Just More Time

Just More Time
Kembali



Saat pulang sekolah aku berjalan ke luar kelas. Semua siswa berhamburan keluar kelas menuju tempat parkir, ada yang langsung pulang, ada pula yang bercengkrama terlebih dahulu dengan teman mereka. Aku memilih berjalan menuju halaman parkir, tempat di mana aku meletakkan motor kesayanganku.


Saat mendekat ke arah parkiran aku melihat anak kecil menggunakan seragam putih merah menunggu di pagar. Ku perhatikan dengan teliti, wajahnya seperti tidak asing.


"Alice.. " kataku memanggil.


Alice menoleh ia tersenyum kaku.


Aku menghampirinya "Wah wah.. ada anak SD nihh, baru pulang dari sekolah dek?" ledekku.


"Kau Raka" Alice bergerak akan memukulku. Sontak aku menghindar. "Dimana Sesil?" tanyanya kemudian


"Ohh lagi nunggu kakaknya dek?" aku masih saja betah mengganggunya.


"Haii anak muda, jangan lupakan aku lebih tua beratus-ratus tahun darimu" kata Alice sewot, ia melipatkan ke dua tangannya di depan dada, dan melihatku dengan tatapan sinis.


"Upss.. lupa, maaf ya nek. Cucumu ini suka lupa umur nenek ternyata sudah sangat tua"


"Hentikan Raka, sebelum ku panggang kau"


"Coba saja kalau kamu bisa Alice, sepertinya kamu lupa kekuatanmu belum kembali. Hahahaha"


"Pergi kau dari sini Raka" alice teriak sambil melepas sepatunya hendak dilempar ke arahku.


"Haii Alice sudah lama menungguku?" sesil menghampiri kami.


"Yahh lumayan, ayo langsung pulang Sil. Aku malas berlama-lama di sini" alice mengatakannya sambil melihat ke arahku.


"Raka, kamu jangan gangguin Alice dong. Liat tuhh jadi ngambek" ucap Sesil kepada ku.


"Hahahaha umur saja yang tua, tapi masih kaya anak kecil, suka ngambek." aku meledek Alice lagi.


"Liat saja kau, kalau kekuatanku sudah kembali. Akan ku buat perhitungan denganmu Raka Aditama" Alice mengatakannya penuh dendam, dia sepertinya sedang jengkel.


"Huh.. kalian berdua sama saja. Cocok sekali, seperti anak-anak" Sesil pun ikut kesal.


"Maaf, maaf Sil.. habisnya lucu sekali dia mengenakan seragam seperti itu. Kalian mau kemana setelah ini?"


"Tentu saja pulang, memang mau kemana lagi" Alice menjawab.


"Mau bareng aku? Biar kuantar sampai rumah" aku menawarkan tumpangan.


"Tidak usah Raka, aku sama Alice jalan saja. Nanti merepotkanmu"


"Benar Sil, jangan mau sama laki-laki seperti itu. Gak ada gunanya" Alice masih saja sewot dan sinis kepadaku.


"Ya sudah kalo gitu, aku hanya berbaik hati menawarkan tumpangan.


"Kalau gitu kami duluan ya Raka" Sesil mengucapkkan sambil berlalu dan melambaikan tangannya.


"Jangan harap kau bisa mendekati Sesil, Weekkk" alice mengatakannya kepadaku, lalu berjalan mengikuti Sesil.


"Ada apa dengan Alice? masih saja dia gak suka aku mendekati Sesil. Sungguh merepotkan"


Aku berjalan ke arah motorku. Tiba-tiba


Hussszzzz...


Apa itu tadi? aku menoleh ke kanan dan kekiri, seperti ada sekelebet bayangan yang lewat begitu cepat. Aku menoleh ke belakang, mengamati sekitar, tidak ada yang terjadi. Apa mungkin perasaanku saja?


Ahhh sudah lah, mungkin hanya perasaanku saja. Sebelum pulang aku mampir ke mini market dekat sekolah. Membeli beberapa keperluanku, dan beberapa cemilan untuk pergi tour. Setelahnya aku kembali mengendarai sepeda motorku menuju rumah.


Sesampainya di rumah aku melihat Mba Rika sedang memakan cemilannya sambil menonton televisi. Aku mendekat ke arahnya. Ikut duduk di sampingnya, Ku perhatikan menu yang dia makan, ada hot dog, sosis goreng, dan minuman bersoda. Semua makanan itu mengandung bahan kimia yang tidak sehat untuk tubuh.


