Just More Time

Just More Time
Kemarahan Sesil



Kini bus yang kami tumpangi berjalan menuju Pantai Pandawa. Alamatnya berada di Jalan Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Saat ini kami telah memasuki kawasan pantai di desa Kutuh Bali. Bus ini harus melewati sebuah jalan yang di apit oleh tebing batu yang terjal. Di tebing terjal ini terdapat patung dari Panca Pandawa dalam kisah Mahabharata, karena itu di namakan Pantai Pandawa Kutuh Bali. Lokasi Pandawa beach Bali berada di balik tebing batu kapur yang sangat tinggi dan dari atas tebing aku akan dapat melihat keindahan pemandangan Samudra Hindia.


Pantai yang begitu indah. Terlihat dari atas sini, lautan yang biru berpadu dengan birunya langit, pasir putih yang begitu memukau, burung yang berterbangan, deru ombak yang menari, sungguh maha karya Tuhan yang begitu indah.


Semua siswa melihat ke jendela dengan begitu takjub. Bahkan yang duduk di sisi kiri rela berdiri untuk menglihat keindahan itu. Kuarahkan pandangan mataku ke sisi kanan tempat kekasihku duduk. Yah kekasihku, dia Sesilia Presilia sekarang telah jadi kekasihku. Kami baru jadian beberapa jam yang lalu. Tapi perasaanku padanya sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya. Sesil menatap takjub pemandangan itu, terlihat dari matanya yang berbinar, pandangannya matanya tak lepas dari indahnya pantai Pandawa.


"Ini sungguh indah Raka. Ciptaan Tuhan yang terindah" kata Sesil yang masih menatap keluar jendela.


Aku memandang wajahnya yang tersenyum ceria "Ya, indah. Sungguh indah" yang ku maksud indah adalah wajahnya yang tersenyum, kuharap senyum ceria itu selalu bisa menghiasi wajah cantiknya.


Sesil menoleh, pandangan kami bertemu. "Apa kamu pernah ke sini sebelumnya Raka?"


"Pernah, bersama gadis yang aku cintai". Aku tidak berkata bohong. Memang di kehidupan sebelumnya aku pernah kemari bersamanya.


Sesil mengerucutkan bibirnya "Jadi aku yang kedua? kekasihmu yang kedua yang kemari bersamamu?" Ada nada kesal di kalimat yang terlontar dari bibir indahnya.


Aku terkekeh, bagaimana bisa dia yang kedua? Sedangkan memang hanya dia kekasih yang pernah kesini bersamaku. "Apa kau cemburu?"


"Kenapa kau ketawa Raka? menurutmu pertanyaanku lucu? dan apa itu cemburu? Tentu saja tidak" Dia mengelak dan membuang muka ke sembarang arah.


"Ya, kau lucu. Selalu lucu dan menggemaskan."


Rayuanku tidak mempan, ia masih saja menekuk mukanya dangan bibir menbentuk huruf U. "Jadi benar aku yang kedua?" tanyanya lagi.


"Tidak"


"Lalu?"


"Kau yang pertama Sil"


"Jadi maksudmu cinta sepihak?"


"Tidak, dia juga mencintaiku"


"Ohh, ayolah Raka. Kau terlalu berbelit"


"Aku berkata yang sebenarnya, hanya denganmu aku kemari"


Sesil memutar bola matanya jengah "Terserahlah". Dengan nada kesal ia mengatakannya. Aku hanya tergelak, kemudian ku cubit pipinya yang menggebung itu. Lalu dengan cepat aku bangkit dari dudukku agar tak mendengar suara protesnya.


"Teman-teman kita sudah sampai di pantai Pandawa. Kalian bisa bermain dan bersenang-senang di pantai. Tapi ingat tetap utamakan keselamatan, jangan bermain terlalu jauh ke tengah pantai. Ombak di sini lumayan kencang karena ini adalah laut lepas dan langsung terhubung ke Samudera Hindia. Kuharap kalian semua have fun dan tetap hati-hati." Aku memberi arahan kepada seluruh anggota bus 1 yang menjadi tanggung jawabku.


"Oke Raka, sekarang bolehkah kami turun?" Erik sungguh tidak sabar ingin langsung terjun kepantai.


"Ya, silahkan. Dimulai dari kursi paling depan". Tak lama mereka berdiri dan keluar satu persatu dari bus yang kami tumpangi. Kulihat gadis cantik yang duduk di sebelahku tadi juga ingin berlalu pergi. Dengan cepat aku menarik tangannya "tunggu aku, aku harus memastikan semua rombongan keluar bus".


"Aku tunggu diluar saja" katanya dan langsung berlalu pergi. Apa dia masih kesal? Huh, moodnya hari ini buruk sekali.


Setelah memastikan semua keluar dan tidak ada yang tertinggal aku pun keluar dari bus ini. Ku lihat sudah ada Sesil, Mary, Erik, Miska dan tunggu!!! kami ketambahan satu orang lagi. Orang yang tak kuinginkan kehadiarannya.


