
"Aku tidak bisa percaya begitu saja pada orang asing yang baru dikenal" kata Kristal, ia enggan menerima permintaan Lucky. Walaupun di negara tempat ia dibesarkan kehidupannya bebas, termasuk bebas membawa teman pria. Tapi, ini Indonesia. Ia tidak bisa melakukan hal itu, apa kata tetangga nanti.
"Membalaskan dendam pada lelaki yang menghianati dan menguras tabunganmu. Itu kan permohonanmu pada bintang jatuh tadi?" Lucky mencoba meyakinkan Kristal. Ia tidak punya pilihan lain, dari pada ia harus bertelanjang dan pergi tanpa arah dan tujuan. Saat ini, yang terpenting adalah mendapatkan baju dan tempat tinggal terlebih dahulu.
"Bagaimana kau tau? Apa kau dewa yang dikirim Tuhan untukku?"
"Anggap saja begitu, anggap aku dewa penolong yang akan mengabulkan ke inginanmu. Tentunya tidak gratis, kau harus memberi tempat tinggal sementara untukku"
"Ck-, Mana ada dewa penolong yang mengharapkan imbalan!!!"
"Terserah padamu, kalau tidak mau aku akan pergi". Lucky melangkahkan kakinya seolah ia akan pergi. Padahal itu akal-akalannya saja untuk mendesak gadis itu. Lucky yakin gadis itu akan menerima tawarannya.
"Tunggu..." kata Kristal. Ia terdesak, tak punya banyak waktu untuk terlalu lama berpikir dan menimbang kemungkinannya. Ia sangat ingin membalas kelakuan sang mantan kekasih yang kurang ajar itu.
Lucky menghentikan langkahnya, menarik sudut bibirnya kemudian menoleh menghadap gadis itu. Sesuai dugaannya gadis ini akan menerima penawarannya. "Ada apa lagi?"
"Aku mau, aku bersedia menampungmu. Tapi jika kau mengingkari janji, aku akan membuat perhitungan denganmu" Baiklah tidak ada ruginya menerima tawaran pria ini Kristal, lagi pula dia terlihat seperti orang baik. Dan lagi wajahnya yang begitu menawan, mirip artis-artis Korea itu bisa kau lihat setiap hari nantinya, hihihihi. Kata Kristal di dalam hatinya.
Lucky tersenyum saat membaca pikiran Kristal. Salah satu kemampuan khusus yang dimiliki Lucky adalah dapat membaca pikiran orang yang di inginkannya. Pada saat terjatuh dari langit tadi, tanpa sengaja Lucky mendengar kata hati Kristal.
"Kau bisa pegang kata-kataku. Sekarang bisa kita pergi mencari baju buatku?"
"Tunggu, aku belum tau siapa namamu? Aku Kristal" Kristal mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Aku Lucky" Lucky menyambut uluran tangan Kristal.
'Huh, singkat banget. Gak ada basa basinya sama sekali'
Lucky tersenyum. Gadis yang unik
"Kenapa kau tersenyum? apa ada yang aneh?" tanya Kristal.
"Tidak, tidak ada. Ayo..." Lucky menarik tangan Kristal.
"Eh.., kok?"
"...."
"Kita pulang ke rumahku dulu. Besok baru ku carikan baju buatmu". Kata Kristal di sela perjalanan mereka menuju rumah yang Kristal sewa.
"Terus malam ini aku pakai apa?"
"Kau bisa pakai bajuku yang ada"
"Terserahlah yang penting tidak telanjang" Lucky berkata sambil meletakan kedua tangannya ke belakang kepala, berjalan mengikuti Krisal.
Rumah ini terletak tidak jauh dari tempat mereka bertemu tadi, hanya membutuhkan waktu lima menit mereka telah sampai di depan rumah bergaya minimalis dengan cat berwarna abu-abu dominasi biru.
Mecari-cari baju dan celana yang dirasa muat untuk Pria dengan tinggi kira-kira 170cm ini. Untungnya baju rumahan Kristal banyak yang longgar dan kebesaran. Ia suka mengenakan baju seperti itu kalau bersantai di rumah.