"Mba, berhentilah makan seperti ini, ini gak sehat"


"Tau apa kamu Raka, ini enak. Mau?" Mba Rika menawarkannya kepadaku.


"Gak baik mba sering makan makanan berpengawet dan mengandung bahan kimia seperti ini. Aku mengingatkan karna aku sayang sama mba"


Mba Rika yang semula fokus menonton televisi, melihat ke arahku "Aduh-aduh.. adek kesayangan mba. Uda belajar aja bilang sayang-sayang"


"Kamu ini kenapa sih Raka? gak biasanya cerewet begini. Ketularan ibu kamu ya?"


"Ibu ngomel itu baik mba, untuk kebaikan kita juga"


"Iya, iya Raka. Bawel banget sih kamu"


"Sekarang mungkin kita belum ngerasain akibatnya, tapi nanti dalam waktu berkepanjangan zat kimia itu akan numpuk di tubuh kita bisa menyebabkan kangker mba" dan aku gak mau itu terjadi sama kamu mba, kataku dalam hati.


"Iya deh aku kurangi perlahan makan beginian, puas?" Mba Rika berkata sambil bangkit dan pergi ke kamarnya.


Aku melakukan ini karena untuk kebaikannya, di kehidupan yang lalu Mba Rika sering makan junk food, makanan yang tidak sehat, mengandung pengawet dan bahan kimia lainnya. Aku yang dulu cuek saja. Karena pada saat itu aku tak mengerti, bahwa itu berakibat sangat fatal. Semua itu menyebabkan mba rika kangker usus, dan akhirnya merengut nyawanya. Aku gak mau itu semua terjadi lagi. Aku harus bisa mencegahnya, meskipun mba rika marah terhadapku bila di ingatkan.


Sesil Epilog


Aku dan Alice saat ini sudah sampai rumahku, menyapa mama yang sedang bersantai di ruang tengah. "Ma. aku pulang. Mama sedang apa?"


"Ini mama lagi buat kerjaan kantor." mamaku yang memang seorang wanita karir.


"Kok ngerjainnya di rumah ma?" tanyaku lagi.


"Iya, karena kerjaan mama banyak. Biar cepat selesai mama bawa kerumah, Kamu ganti baju dulu sana Sil bau asam ihh" kata mama sambil menutup hidungnya.


"Masa sih mah" aku mencoba mencium bajuku " Gak bau kok, mama ini masa anaknya yang cantik begini di bilang bau. Yaudah sesil ke kamar dulu" aku hendak berjalan ke kamar bersama alice di sampingku.


"Ehh, Sil. Adiknya teman kamu uda gak ke sini lagi? Siapa namanya, mama lupa" mama terlihat berpikir " Ohh iya anis, apa alis ya?"


"Alice mama"kataku


"Ahh iya Alice, dimana dia?"


Aku dan Alice saling bertatapan


"Sil? kamu di tanya mama kok malah bengong?"


"Emm.. Eh, iya ma dia sudah pulang kerumahnya. Temanku sudah datang, mereka pergi hanya satu hari"


"Ohh begitu rupanya"


"Iya ma, aku kekamar ya ma"


"Oke sayang"


Ku tarik Alice pergi ke kamarku.


"Alice sepertinya kamu sudah tak terlihat lagi sekarang"


"Benar Sil, sepertinya begitu"


"Apa kekuatanmu sudah kembali?"


"Aku rasa belum, tapi masih berangsur pulih. Ini kemajuan yang pesat. Biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 hari baru bisa seperti ini"


"Ohh ya? bagus dong. Apa yang menyebabkan lebih cepat dari biasanya ya?"


"Aku juga gak tau Sil. Terakhir aku kehilangan kekuatan saat di planetku 500 tahun yang lalu, saat aku membantu kakakku mengalahkan monster yang sangat kuat"


"Oh ya?? kamu punya kakak?"


"Ya begitulah. Sil aku akan kembali saja ke dimensiku ya?"


"Kenapa tidak di sini saja Alice? Biar aku ada temannya"


"Aku lebih nyaman di dimensiku Sil, mengertilah"


"Baik lah, terserahmu saja Alice"


Setelah itu Alice menghilang dari hadapanku.