Just More Time

Just More Time
Lucky kakak Alice



Saat ini bus yang aku naiki melaju beriringan bersama tiga bus lainnya yang ada di belakang. Aku duduk sambil memikirkan kejadian yang terjadi tadi. Ini mirip dengan kejadian saat aku dan Sesil hampir tertabrak mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sesaat setelah Alice berhasil menghentikan mobil yang akan menabrak kami, mobil itu menghilang. Kurang lebih kejadiannya hampir mirip, sesaat setelah Alice berhasil menghentikan bus ini, ibu dan anak yang hampir tertabrak itu menghilang.


Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kejadian-kejadian aneh terus saja muncul di sekelilingku? Ini masih menjadi teka teki yang belum bisa aku pecahkan.


"Wooii bro, ngelamun aja" sambar erik yang langsung mendaratkan dirinya di tempat duduk sebelahku yang kosong.


"Kamu kemana aja rik? pas lagi gempar kamu tadi gak ada?" tanyaku, pasalnya pada saat kejadian tadi Erik tak terlihat batang hidungnya.


"Aku tadi lagi di toilet, mules banget perutku. Aku dengar sih ribut-ribut. Mau cepat keluar liat apa yang terjadi, tapi perut ini gak mau di ajak kompromi". Fasilitas bus ini memang lengkap, di dalam bus dilengkapi toilet, sehingga memudahkan penumpangnya bila ingin buang air, tak perlu repot-repot berhenti dan mencari toilet terdekat.


"Kebanyakan makan sambel mungkin kamu Rik" kataku.


"Kayaknya sih, kemaren makan ayam geprek sambelnya banyak banget, tapi disitu letak kenikmatannya."


Aku menggelengkan kepala, Erik memang penggila sambel. "Kamu melewatkan kejadian yang mengerikan tadi"


"Ehh bener, ada apa sih tadi?"


"Bus ini remnya blong dan hampir menabrak ibu dan anak yang akan menyebrang". Aku menceritakan kejadiannya secara detail kepada Erik. Perubahan raut wajah Erik terlihat di setiap cerita yang aku ucapkan. Mulai dari takut, cemas, kaget, hingga tersenyum jumawa mendengar aksi Alice idolanya.


"Alice memang selalu keren, dimana pun selalu hebat" kata Erik memuji Alice.


"Inti cerita ini bukan itu Rik" kataku dengan sorot malas, dari tadi ia selalu memuji-muji Alice.


"Bagiku, intinya itu kalau tidak ada Alice dapat dipastikan kita semua celaka Raka"


"Ya, itu benar. Tapi, intinya itu keanehan ini terus terulang Rik. Jangan bilang kamu mau berkata ini ulah hantu lagi. Kita sudah membuktikan bahwa hantu itu tidak ada"


"Kamu aja yang belum pernah melihatnya Raka. Kita coba tanyakan saja kalau nanti bertemu Alice, barangkali ia tau sesuatu"


Aku mengangguk kemudian menikmati perjalanan kami, di sepanjang jalan yang kami lewati pemandangannya sangat indah memanjakan mata yang memandang.


Dimensi Alice


Saat sedang asik bersantai di padang rumput yang hijau, menikmati pemandangan bunga indah dihadapannya, Alice mendapatkan sinyal tanda bahaya. Sinyal itu selalu ada setiap Sesil berada dalam bahaya, berupa benda pipih berwarna pink seperti gelang yang melingkari pergelangan tangan Alice.


Alice segera mungkin berteleportasi ketempat sinyal itu berada. Dilihatnya bus yang melaju kencang akan menabrak trotoar jalan. Dengan sigap Alice menarik besi yang ada di bawah bumper belakang bus. Mengeluarkan kekuatannya, ia menahan besi bumper itu agar bus tidak menabrak trotoar. Nyaris saja bus menabrak trotoar, jaraknya hanya tinggal beberapa senti lagi, untungnya Alice berhasil menghentikan bus itu tepat waktu. Alice mengalihkan pandangan ke kaca belakang bus, dilihatnya wajah Raka yang cemas dengan sedikit keringat menetes di pelipisnya, Alice tersenyum sinis. Kemudian menghilang kembali ke dimensinya. Alice berpikir semua kejadian beruntun yang hampir membahayakan nyawa Sesil itu semua terjadi karena Sesil berada di dekat Raka.


