Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Kalah



"Berjalan lurus sekitar dua meter, lalu kekanan sejauh tiga meter, kekiri lima meter, ke kanan lagi, kemudian ikuti jalannya maka dibalik semak belukar setinggi empat meter terdapat Sungai Pas." ucapku mengulangi kata-kata pria berbadan kekar yang baru saja memberikan instruksi jalan kepada kami.


"Bagaimana kau menghafal semua itu, Qlessie?" tanya Flash kehabisan kata-kata karena aku dapat mengulangi semua perkataan pria itu sama persis tanpa ada perubahan sedikitpun.


"Satu per satu kata aku tancapkan di kepala beriringan. Kalau kalimat pertama hafal, lanjut lagi kalimat kedua, ketiga, dan seterusnya. Anggap ini seperti menggabungkan berbagai macam teka-teki sulit." kataku menjelaskan.


"Flash dijelaskan bagaimanapun juga tidak akan mengerti, buang-buang waktu." Jasmine berkata dengan melirik wajah bingung Flash.


"Setelah ini kemana?" tanya Ken karena didepan kami terdapat pertigaan.


"Emm...ke kanan sejauh tiga meter." balasku.


"Kira-kira bagaimana kita mengembalikan kondisi desa ini dalam kondisi normal ya?" tanya Jasmine berganti topik.


"Langkah pertama adalah kita harus mengalahkan penyebabnya terlebih dahulu. Robirmal!" jawab Ken.


"Apakah Robirmal ini akan menyerang setiap desa?" tanya Flash.


"Tidak tau, sepertinya kemampuan Robirmal yang menyerang setiap desa berbeda-beda tergantung kondisi tempatnya, seperti kata Bibi Poh tadi. Mungkin menurut hipotesisku Robirmal hanya akan menyerang beberapa desa yang memiliki hasil panen yang melimpah." Ken mengutarakan pendapatnya.


"Kenapa kau bisa membuat hipotesis seperti itu?" Flash bertanya karena masih belum mengerti apa yang dimaksud Ken dengan beberapa desa.


"Kau ingat kan Desa HOAM?"


"Ya, lalu?"


"Desa HOAM tidak memiliki hasil panen yang melimpah. Mereka hanya menjual dan membeli hasil panen dari desa lain. Oleh sebab itu disana tidak terdapat Robirmal. Di desa ilusi juga terdapat Robirmal karena desa itu merupakan ilusi dari Desa Purba, yang tidak lain adalah sumber panen. Kemampuan Robirmal juga kecil karena tempat yang mereka serang kan tidak nyata. Sudah mengerti?" jelas Ken dengan sabar.


Flash mengangguk-angguk.


"Lumayan..."


"Setidaknya kau mengerti walaupun hanya satu kalimat." kata Jasmine menggelengkan kepalanya dan dibalas oleh Flash dengan tatapan tajamnya.


"Setelah ini kemana?" tanya Ken lagi.


"Kekanan lalu setelah itu kita ikuti jalannya sampai menemukan semak belukar yang tingginya sekitar empat meter."


Instruksi yang diberikan pria berbadan kekar tersebut rupanya sangat akurat. Dari tempat kami sekarang, kami dapat melihat semak belukar yang menjulang sangat tinggi. Wajar, ini adalah semak di dunia asing, jadi tidak heran kalau semaknya lebih tinggi dari seukuran semak belukar pada umumnya.


"Kita hanya tinggal menunggu Robirmalnya datang bukan?" tanya Flash setelah kami sampai di sekitar Sungai Pas.


Panjang umur. Selesai Flash mengucapkan kalimat itu, diatas langit dibalik awan putih yang besar muncul sekelompok Robirmal yang jauh lebih besar. Baik sayap atau tubuhnya. Sepertinya semakin kuat Robirmal tersebut maka akan semakin besar dan aneh bentuknya.


Jika mata Robirmal yang kita lawan sebelumnya besar, maka mata Robirmal kali ini kecil dan sipit. Mata kecilnya itu membuat Robirmal semakin menakutkan dan mengerikan ditambah dengan bulu mata yang panjang, hidung yang panjangnya hampir mencapai empat jengkal, apalagi mulutnya. Astagaa! Bibir bawahnya begitu tebal, tetapi bibir atasnya begitu tipis seperti layaknya sehelai kertas. Seumur aku hidup, aku baru mengetahui bahwa burung juga bisa menjadi bimoli (Bibir maju lima centi).


Seperti biasa kami berempat memasang siaga penuh dan menatap tajam sekelompok Robirmal tersebut. Semakin dekat Robirmal itu dengan kami, maka rasa takut dan ragu yang kami rasakan tadi berubah menjadi semangat yang berkobar-kobar.


Robirmal itu tidak menghujani kami dengan duri-duri tajam saja, tetapi kali ini Robirmal tersebut mengeluarkan duri-duri api putih. Tunggu! Api putih? Putih? Ya itulah yang kami lihat. Duri itu masih sama seperti sebelumnya, bedanya diujung duri itu terdapat sebuah cahaya seperti api bewarna putih. Semakin dekat dengan kami maka semakin besar api putih itu.


Aku menyerang mereka dengan teknik terkuatku, borgol es. Borgol es itu menghantam duri api tersebut telak. Gerakan duri tajam itu terhenti, tetapi sedetik kemudian borgol esku meleleh dan jatuh ke Sungai Pas. Teknik terhebatku saja berhasil dilelehkan secepat itu. Benar-benar menakjubkan.


BUM! BUM! BUM!


Duri api itu kembali berhenti dan terdorong ke belakang oleh pukulan berdentum Ken. Tapi tidak beberapa lama kemudian duri api itu kembali melaju kearah kami. Pukulan berdentum Ken seolah dianggap angin lalu.


