Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Masalah dan Jalan keluar



“Apakah kau melihat sesuatu, Ken?” tanyaku setelah sepuluh menit kami berjalan.


“Masih belum…, aku hanya melihat pemandangan hutan seperti biasa.” Ken menggelengkan kepalanya.


Kalau dibicarakan sebenarnya hal ini aneh. Disaat orang lain mencoba menghindari masalah, justru kami disini sedang mencari masalah.Ya…Walaupun sebenarnya kata ‘masalah’ hanya kata perumpamaan, tetapi tetap saja jika ada yang memang butuh pertolongan seperti yang kami baca dari isyarat semua kupu-kupu itu tetap saja itu sebuah masalah.


Sepuluh menit kemudian kami masih berjalan menelusuri hutan sekitar. Belum ada keanehan. Suara burung berkicau di pagi hari masih terdengar bernyanyi riang. Hanya hutan dengan pemandangan biasa sejauh ini.


“Apakah petunjuk yang diberikan kupu-kupu itu benar? Atau kita saja yang salah membaca petunjuknya” aku bertanya lagi.


“Aku tidak tau, Qlessie. Mungkin saja benar, mungkin saja memang kita yang salah. Tunggu sampai kita berjalan selama satu jam! Jika masih tidak ada hasil, kita akan kembali ke jalan tempat kita berpisah tadi.” Ken menjawab mantap.


Aku mengangguk, tidak masalah berjalan selama satu jam lagi. Hama yang berjalan di belakang kami juga sependapat dengan Ken.


Kami berjalan dalam keheningan. Baik Aku, Ken, dan Hama semuanya memperhatikan sekitar dengan saksama. Atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang kami memperhatikan setiap jengkal bagian hutan yang sedang kami lewati ini.


“Tunggu!!! Lihat itu!!” seru Ken tiba-tiba yang mengalihkan perhatianku dan juga Hama.


Didepan kami sekarang terdapat sebuah taman bunga yang semua bunganya layu dan tidak terawat. Kelopak bunga yang membuat bunga indah menghitam. Tangkainya tidak lagi tegak, melainkan lemas. Dan ada beberapa lebah yang melihat itu semua kemudian pergi dengan rasa kecewa.


“Apakah ini masalahnya?” aku bertanya lagi kepada Ken.


“Sepertinya…Sekarang aku tau mengapa petunjuknya melalui kupu-kupu. Kupu-kupu itu meminta pertolongan kita untuk menyelamatkan bunga-bunga ini. Mereka tidak dapat menyerap sari bunga karena bunga-bunga ini layu.”


“Aku mengerti. Jadi ini masalahnya. Aku tidak menduga kupu-kupu itu bukan hanya sekedar petunjuk, tetapi juga korban dari masalah ini.”


“Kalau begitu, kalian harus menemukan solusinya. Apakah Flash dan Jasmine berhasil menemukan jalan keluarnya disana?” Hama ikut berbicara.


“Semoga….” Aku dan Ken menjawab hampir bersamaan.


  ***


Sementara itu,


“Jasmine! Bisakah kita berhenti sebentar? Kita sudah berjalan lama dan hanya bolak-balik saja sedari tadi. Aku lelah!” Flash mengeluh dan duduk di bawah pohon terdekat.


Jasmine yang sedang menyibak rerumputan yang menghalangi jalan menoleh ke belakang dan menatap Flash tajam. Wajahnya menandakan kekesalan.


“Berjalan lama apanya? Kita bahkan belum satu jam berjalan. Bilang saja kau lelah karena harus menyingkirkan rerumputan tinggi yang menghalangi jalan ini. Tidak usah sok manja!”


“Aku tidak sok manja! Aku memang lelah. Apa salahnya beristirahat sebentar? Siapa tau saja yang lain juga belum


menemukan masalahnya. Kalau masalahnya saja belum ditemukan, mengapa kita harus repot-repot mencari jalan keluarnya?”


Jasmine tidak dapat menahan amarahnya lagi. Dia memutuskan untuk meninggalkan Flash setelah mengucapkan isi hatinya.


“Terserah! Kau duduk santai saja dibawah pohon itu! Jika ada hewan buas yang memangsamu, tidak usah minta bantuan siapapun! Lawan sendiri! Mati sendiri!”


“Dan satu hal lagi, tidak usah menyusulku! Setelah aku menemukan apa yang kucari, aku akan kembali sendiri, meninggalkanmu sama seperti kau yang tidak peduli terhadap apapun itu!”


Jasmine kembali berjalan meninggalkan Flash sesuai perkataannya. Ia kembali menyibak rerumputan yang menghalangi jalannya dengan tangan kosong. Sedangkan Flash melongo tidak percaya akan apa yang didengarnya dari mulut Jasmine.


“Tun..tunggu, Jasmine! Hei! Kau kan tau aku tidak pernah serius dengan perkataanku.” Flash membela dirinya sendiri sambil berlari kecil mencoba mengejar Jasmine.


“Berhenti! Jangan ikuti aku! Kau duduk saja disana! Kau malah akan semakin menghambat pencarianku jika kau ikut.” sahut Jasmine ketus tanpa menoleh ke belakang dan terus berjalan.


Flash berhenti sejenak sebelum bergumam sendiri.


