
"Maksudmu menganggap gak pernah terjadi gitu? Enak banget ngomong" kesal Sesil.
Aduhh.. Salah lagi.
"Udah dong, please jangan marah terus. Ini bentar lagi sampai Sil. Kamu mau beli apa? Entar aku beliin deh" aku mencoba merayunya.
"Huh, aku masih kesal. Kali ini aku mau pergi bareng Miska dan Mery saja"
"Yah, kok gitu sih? Aku sama siapa? Maunya sama kamu terus"
"Sama Erik kek, atau siapa kek gitu. Kan banyak teman lainnya Raka. Aku mau belanja, belanja itu enaknya sama teman cewek. Bisa di mintai pendapat. Kalau aku nanya kamu, pasti kamu gak ngerti nanti."
"Iya deh, iya. Kamu bisa belanja bareng sama mereka. Tapi hati-hati, jangan jalan terlalu jauh"
"Heemmm" Sesil hanya berdehem.
Bus pun berhenti di parkiran pasar Sukowati. Dengan tertib semua siswa mulai turun satu persatu. Saat aku keluar sudah ada Miska dan Mery di sana.
"Ayo" kata Sesil saat mensejajarkan diri dengan sahabatnya itu. Mereka bertiga sangat antusias sekali.
"Yaela Ka kita dikacangin" kata Erik mengeluh kepadaku. "Mentang-mentang mau belanja itu bebinian langsung aja jadi trio wekwek, kompak banget"
"Hahahaha.." Aku tergelak. "Kalau mereka jadi trio wekwek, kamu jadi bebeknya Rik"
"Dan kamu yang menari-nari Raka. Harusnya tadi di pantai kamu praktekan goyang kaya trio wekwek" Erik berkata sambil memperagakan bebek yang menari-nari.
Lagi-lagi aku tertawa melihat tingkah konyol sahabatku ini. "Ya sudah ayo kita jalan, Aiisss gak asik, berduaan lagi sama kamu" sambungku.
"Bukannya kamu suka berdua dengan ku? Kita serasa sepasang kekasih yang merajut cinta di pulau Bali" Erik mengerlingkan sebelah matanya.
"Aku masih normal Rik, memangnya kamu kanan kiri jadi. Kamu mah semua di embat" kataku.
"Kanan kiri, kanan kiri, puter puter puter. Hahahaha.." Erik berputar-putar, konyol sekali. Bagaimana bisa Miska suka dengan lelaki aneh seperti Erik. Tingkahnya sampai tua juga gak akan berubah ini.
"Aku heran apa yang Miska suka dari kamu Rik? Orang aneh" Kini kami berjalan bersama, menyusuri para penjual yang ada di pasar Sukowati.
"Semuanya, kamu saja yang gak peka sama pesonaku Raka. Wajahku yang tampan, bodyku yang proposional, belum lagi tingkahku yang lucu ini. Wanita mana yang menolak pesonaku ini" Erik memuji dirinya sendiri.
"Lucu? bagiku kamu aneh, bukan lucu. Haiisss.. ck ck ck" Aku menggeleng-gelengkan kepala.
Aku dan Erik semakin menyusuri pasar Sukowati ini. Nampak deretan kios yang berjejer dengan nuansa khas bali. Berbagai pernak-pernik yang digantungkan rapi, kerajinan tradisional, lukisan-lukisan yang indah dan masih banyak lagi yang terpampang di kios pinggir jalan. Para turis domistik dan manca negara telah sibuk berlalu lalang melihat berbagai kerajinan yang ada di pasar, mereka juga sibuk melakukan kegiatan tawar menawar yang sudah menjadi ciri khas dari sebuah pasar.
Aku dan Erik pun mulai berburu mencari barang-barang yang akan dibeli. Kami memasuki salah satu toko yang ada di pasar ini. Aku ingin membelikan Ibu, Bapak dan Mba Rika sesuatu sebagai oleh-oleh untuk mereka. Erik telah sibuk sendiri, memilah dan memilih barang yang menarik perhatiannya.
