
Sore itu, langit Hutan Trev masih cerah layaknya siang hari. Seorang gadis bersenandung riang sambil memberi makan seekor rusa yang lewat depan rumah kayu, tempatnya tinggal. Gadis itu memiliki rambut cokelat bergelombang dengan sedikit warna pirang di bagian samping telinga, bola matanya hijau tua, bibirnya manis dan
hidungnya mancung. Gadis itu juga memiliki kulit yang putih dan cerah walaupun sering terpapar sinar matahari. Entahlah, bagaimana itu bisa terjadi. Bahkan, ketika waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang, kulitnya justru bersinar terang, menarik perhatian hewan-hewan di hutan. Rambut bergelombang cokelatnya seperti beradu kencang dengan angin. Memberi kesejukan bagi burung-burung yang hinggap di pundaknya.
"Oh, Slainaaa....." seru sebuah suara yang melengking di kejauhan.
Gadis itu menegakkan punggungnya dari memberi makan rusa, ketika menyadari siapa yang memanggil namanya.
"Nenek Firena sudah pulang! Nenekkk!" seru Slaina tidak kalah kencang. Kemudian munculah seorang nenek tua dari balik bayangan pohon. Akan tetapi walaupun tua, tubuhnya terlihat segar bugar tak seperti usianya. Dialah Nenek Firena.
"Oh, Slaina. Kau pasti belum makan. Aku membawa jamur hutan bersama raspberry sebagai lalapan."
"Wah, benarkah? Aku akan membantumu memasaknya." Slaina menggandeng tangan Nenek Firena masuk kedalam rumah.
Kehidupan mereka sangatlah harmonis. Hidup sederhana memang tidak selamanya buruk. Nasihat-nasihat yang diberikan oleh Nenek Firena kepada Slaina membuat Slaina tumbuh tidak hanya menjadi gadis yang cantik jelita namun juga dengan pikiran yang dewasa dan cinta akan alam. Kecintaan akan alam yang didapatnya sejak kecil
juga membuat Slaina mengerti akan bahasa alam. Tidak heran hewan-hewan di hutan sangat dekat dengannya bahkan sebagaian dari mereka memanggilnya sebagai gadis hutan.
Di usianya yang terbilang sudah sangat tua, Nenek Firena mampu berburu makanan didalam hutan seorang diri. Pernah sesekali Slaina mengajukan diri untuk ikut membantu, namun ditolak dengan halus oleh Nenek Firena. Alasannya hanya satu, yaitu berbahaya. Nenek Firena tidak ingin membahayakan Slaina dengan membawanya
berburu kedalam Hutan Trev bagian terlarang yang terkenal memiliki banyak tanaman beracun dan hewan yang mematikan. Slaina juga tidak keras kepala, dia hanya mengangguk dan mempercayai Nenek Firena sepenuhnya. Ia yakin Nenek Firena akan pulang dalam keadaan selamat. Slaina percaya, alam akan berlaku adil pada orang baik seperti Nenek Firena.
"Slaina, tolong cucikan jamurnya. Aku akan menyiapkan peralatan masak yang lain," pinta Nenek Firena.
Cara memasak ala Nenek Firena memang menggunakan metode kuno. Dimasak menggunakan tungku dan panas apinya berasal dari arang. Sewaktu-waktu Slaina memang pernah mendengar kehidupan di kota besar dari Nenek Firena. Namun tak pernah sekalipun dalam hidupnya ia menginjakkan kaki di dunia penuh warna itu. Dalam bayangan Slaina, kota itu adalah tempat dimana hewan-hewan menggunakan pakaian rapi dan berjalan selayaknya manusia. Tumbuhan dan perpohonan dapat berbicara kepada semua manusia dan tidak hanya kepada dirinya. Gedung dalam bayangan Slaina adalah rumah kayu yang berdiri diatas dahan-dahan pohon besar. Alat-alat transportasi seperti mobil dalam bayangannya adalah sandal terbang atau sapu terbang dengan sabuk pengaman. Nenek Firena tentu saja tertawa mendengar imajinasi Slaina yang liar. Maklum, ia tak pernah melihat dunia luar selain dunia hutan yang penuh dengan warna hijau.
Hari itu adalah hari spesial, yakni hari ulang tahun Slaina yang ke tujuh belas tahun. Meskipun tua, Nenek Firena tidak pernah lupa hari dimana ia menemukan Slaina ditinggalkan sendirian dibawah pohon ek tujuh belas tahun yang lalu. Ia memiliki ingatan yang tajam untuk seorang nenek tua seusianya. Pagi-pagi sekali Nenek Firena telah berburu ke hutan mencari bahan-bahan yang diperlukan untuk memasak makanan favorit Slaina. Slaina yang terbangun saat matahari telah tinggi tidak perlu repot mencari keberadaan Nenek Firena karena ia tau kemana nenek kesayangannya pergi. Seharian ia bermain dengan hewan-hewan di hutan.
