Just More Time

Just More Time
Tanah Lot



Saat ini aku dan peserta tour lainnya telah sampai di Tanah Lot yang berada di kabupaten Tabanan Bali.


Di sepanjang jalan menuju tempat wisata aku melihat banyak sekali terdapat penginapan. Mulai dari penginapan sederhana, hingga villa dan hotel berbintang.


Kini bus yang kami naiki telah masuk area parkir Tanah Lot. Dari tempat parkir, terdapat banyak toko yang menjual berbagai barang kerajinan khas Bali. Misalnya patung, lukisan, kain pantai, pernak – pernik, dan aksesoris.


Bus kami telah berhenti, aku berdiri dari tempat dudukku bersiap memberikan pengumuman untuk peserta bus ini "Teman-teman kalian bebas berjalan-jalan di lokasi wisata Tanah Lot ini, kita akan melihat sunset yang indah disini". Terdengar sorak sorai siswa yang semangat setelah mendengar penjelasanku. "Kita akan berkumpul kembali jam 7 malam, dan akan melanjutkan perjalanan kembali. Apa ada pertanyaan?"


"Tidak, cukup jelas. Ayolah Raka, jangan berlama-lama di bus ini. Kami sudah tak sabar keluar melihat pemandangan yang indah." Emil memprotesku, sungguh ia tak sabaran.


"Baiklah, kalau begitu silahkan keluar satu persatu, jangan berdesakan".


Semua murid keluar dari bus, berjalan bersama teman atau genk mereka dan mulai menyusuri tempat wisata ini.


Menunggu pujaan hatiku keluar, aku berencana mengajaknya jalan bersama. "Ayo Raka tunggu apa lagi?" kata Erik yang langsung menarik tanganku hendak pergi.


"Aku menunggu Sesil Rik, kamu duluan saja kalau mau".


"Sesil lagi, sepertinya kamu jatuh cinta dengannya Raka"


"Memang" jawabku enteng. Tak lama Sesil turun dari bus, senyum ceriaku mekar dari sudut bibirku. "Haii, Sil.., bareng yuk?" ajakku.


"Eehmm boleh, tapi aku juga bareng Mery dan Miska Raka"


"Tidak masalah, aku juga bareng Erik. Semakin ramai akan semakin seru".


"Ehh, emang iya? bukanya tadi kamu suruh aku duluan Raka?" kata Erik yang tidak peka.


Aku menyikut lengannya, ya kali aku jalan dengan 3 orang gadis sekaligus "Kita kan selalu bersama Rik, hahaha" tawaku garing sambil merangkul Erik.


"Yuk, Sil" tiba-tiba Mery dan Miska datang mendekat, mereka yang tadinya menggunakan bus 3 segera bergabung bersama kami yang sedang berada tak jauh dari bus satu.


"Mery, Miska bolehkan Raka dan Erik ikut bersama kita?" Sesil menunjuk ke arahku dan Erik.


"Tentu tidak papa Sil, aku senang Erik ikut bergabung" kata Miska, dia terlihat tersenyum manis ke arah Erik. Mereka sekarang memang cukup dekat. Dari gerak gerik Miska sepertinya gadis ini telah takluk oleh Erik, hebat juga nih cunguk.


Akhirnya kami berlima berjalan bersama, para wanita berjalan di depan sedangkan aku dan erik mengekor di belakang.


Dari tempat kami berdiri, kami dapat melihat pemandangan pantai yang indah dan lokasi pura terletak di atas batu besar yang berada di lepas pantai. Pura Tanah Lot merupakan ikon pariwisata pulau Bali. Ini adalah objek wisata bali yang wajib dikinjungi. Saking terkenalnya tempat wisata di Bali, maka hampir setiap hari objek wisata ini selalu ramai dengan kunjungan wisatawan. Tak tekecuali hari ini. Banyak sekali turis manca negara berpose untuk mengabadikan moment indahnya. Kami tentunya juga melakukan hal yang sama.


Sekarang kaki kami melangkah menuruni anak tangga, untuk dapat sampai ke tepi pantai. Angin berhembus lumayan kencang disini. Deru ombak terdengar bersahutan menabrak bongkahan batu di tepi pantai.


