Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Raja Bunga



Tebing yang ditunjuk Jasmine berada tidak jauh dari tempat kami berdiri sekarang. Jika


dilihat dari bawah rerumputan di atas tebing itu sangat hijau, subur, dan juga liar.


“Kau yakin?” Ken meminta kepastian dari Jasmine.


“Ya, aku tidak yakin karena aku hanyan melihatnya sekilas. Tapi kita bisa kesana dan memeriksanya.”


“Caranya?” seperti biasa Flash keberatan.


“Kita bisa terbang kan? Tebing itu juga tidak seberapa tinggi.” jawab Jasmine datar.


“Aku belum pernah menggunakan kekuatan itu.”


“Tapi aku dan Qlessie pernah melakukannya saat melawan Tula-Cula 1B waktu itu.” Jasmine berkata dengan             menyengir.


“Ken juga tidak pernah,” Flash tidak mau kalah.


“Walaupun tidak pernah mencoba tapi sebenarnya kau bisa kan? Ingat kata Tart! Mencoba hal baru!” sahut Ken yang membuat Flash mendengus kesal.


Tanpa menunggu lama, aku dan Jasmine yang sudah pernah melakukan ini segera merentangkan tangan kami dan dengan perlahan tubuh kami terangkat keatas dan seketika telah mendarat di ujung tebing.


Ken juga melakukan hal yang sama setelah memperhatikan aku dan Jasmine dengan cermat. Flash juga dengan terpaksa mengikuti gerak-gerik Ken. Percobaan pertama gagal Flash lakukan, begitu juga dengan percobaan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Sedangkan Ken dalam percobaan pertama sudah berhasil menyusul kami yang berada diatas tebing.


“Aku tidak bisa melakukannya…” Flash menghela nafas pasrah.


“Kau hanya kurang fokus, Flash! Cobalah sekali lagi!” seru Ken menyemangati.


Flash mencoba lagi untuk yang kesekian kalinya, entah percobaan keberapa. Namun hasilnya sama saja, nihil. Kami yang diatas masing-masing menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal. Bingung bagaimana agar Flash bisa naik ke atas tebing ini, tetapi rupanya dia sendiri yang berhasil menemukan cara itu.


Flash yang tiba-tiba mendapatkan ide segera memanggil angin dan membiarkan angin itu menerbangkannya sesuai dengan perintahnya. Dalam sedetik dia juga sudah berada disamping kami.


“Begini lebih mudah!” Flash tersenyum lebar.


Aku membalikkan tubuhku dan memperhatikan tebing itu dengan saksama. Hanya tanah lapang disertai dengan bebatuan terjal yang dapat aku tangkap. Aku maju selangkah lagi meninggalkan teman-temanku, seperti ada sebuah dorongan dalam diriku untuk melakukan itu. Semakin jauh aku melangkah aku dapat melihat sebuah rumah megah yang terbuat dari tumbuhan rambat dan bunga mawar indah yang baru mekar. Memiliki desain rumah yang bak istana itu membuat rasa penasaran dalam benakku muncul. Tetapi ada hal lain yang terpancar dari sisi diriku yang lainnya. Haus. Haus akan hal yang belum pernah aku rasakan. Sebuah sentuhan lembut di pundakku berhasil memecahkan semua hal yang berada di benakku. Dalam sekejap aku telah kembali ke diriku yang sebenarnya.


“Jangan terlalu jauh. Kita periksa rumah itu bersama-sama.”


Itu Ken. Aku baru menyadari bahwa sedari tadi aku tidak berjalan sendiri. Melihatku yang berjalan menjauh, teman-temanku yang lainnya juga ikut menyusulku. Sama sepertiku mereka juga takjub melihat rumah yang berada didepan mata kami sekarang. Apalagi desainnya yang sangat langka membuat kami berpikir bahwa itu adalah rumah Raja Bunga yang dimaksud.


Rumah megah itu benar-benar hanya terbuat dari tanaman rambat. Tidak ada tembok atau benda kokoh yang menyertainya. Pintunya juga terbuat dari ribuan kelopak bunga mawar, gagang pintunya adalah tangkai bunga mawar yang dipenuhi duri. Apakah Raja Bunga sangat menyukai mawar?


Jarak kami dengan rumah itu hanya tinggal satu meter lagi, semakin dekat semakin jelas kami melihat rumah itu. Semakin indah juga ketika dipandang, persis seperti istana-istana di dalam dunia dongeng. Ditambah dengan kunang-kunang yang berada didalam sebuah wadah yang digantung disetiap sisi-sisi istana. Membuat keadaan seperti malam, padahal ini baru menjelang siang.


Hingga kami tiba tepat di depan pintu masuk rumah megah itu.


“Ada gerangan apa kalian datang ke istana raja kami?”


Tiba-tiba saja ada sebuah suara yang terdengar disamping kami. Kejadian yang sama terulang kembali seperti saat


pertama kali kami datang ke daerah Sumur Perak.


“Apakah itu roh Sumur Perak?” tanya Flash dengan menciut.


“Kuharap tidak!” Jasmine membentak Flash tepat ditelinganya.


“Si…siapa?” tanyaku meneliti sekitar dengan gugup. Jujur aku takut kejadian yang sama akan terulang kembali. Bagaimana jika kita meninggalkan tempat ini akan ada sesuatu yang kembali memasuki tubuhku seperti sekarang ini. Tidak ada yang tau hal ini kecuali Bibi Poh. Aku juga tidak tau Bibi Poh tau darimana akan hal ini, mungkin dari pengalaman hidupnya. Aku sendiri masih belum berani menceritakannya kepada mereka. Bagaimana jika mereka malah menjauh dariku? Hanya satu kata yang berada dalam benakku. Takut. Hanya takut.


