
"Kenapa kalian hanya diam? Ayo jawab!" kata Hemo.
"Emm...itu!" jawabku dengan gugup.
"Kami datang kesini dengan tujuan..."
Kata-kata Jasmine tergantung karena dipotong oleh Ken.
"Bolehkah kami berbicara denganmu di tempat tertutup?"
Hemo dan Hama terdiam kemudian saling pandang satu sama lain sebelum mengiyakan ucapan Ken.
"Baik, ikutlah dengan kami!" kata Hemo yang kemudian beranjak berdiri bersama Hama dan berjalan meninggalkan kami.
"Kenapa tidak dijawab disini?" tanya Jasmine bingung.
"Aku tidak mau ada banyak orang yang mengetahuinya! Bisa jadi masalah besar nanti. Kita tidak tau ini dimana, dan siapa orang-orang itu! Kita harus extra hati-hati!" kata Ken dengan berbisik.
"Oh, aku tidak berpikiran sampai disitu!" balas Jasmine.
"Itu karena otak kau buntu!" sindir Flash.
"Sembarangan! Ini efek baru sadar dari siuman tau! Kau sendiri emang berpikiran seperti itu?"
"Hadeh! Kalian berdua jangan mulai deh, sakit mata ama sakit telinga tau gak?" sindir Ken.
"Udah kalau mau bertengkar nanti aja! Kalian gak malu diliatin banyak orang disini? Lama-lama bisa jadi drama secara live plus gratis loh!" kataku menambahkan dan lansung menyusul Ken yang sudah berjalan menjauh.
Jasmine hendak membalas perkataanku, tetapi tidak jadi karena mengingat memang benar ada banyak orang disini. Akhirnya dengan kerelaan yang berat, karena emosinya tidak dapat tersampaikan, Jasmine berjalan menyusul kami diikuti Flash.
Hemo membawa kami ke sebuah pekarangan di belakang rumah. Sepertinya rumah itu adalah miliknya karena merupakan yang paling besar diantara semua rumah disini.
"Baik, kita sekarang sudah berada di tempat tertutup. Jelaskan alasan kalian datang ke Hutan Misteri sekarang!"
"Kami datang kesini hendak menyelamatkan dunia ini dari para raksasa yang hendak membangunkan raksasa bayangan dari tidur panjangnya . Dan kami kesini juga hendak menyelamatkan guru kami Master Geor yang ditangkap oleh para raksasa itu." jelas Ken dengan singkat.
"Sudah kuduga mereka adalah Satria! Tapi aku tidak menduga bahwa Tula-Cula bertindak secepat ini!" balas Hemo menanggapi penjelasan Ken.
"Kalin mengenal raksasa itu?" tanya Jasmine terkejut.
"Tentu saja! Justru merekalah yang membuat desa ini masuk dalam Hutan Misteri. Desa ini dulu adalah desa yang maju, damai dan tentram, desa ini berada di belakang Gunung Inest dulunya. Sampai suatu hari Tula-Cula 1A datang dan menghancurkan segalanya. Penduduk desa yang awalnya berjumlah dua juta jiwa lebih berkurang drastis hingga tersisa 90 ribu jiwa. Sungguh naas kejadian itu, akhirnya dengan kejinya Tula-Cula 1A memindahkan desa kami kedalam hutan yang penuh dengan misteri ini." Kepala desa Hemo mengatakannya dengan raut wajah tak bisa diartikan.
"Kami turut sedih mendengarnya!" ucap Ken dengan sopan.
"Ah tidak perlu mengingat yang dulu! Kami sudah bisa menerima kenyataan tentang hal ini. Kami tidak diganggu oleh para raksasa itu lagi pun sudah bersyukur. Bagaimana dengan kalian? Apakah ada yang bisa kami bantu?"
"Kami hanya ingin melanjutkan misi untuk menyelamatkan guru kami dan juga dunia ini, tetapi bolehkah kami meminta beberapa perbekalan kepada kalian? Kami tidak tau akan menemukan desa seperti ini lagi atau tidak di dalam hutan sana." kata Ken.
"Hanya itu saja?" tanya Hemo kembali.
Ken menganggukan kepalanya.
"Baik! Hama, suruh para pelayan menyiapkan buah-buahan, roti, nasi dan juga susu 10 liter untuk mereka!"
"Baik, Ayah!"
Hama pun pergi menjalankan perintah Ayahnya. Ia melangkah kedalam rumah besar itu.
"Tetapi kalian tidak bisa semudah itu untuk meninggalkan desa ini!" Hemo berkata lagi tapi kali ini menatap kami dengan sangat lekat.
"Maksudnya?" tanya Flash.
"Apakah nenek tua di pintu masuk tidak memberitau kalian soal ini? Bukankah kalian sudah menjalankan ujian pertamanya?"
"Owh! Emang apa ujiannya?" tanya Jasmine.
