
"Apa kau tidak makan?"
Lucky tak mendengarkan dan merespon perkataan Kristal. Tanpa aba-aba Lucky berdiri, tubuhnya menegang dengan raut wajah yang tak terbaca ia berkata " Alice?" ia merasakan kekuatan Alice samar-samar dari rumah Kristal.
"Haii, kau tidak mendengarkanku?" tanya Kristal menghampiri Lucky yang masih berusaha melacak asal kekuatan Alice.
"Maaf aku harus segera pergi" Lucky bergegas pergi.
"Tunggu!!! Enak saja, sudah aku keluar uang buat membeli bajumu. Kau mau pergi begitu saja? Tidak bisa, aku ikut" Kristal meraih pergelangan tangan Lucky menahannya agar tidak pergi.
"Aku terburu-buru. Aku harus pergi sekarang".
"Tidak akan aku biarkan, aku harus ikut denganmu"
"Huuuffhh..." Lucky menghela nafas kasar. "Baiklah" ia mendekat ke arah Kristal, memegang pinggang ramping gadis itu dengan satu tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Kristal kaget dengan perlakuan Lucky.
"Diam, dan berpeganganlah" Kemudian mereka menghilang dari rumah Kristal.
Di Danau Beratan
Alice membuat kubah pelindung yang sangat besar, ia tidak ingin sampai ada manusia yang terluka. Alice berjalan menghampiri Sesil yang telah duduk dengan berderai air mata.
"Alice aku mohon padamu, tolong Raka. Hiks.. Hiks.. Aku mohon.." Sesil menangis dan mengatupkan kedua tangannya.
"Maaf Aku harus tetap di sini Sil, agar kubah pelindung ini tetap ada. Prioritasku sekarang adalah kamu"
Mendengar itu Sesil semakin menangis. Sedangkan Naga hitam telah mendekat ke arah mereka.
"Mahluk planet Gliese, Kau harus musnah" kata Naga hitam geram.
Alice mengeryitkan dahinya merasa heran dengan perkataan sang naga "Siapa kau sebenarnya?"
"Kau tidak perlu tau siapa aku. Berhenti ikut campur masalah di Bumi. Planet ini akan menjadi milik Tuanku" Naga hitam menatap tajam Alice. Kemudian ia menyemburkan api hitam yang sangat dasyat. Api itu mengenai kubah pelindung yang Alice buat. Akibat serangan yang kuat dari Naga hitam, kubah pelindung mengalami sedikit retakan.
"Gawat, aku harus memancingnya. Jika dibiarkan kubah pelindung ini akan hancur. Sesil tetaplah disini" setelah mengatakan itu Alice terbang, keluar dari kubah pelindung.
"Sasaranmu adalah aku Naga jelek" kata Alice saat telah mensejajarkan dirinya di hadapan Naga hitam.
Ukuran tubuh naga hitam sangat besar, dengan kedua tanduk di kepalanya, serta kumis khas seekor naga. Naga tidak bisa bergerak gesit karena ukuran tubuhnya yang besar. Itu sangat menguntungkan Alice. Alice sengaja hanya menghindari setiap serangannya. Semua itu ia lakukan untuk mengulur waktu, agar Naga hitam kehabisan tenaga.
Melihat itu Sesil segera keluar dari kubah Pelindung. Dengan nekat ia mengendarai Speed boat yang ada di tepi danau. Hanya bermodalkan pengetahuan saat melihat cara orang yang mengantarkannya tadi berkeliling danau, Sesil nekat melakukan itu. Ia harus menyelamatkan Raka.
Raka POV
Naga hitam bergerak semakin cepat ke arahku. Hanya tinggal sedikit lagi, ia mencapaiku. Aku menoleh ke belakang, tindakan itu malah membuat aku lengah. Dengan kibasan ekor Naga hitam, air danau menjadi sangat bergelombang. Sangat susah mengendalikan Speed boat dalam keadaan seperti ini. Memanfaatkan kesempatan itu Naga hitam membalik Speed boat yang aku kendarai. Speed boat terbalik, bodynya yang keras membentur kepalaku, dan aku tenggelam. Walaupun sebenarnya aku bisa berenang, tetapi akibat benturan tadi kesadaranku menipis. Semakin lama tubuhku mendekati dasar danau. Air yang dingin menusuk ke tulangku. Nafas ini semakin cekat, kini tubuhku membentur dasar danau. Gelap!! Itulah kata yang tepat menggambarkan keadaan di dasar danau. Akankah ini menjadi akhir dari hidupku? Tidak!!!