Dihadapanku kini ada Pura yang di bangun pada dua tempat yang berbeda. Satu pura terletak di atas bongkahan batu besar, dan satunya lagi terletak di atas tebing yang menjorok ke laut. Tebing inilah yang menghubungkan pura dengan daratan. Serta bentuk tebing melengkung seperti jembatan.


"Kita foto di atas batu besar itu yuk?" ajak Mery, ia langsung menarik tangan Sesil dan Miska berlari kecil ke arah bongkahan batu itu, terlihat sangat bersemangat sekali.


Tangan Mery bergerak memanggilku yang masih betah berdiam diri di tepi pantai. Melihat itu Aku dan Erik menyusul mereka.


"Rik, fotoin dong" Ujar Mery saat kami telah sampai dihadapannya.


"Lha kenapa aku? Raka saja lah" Ujarnya, Erik tak terima. Ia juga ingin berpose.


"Kamu ajaya, nanti gantian kamu aku fotoin bareng Miska, mau gak?" Mery yang tau kedekatan antara Miska sahabatnya dan Erik memberi penawaran yang tak mungkin Erik tolak.


"Baiklah kalau begitu, kalau begini aku setuju" Erik mulai mengambil kamrea di tangan Mery bergerak sedikit menjauh dari posisi kami saat ini berdiri.


Mery dan Miska berpose sedikit berjongkok, sedangkan aku dan Sesil berada di belakang mereka.


"Ganti gaya dong" ujar erik sedikit teriak dari sana.


Saat Mery berdiri dia tanpa sengaja menyenggol Sesil, keadaan batu yang memang licin membuat Sesil terdorong kebelakang "argggggghhhh......."


"Hati-hati batunya licin" aku menyangga tubuhnya dari belakang, memegang erat pinggang rampingnya. Tubuhku saat ini menempel ke Sesil, tak ada jarak di antara kami. Mata kami bertemu, kemudian aku melihat bibir ranumnya yang sexy, Aaahhkkkk otakku, ingin sekali rasanya ku lum**t bibir itu.


"Terimakasih..." Sesil dengan kikuk melepaskan diri dari pelukanku. Memutar tubuh dan menundukkan wajahnya, dapat kulihat guratan berwarna pink kemerahan di pipinya.


"Eheemmm.. dapat jekpot nihh si Raka" Erik yang datang merusak suasana, bisa-bisa ia berkata seperti itu.


"Apaan sih Rik, mending sana cepat kamu foto sama Miska" kataku, aku tak ingin Sesil jadi malu karena ucapan Erik.


Disuruh begitu langsung saja erik menggandeng tangan Miska mengajaknya berfoto dengan berbagai pose.


"Sini ku bantu" Aku gandeng tangan Sesil menuju hamparan pasir. Sesil menurut mengikuti langkahku, berjalan tertunduk dengan rona merah masih menghiasi wajah cantiknya. Uuuuhhh gemes banget.


"Mau kesana?" tawarku kepada sesil, aku menunjuk lokasi goa yang tak jauh dari kami berdiri. Di goa itu tertulis Ular Suci.


"Boleh" kata Sesil. "Eemmmm Raka, mau sampai kapan kamu menggandeng tanganku" tanya sesil di sela perjalanan kami menuju goa itu.


"Sampai maut memisahkan kita" Upppsss keceplosan. "Eeehmmm itu.. maksudku sampai digua itu, biarlah begini sedikit lebih lama" jujur aku enggan melepas tautan ini. Untungnya Sesil tidak protes, dia menurut saja.


"Eehhh anak muda, jangan cari-cari kesempatan"


Hampir saja jantungku copot, selalu muncul tiba-tiba seperti ini. "Alice, kamu ini mengganggu saja"


"Jangan muncul tiba-tiba seperti itu Alice, kamu membuatku kaget" kata Sesil yang memegang dadanya, sepertinya bukan hanya aku yang kaget dengan kemunculan Alice.


"Maaf.." Alice berkata dengan raut muka dibuat seperti orang menyesal, Aaahhh Alice pintar sekali aktingmu, aku yakin besok-besok ia pasti akan mengulangnya lagi.