Pilihanku jatuh kepada daster berwarna hijau muda untuk Ibu, kemeja pantai khas Bali dengan gambar tepi pantai dan pohon kelapa menghiasi kemeja itu untuk Bapak, dan sebuah sarung pantai berwarna pink dengan lukisan bunga untuk Mba Rika. Dan aku membeli sebuah celana dan kaos santai khas Bali.
"Rahajeng semengan Beli (Selamat pagi kakak laki-laki)" ucapku menggunakan bahasa Bali.
"Rahajeng semengan (selamat pagi)" jawab pria itu sambil tersenyum ramah kepada kami berdua.
"Aji kude niki? (Berapa harganya ini?)" ucapku sambil menunjuk gantungan kunci berbentuk kucing yang sangat lucu itu.
"Niki 10 ribu (ini 10 ribu)" jawab lelaki itu.
"Dados kirang nggih? (bisa kurang gak?)" tanyaku mencoba menawar.
"Nggih sampun, sawiren Beli bagus genjing. Tiyang kasih 15 ribu kaleh nggih? ( Ya sudah, karena mas ganteng sekali. Saya kasih 15 ribu dua ya?)" ucap pria itu sambil tersenyum menatapku.
Aiisss pesonaku ternyata mempan juga untuk pria berumur, hahahaha..
Aku mengeluarkan uang 15 ribu dari saku celana dan menyerahkan kepada pria paruh baya itu "Matur suksma Beli (Terimakasih kakak laki-laki)"
"Suksma mewali Bagus genjing (terimakasih kembali ganteng)"
Kebetulan aku sedikit mahir bahasa Bali. Karena aku menyukai berbagai kesenian dari Bali termasuk bahasanya, karena itu aku sedikit mempelajarinya dari kerabat Ibu yang sering berkunjung kerumahku. Dua buah gantungan kunci kini ada di tanganku. Hingga akhirnya kami melewati seorang penjual surat kabar yang sedang berteriak menawarkan dagangannya.
"Koran pagi, kejadian aneh di danau Bedugul, ayo di beli yang mau baca" teriak penjual surat kabar itu yang sedang membacakan tranding utama berita surat kabarnya.
"Raka, bukannya itu tempat yang akan kita kunjungi?" tanya Erik yang juga mendengar teriakan dari penjual surat kabar itu.
"Kamu benar Rik, aku beli dulu. Aku jadi penasaran" kataku dan dengan cepat menghampiri penjual surat kabar.
"Aji kude niki? (Berapa harganya ini?)" tanyaku yang hendak membeli surat kabar.
"Papat tali (empat ribu)"
Aku pun memberikan selembar uang lima ribuan kepada penjual surat kabar " Jemak gen susukne Beli (ambil saja kembaliannya)" ucapku.
"Matur suksma (terimakasih)" kata penjual surat kabar.
"Mewali (sama-sama)" ucapku seraya berlalu dengan membawa surat kabar di tanganku dan berjalan ke arah Erik yang sedang menunggu.
Aku membentangkan surat kabar itu, dan membacanya bersama Erik.
Bali Pos 22 November 2021.
Keresahan beberapa pengunjung di Bedugul Bali, tepatnya di danau Beratan. Beberapa pengunjung berkata bahwa mereka sekilas melihat sesuatu yang besar sedang bergerak di dalam danau. Bahkan ada pengunjung yang mengaku, saat mereka menaiki Speed Boat dengan maksud mengitari danau di bedugul, ada sesuatu yang membuat air tenang itu seketika berombak lumayan besar seperti halnya berada di lautan. Sampai-sampai mereka harus berpegangan dan segera menepi ke tepi danau. Beberapa pengunjung menjadi resah akan berita ini, para penyelidik masih berkerja ekstra untuk menyelidiki khasus ini. Sampai sekarang belum ada perkembangan dari hasil penyelidikan. Para penyelidik berspekulasi bahwa penyebab dari besarnya ombak yang muncul di danau tersebut juga disebabkan oleh permukaannya yang dangkal. Kondisi tersebut menyebabkan kondisi danau dapat berubah secara drastis hanya dalam beberapa menit serta memunculkan berbagai ombak dan gelombang yang sangat luar biasa.
Nahh ada apa di Bedugul? yuk tetap ikuti kisahnya. Jangan lupa kasih dukungannya ya kak.. 😉