
"Berita di surat kabar, yang menyebutkan bahwa air danau dapat bergelombang di waktu tertentu".
"Sial!!! Kau ini bodoh atau apa Raka? Kenapa kau biarkan Sesil menaikinya kalau sudah tau berita itu?"
"Aku juga baru tau Sesil dan yang lainnya menaiki Speed Boat Alice, Nihh salahkan fansmu, dia sudah tau berita itu tetap memperbolehkan mereka pergi"
"Kok jadi aku?" tanya Erik.
"Sudah semua ini salah kalian berdua. Baru saja aku keluar dari dimensiku, sudah ada masalah" gerutu Alice dengan nada kesal.
Sedangkan keadaan di danau air bergelombang semakin tinggi. Sesil dan kawan-kawan semakin mempererat pegangan mereka. Speed boat secepat mungkin berusaha menggapai tepi danau. Tiba-tiba muncul mahluk aneh yang sangat besar di tengah danau itu.
"Tunggu!!! Apa itu?" kataku saat melihat mahluk itu menampakan setengah badannya.
Alice mempertajam penglihatannya "Naga hitam"
"Hah? Apa? Naga?" tanya Erik dengan mulut menganga.
Tanpa mendengarkan mereka lagi aku berlari menghampiri salah satu penyewaan Speed boat disana. Jarak Naga hitam itu dengan Sesil sangat dekat. Bisa saja sewaktu-waktu naga itu melahap habis mereka. Tidak itu tak akan ku biarkan terjadi. Entah mendapatkan keberanian dari mana, ku pacu Speed boat ini menyusul mereka ke danau. "Pak, cepat bawa mereka menepi, aku akan memancing mahluk itu" aku berteriak saat telah dekat dengan mereka.
"Raka, tidak!!! Apa yang mau kamu lakukan?" Sesil menatapku nanar. "Jangan, itu terlalu berbahaya. Kita tidak tau mahluk seperti apa itu"
"Tidak ada waktu berdebat Sil, Pak segera lakukan" perintahku kepada pengendara Speed boat itu.
"Baik" kemudian ia segera memacunya secepat mungkin
Kulihat naga itu melirik, dan hendak menyusul mereka. Naga itu menyemburkan api hitam dari dalam mulutnya kesembarang arah. Untung saja api naga tidak mengenai Sesil dan kawan-kawan. Orang-orang yang berada di tepi danau panik berlarian ke sana kemari. Mereka ingin segera pergi dari tempat itu. Ada juga yang penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga mereka mendekat ke tepi danau.
Ku ambil sebongkah batu dalam saku celana, batu ini sempat aku pungut di tepi danau tadi. Kemudian ku lemparkan ke naga hitam itu "Haii, kejar aku jika kau bisa" teriakku dengan lantang. Aku berusaha memancingnya agar tidak bergerak ke tepi danau dan melukai pengunjung di sana.
Naga hitam terlihat geram dan segera menyusulku. Akibat pergerakan naga hitam, air danau semakin bergelombang. Hal ini membuat aku agak kesusahan mengendalikan Speed boat yang aku stir sendiri. Naga hitam bergerak semakin mendekat, padahal pedal gas speed boat sudah sangat maksimal. Gawat !!!
Kalau begini terus Naga hitam itu akan semakin dekat.
Naga hitam menyemburkan apinya, aku berusaha menghindar. Mengendarai Speed boat dengan berkelok kelok.
Author POV
Kini Sesil, Miska dan Meri sudah sampai di tepi danau. Sesil menatap sekilas ke arah danau. Terlihat Raka di sana sedang berusaha memancing sang Naga hitam ke arah tengah agar tidak melukai pengunjung. Sesil menatap nanar, ada rasa bersalah muncul di hatinya. Baru saja beberapa jam yang lalu mereka bertengkar. Mungkin lelaki itu benar, ia akan melakukan apa saja untuk Sesil. Termasuk mengorbankan nyawanya.
"Sil ayo buruan" suara Mery membubarkan lamunannya. Mereka berlari segera mencari tempat teraman. Saat itu Sesil melihat Alice sedang melambaikan tangan memberi isyarat agar mendekat ke arahnya. Disitu juga ada Erik, yang sedang mengamati pergerakan Raka dan Naga hitam.
"Sesil, apa kau tidak apa-apa?" tanya Alice saat gadis itu telah mencapai tempat ia berada.
