
Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, karena selaku ketua osis pasti banyak sekali persiapan yang harus aku urus di sekolah. Kami akan berangkat tour selama 2 hari, dan tidak semua siswa siswi SMA Mandala akan ikut tour ini. Tetapi sesil mengikutinya, aku akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekatinya.
"Pagi bu, pak"
"Udah ganteng aja kamu ka, semangat banget yang mau liburan" kata bapak yang sedang bersantai di depan televisi, karena ini hari libur.
"Iya dong pak, biar cewek-cewek pada kepincut"
"Belajar yang bener raka, jangan pacaran aja yang kamu pikirkan" ibu dari dapur membawa beberapa menu sarapan dan meletakannya di meja makan.
"Iya bu, tapi masa SMA itu harus dinikmati bu. Kata orang, masa SMA itu masa paling indah"
"Ibu tidak melarang kamu, asal kamu tau tanggung jawab kamu sebagai pelajar Raka"
"Raka tau kok bu" kataku sambil mencomot roti bakar buatan ibu. "Mba Rika masih bangkong bu?"
"Kamu tau sendiri gimana mbamu kalau hari libur gini Raka"
"Ohh iya bu, Raka minta tolong sama ibu kalau liat Mba Rika makan makanan pengawet dilarang ya bu? itu gak bagus buat kesehatannya"
"Ibu sudah sering melarangnya Raka, tapi Mbamu itu bandel. Kadang sering curi-curi di belakang ibu"
"Itu lah Mbamu Raka, kamu saja sadar makanan itu tidak sehat. Tapi dia yang sudah mahasiswi gak bisa membedakan itu. Bapak takut mempengaruhi kesehatannya di kemudian hari"
Bapak benar, dan aku gak mau itu terjadi
"Yang penting kita sering-sering aja mengingatkan Bu, Pak. Nanti lama-lama Mba Rika paling bosen sendiri kalau selalu di tegur"
"Iya sudah cepat selesaikan sarapan kamu. Katanya mau pagi ke sekolah karena banyak yang perlu di siapkan" kata ibu mengingatkanku
"Ini uda selesai bu, Raka berangkat dulu ya bu, pak"
"Ini uang sakumu Raka" bapak menyerahkan beberapa lembar uang kepadaku.
"Terimakasih pak"
Aku mencium tangan bapak dan ibu, dan segera bergegas pergi ke sekolah.
******
Di sekolah seluruh anggota osis telah berkumpul, aku mengkoordinasi semua anggota osis untuk membagi mereka menjadi panitia di tiap grup. Setiap panitia grup akan memimpin peserta tour dan ikut di bus mereka.
Aku sengaja memilih menjadi panitia di grup sesil, karena biar bisa sekalian mendekatinya.
"Baiklah teman-teman saya harap kerja sama kalian. Sebagai panitia penyelenggara kita harus bertanggung jawab terhadap anggota grup lainnya. Untuk jadwal pelaksanaan tour bisa di ambil dengan Iren selaku sekertaris. Saya harap setiap panitia grup memiliki jadwal tersebut agar memudahkan mengkoordinir anggotanya. Sebelum berangkat mohon untuk mengabsen anggotanya untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Absensi rutin dilakukan pada saat akan naik bus, begitu seterusnya saat habis mengunjungi obyek wisata harap mengabsen anggotanya. Guru-guru di sini bertindak sebagai pengawas. Mereka akan ikut bus yang berbeda dari para siswa. Tanggung jawab penuh di serahkan kepada anggota osis. Apakah ada pertanyaan?"
"Gimana kalau ada yang datang terlambat Raka?" Bobi salah satu anggota osis bertanya.
"Kita kasih kelonggaran waktu 15 menit lebih lambat dari jadwal keberangkatan. Apabila sudah di tunggu 15 menit peserta tidak datang juga, dengan sangat terpaksa kita harus meninggalkannya"
"Grup ini tersusun apa berdasarkan kelas atau di campur? maaf karena berhalangan saya tidak hadir di rapat osis waktu itu" Dewi bertanya.
