Just More Time

Just More Time
Kebersamaan



Di pagi yang cerah ini kami murid SMA Mandala akan kembali ke kota tercinta kami. Liburan di Pulau Dewata telah usai. Walau sangat singkat tapi ini menyenangkan, apa lagi di sini aku mendapatkan dua anugrah yang indah. Kalian tau apa?


Pertama aku sekarang bukan jomlo lagi, Mba Rika tidak akan mengolok aku dengan sebutan Jomlo, karena kini aku sudah memiliki kekasih yang cantik. Di masa depan nanti dapat dipastikan gadis cantik ini akan menjadi istriku.


Kedua, aku mendapatkan kekuatan super. Tidak pernah terbayang olehku sebelumnya. Aku yang seorang manusia biasa bisa memiliki kekuatan seperti yang ada di novel, komik dan film. Tentu aku sangat bahagia. Sampai-sampai aku bingung bagaimana mengekspresikan kebahagian ini.


Bus pariwisata yang kami tumpangi kini telah berjalan. Bus ini akan mengantarkan kami menuju kota Y. Kota tempat dimana aku di lahirkan dan di besarkan.


Aku merasakan kebersamaan dengan teman lainnya. Mereka bernyanyi dan bergurau bersama, seolah semua perbedaan telah melebur menjadi satu. Suasana ini sangat hangat, mungkin mereka terbawa suasana yang tak ingin libur ini usai. Kapan lagi bisa seperti ini? Karena sebentar lagi aku sudah lulus SMA dan akan melanjutkan ke jenjang kuliah. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat kebersamaan mereka.


"Raka, kamu mau ini?" ucap gadis yang duduk di sebelahku menawarkan sebuah snack di tangannya.


"Hmmm, nanti saja, aku mau menikmati suasana ini dulu" kataku kepada Sesil. Ya, Sesil duduk di sebelahku, aku memang tidak ingin jauh-jauh darinya.


Aku mendengar petikan gitar dan alunan lagu yang dinyanyikan bersama-sama dari arah belakang tempatku duduk. Mereka bernyanyi dengan riang gembira. Hingga salah satu dari mereka membuat permainan dengan melempar bola kertas ke teman lainnya. Yang terkena lemparan bola kertas itu harus melanjutkan nyanyian yang terhenti.


Lemparan pertama mengenai Iren, gadis yang menyukaiku sejak lama. Iren yang duduk di kursi paling depan berdiri, dan menghadap kebelakang untuk dapat melihat kami semua. Kemudian pandangan matanya menatap lekat ke arahku. Dia mulai bernyanyi di iringi dengan petikan alat musik gitar yang di mainkan oleh teman yang lainnya.


Bila cinta menggugah rasa


Begitu indah mengukir hatiku


Menyentuh jiwaku


Hapuskan semua gelisah


Duhai cintaku, duhai pujaanku


Datang padaku, dekat di sampingku


Ku ingin hidupku


Selalu dalam peluknya


Terang saja, aku menantinya


Terang saja, aku mendambanya


Terang saja, aku merindunya


Kar'na dia, kar'na dia begitu indah


Dia bernyanyi cukup merdu, membawakan lagu dari Band Padi yang berjudul Begitu Indah, lagu ini di rilis satu tahun yang lalu tepatnya tahun 1999. (Kalian harus ingat ya, aku sekarang hidup di tahun 2000). Baru kali ini aku mendengarnya bernyanyi, ternyata Iren memiliki suara yang Indah, sesuai judul lagu yang ia bawakan. Suaranya lirih, namun membuat siapapun yang ingin mendengarkan lagi dan lagi. Sungguh suara yang menyejukan hati. Aku merasa senang bisa mendengarnya bernyanyi. Kalian jangan curigaan dulu, aku hanya menikmati merdunya suara Iren, tidak lebih dari itu.


"Ehemm.." Sesil berdehem disampingku. Rupanya dari tadi ia memperhatikan tatapan mata Iren yang tak lepas dariku. Sambil bernyanyi Iren tidak memalingkan sedikitpun tatapannya terhadapku. Seakan menyampaikan pesan lewat lagu yang ia bawakan.


"Kenapa sayang?" Aku menoleh ke gadis cantik di sebelahku. Sengaja ku panggil dia sayang agar dia tidak marah.