"Boleh aku bergabung?" kata pria bertubuh jangkung itu. Bukankah sejak kemarin dia tidak terlihat? kenapa tiba-tiba muncul?


"Boleh Max silahkan. Oh, iya Max ku kira kamu gak ikut? Dari kemarin aku tak melihatmu?" Mery menjawab pria bertubuh jangkung itu.


"Naik apa kamu ke sini Max?" tanya Miska.


Pria bernama Max itu mengarahkan jarinya ke sebuah mobil sport merah yang sangat mewah, terparkir tidak jauh dari tempat kami berdiri.


"Wawww.. mobilmu sungguh keren Max" Erik berkata dengan mulut menganga. Mungkin sebentar lagi air liurnya akan terjatuh.


Cih, pamer. Mentang-mentang anak konglomerat.


"Pasti asik kalau aku bisa duduk di mobil itu, seperti di film-film. Keren.. keren.." Mery berteriak histeris, membayangankan adegan pada drama dimana seorang pria gagah sebagai pangerannya dan ia duduk bersanding di sebelahnya sambil berpegangan tangan. Sungguh imajinasi yang konyol.


"Maaf, tapi hanya seorang gadis yang aku perbolehkan menaikinya" Max berkata dengan mata lekat memandang Sesil.


Apa-apaan dia? Mereka kan sudah putus. Ku akui dia kaya dan wajahnya lumayan, walau tidak setampan aku. Yah, wajahku ini sebelas dua belas lah dengan Kim Soo Hyun. Wajah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Aku juga sudah mulai muak dengan lelaki itu, tanpa lama-lama kutarik tangan Sesil dan ku gengam erat jemarinya. Lihatlah Max, dia milikku sekarang.


Akhirnya Mery, Erik dan Miska mengikuti. Tentu saja lelaki menyebalkan yan sok kaya itu juga ikut. Bahkan dengan tidak tau malunya ia berjalan di sisi kanan Sesil, dengan aku yang berjalan disisi kiri Sesil sambil menggenggam jemarinya.


"Sil, aku perlu bicara berdua denganmu" katanya dengan tidak tahu malu, hai.. hai.. apa kau tidak lihat maksud tersiratku menggengam tangannya?


"Bicara apa Max, bicara saja disini"


"Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu, bisakah kamu ikut aku sebentar?"


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Max" jawab Sesil tegas dan tetap berjalan menatap kedepan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Max.


"Kamu cuma salah paham Sil. Ayolah, beri aku kesempatan menjelaskannya" dia masih tidak menyerah. Aku berusaha menahan emosiku dari tadi.


"Maaf Max, tidak ada kesempatan untukmu. Semua sudah jelas, dan tolong jangan ganggu aku" Sesil mengatakannya dengan sedikit membentak. Aku tergelak, sepertinya mood gadisku semakin hancur dibuatnya.


Max menahan pergelangan tangan Sesil yang tidak ku pegang. Tentu saja itu membuatku meradang, beraninya tangan kotor itu menyentuh Sesil. "Lepaskan tangamu" kataku tegas.


"Kamu gak usah ikut campur, ini urusanku dengan Sesil" Max tidak mengindahkan kata-kataku.


"Urusan Sesil menjadi urusanku juga"


"Hahahaha, memangnya siapa kamu? Jangan hanya karena jabatanmu sebagai ketua osis kau merasa berhak ikut campur masalah kami"


Aku meradang, tangan ini sudah kukepalkan sejak tadi, buku-buku tanganku juga sudah memutih. Ingin sekali kulemparkan bogem mentah di wajahnya yang bak porselin itu. Tapi aku menahannya, aku cukup tau diri dengan posisiku sebagai ketua osis yang menjadi contoh siswa lainnya, sangat tidak pantas bila aku berkelahi di saat kami mengadakan tour. "Cih-, apa kau mau tau yang sesungguhnya? Aku pacarnya. Sesil sekarang menjadi kekasihku"


"Hahahaha.. Sesil.. Sesil.. pilihanmu sunggu merosot jauh, apa kau tidak bisa dapat pria kaya dan gagah seperti aku, jadi memilih dengan orang miskin ini?"


Habis sudah kesabaranku.


PLAAKKKK


Aku tercengang, bukan aku yang memukulnya, aku kalah cepat. Sesil menghentakkan tangannya yang di cengkram oleh Max dengan kuat kemudian melayangkan jari lentiknya ke wajah porselin itu. "Tutup mulutmu itu Max. Dia sungguh lebih baik dari pada kamu dan jangan pernah ganggu hidupku lagi. Aku muak melihat wajahmu itu". Sesil mengatakannya penuh emosi, entah ia marah karena Max tak kunjung melepaskan tangannya, atau marah karena Max menghinaku.


Keluar deh sisi galak Sesil. Hihihi..


Jangan lupa tinggalkan jejeak 😊