Kita semua berpikir keras bagaimana cara yang paling ampuh untuk mengalahkan Robirmal dan juga duri-duri uniknya ini. Flash menerbangkan angin putih beliung agar duri itu terbawa angin dan jatuh sekaligus ingin memadamkan api tersebut, tetapi tetap saja, hal itu tidak berguna. Api di duri itu malah semakin membesar, membesar, dan membesar.


Jasmine mencoba memusnahkan api itu dengan kekuatannya. Dia merentangkan tangannya dan mencoba membuat api itu padam. Baru saja kami bersorak senang karena api itu menghilang dan menyisakan duri tajam biasa, tapi beberapa lama kemudian api itu kembali menyala karena perintah tuan aslinya, Robirmal.


"Aku punya rencana, begitu Jasmine memadamkan api, Ken akan lansung memukul duri itu dengan pukulan berdentum. Harusnya jika duri tajam itu tidak mengeluarkan api maka duri itu adalah duri tajam yang sama seperti yang kita lawan di deda ilusi bukan? Jika begitu Ken pasti bisa memukul duri tajam itu hingga jatuh." kataku memberi saran.


"Layak untuk dicoba, Qlessie!" tanggap Ken.


Jasmine kembali fokus untuk memadamkan api di duri-duri tajam tersebut. Sesuai rencana begitu api itu padam, Ken lansung melancarkan pukulan berdentum berkali-kali lipat.


BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!


Seperti dugaanku duri-duri itu jatuh dan terjun ke Sungai Pas. Duri-duri berapi lainnya mulai berdatangan. Jika tadi hanya bewarna putih, maka duri-duri yang ini bewarna-warni seperti pelangi.


Jasmine dan Ken mengulangi cara yang sama seperti yang sebelumnya. Tetapi tentu saja itu sudah tidak mempan pada duri-duri berapi kali ini. Bibi Poh benar! Robirmal ini lebih kuat dan sangat kuat dibanding yang kami hadapi di desa ilusi.


Aku membuat beberapa geruji tajam es dan menyerang sayap Robirmal. Walaupun aku tau ini mustahil, tapi apa salahnya mencoba? Geruji tajamku menancap di sayap burung tersebut, tetapi hal itu tidak berpengaruh apapun. Sayap itu malah semakin besar begitu terkena geruji tajam yang kubuat.


Duri tajam api lainnya mulai berdatangan dari berbagai arah. Aduhh!! Yang tadi saja belum kami jatuhkan, sekarang malah datang lagi yang baru, sangat banyak pula dari berbagai arah tak menentu.


Aku berpindah posisi, untuk menghalangi hujan duri berapi bewarna-warni itu. Aku melemparkan beberapa bongkahan es dari tanganku, agar duri berapi itu jatuh. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Bongkahan esku ditembus dengan mudah oleh duri tersebut dan lansung meleleh oleh api yang entah bewarna apa.


Karena duri-duri tajam kali ini tidak dapat kami temukan solusinya, aku terpaksa membuat tembok es transparan sebagai pelindung kami. Yang lain juga sama sepertiku, mereka akhirnya ikut membantuku membuat tameng.


Duri tajam berapi itu mengenai tameng kami. Kami menahannya dengan sekuat tenaga bersama-sama. Kami tau cepat atau lambat duri itu akan menembus pertahanan, tetapi inilah jiwa Satria kami. Kami terus bertahan bagaimanapun keadaan dan situasinya.


Berkali-kali aku terus membuat tembok es transparan begitu tameng yang kami buat bersama hampir robek. Dan berkali-kali pula teman-temanku yang lain membantuku menebali tembok es transparan ini dengan segala teknik mereka.


Ken yang membantu menahan tameng itu dengan batunya, Jasmine uang membantu dengan berbagai teknik api miliknya, salah satunya ialah sinar api berputar, dan Flash yang membantu dengan angin kombo dan sesekali berganti dengan cahaya angin.


Jika diantara kalian ada yang bertanya mengapa kami tidak menggunakan senjata kami, maka jawabannya adalah kami tidak mengetahui kekuatan yang terkandung dalam senjata tersebut. Senjata itu memang telah aktif, tetapi kekuatan didalamnya? Kami hanya pernah menggunakannya untuk membuka pintu yang membuat kami berada disini dan juga menggunakannya untuk menyelesaikan ujian pertama.


"Kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi." seru Flash yang sudah lelah.


"Bertahanlah sampai ujung kemampuan kita. Jangan menyerah teman-teman!" seru Jasmine menyemangati walaupun dia sama lelahnya dengan kami.


Aku menggeram keras menahan tameng ini yang semakin berat karena dorongan duri itu yang setiap detiknya makin kuat saja. Aku terus mendukung diriku yang mulai kehabisan tenaga. Aku mendorong tanganku sekali lagi. Tameng yang kita buat untuk kesekian kalinya akan segera robek. Aku membuat lagi tembok es transparan yang baru, yang lainnya segera mengikutiku.


Disaat tameng yang kita buat semakin lemah, duri-duri itu malah semakin kuat. Namanya juga benda, mana mungkin mengenal kata lemah atau lelah.


DUAARRR!


Hancur sudah tameng yang susah payah kita pertahankan. Duri tajam berapi itu telak mengenai kami dan membuat kami terpelanting beberapa puluhan meter jauhnya. Aku tidak tau tubuhku terbakar atau tidak, yang jelas aku bukan berada lagi di dunia nyata, aku telah memasuki dunia mimpi. Dengan kata lain aku pingsan begitu juga dengan teman-temanku.