"Huhh.. kekuatanku belum kembali sepenuhnya, ada saja kejadian yang selalu membahayakan Sesil. Aku harus menjauhkannya dari anak ingusan itu. Kalau berada di dekat anak itu nyawa Sesil pasti dalam bahaya"


"Kau yakin akan hal itu Alice?" tak seorang pun terlihat di sana hanya Alice sendiri. Yang sedang berbicara adalah seekor kupu-kupu yang sedang terbang di padang bunga dimensi Alice. Semua binatang di sini dapat berbicara dan hanya Alice yang dapat berinteraksi dengan mereka. Alice memberinya nama Nabi.


"Lalu siapa lagi? Sesil mati juga karena dia"


Alice terlihat berpikir "Benar juga katamu bybit, tapi kenapa akhir-akhir ini selalu ada saja kejadian yang membuatnya dekat dengan maut? menuntutku agar selalu menggunakan kekuatanku"


"Entahlah Alice, aku berpikir mungkin ini ada hubungannya dengan kau yang mengutar balikan waktu" kata nabi yang hinggap dibahu kanan Alice.


"Apa mungkin karena itu? aku hanya mengutar balik waktu, tidak lebih dari itu" Alice tetap kekeh bahwa perbuatannya tidak ada hubungannya dengan kejadian belakangan ini yang selalu nyaris membahayakan nyawa Sesil.


"Mungkin saja, ada efek samping dari perputaran waktu itu" bybit mengutarakan pendapatnya.


Tak lama ada sinyal dari benda pipih di saku Alice. Benda itu terlihat seperti hand phone di dunia manusia. Tetapi bentuknya sudah ketinggalan zaman, bentuknya yang kecil hanya segenggaman tangan Alice dengan antena pendek di sisi kirinya. Benda itu berukuran kurang lebih 10cm. Dilayar terlihat cahaya berwarna kuning. Alice dan bangsanya menyebutnya Search of Extraterrestrial Intelligence atau SETI.


"Alice sepertinya sinyal itu dari Lucky" kata bybit saat melihat Alice mengeluarkan SETI dari sakunya.


"Kau benar bybit, ada apa dengan kakak?" tak lama SETI menampilkan wajah Lucky dilayarnya.


"Alice kau tidak apa-apa?" itu kata pertama yang keluar dari mulut Lucky saat Alice melihat wajahnya, wajah Lucky terlihat sangat khawatir saat ini.


"Aku baik-baik saja kakak, kakak bagaimana?"


"Aku sangat mencemaskanmu Alice"


"Kakak tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja kakak. Aku telah berhasil membuat keturunan Anthos itu hidup kembali". Anthos adalah kakek moyang Sesil, hampir seluruh bangsa Alice mengingat budi baik Anthos di masa lalu. Walau talah beribu-ribu tahun yang lalu mereka masih mengingat Anthos, terlebih lagi tetua bangsanya yang pernah merasakan langsung kebaikan Anthos.


"Itu yang membuat kakak khawatir Alice, kau tunggu di sana. Jangan berbuat macam-macam. Cukup kau laksanakan tugasmu, jaga keturunan Anthos itu". kata Lucky masih dengan raut cemasnya.


"Memangnya kakak mau kemana?" Alice sudah bingung dengan raut muka Lucky, dia merasa baik-baik saja. Tak perlu berlebihan mencemaskannya seperti ini.


"Kakak akan menyusulmu ke dunia manusia" Lucky mengatakannya dengan sangat lantang. Ia tak mau terjadi hal yang tak di inginkan pada adik kecilnya.


"Buat apa kakak? kakak tidak pernah kemari, aku takut kakak tidak terbiasa"


"Nanti akan kakak ceritakan bila kita bertemu". Kemudian layar SETI mati. Lucky menutup sepihak sambungan itu, tak mau Alice menanyakan perihal kedatangannya ke dunia manusia lebih jauh lagi. Lucky berencana akan menjelaskannya nanti saat ia bertemu adiknya itu. Saat ini Ia akan bersiap menuju dunia manusia.


Tunggu kedatangan Lucky ya ^_^


Janga lupa tinggalkan jejak kakak!!!


Like, koment, vote dan masukkan ke daftar favorid novel kesayangan kakak ya?


Terimakasih 🙏😊