Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Terjawab



"Kalian menyelesaikan ujiannya dengan sukses. Sekarang pergilah dan selesaikan ujian selanjutnya." ucap Bibi Poh yang tiba-tiba sudah muncul dibelakang kami.


"Kami lulus ujiannya?" tanya Jasmine.


"Tentu saja! Kalian anak-anak hebat, bukan?" ucap Bibi Poh dengan senyum sumingrah.


"Baiklah, kami pergi dulu. Jangan lupa jaga kesehatanmu, Bi!" kata Hama pamit pergi disusul kami.


Kami menuju kearah berlawanan dari pintu masuk desa, lebih tepatnya kami mengarah ke jalan keluar dari Desa Purba. Keanehan yang diperkirakan Hama akhirnya terjawab. Begitu kami keluar dari desa itu, desa itu menghilang. Seperti ada yang menekan sebuah tombol merah di remote control, seperti itulah desa itu menghilang secara tiba-tiba.


"Jadi apakah desa ini adalah desa ilusi?" tanya Ken terkejut.


"Sekarang aku mengerti mengapa gua Bibi Poh dan yang lainnya terdapat dupa. Karena dupa itulah yang membuat ilusi ini. Dupa itu yang menciptakan ilusi dari Desa Purba." kata Hama.


"Kalau begitu, berarti Bibi Poh yang tadi juga ilusi?" tanyaku.


"Ya, sudah kuduga bahwa ada yang tak beres disini. Bibi Poh yang tadi hanyalah ilusi semata. Pantas saja dia tadi terlihat gugup." Hama berkata dengan matanya yang masih memandang tempat desa ilusi itu menghilang tadi.


"Apakah burung-burung tadi juga ilusi?" tanya Jasmine.


"Bukan. Burung-burung itu nyata. Kalian bisa lihat dari sifatnya yang ganas seperti wajahnya. Bukti lainnya dapat dilihat dari duri-duri tajam yang ia keluarkan terasa asli kan? Kalau itu palsu duri-duri itu tidak akan bisa merobek tembok es transparan Qlessie dengan mudah."


"Lalu kenapa Bibi Poh memberikan ujian yang bukan bagian dari ilusi tadi?" Flash kebingungan.


"Penjelasan yang paling masuk akal menurut aku adalah, kalau burung-burung tadi itu menganggu desa ilusi tadi, jadi kemungkinan besar Bibi Poh yang palsu memberikan ujian ini kepada kalian guna memusnahkan burung-burung itu." Hama mencoba menebak-nebak.


"Desa itu kan ilusi, kenapa mereka tidak pindah saja ke tempat lain untuk menghindari burung-burung tadi?" cemoh Flash.


"Ya mungkin saja, burung-burung itu musuh bebuyutannya mereka." kata Hama.


"Kira-kira siapa yang menciptakan desa ilusi tadi?" tanyaku


"Seseorang pastinya." balas Hama


"Jadi ini alasan kenapa perutku masih saja lapar, padahal tadi sudah makan daging." kata Flash yang membuat kami menyadari kalau memang perut kami tidak pernah diisi daritadi. Daging itu adalah ilusi rupanya.


"Berarti jika kita ingin ke desa yang asli, kita harus berjalan sejauh delapan kilometer lagi?" tanya Ken.


"Sepertinya begitu..." balas Hama.


"Kenapa tidak teleportasi lagi?" usul Flash


"Lagi? Tadi belum puas?" tanya Hama.


"Kalau kita memaksa untuk berjalan, yang ada bukannya sampai tujuan dengan selamat, tapi ketika kita sampai tujuan, kita berubah menjadi hantu. Muka pucat, tak terawat." cemoh Flash lagi


"Kau tidak kelaparan, Hama?" Jasmine bertanya dengan sedikit tatapan menyelidik kepada Hama.


"Aku kan sudah pernah bilang, kalau fisikku kuat. Jadi tidak makan selama beberapa hari pun aku masih bisa bertahan."


"Mau bagaimanapun juga kan kau tetap mahluk hidup yang butuh energi. Kau tidak pernah merasa kelelahan gitu?" tanya Ken.


"Kalau lelah sih pasti. Tapi kalau soal energi ku berkurang atau tidak, bukan masalah besar." jawab Hama enteng.


Kami kembali memasang formasi yang sama seperti saat berteleportasi tadi. Hama memimpin, disusul Jasmine, Flash, Ken, dan terakhir aku. Kami melompat kesana kemari, melewati perpohonan rindang, sesekali mendengarkan suara burung berkicau dan bernyanyi diatas ranting. Juga tidak ketinggalan hewan seperti tupai melompat dari pohon satu ke pohon lainnya, dan kelinci yang berlari-lari mengejar kami.


"Kenapa kelinci itu mengejar kita?" tanya Flash.


"Dia merasa kalah, karena mengetahui ada yang lebih cepat darinya." kata Jasmine.


"Oh begitu! Hei! Kelinci! Kejar kami kalau kau bisa!" seru Flash dengan nada mengejek dan tingkahnya itu berhasil membuat kami tertawa terbahak-bahak dan sejenak melupakan rasa lapar yang menyiksa ini.


Flash terus saja melontarkan kata-kata ejekan kepada kelinci itu, ditambah dengan ia yang menjulurkan lidahnya sambil memejamkan matanya.


"Tangkap! Tangkap! Tangkap kami kalau bisa!" sindir Flash lagi.