"Hai, Chiko. Kau tahu? Hari ini aku berumur tujuh belas tahun! Aku tidak sabar menunggu Nenek Firena pulang dan merayakannya bersama kalian." Slaina berbicara kepada seekor kelinci hutan yang mungil.
Kelinci itu sedang memakan wortel. Dari cara makannya, Slaina tau apa yang dikatakan
kelinci itu. "Oh, selamat ulang tahun, Slaina. Maaf, aku tidak bisa memberimu hal lain selain wortelku ini," kelinci itu menyodorkan wortel yang tadi dimakannya.
Slaina tertawa, lantas menerima wortel itu. "Terima kasih, Chiko. Tapi...... Kau mau sepotong wortel?" Slaina membelah dua wortel itu. Chiko menerimanya dengan girang karena wortelnya tidak jadi diambil. Ya, walaupun berkurang setengah setidaknya lebih baik daripada tidak ada wortel sama sekali. Kemudian dari arah langit muncul sekawanan burung warna-warni. Itu adalah spesies perkici pelangi.
"Hei! Kawanan perkici datang!" Slaina mengangkat jari telunjuk tangan kanannya dan membiarkan salah satu burung hinggap disana, sedangkan kawanannya yang lain menyebar ke seluruh penjuru rumah kayu yang ditumbuhi tumbuhan hijau, dan sisanya hinggap di sekujur tubuh Slaina. Entah itu di pundak, kaki ataupun diatas kepala Slaina.
Chiko melompat dari pangkuan Slaina karena melihat kawannya, Chika berada di ambang pagar. Hewan-hewan yang datang bertambah banyak menjelang senja. Seekor rusa yang waktu itu diberi makan oleh Slaina juga datang membawa istri dan ketiga anak nya yang masih kecil. Hewan yang dikenal dengan bau gasnya yang tidak sedap, musang, juga ikut hadir di dekat rumah kayu Slaina.
Hewan-hewan ini seperti memiliki insting akan hari spesial bagi gadis hutan mereka. Hanya dengan berkumpul bersama dengan teman-teman hewannya, Slaina sudah merasa senang, ia terus bermain, mengobrol, dan tertawa
sepuas hati selama sisa waktu yang ada. Hingga senja pun tiba, sang mentari bersiap menenggelamkan dirinya di kaki barat. Bahkan langit pun ikut merayakan hari spesial ini, sunset pada hari itu terlihat lebih indah dari hari-hari sebelumnya.
"Aku tidak sabar menanti Nenek Firena pulang. Sebentar lagi ia pasti tiba dan membawa bahan makanan dua keranjang penuh," Slaina menari dan berputar dengan bayi beruang di pelukannya. Ia bersiap menyambut kepulangan nenek tercintanya di depan pagar. Kawanan hewannya juga melihat kearah yang sama dengan Slaina. Bersama-sama melihat kearah bayangan pohon besar di depan rumah. Slaina semakin tidak sabar menanti suara melengking yang memanggil namanya.
Namun anehnya, tidak ada tanda-tanda kehadiran dari Nenek Firena. Slaina menatap teman-temannya dengan tersenyum tipis. "Mungkin dia akan sedikit terlambat karena mencari bahan pelengkap yang kurang," katanya mencoba menyakinkan para hewan yang mulai bertanya-tanya dan menyakinkan dirinya sendiri tentunya.
Lima belas menit kemudian, juga belum ada tanda-tanda kehadiran dari Nenek Firena. "Dia tidak pernah terlambat pulang seperti ini sebelumnya apalagi di hari ulang tahunku. Apakah sedang terjadi sesuatu padanya?" Slaina mulai terlihat cemas tentang keadaan Nenek Firena. Hewan-hewan yang juga ikut merasakan kecemasan Slaina menjadi
merapat satu sama lain. Beberapa anak hewan yang masih polos dan tidak mengerti mengapa gadis hutan mereka merasa demikian, memeluk kaki Slaina erat. Mereka berharap Slaina kembali menunjukkan senyuman manis kepada mereka seperti biasanya.
Upaya itu berhasil, namun tidak berlangsung lama. Dari bayangan pohon besar muncul sesosok bayangan manusia. Slaina yang mengira itu adalah nenek Firena berlari mendekat dengan bayi beruang masih berada dalam dekapannya. "Oh, Nenek Firen....." ucapan Slaina terhenti karena yang ia dapati justru bukan Nenek Firena. Namun seorang pemuda tampan yang keluar dari balik bayangan pohon tersebut.