Sesil mengangguk, ia menatap Mery dan Miska. Sesil tidak bisa menjawab Alice, karena masih ada Mery dan Miska di dekat mereka. Alice yang mengerti maksud Sesil segera memberi perintah kepada Erik "Kau bisa bawa dua orang itu pergi menjauh dari sini. Bawa mereka ke tempat yang aman" kata Alice sambil menunjuk ke arah Mery dan Miska.
Erik mengangguk "Miska, Mery ikut denganku. Kita harus pergi dari sini mencari tempat yang aman"
"Maaf aku tidak bisa ikut kalian. Aku akan menunggu Raka di sini. Kalian pergilah"
"Tapi Sil itu sangat berbahaya" sela Mery.
"Kalian tenanglah, aku janji akan kesana menyusul kalian" Sesil berkata tegas dan menatap lekat mata Miska dan Mery. Mencoba meyakinkan kedua sahabatnya itu.
"Baik, segeralah menyusul" kata Miska sembari mengelus bahu Sesil. Sesil mengangguk dan mereka bertiga segera pergi dari tempat itu.
"Alice dari mana munculnya mahluk aneh itu?" tanya Sesil saat mereka telah berdua.
"Aku juga tidak tau, Huuufffhhh.." Alice menghela nafas panjang. "Aku heran kenapa para manusia ini masih saja ada yang asik menonton disini ketika nyawa mereka jadi taruhannya"
"Begitulah manusia Alice, rasa penasaran mereka mengalahkan rasa takutnya. Alice aku mohon bantulah Raka" Sesil menatap Raka yang masih berusaha menghindari setiap serangan Naga hitam.
"Tugasku hanya menjagamu Sesil" kata Alice.
Sesil terkejut dengan penuturan Alice. Raka melakukan itu demi menolong dirinya. Bagaimana mungkin kalimat itu terucap dari mulut Alice?
"Jangan menatapku begitu. Salah bocah itu, kenapa sok berani menghadapi Naga hitam"
Sesil malas mendebat, ia mendekat ke tepi danau. Matanya tak lepas dari pergerakan Raka di sana. Saat kakinya mulai melangkah tiba-tiba terlihat disana sang Naga hitam berhasil mencapai Raka. Naga itu membalik Speed boad yang Raka gunakan. Dengan sekejap mata Raka terjatuh ke danau dan tenggelam. "Tidaakkkk!!!! Raka" Sesil berteriak sekencang-kencangnya. Lututnya terasa lemas, sehingga ia jatuh terduduk di sana.
Melihat musuh yang mengganggu tujuannya sudah musnah, Naga hitam menatap seorang gadis di tepi danau yang sedang menagis. Dengan cepat ia bergerak mendekati gadis itu.
Alice yang melihat Naga hitam bergerak ke tepi danau segera membuat kubah pelindung untuk manusia yang berada dekat dengan tepi danau. Terutama kubah pelindung untuk Sesil.
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.
Kristal baru pulang kerja dan membawa beberapa paper bag. Tentu itu berisi pakaian untuk Lucky. "Nihh, aku cuma beli beberapa. Karena gak tau sampai kapan kau menumpang dirumahku" ia menyerahkan beberapa paper bag kepada Lucky yang sedang duduk bersantai di sofa.
Lucky membuka isi paper bag itu "Lumayan, tidak buruk" katanya saat membuka setiap paper bag pemberian Kristal.
Kristal beranjak, kemudian ia melihat dapur yang bersih dan mie instan yang masih utuh. "Apa kau tidak makan?" pasalnya di rumah sederhananya ini hanya ada mie instan saja yang dapat di makan. Tapi mie instan itu masih utuh dan jumlahnya sama dengan tadi pagi. Dengan kata lain lelaki itu dari pagi belum memakan apa pun.
Lucky tak mendengarkan dan merespon perkataan Kristal. Tanpa aba-aba Lucky berdiri, tubuhnya menegang dengan raut wajah yang tak terbaca ia berkata " Alice?" ia merasakan kekuatan Alice samar-samar dari rumah Kristal.
Yuhuuu Up lagi..
Maaf ya, Author rada sibuk saat ini. Tapi sebisa mungkin bakal tetap Up tiap hari.
Semoga kalian sehat selalu
Jangan lupa tinggalkan jejak