Sesil masih membutuhkanku. Sekuat tenaga aku berusaha mengumpulkan kesadaran. Aku tidak boleh mati di sini. Samar-samar aku melihat seseorang berenang ke arahku. "Tolong!!! Tolong aku" ingin rasanya aku berteriak seperti itu. Tetapi suaraku tidak keluar. Nafasku semakin sesak, sesaat setelah orang itu memegang tangan ini, aku tidak sadarkan diri.
Author POV
Sesil berenang ke dasar danau. Air danau sangat dingin. Tetapi itu tak membuat Sesil gentar, ia akan menyalahkan dirinya sendiri bila Raka tidak selamat. Demi dia, Raka rela berkorban. Tapi apa yang ia lakukan? Sesil justru menuduh Raka sama dengan Max. Jelas-jelas mereka berbeda. Max lelaki bre**sek, sedangkan Raka tulus mencintai Sesil. Hati Sesil kini diliputi rasa cemas dan bersalah. Suasana dasar danau yang gelap sedikit membuatnya kesulitan menemukan Raka.
Sesaat Sesil melihat ada yang bersinar dari dasar danau. Sesil mengikuti kata hatinya untuk berenang menuju tempat dimana cahaya itu berada. "Raka!!!". Sesil mempercepat gerakannya saat mendapati tubuh Raka yang sudah tidak sadarkan diri. Entah mendapatkan kekuatan dari mana, ia berhasil membawa Raka ke permukaan.
"Raka.. Raka bangun" Sesil menepuk-neput pipi Raka. Wajahnya tampak pucat, kini mereka telah sampai di atas Speed boat.
Tak ada respon dari Raka, ia memompa dada Raka dengan kedua tangannya. Tetap tak ada reaksi dari Raka. Dengan cepat Sesil meraup oksigen sebanyak-banyaknya, memencet hidung Raka dan memberikan nafas buatan. Berkali-kali ia melakukan itu. Sampai akhirnya Raka terbatuk dan mengeluarkan air dari dalam mulutnya.
Melihat itu Sesil menangis, tangis bahagia karena Raka masih bisa tertolong. Ia memeluk Raka dengan erat. Raka yang baru tersadar sedikit terkejut, lalu ia membalas pelukan Sesil dengan hangat. "Apa kau sudah tidak marah padaku?" itu hal pertama yang terucap dari mulut lelaki itu.
Sesil menggeleng, tapi ia enggan melepas pelukan itu. Sedangkan Raka tersenyum merasakan pergerakan kepala Sesil.
"Syukurlah, aku tidak bisa bila kau diamkan berlama-lama".
Sesil melepas pelukannya, air matanya masih terus menetes membasahi pipi pucatnya. "Jangan pernah tinggalkan aku? Aku mencintaimu Raka" lirih Sesil.
Raka kembali tersenyum, sepertinya tadi gadis ini sangat takut kehilangan dirinya. Ada rasa lega di hati Raka, kini Sesil telah percaya terhadapnya. "Lain kali jangan lakukan itu, tindakanmu dengan berenang ke dasar danau sangat berbahaya" kata Raka sambil menghapus air mata Sesil.
Tidak ingin mendebat Raka, Sesil hanya mengangguk sebagai jawaban. "Sekarang ayo kita ketepi" Sesil hendak mengendarai Speed boat kembali.
"Biar aku saja" Raka mencegahnya, lalu ia mengambil alih kemudi. Menyalakan mesin, dan dengan cepat mereka segera kembali ke tepi danau yang masih di penuhi dengan pertempuran antara Alice dan Naga Hitam.
Syukurlah Raka selamat..
Yukk, kasih dukungan kalian dengan cara Like, Vote, Coment and tambah ke daftar favoridmu ya..