"Ini, pakailah ini dulu" Kristal menyerahkan kaos oblong lengan pendek berwarna biru langit dan celana pendek rumahannya.
Lucky mengambil pakaian itu lalu bergerak membuka resliting jaket yang ia kenakan.
"Haaaiii yang benar saja? jangan ganti di sini. Kau tidak punya malu?" Kristal berkata sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Lucky kembali tersenyum jahil, sepertinya mengerjai Kristal jadi hobby barunya sekarang. Melihat raut wajah Kristal yang bersemu merah membuat Lucky gemas. Ia hanya berniat membuka sedikit resliting jaket ini. Tidak berniat ganti di depan Kristal. "Lalu aku harus ganti dimana?"
"Disana, dikamar mandi" Kristal menunjuk letak kamar mandi. Tanpa basa-basi Lucky langsung berjalan ke arah yang Kristal tunjuk.
"Gleeeeg" Kristal meneguk air liurnya saat melihat Lucky keluar dari kamar mandi.
'Mau pakai apa pun dia tetap keren! Tubuhnya yang atletis, otot-otot itu , ingin rasanya aku memegangnya, kalau tinggal berlama-lama dengannya aku bisa gila!!! Aduh, aku ini berpikir apa sih'
Kristal sungguh tidak tau, kalau dari tadi apa yang dia pikirkan terbaca oleh Lucky. Kalau sampai dia tau mungkin dia akan pergi ke kutub utara mengasingkan diri karana malu akan pemikirannya ini.
"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Lucky yang berjalan mendekat kearah Kristal.
"Tidak, tidak papa" Kristal melangkah mundur kebelakang saat Lucky terus saja maju ke arahnya.
"Apa yang kau pikirkan? Apa sekarang isi kepalamu penuh tentangku hemmm?" Lucky terus maju sampai Kristal terdesak mundur menabrak tembok.
Kristal tersudut, ia tidak bisa melepaskan diri dari Lucky. Wajahnya berubah menjadi merah.
Deg.. deg.. deg..
Jantung ini, kenapa tidak bisa dikendalikan? oohhh tidak, aku bahkan baru mengenalnya beberapa jam yang lalu. Kristal memejamkan matanya.
"Lain kali jangan berani-berani membawa pria asing ke rumahmu. Bagaimanapun keadaannya. Untungnya aku pria yang baik, tidak akan berbuat macam-macam kepadamu kecuali kau izinkan" Lucky berkata sambil memundurkan langkahnya bergerak menjauh daru Kristal.
Kristal membuka matanya yang tadi sempat tertutup, 'Eehh kok? apa maksudnya jika aku mengijinkan? Aahhh aku pasti sudah gila, bahkan aku menutup mataku mengharapkan sesuatu. S**adarlah Kristal!!!' ia memukul kepalanya pelan, untuk menyadarkannya dari pemikiran anehnya.
"Aku akan tidur di sofa ini" kata Lucky sambil bergelinsut di atas sofa yang empuk di ruang itu kemudian memejamkan matanya.
Rumah ini tidaklah besar, hanya rumah kecil sederhana. Hanya ada kamar tidur, kamar mandi sekaligus toilet, dan dapur. Bisa di bilang lebih mirip kos-koasan dari pada rumah sewaan. Walaupun begitu Kristal merasa nyaman tinggal di sini, karena ukuran ruangannya yang kecil memudahkan dia bersih-bersih di tengah jadwal kantornya yanng padat.
Kristal pun menuju kasurnya, mengambilkan bantal dan selimut untuk Lucky. Menyelimuti Lucky dan memberinya bantal. 'Entah dari mana asalmu, tapi aku merasa seperti ada perbedaan yang sangat jauh di antara kita. Aku harap kau benar-benar membantuku membalas lelaki breng**k itu' Kristal berkata di dalam hati sambil menatap wajah Lucky yang telah tertidur dengan damai. Lalu ia beranjak merebahkan diri di kasur empuknya yang terletak tidak jauh dari sofa itu.
Aku pasti akan membantumu. Lukcy
Jangan lupa tinggalkan jejak ya