
Hari ini Author kasih UP 2 kali ya
Happy Reading all..
Lucky masih berada di planet Gliese sekarang. Planet Gliese hampir mirip dengan bumi, planet ini berada pada zona Goldilocks di mana suhu permukaannya memungkinkan adanya air yang dapat mendukung kehidupan seperti di Bumi. Gliese memiliki kehidupan ekstraterestrial yang mirip dengan kehidupan manusia. Planet ini berjarak 20,4 tahun cahaya atau setara dengan 193 triliun kilometer dari Bumi.
Saat ini Lucky sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Bumi. Ia sudah mendapatkan izin dari sang pemimpin bangsanya yaitu The Watcher.
The Watcher adalah nama dari sebuah spesies berkekuatan kosmis yang ada di alam semesta. Mereka tergabung dalam sebuah perkumpulan yang disebut sebagai Council of the Watchers yang berisikan banyak The Watcher. Tetapi karena suatu kejadian yang menimpa alam semesta, spesies ini berlahan musnah. Dan saat ini hanya menyisakan satu The Watcher, yang merupakan pemimpin di planet Gliese.
Sebagai makhluk kosmis, The Watcher mempunyai kemampuan untuk menembus ruang dan waktu serta multiverse sekalipun. Hal ini membuat mereka tahu segala macam kejadian. The Watcher juga sebenarnya mampu memanipulasi ruang dan waktu, tapi hal itu enggan digunakan terkecuali dalam keadaan mendesak seperti kehancuran semesta.
"Hormat kepada pemimpin" Lucky berkata sambil menundukkan kepalanya, Ia saat ini berada di ruang pribadi The Watcher.
"Kau sudah siap Lucky?" tanya The Watcher. Pria ini memiliki tubuh yang sedikit pendek, dan bagian kepala yang agak besar.
"Sudah pemimpin, saya hanya membawa SETI saja untuk menghubungi Alice nanti, mengingat saya kemungkinan tidak akan lama di Bumi".
"Kau benar Lucky, tubuhmu tak akan mampu bila berlama-lama berada di bumi. Berbeda dengan Alice yang memang memiliki setetes darah manusia Bumi".
"Apa sekarang saya bisa berangkat pemimpin?"
"Tunggu dulu" The Watcher membuka laci meja yang berada di ruangan itu. Mengambil benda berbentuk bintang. "Serahkan ini kepada pemuda itu, hanya dia yang dapat aku percaya saat ini"
The Watcher menyerahkan benda berbentuk bintang kecil itu kepada Lucky.
"Benda itu tidak abadi, kalau terlalu lama di bumi, bentuknya akan menyusut. Setidaknya itu bisa membantu pemuda itu melindungi keturunan Anthos".
"Baik pemimpin saya mengerti" kata Lucky
"Cepatlah berangkat, dia semakin berulah. Adikmu Alice saat ini sedang terluka"
"Bagaimana keadaan Alice pemimpin?" Raut wajah Lucky berubah menjadi cemas. Ia sangat mengkhawatirkan adiknya saat ini.
"Dia cukup baik, sedikit luka dalam akibat terlalu memaksakan diri untuk menolong keturunan Anthos"
"Syukurlah, kalau begitu saya undur diri pemimpin" Lucky menundukkan kepalanya kembali, memberi hormat.
"Ya, semoga perjalananmu lancar Lucky. Dan cepatlah kembali".
Setelah berpamitan, Lucky keluar dari ruangan The Watcher kemudian menuju ruangan teleportasi. Karena ini merupakan teleportasi dengan jarak yang sangat jauh. Ia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Lucky membutuhkan alat bantu, yang biasa di gunakan mahluk planet Gliese untuk mengunjungi planet lain. Alat itu berbentuk kapsul, yang cukup memuat 4 sampai 5 orang di dalamnya.
Setelah berbicara sebentar dengan petugas yang bertugas menjaga dan mengoprasikan kapsul ini, Lucky bergegas masuk ke dalam kapsul.
Ia sebelumnya belum pernah ke Bumi. Entah bagaimana keadaan planet yang di sebut Bumi itu, yang Lucky tau, Bumi kurang lebih hampir sama dengan planet Gliese. Begitulah kata tetua di sini.
Dengan tekat ingin membantu adik kesayangannya Alice, Lucky berangkat ke Bumi. Ia sudah siap berteleportasi.
Zzzeeettttt... Zzeetttt...
Badan Lucky menghilang, muncul kembali. Begitu seterusnya selama beberapa saat.
Di suatu tempat di Bumi
Saat ini ia merasa menjadi orang yang sangat sial, diputusin sang pacar karena pacarnya memilih selingkuh dengan wanita lain yang menurutnya tak secantik dirinya. Dan yang lebih parahnya lagi, sang pacar sudah memorotinya, membawa kabur uangnya.