"Baik saya sampaikan kembali, berdasarkan hasil kesepakatan bersama bahwa dalam satu grup anggotanya di campur dari kelas 1, 2, dan 3. Alasannya karena agar lebih bisa mengakrabkan diri dengan siswa siswi lainnya, gak melulu bareng sama teman-teman di kelasnya, dan waktu itu saya memberi tanggung jawab kepada Iren untuk memilih setiap anggota grup. Apa ada pertanyaannya lagi?"
"Saya rasa cukup Raka, karena teman-teman lain sudah mulai ramai berdatangan. Jadi kita segera kembali ke posisi grup masing-masing" Dedi sebagai wakil ketua osis berpendapat.
Aku menuju bus dengan nomer urut satu yang merupakan tanggung jawabku sebagai panitia. Di sini ada aku, Iren, Vika dan Rendi sebagai panitia.
"Kalian masuk aja duluan, koordinir bagian dalam, disini biar aku yang urus" kataku kepada Iren, Vika dan Rendi.
"Oke kalau gitu, kami serahkan padamu Raka" ujar Iren. Mereka bertiga pun langsung menaiki bus.
Aku Berdiri di depan bus, membawa daftar absen dan menandai siswa yang telah hadir dan masuk ke dalam bus.
Satu persatu siswa siswi masuk dan mengambil tempatnya masing-masing. Bus ini memuat setidaknya kurang lebih 30 orang. Setara dengan jumlah siswa dalam satu kelasnya. Bus yang berangkat ada empat, karena tidak semua siswa dapat ikut di acara tour ini. Ada beberapa siswa yang tidak diperbolehkan orang tuannya mengikuti acara ini, dan ada beberapa siswa juga yang memiliki acara lain sehingga tidak dapat ikut.
"Haii Sill" sapaku saat melihat Sesil akan menaiki bus.
"Raka, kita satu grup?"
"Ya begitulah, disini aku panitia grupnya"
"Syukurlah ada panitia yang aku kenal, hehehe. Jadi tidak perlu sungkan kalau membutuhkan sesuatu"
"Tentu saja Sil, kalau butuh apa-apa cari saja aku. Ohh iya, dimana Alice?"
"Ahh, Alice mungkin ada di dimensinya"
"Benarkah? kekuatanya sudah kembali?"
"Kemaren saat terakhir aku ketemu sih katanya belum, cuma uda gak terlihat lagi sama orang-orang, dan bisa kembali ke dimensinya"
"Baguslah, berarti ada perkembangan. Setidaknya gak perlu berpura-pura jadi anak SD lagi, hahaha"
"Haii bocah kau mulai meledekku lagi? ingin merasakan kekuatanku?" tiba-tiba Alice muncul di sebelahku.
"Ahh, tidak Alice aku hanya bercanda. Pakaian ini lebih cocok untukmu Alice, dari pada yang kemaren. Hahahaha" Aku menunjuk pakaian yang selalu Alice gunakan, baju dan rok selut berwarna pink andalannya.
Alice tak menghiraukanku malah langsung menarik tangan sesil untuk menaiki bus. Lima menit lagi bus akan berangkat, aku mengecek semua nama sudah tercontreng kecuali satu nama. Dasar tukang bangkong pasti telat, kalau lima menit lagi gak datang biar saja di tinggal kataku dalam hati.
"Hosh.. hosh.. hosh.. aku gak terlambatkan Raka?" Erik yang baru saja tiba terlihat ngos-ngosan karena berlari.
"Telat dikit aja uda di tinggal kamu Rik. Makanya jangan bangkong aja kerjanya kalau libur"
"Kaya kamu gak gitu aja Raka"
"Uda cepat sana masuk, bentar lagi berangkat"
Aku dan Erik pun masuk, disusul pak supir yang juga masuk, bersiap melajukan bus ini ke tempat tujuan kami.
Bus berjalan sesuai urutan nomernya, karena kami berada di urutan awal maka kami berjalan di depan. Para guru-guru menaiki bus dengan urutan empat, mereka akan berada di urutan akhir untuk selalu mengawasi siswa siswinya.
Haii, siapa yang mau ikut Raka tour ke bali?
Pantau terus ya perjalanan Raka dan kawan-kawan ke pulau dewata
Happy reading