“Maunya perempuan itu apa sih? Ini salah, itu salah. Tadi kesal karena aku minta istirahat, sekarang aku minta


ikut marah juga! Haisshhh!!! Perempuan selalu menganggap dirinya paling benar, sedangkan lelaki selalu saja salah. Ujung-ujungnya yang ngalah siapa? Laki-laki kan?”


Flash kembali duduk dibawah pohon sambil merenungkan kata-kata Jasmine tadi. Dia mengakui kalau Jasmine merupakan tipe orang yang mood-nya bisa berubah-ubah setiap saat. Dia juga sudah tau sedari kecil kalau Jasmine lebih mudah marah atau kesal. Terlebih lagi jika ia sudah begitu, dia akan sangat jutek. Juteknya mengalahkan juteknya raja rimba. Kalau dipikir-pikir lagi memang ia yang salah. Kalau saja ia tidak membuat


Jasmine kesal, maka kejadiannya juga tidak akan seperti ini.


Disaat sedang memikirkan hal itu yang terus-menerus tergiang-giang di kepala, Flash merasakan ada sesuatu yang aneh ada dibawah tanah tempatnya duduk. Seperti sebuah benda yang terkubur. Karena Flash memiliki otak yang polos, dia lansung mengira bahwa itu adalah harta karun.


Dengan cepat tangannya mencabuti rumput liar dan menggaruk pasir sampai dia merasakan benda yang disangkanya adalah sebuah harta karun. Bukan! Itu bukan harta karun! Melainkan botol berisi sebuah pesan


yang merupakan petunjuk dari jalan keluar. Flash membua tutup botol tersebut dan membaca pesannya.


       Siapakah dia?


       Siapa yang membuat sang Putri mati?


   Seandainya ada orang yang rela mengambil lima buah saja,


      Dan seandainya ada orang yang ingin bertemu dengan Raja


      Seandainya jika ada orang yang membuatnya menghilang


      Maka sang surya yang berada diatas langit tidak lagi bewarna kuning, melainkan menyatu dengan langit


“Inilah jalan keluar yang dimaksud! Tapi aku tidak mengerti maksudnya! Ah! Ken dan Qlessie atau Hama pasti mengerti! Haisshh!! Jasmine harus berterima kasih padaku kali ini!”


    ***


Aku dan Ken sedang berdiri di tempat kami berpisah tadi. Kami menunggu Flash dan Jasmine tiba membawa kabar baik. Sedangkan Hama menjaga taman bunga tadi, agar kami bisa dengan mudah menemukannya.


Sedetik kemudian, kami mendengar langkah kaki seseorang yang sedang berlari kencang. Nafasnya tersengal. Dan itu adalah Flash!


“Flash!” seru Aku dan Ken bersamaan


Flash berhenti didepan kami dan mengatur nafasnya sebentar sebelum menunjukkan botol berisi pesan tersebut.


“Ini jalan keluar yang kita cari! Kalian bacalah! Aku tidak mengerti maksudnya.”


Flash menjulurkan botol itu kepadaku dan aku membacanya bersamaan dengan Ken.


       Siapakah dia?


       Siapa yang membuat sang Putri mati?


      Seandainya ada orang yang rela mengambil lima buah saja,


      Dan seandainya ada orang yang ingin bertemu dengan Raja


      Seandainya jika ada orang yang membuatnya menghilang


      Maka sang surya yang berada diatas langit tidak lagi bewarna kuning, melainkan menyatu dengan langit


“Hemmm…sang Putri disini pastilah bunga-bunga itu,” Aku berkata kepada Ken.


“Ya, tapi maksudnya lima buah apa? Lima buah apa yang dimaksud? Dan siapakah Raja?”


“Apakah mungkin Raja adalah Raja Bunga?” Aku memikirkan kemungkinan lain.


“Mungkin…..”


“Dan mungkin saja yang dimaksud dengan lima buah adalah penawar dari layunya bunga-bunga itu.” Aku memikirkan hal lain lagi.


“Itu sudah pasti, Qlessie. Petunjuk ini adalah penawarnya. Yang aku tanyakan adalah lima buah apa?”


Aku berdeham pelan. Otakku berpikir cepat tentang isi pesan tersebut. Lebih tepatnya ini adalah sebuah teka-teki yang memang harus benar-benar kami pecahkan. Kemudian aku mulai menyadari sesuatu. Tidak ada kehadiran Jasmine disini…


“Flash! Jasmine dimana?”


“Ah! Itu…”


“Itu apa? Jangan bilang kalian bertengkar lagi?” Ken menatap Flash dengan tatapan menyelidik.


“Ya, dan dia pergi meninggalkanku….” Flash menundukkan kepalanya sekaligus menggigit ujung bibirnya. Menandakan dia menyesal dengan kejadian tersebut.


“Lalu kau juga meninggalkannya dan menuju kemari? Tidak terpikirkan untuk mencarinya terlebih dahulu?” Ken menaikkan nada bicaranya.


Tidak ada jawaban. Flash terdiam lalu membalikkan badannya dan berlari kembali kearah dia datang tadi.


“Tunggu! Kita mencarinya bersama-sama! Jangan berpencar lagi!” Ken berlari dan menggapai tangan Flash. Flash mengangguk dan dimulailah pencarian itu.