
“Baiklah, kau ingin menanyakan apa, Flash? Aku tau kau daritadi ingin bertanya tetapi tidak jadi karena mulut pria ini yang terus bicara tanpa henti.” Tart berbicara kembali.
“Eh? Sejak kapan Master Geor mau dipanggil Pak Geor?”
“Angin terbakar! Justru sejak kapan Pak Geor mau dipanggil Master? Darimana dia belajar kata itu?”
“Saat pertama kali kami bertemu dia, kupanggil ‘Pak’ dia tidak mau, minta dipanggil ‘Master’!” Flash mengangkat bahunya.
“Dia juga yang mengajar kalian? Bagaimana kabarnya?”
“Ditangkap oleh Tula-Cula….” Jasmine menjawab dengan menciut.
“Ditangkap?” ulang Tart.
Kami berempat mengangguk secara bersamaan.
“Apakah ini karena masalah penglihatannya?” Tart kembali bertanya.
“Bagaimana kau tau itu?” Ken bertanya, terkejut.
“Pak Geor sejak dulu memang punya penyakit mata. Terkadang penyakitnya itu menganggu keahliannya dalam menghadapi musuh. Jika kalian bertemu dengannya lagi, sampaikan salamku padanya! Selamat menjalankan ujian semuanya. Aku pergi dulu.”
Dalam sekejap angin disekitar kami menghilang, digantikan oleh kesunyian.
“Padahal aku ingin mendengar lagi cerita-ceritanya.” Flash mendengus kesal.
“Kau mengerti semua ucapannya tadi?” Jasmine menggoda Flash.
“Tidak semua sih, tapi mendengarnya bercerita sangat menyenangkan.”
“Kira-kira ujian kita selanjutnya apa ya?” tanyaku mengganti topik pembicaraan.
“Ngomong-ngomong soal ujian ini, aku penasaran dengan perkataan Tart tentang mendapatkan kekuatan dan teknik baru. Apa kita juga bisa mendapatkannya?” Jasmine bertanya
“Mungkin sesuai perkataan Tart tadi, mungkin kita sudah mendapatkannya tapi hanya tidak mau mencobanya.” Ken menyahutinya.
“Pertanyaanku adalah bagaimana kita akan mencobanya dan bagaimana kita akan memulainya?” sahut Flash.
Hama yang sejak tadi diam mulai berkomentar terhadap pertanyaan Flash.
“Itu kalian sendiri yang bisa mengetahuinya. Rasakan kekuatan itu dalam hati, kekuatan itu bermacam-macam. Baik soal pemahaman kata-kata dan pemahaman bertarung. Kalian sudah mendapatkan kekuatan itu dari awal saat kalian selesai menyelesaikan ujian yang pertama. Seperti hal paling sederhana dan kecil. Ketika kalian memahami kata-kata itu, bukankah kalian mendapatkan hal baru? Atau contoh lainnya saat kalian melawan monster salju raksasa yang dibuat oleh Serigala liar tujuh rupa dalam wujud Serigala biru. Waktu itu Qlessie berhasil menemukan cara bagaimana mengatasi kekuatannya bukan? Ia berhasil menemukan cara melelehkan es. Bukankah kau melakukan itu karena merasakan sesuatu, Qlessie? Kau memahami ada sebuah kekuatan dalam dirimu yang tidak kau ketahui kan? Kau mencoba dan hasilnya berhasil.”
Aku merenungkan kata-kata Hama. Memang benar apa yang dikatakan Hama, aku dapat melakukan itu ketika aku memikirkan, merasakan, dan ingin mencoba hal itu. Aku melakukannya dengan mengendalikan pikiran sesuai yang pernah diajarkan Master Geor saat hari pertama mengikuti latihan. Tidak disangka apa yang dikatakan Tart justru pernah aku lakukan tanpa aku pernah menyadarinya.
“Bagaiamana caranya, Qlessie?” Flash bertanya yang menyebabkan lamunanku terhenti.
“Cara apa?”
“Kau berhasil mendapatkan kekuatan barumu itu.”
“Mengendalikan pikiran. Master Geor pernah mengajarkan kita tentang hal itu saat hari pertama latihan kan? Aku hanya kebetulan mengingat caranya.”
“Tidak ada yang namanya kebetulan, Qlessie. Itu terjadi karena kau paham benar maksud perkataan itu.” Hama membenarkan ucapanku.
Aku mengangguk. Sebenarnya sudah sering kali aku mendengar kalimat itu. Dirumah orangtuaku juga bilang begitu, guru-guru disekolah khususnya guru agama juga pernah mengucapkan kalimat itu. Ken, Jasmine, dan Flash juga satu pendapat denganku.
“Kita sekarang ini melangkah tanpa tujuan?” Flash bertanya, mulai mencomot topik percakapan lain.
“Siapa yang mengatakan itu, Flash? Justru sekarang kalian sedang mencari ujian. Ujiannya bukan hanya di desa, bukan hanya tiba-tiba muncul lawan, musuh yang tiba-tiba menyerang kalian. Kalian sendirilah yang mencari, menemukan, dan menyelesaikan ujian itu.” Hama menjawab enteng.
“Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?” Flash mengeluh.
“Karena seharusnya kita yang menyadarinya sendiri, Flash.” Aku yang menjawab.
mengerti?” Hama berkata dengan wajah yang sok serius.
Flash dengan cepat lansung melototkan mata kepada Hama.