Gadis ini bernama Kristal. Sesuai namanya, kulitnya sebening kristal, wajah cantiknya yang berkilau, kakinya yang jenjang, serta rambutnya yang terurai panjang.
"Huufffhh.. dasar lelaki breng**k, Kristal berteriak sekencang-kencangnya menumpahkan emosinya. "Kurang cantik apa aku hah? malah milih nenek lampir itu. Mentang-mentang tuh lampir kaya raya langsung saja pergi meninggalkanku seenaknya" Kristal saat ini sedang sendiri tak seorang pun berada di sana, sehingga ia bebas mencurahkan segala risau hatinya. Sekarang ia berada di sebuah bukit dekat rumah yang ia sewa.
Kristal tinggal seorang diri, karena ayah dan bundanya menetap di luar negeri. Sedangkan Kristal bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota ini.
Kristal menengadahkan kepalanya ke langit, meratapi nasibnya, berharap tuhan memberikan keajaiban untuk mengembalikan uangnya. "Bintang jatuh? aku harus mengucapkan permohonan" Kristal memejamkan matanya, mengucapkan keinginannya saat melihat bintang jatuh di langit.
Cuuusssss.... Brruuaaakkkk..
"Suara apa itu?" Kristal menoleh ke sumber suara. "Seperti ada yang jatuh". Ia berjalan ke arah benda jatuh tadi, jaraknya tak jauh dari tempat ia berada saat ini.
"Aaahhh sial, kenapa mendarat seperti ini?" kata Lucky yang kesakitan, pendaratannya tidak mulus, ia jatuh dari langit dan menubruk tumpukan kardus di tempat itu.
"Aaaaggghhhh......" teriak Kristal sambil menutup mata dengan kedua tangannya.
Lucky terkaget mendengar teriakan seorang perempuan. Ia bangun dan mendekat.
"Haaiii jangan mendekat, dasar mesum" Kristal mundur beberapa langakah saat Lucky mendekatinya.
"Mesum? siapa yang mesum?" kata Lucky tak terima.
"Kau lah, siapa lagi. Mana ada orang yang berjalan tidak pakai baju sepertimu"
Lucky melihat dirinya sendiri. Ia baru sadar sekarang ia benar-benar tak mengenakan sehelai kain pun. "Sial... gravitasi tadi merusak bajuku, harusnya pemimpin memberitahuku akan hal ini" Lucky benar-benar frustasi, bagaimana bisa hari pertamanya di Bumi jadi sesial ini? pendaratan yang tidak mulus, dan sekarang bertelanjang di depan seorang gadis.
"Maaf, bisa pinjamkan aku jaketmu? nanti akan aku jelaskan. Aku bukan orang mesum seperti yang kau pikirkan" kata Lucky.
Kristal yang ketakutan berencana akan kabur dari situ, dia perlahan memundurkan langkahnya dan membuat ancang-ancang untuk berlari. Tapi tak sempat, Lucky keburu menarik tangannya.
"Lepaskan aku, jangan berani macam-macam denganku" kata Kristal yang menundukkan pandangannya, tak ingin matanya terkontaminasi dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Aku tidak akan macam-macam kalau kau berikan jaketmu" Lucky tak punya pilihan saat ini, tidak mungkin ia pergi dengan keadaan seperti sekarang.
Kristal melepas jaketnya, dan melemparkan ke arah Lucky. Jaket yang di kenakan Kristal sangat besar dan panjangnya diatas lututnya, karena suasana yang dingin ia memutuskan menggunakan jaket itu untuk menghangatkan tubuhnya.
Dengan segera Lucky memakai jaket itu, "Buka matamu, aku sudah memakai jaketmu"
Kristal membuka matanya, berlahan menatap ke arah Lucky berdiri. Sangat tampan, pikirnya.
"Bolehkah aku ikut denganmu? maaf sebelumnya, aku tak punya maksud lain. Hanya saja aku baru di sini. Aku kehilangan barang bawaanku".
"Tidak, aku tinggal sendiri. Mana mungkin aku membawa pria asing masuk ke rumah". kata Kristal yakin.
"Tolonglah, aku akan mengabulkan permohonanmu saat melihat bintang jatuh tadi, bila kau bersedia menampungku"
"Bagaimana kau tau? aku hanya mengucapkannya di dalam hati"
"Nanti akan ku jelaskan. Aku tidak berbohong, aku bisa mengabulkan permohonanmu itu". kata Lucky. Hanya gadis di hadapannya ini harapannya bertahan di Bumi yang asing. Bahkan saat ini ia tidak bisa menghubungi Alice karena SETI yang ia bawa terjatuh entah di mana.