekolah sebelah kanan.


"Haaiii siapa di sana?" satpam berkata sambil pergi memeriksa bagian kanan sekolah.


Melihat kesempatan itu aku langsung menarik Erik untuk mengikutiku dari belakang. Sekarang kami di sini, di koridor sekolah. Berbekalkan senter sebagai alat penerangan.


"Haaiii hantu pengganggu Sesil, keluar kamu" kataku.


"Ssstttt.. Ka, kamu mau uji nyali? sembarangan kalau ngomong"


"Udah kamu diam aja Rik, ikuti aja"


Hukk hukk huukk huukk..


"Raka, suara apa itu?" Erik sudah gemetaran di belakangku.


"Gak papa Rik, paling juga burung hantu"


"Burungnya hantu aja uda muncul Ka, aku takut, ntar malah hantunya nongol lagi"


"Burung hantu Rik, bukan burungnya hantu"


"Ach terserahlah, sama aja Raka. Balik aja yukk?"


Erik mengikuti di belakangku, berpegangan pada tanganku dan sesekali bersembunyi di balik badanku ketika kita melewati ruang kelas.


"Raka.. udah ach.. aku gak tahan lagi. Ayo pulang" rengek Erik


"Bentar lagi Rik, kita belum nemu yang kita cari"


Aaaauuuuuuuuuu.....


"Haduh.. itu anjing lolong Ka, kata orang dia ngliat hantu kalo lolong gitu"


"Itu cuma kata orang Rik, jangan percaya kalau belum liat sendiri"


"Amit-amit, jangan sampe liat yang begitu. Permisi ya mba kunti, mas dedemit, jangan ganggu aku. Temanku yang ngotot mau ke sini" kata Erik dengan suara bergetar


"Braakkkk.." terdengar suara benda jatuh


"Acchhhh Rakoo.." teriak Erik, aku langsung membekap mulutnya dengan tanganku. Bisa gawat kalau satpam tau kami di sini tengah malam.


"Sstttt berisik, entar ketahuan satpam" kataku memperingatkan.


"Itu tadi apa Ka? kan mereka marah, udah deh pulang aja"


"Ayo kita periksa, sepertinya dari sana" aku menuju ruang kelas yang terdengar bunyi suara benda jatuh tadi. Menyenteri ruangan itu, tidak ada apa-apa.


"Miiiaauuuuu" kucing melompat dari jendela.


Erik sudah hendak teriak lagi, melihat itu aku segera menutup mulutnya.


"Diam Rik, cuma kucing" tunggu dulu,..


Aku mengarahkan senter ke arah lantai, ada air yang mengalir, ku ikuti arah air itu berasal.


Lalu ku lihat Erik, "Bbhahahahaha" aku reflek menutup mulutku sendiri.


Erik pipis di celana


Sungguh aku ingin tertawa sekeras-kerasnya.


Tak tahan menahan tawa ku putuskan menyelesaikan pencarian kali ini.