“Kau menyindirku?”
“Emm…Tidak juga!” sahut Hama
“Maksudnya tidak juga?”
“Ya, aku menyindirmu tapi hanya sedikit.”
“Tidak lucu!”
“Siapa?” Ken bertanya.
“Siapa apa?” Flash menanggapi
“Siapa yang bilang lucu, Flash?” lagi-lagi Ken bergurau. Kami tertawa lepas melihat wajah Flash yang sudah memerah karena menahan rasa kesalnya.
WUSHHH!!!
Sekumpulan kupu-kupu bewarna-warni terbang dengan kencang diatas kepala kami, membuyarkan tawa. Kupu-kupu itu terbang dengan sangat kencang bersama dengan ratusan kupu-kupu lainnya. Kami memandangnya dengan perasaan campur aduk. Antara rasa kagum dan khawatir.
Semua kupu-kupu itu terbang dengan indah, persis seperti yang kami dengar di dongeng-dongeng sebelum tidur. Sayapnya bewarna unggu bercampur dengan warna merah muda, ada juga yang warnanya biru langit bercampur dengan warna putih awan, lalu ada juga yang bewarna orange bercampur dengan warna merah senja.
Walaupun kupu-kupu itu indah, hal itu tidak menutupi kemungkinan terburuknya. Sanking kencangnya kupu-kupu itu
sampai-sampai menimbulkan angin yang cukup kencang diatas kepala kami. Astaga! Sekarang apalagi? Tadi Tart, sekarang kupu-kupu! Apakah sepanjang hari kami semua harus berhadapan dengan angin?
Tidak tau yang lain menyadarinya atau tidak, tetapi aku melihat semua kupu-kupu itu seperti memberi kode kepada kami. Rasanya semua gerak-gerik mereka itu mengisyaratkan sesuatu. Apakah ini ujian?
Hei! Aku baru menyadarinya. Kupu-kupu itu bukan hanya sekedar menari-nari diatas kepala kami. Ketika mereka memiringkan badan mereka kearah kanan maka semua warna tubuh kupu-kupu itu tidak lagi bewarna-warni melainkan hanya satu warna yaitu merah. Sedangkan jika mereka memiringkan badannya kesebelah kiri warna tubuh mereka akan terlihat seperti orange bercampur kuning, seperti ketika matahari terbit.
Apakah jika kanan menandakan matahari terbenam, sedangkan jika kekiri menandakan matahari terbit? Aku memperhatikan kembali pergerakan sayap mereka. Ketika mereka kearah kanan dan berubah menjadi warna merah, sayap mereka bergerak dengan sangat cepat seperti meminta pertolongan, sedangkan jika kekiri dan berubah menjadi warna matahari terbit sayap mereka terbuka lebar menandakan harapan.
“Kalian lihat apa yang dilakukan kupu-kupu itu?” Ken bertanya tanpa menoleh kepada kami.
“Apa?” sahut Flash lansung.
“Mereka seperti meminta pertolongan kepada kita. Lihat! Ketika mereka kearah kanan sayap mereka bergerak sangat cepat sekali.”
“Tapi sayap mereka berhenti bergerak tuh saat kearah kiri.” Flash masih belum mengerti, seperti biasa. Otaknya lemot.
“Itu artinya jalan keluarnya, Flash. Kau tau kan kalimat disaat ada masalah pasti ada jalan keluarnya? Nah! Konsepnya sama! Jika kekanan menandakan masalah, jika kekiri menandakan jalan keluar. Kekanan butuh pertolongan, kekiri cara menolongnya atau dengan kata lain penawar dari masalah disebelah kanan.” Jasmine menjelaskannya dengan geram.
“Aku masih bingung. Masalahnya apa? Apa hubungannya dengan kupu-kupu ini? Kenapa masalahnya dikanan dan kenapa jalan keluarnya di sebelah kiri? Seharusnya kan bisa masalahnya dikanan, jalan keluarnya juga dikanan.” tanya Flash bertubi-tubi,
“Itu petunjuk, Flash! Kupu-kupu itu adalah petunjuk. Tidak ada hubungannya dengan masalah dan jalan keluar ini.” Hama ikut membantu menjelaskan.
Kami semua menepuk jidat masing-masing. Sesusah itukah menjelaskan sesuatu kepada Flash? Sebelum Flash kembali melontarkan pertanyaan kepada kami, kami berempat, Aku, Jasmine, Ken, dan Hama meninggalkannya menuju kearah kanan sesuai yang diisyaratkan semua kupu-kupu itu.
“Tunggu dulu! Sebaiknya kita membagi dua tim. Aku dan Qlessie akan mencari masalahnya, sedangkan Flash dan Jasmine akan mencari jalan keluarnya. Dan Hama…? Kau akan ikut siapa?” Ken bertanya kepada Hama.
“Aku akan ikut Ken dan Qlessie. Mungkin kehadiranku kurang dibutuhkan, tetapi yang namanya masalah kita tidak akan tau sebesar apa masalah itu. Bisa jadi bahaya. Lebih baik aku ikut kalian untuk berjaga-jaga.” Hama berkata dengan mantap.
“Baiklah, sudah diputuskan. Kita berpencar!” seru Ken dengan lantang.
Kami bertiga akan mencari masalahnya, sedangkan Jasmine dan Flash yang akan mencari jalan keluarnya. Petualangan ini semakin seru dan pastinya juga semakin penuh dengan misteri yang mendalam.