Suara itu masih saja terdengar disekitar kami. Entah siapa pemilik suara itu. Yang jelas suaranya terdengar sangat dekat dan memekakkan telinga


“Jika kalian tidak bisa menjawab, pergilah! Kami tidak akan membiarkan kalian merusak kebahagiaan Raja kami.” Sahut suara yang berbeda. Itu berarti bukan hanya seseorang melainkan dua orang yang berada di sekitar kami.


Flash dengan segala keingintauannya melangkah maju menghiraukan peringatan-peringatan itu.


“APA YANG KAU LAKUKAN? KAU HAMPIR SAJA MENGINJAKKU!” suara itu berteriak kencang membuat kami semua tergelonjak kaget, terutama Flash yang sampai jatuh terpeleset.


Sontak kami semua lansung menoleh ke arah bawah. Rupanya suara-suara tadi itu berasal dari bunga-bunga yang berada di sisi kanan dan kiri pintu masuk. Keberadaan mereka tidak diketahui karena wujud mereka sangat kecil. Hanya dua centi kurang lebih.


“A…ap aitu?” tanya Flash dengan gugup. Masih dengan posisinya yang duduk dibawah.


“Sepertinya itu pengawal raja….” Jasmine memikirkan sebuah kemungkinan.


“Pergi dari sini, sebelum Raja kami mengetahui kehadiran kalian.” perintah bunga yang berada di sebelah kanan.


Kami semua saling pandang bingung apa yang harus kami lakukan. Tapi tidak denganku, aku maju dan menginjak kedua bunga itu dengan satu injakan kaki. Alhasil, kedua bunga itu mati. Teman-temanku tentu saja terkejut dengan tindakanku yang diluar dugaan. Mulut mereka terbuka lebar, karena mereka melihat aku yang bukan aku.


“Qlessie, apa yang kau lakukan?” tanya Ken dengan wajah yang masih terkejut.


“Aku merasa bunga yang berada di taman itu mati karena sari-sari bunga mereka diserap oleh bunga-bunga kecil ini. Raja bunga itu menyerap sari-sari mereka karena mengetahui bahwa mereka adalah bunga ajaib yang bisa berbicara, lantas sari-sari bunga itu juga disebarkannya ke bunga-bunga disini yang sebelumnya mati menjadi hidup.” Aku berbicara dengan intonasi datar.


Mereka masih berusaha mencerna situasi, sedangkan aku rasanya ingin menepuk jidatku sendiri menyadari perilakuku yang bukan aku sendiri yang melakukannya. Bagaimana aku bisa tau semua itu? Sungguh, itu bukan aku yang menjelaskannya.


“Kau tau semua itu darimana?” tanya Ken yang mulai mengerti penjelasanku.


“Eh, entahlah tiba-tiba ada sebuah suara yang memberitahuku tentang hal itu.” Kataku, berbohong. Aku tau seharusnya aku tidak boleh melakukan ini. Tidak boleh.


“Tindakan Qlessie tidak buruk juga. Harusnya aku yang menginjak bunga itu tadi, enak saja membuat orang kaget


seperti itu.” Flash mendukungku.


“Tapi apakah dengan begitu bunga-bunga di taman itu kembali hidup?” Ken bertanya kepadaku.


 Aku menelan ludahku. Tidak tau harus menjawab apa. Memang susah membohongi orang pintar.


“Aku tidak tau…, semoga saja begitu,” akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku.


Setelah itu kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, bimbang antara akan masuk kedalam rumah itu, atau kembali ke tempat taman bunga tadi.


“Kita masuk. Kita tidak bisa mundur begitu saja setelah sampai sejauh ini. Dan Qlessie lain kali jangan lakukan hal itu lagi, kita tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini. Okeh?” Ken mengambil keputusan.


Aku mengangguk kecil kepada Ken. Ia tidak membiarkan kami menyentuh gagang pintu yang berduri itu, maka ia sendirilah yang menyentuh dan menariknya. Begitu pintu itu terbuka sebuah suara berdecit menusuk gendang telinga kami. Aneh! Padahal hanya kelopak bunga, tapi juga bisa menimbulkan suara seperti pintu kayu pada umumnya.


Kami memasuki rumah megah itu. Begitu kami masuk aroma berbagai macam bunga yang harum dan juga busuk masuk kedalam indra penciuman kami. Dan bau itu membuat kami mual. Tapi di lain sisi dekorasi rumah bak istana ini sangat indah. Sepanjang lorong masuk tidak terlewatkan satu pun pasti ada tanaman rambat yang menghiasi dinding-dinding bangunan itu.


Memang jika dilihat dari luar, hanya tanaman rambat yang kami lihat. Tetapi tanpa kami duga dinding-dinding istana ini terbuat dari batu yang sangat kasar. Raja Bunga pasti orang yang hebat bisa menciptakan sebuah tempat seperti ini. Tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, jika kita jelaskan maka semua orang pasti juga akan bingung. Bagaimana bisa luar terbuat dari tanaman rambat, dalamnya terbuat dari batu?


Kami hampir tiba diujung lorong. Aroma semerbak bunga juga semakin menyengat. Ditambah semakin masuk ke dalam, aroma tanah basah juga mulai tercium.


“Halo…! Apakah kalian ingin menemuiku?” sebuah suara lembut dan halus milik seorang yang berwibawa bertanya kepada kami ketika kami berhasil tiba diujung lorong.


Kami berempat dapat melihat jelas sosok itu. Bunga raksasa yang memiliki kelopak bewarna merah darah disertai dengan tangan yang berwujud daun, badan yang berwujud batang pohon dan benang sari bunga sebagai wajahnya. Ialah sang Raja Bunga….