"Sudahlah, Flash! Kalau kelincinya marah bisa bahaya, lho!" kata Hama memperingatkan ditengah kefokusannya mengendalikan tombak untuk kami berteleportasi.


"Itukan kalau di dunia kita, kalau disini? Apalagi ini Hutan Misteri, semua yang tidak mungkin menjadi mungkin disini." kata Jasmine ikut menegur Flash.


"Lagipula, emang kelinci bisa mengerti bahasa kita?" kata Flash tidak percaya.


Dan itulah yang terjadi. Sama seperti sayap burung tadi yang membesar, kelinci yang dibelakang membesarkan badannya seukuran gajah dewasa menurut dunia kami.


"Tuh kan! Kubilang juga apa. Kau sih, bandel!" kata Jasmine kesal.


"Hei! Jelaskan kesalahanku! Lagipula kalian tadi juga tertawa, jadi bukan salahku sepenuhnya." Flash melawan.


Tiba-tiba Hama menghentikan teleportasinya.


"Kenapa berhenti, Hama? Kau tidak melihat ada kelinci raksasa yang mengejar kita di belakang?" bingung Flash.


"Kalau kita terus berteleportasi, maka kita akan membawa kelinci ini ke Desa Purba. Penduduk disana bisa marah nanti."


"Ya, tidak ada jalan lain. Kita harus bertarung kembali, Flash!" kata Ken tegas.


"Lebih baik kita jangan menyakitinya, tetapi membuat amarahnya mereda." usul Jasmine


"Lansung lawan saja!" seruku.


Semua mata menoleh kearahku.


"Bukan. Maksudku kita lansung melawannya tanpa menyakitinya sesuai kata Jasmine tadi. Kan semakin cepat semakin baik." ucapku memperbaiki kata-kataku yang entah diucapkan oleh hatiku bagian yang mana.


"Ah ya! Aku mengerti!" kata Ken.


Kelinci itu bewarna putih polos, dengan satu bundaran cokelat menghiasi mata kecilnya. Aku memberikan getaran es berharap amarahnya mereda dengan es. Tetapi esku malah meleleh dan berubah menjadi air lalu jatuh ke tanah.


Ken mengeluarkan pukulan berdentum kearah kanan kelinci itu berada, ia bertujuan untuk membuatnya tertarik. Tetapi sama sepertiku tadi, hasilnya nihil. Kelinci itu malah tidak menghiraukan Ken.


Jasmine mencoba membuatnya tertarik dengan api ilusi miliknya. Ia membakar salah satu pohon dengan teknik tersebut, kelinci itu juga sama sekali tidak peduli melihat pohon yang terkena api tapi tidak terbakar sama sekali.


Flash mencoba membuat pusaran angin di sekeliling kelinci, tetapi angin itu malah membuat kelinci itu semakin marah, karena bulunya beterbangan dan anginnya juga menganggu penglihatannya.


"Apa yang kau lakukan, Flash?" tanya Jasmine.


"Aku hanya ingin membuatnya tertarik itu saja."


Aku membuat patung es berbentuk kelinci untuk membuatnya tertarik, kelinci itu berhenti menggeram sesaat karena melihat dirinya menjadi dalam wujud es. Sedetik kemudian marahnya kembali memuncak karena mungkin dia berpikir bahwa aku sedang mengolok-ngoloknya.


"Nah! Qlessie sendiri juga melakukan hal yang sama. Membuat kelinci itu kembali marah." tuding Flash tidak terima hanya dirinya yang disalahkan.


Jasmine membuat kembang api besar, sekali lagi hanya untuk membuat kelinci itu tertarik. Tapi jangankan tertarik, menoleh ke atas saja ia tidak mau. Tatapan mata kecilnya semakin mengerikan untuk dilihat oleh mata manusia normal.


Flash membuat angin untuk menerbangkan daun-daun dari pohon disekitar. Ia berencana menerbangkan daun-daun seperti sedang menari dihadapan kelinci agar kelinci itu mau menghentikan tatapan gilanya, namun kelinci itu malah berteriak kencang membuat gendang telinga terasa bergetar hebat seperti sedang terjadi gempa, dan hal ini juga membuat daun-daun indah tadi jatuh ke tanah dengan tidak ada dosa sama sekali.


"Kelinci tidak tau diuntung!" seru Flash.


BUM! BUM! BUM!


Ken kembali melancarkan pukulan berdentum ke atas langit, udara sejuk di sekitar kami menjadi berubah arah. Dari depan berbelok ke atas. Pukulan di udara itu mengepul indah, seperti gelombang elektromagnetik yang besar. Kelinci itu menatap kosong kejadian indah itu, menganggapnya biasa saja.


"Apa yang disukai kelinci ini sih? Dia tidak tau apa, kalau kita juga lapar!" Flash menggerutu.


"Wortel mungkin?" tebak Jasmine.


Aku pun membuat wortel dari es dan melemparnya kearah kiri kelinci itu. Kelinci itu menyadari apa yang aku lempar, ia segera mengecilkan badannya dan berlari mengikuti wortel yang dia anggap miliknya, kurasa.


"Lagi-lagi kita melupakan nasehat nenek tua itu. Hal paling kecil dan sederhana. Kapan kata-kata itu akan menancap permanen di kepalaku ya?" kata Ken sambil geleng-geleng kepala.


"Hahaha, nanti juga kita terbiasa sendiri!" kataku.


Kami kembali melanjutkan teleportasi dan meneruskan perjalanan. Desa purba asli, kami datang.....