Pemuda itu menggunakan kemeja bewarna hitam, jubah bewarna merah terang, celana ketat bewarna putih, dan juga sepatu tinggi bewarna hitam. Perawakan pemuda itu juga sempat membuat Slaina terpesona untuk beberapa saat. Rambutnya bewarna pirang dengan piak ke kanan, bola matanya bewarna cokelat, bibirnya membentuk sebuah senyum sinis. Dibawah sinar bulan yang terang serta dikelilingi oleh cahaya kunang-kunang membuat kulit pemuda itu bersinar sangat terang.
"Si-siapa kau?" Slaina bertanya takut kepada pemuda itu.Wajar saja bila Slaina terkejut setengah matiia belum pernah bertemu siapapun selama tujuh belas tahun, selain Nenek Firena.
"Kau tidak perlu takut, gadis cantik. Jika kau menuruti apa keinginanku maka nenek tercintamu itu pasti akan selamat." Kalimat yang diucapkan pemuda itu membuat Slaina ketakutan dan langsung menyerahkan bayi beruang kepada ibunya. Hewan-hewan yang seolah mengerti apa yang diucapkan pemuda itu, turut melolong, mengerang, menggeram, dan mengkaok-kaok.
"Argh! Suruh hewan-hewanmu itu diam, sekarang!" Pinta pemuda itu, risih.
"Teman-teman, tenang. Kita dengarkan dulu apa mau manusia kota itu." Ujar Slaina yang membuat pemuda itu tertawa. Hewan-hewan berhenti bersuara, namun tatapan tajam mereka lebih mengerikan daripada tatapan kelaparan raja hutan.
"Manusia kota? Hahaha....." Pemuda itu tertawa tak henti-henti. Ia sekarang memukul-mukul batang pohon dengan keras.
"Hei! Jangan berani bersikap kasar kepada alam atau kau....." Slaina berkata tegas namun ucapannya disela oleh pemuda itu.
"Atau apa? Terlalu lama berada di hutan ini membuat identitas manusiamu mulai hilang, ya. Sama persis seperti nenek tuamu itu." Pemuda itu tertawa lagi. Kali ini tawanya seperti penyihir.
Hewan-hewan kembali menggeram, Slaina langsung cepat-cepat menenangkan mereka. "Cukup! Katakan apa maumu? Dimana Nenek Firena sekarang?" Slaina berkata tajam dan bahkan nadanya terdengar sedikit membentak. Nada bicara yang selama ini tidak pernah keluar dari mulut seorang Slaina.
"Ikutlah denganku ke kota. Maka aku jamin kau dapat bertemu kembali dengan Nenek Firena tercintamu itu."
Slaina membelalakkan matanya. Ia terdiam. Dia tidak salah dengar kan? Pergi ke kota adalah impiannya sejak lama, namun ia tak percaya bahwa ia akan pergi dengan cara seperti ini. Slaina melihat teman-teman hewannya mulai memperlihatkan sifat buas mereka dan berniat menyerbu pemuda itu lalu menerkamnya sampai mati.
Tapi pemuda itu tetap dalam posisi diam sambil menaik-turunkan alisnyamenatap Slaina yang masih berpikir seolah yakin, Slaina tidak akan menolak tawarannya.
Dugaan pria itu benar. Slaina tentu akan melakukan apa saja jika menyangkut Nenek Firena. "Ba-baiklah, aku akan ikut denganmu...,” Hewan-hewan yang mendengarnya langsung merundukkan kepala merekaterlihat kecewa dengan keputusan Slaina. Slaina tetap berusaha tegar. Dia kembali tersenyum. "Jangan khawatir, teman-teman. Aku janji akan kembali setelah membawa Nenek Firena pulang. Kalian dapat membantuku dengan menjaga rumah. Okeh?"
Slaina mengelus kepala musang yang berada paling dekat dengannya, juga kepala bayi beruang yang berada dalam gendongan ibunya. Elusan singkat itu sebagai tanda perpisahan dari Slaina.
Senyum sang pemuda semakin lebar. Ia kini bersandar pada batang pohon yang besar. Ia bertepuk tangan pelan.
"Kau membuat pilihan yang bagus, gadis cantik. Sekarang ayo kita berangkat. Jangan membuang waktuku lebih lama lagi."
Slaina mengangguk lesu dan mengikuti pemuda itu yang sudah lebih dulu melangkah. Ia berbalik dan melambaikan tangan kepada para hewan. Perayaan ulang tahun Slaina batal karena ketidakhadiran Nenek Firena sekaligus kedatangan tamu yang tak diundang. Slaina tahu bahwa Nenek Firena tidak akan suka dengan keputusannya untuk pergi ke kota. Slaina sudah mendengar bagaimana dirinya sampai ke Hutan Trev yang penuh dengan misteri ini. Namun, jika demi menyelamatkan Nenek Firena, maka Slaina harus berani mengambil risiko. Saat itu, Slaina belum tahu, bahwa pilihan itu membuatnya mendapat kan sesuatu yang lebih dari menanggung risiko besar.[]