"Senang ya dibawaan sebuah lagu sama cewek yang pernah kamu cium" Sesil memajukan mulutnya ke depan, dia dalam mode ngambek.


"Ralat, dia yang menciumku" kataku tak terima.


"Sama saja, intinya kalian berciuman"


"Sayang, udah dong jangan di bahas lagi ya? katanya sudah gak marah lagi sama aku?" memang ya cewek kalau sakit hati susah lupanya. Katanya uda di maafkan, ehh malah dibahas lagi.


"Itu tadi, sekarang aku kesal lagi" bibir mungil itu masih saja cemberut.


"Kalau masih manyun gitu aku cium ya?" kataku iseng.


Reflek Sesil menutup bibirnya dengan kedua tangan. Ia membelalakan mata, kemudian menggeleng.


"Makanya, sudah jangan di bahas lagi" kataku.


Iren telah selesai bernyanyi, kemudian ia melanjutkan permainan lempar bola kertas. Namun entah mengapa ia melempar bola kertas itu ke arahku, dan sungguh tak di sangka bola kertas itu tepat mengenaiku.


"Nyanyi, nyanyi, nyanyi..." sorak sorai teman lainnya.


Terdengar suara kompak dan tepuk tangan dari para murid di dalam bus. Suara gitar sampai saat ini masih terdengar, dan mereka masih menyuruhku untuk bernyanyi.


"Tuhh kan, Iren minta jawaban dari nyanyiannya" Sesil masih saja protes dan cemberut.


Akupun bersenandu pelan, sambil mulai memainkan gitar di tanganku. Menatap lekat gadis di sebelahku.


"Lagu ini untukmu" bisikku di telinga Sesil.


Aku melanjutkan lirik dari Iren yang terhenti, di iringi suara petikan gitar yang seakan menambah irama. Aku bersenandu dengan merdu membuat siapa saja yang mendengar senanduku tanpa sadar menoleh ke arahku.


Duhai cintaku, pujaan hatiku


Peluk diriku, dekaplah jiwaku


Bawa ragaku


Melayang, memeluk bintang, mm


Terang saja, aku menantinya


Terang saja, aku mendambanya


Terang saja, aku merindunya


Kar'na dia (kar'na dia), kar'na dia begitu indah


Mm, terang saja, aku menantinya


Terang saja, aku mendambanya


Terang saja, aku merindunya


Kar'na dia, kar'na dia begitu indah


Begitu indah


Begitu indah


Begitu indah


Oh-ho-oh, uh-ho-oh


Oh-ho-oh, uh-ho-oh


Oh-ho-oh, uh-ho-oh


Oh-ho-oh, uh-ho-oh


Begitu, begitu indah


Mereka bernyanyi bersamaku, termasuk Sesil yang berada di sebelahku. Dia ikut bernyanyi sambil menatapku. Semburat merah menghiasi pipi putihnya, mata kami saling bertemu. Seakan lagu ini menggambarkan perasaan cinta kami. Kami bernyanyi bersama, dan akupun tertawa dengan riang. Lega rasanya melihatnya tersenyum bahagia terukir di wajahnya dan dia tidak marah lagi.


Tak terasa nyanyianpun telah habis dan alunan gitarku telah berhenti. Sebagian murid yang tadinya berdiri, menyanyi dan menari bersama kembali duduk di kursinya masing-masing.


Disisi lain aku masih senyum-senyum sendiri mengingat momen kebersamaan yang menyenangkan ini.


"Kamu bahagia ya?" tanya Sesil, sepertinya dia memperhatikanku yang tersenyum sendiri.


"Iya, bahagia, sangat bahagia. Apalagi ada kamu disini" kataku merangkul bahu Sesil.


Sesil tersenyum "Aku juga bahagia karena ada kamu Raka" ia menyenderkan kepalanya di bahuku.


"Sudah gak ngambek lagi kan?" tanyaku.


"Hmmm" Sesil menggeleng dan mulai memejamkan matanya. "Aku mengantuk, biarkan seperti ini"


"Dengan senang hati, tidurlah" ucapku membelai lembut rambutnya.


...****************...


Aaakkkhhhh Raka, kamu kok romantis bangettt siihhh 😍


Ayo siapa yang mau titip satu pria romantis kaya Raka? hihihi