"Ujian di dalam Hutan Misteri ini terbagi menjadi 13 ujian! Kenapa 13? Karena angka 13 penuh dengan misteri! Setelah melewati ujian terakhir, kalian akan diberikan sebuah kitab bernama Kitab Segala Bentuk. Kitab itu akan membantu kalian menghentikan terbangunnya sang Raja Bayangan. Ujiannya bisa bermacam-macam, kebanyakan jawabannya adalah dari logika dan hal-hal sederhana, tapi ada juga yang ujiannya bertarung."
"Tetapi kalian belum memasuki tahap itu, ujian di desa ini berupa logika, dan cara berpikir kalian. Nenek tua itu sudah memberikan kuncinya kan? Kalian hanya perlu mengingatnya dan kalian akan lolos ujian dengan mudah!"
"Apakah ada yang mengingat semua perkataan nenek itu?" tanya Flash.
"Aku hanya ingat dia mengatakan akan ada ujian kedua, selebihnya aku lupa!" timpal Jasmine.
"Alasanku pun juga sama dengan kalian!" Ken juga ikut bicara.
"Qlessie, kau ingat tidak? Walaupun kau bodoh, setidaknya ingatanmu yang paling tajam diantara kita!"kata Flash lagi.
Aku melotot, enak saja dia mengataiku bodoh. Aku pun menghela nafas panjang dan berkata,
"Aku sedang berusaha mengingatnya, masih samar-samar di kepalaku!"
"Jangan dipikirkan! Ketika kalian mengetahui ujiannya, kalian pasti juga akan menemukan jawabannya!"
"Ba...baik!" ucap Ken.
"Ayah, semua persediaan bahan makanan sudah ada dalam karung!" ucap Hama yang baru saja datang bersama seorang pelayan.
"Baik, kalian tunggu apalagi? Ayok segera ke arah utara, aku akan memberikan ujiannya disana!" kata Hemo kepada kami.
Kami berempat, Hemo, Hama, dan juga salah satu pelayan yang membawa karung berjalan ke arah utara.
Lima menit kemudian langkah kami terhenti ketika Hemo berhenti tepat diantara 2 batu yang berhadapan.
"Ucapkan mantranya!" kata Hemo.
Dia bicara kepada siapa? Kami kah? Mantra apa? Kami sama sekali tidak mengerti.
"Ucapkan mantranya anak-anak! Semakin cepat kalian menyelesaikan ujiannya, semakin cepat kalian melanjutkan misi!"
Apa yang harus kami lakukan sekarang? Kami sama sekali tidak ingat! Mantra apa yang dia maksud? Tunggu..."Kunci untuk keberhasilan ujian ke-2 adalah hal paling kecil dan sederhana! Selalu ingat itu anak-anak! Kita harus selalu merendahkan diri kita dan hidup dalam kesederhanaan."
Benar! Hal paling sederhana dan kecil, itulah kuncinya! Mantra? Mantra paling sederhana dan kecil? Jangan-jangan...
"Cepat..."
"MAGIC, MAGIC, MAGIC WE WELL SOLVE THE MYSTERY!" ucapku dengan keras dan memotong kata-kata Hemo. Bahkan Ken, Jasmine, dan Flash ikut tergelonjak kaget mendengar suaraku.
Hemo tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Benar! Kau berhasil memecahkannya dalam waktu yang tepat! Kau...
"Ah! Kami sudah menyelesaikan ujiannya, bisakah kami pergi sekarang?" ucapku memontong karena aku tau Hemo akan mengucapkan "Kau spesial" atau "Kau berbeda" dan aku tidak ingin mendengarnya.
"Hahaha! Baik-baik. Nah! Bawalah perbekalan yang kalian minta! Hama, kau ikutlah dengan mereka!"
"Baik, Ayah!"
"Eh? Tidak perlu repot-repot, kami bisa menjaga diri kami masing-masing!" kata Ken menolak.
"Setiap seribu tahun sekali, kami selalu melakukan hal ini. Setiap anak dari seorang kepala desa harus selalu menemani Satria yang datang ke tempat ini. Jadi bisa dibilang ini adalah tradisi, kalian tidak boleh menolaknya!" jelas Hemo.
Kami bereempat hanya ber-oh pelan. Apakah ada tradisi seperti itu? Menemani orang asing berpetualang?
"Jangan terkejut, Dunia Element aneh! Tidak heran orang dan kebudayaannya juga aneh!" kata Flash berbisik.
"Aku bisa mendengarmu anak muda!" ucap Hemo.
"Eh? Maaf, maaf!" ucap Flash terkejut, bukankah itu sudah suara paling kecil? Bagaimana ia masih bisa mendengarnya?
"Dunia Element bukannya aneh, tapi unik. Kalian hanya belum melihat apa yang sebelumnya tidak pernah kalian lihat di dunia manusia."
"Kami pergi dulu, Ayah!" pamit Hama.
Kami berempat pun ikut membungkukkan diri di hadapan Hemo. Ken mengambil karung yang dibawa oleh seorang pelayan dan menaruhnya diatas pundak.
Hama memimpin jalan didepan, dan kami pun mengikutinya. Baguslah! Kita tidak perlu pingsan lagi untuk menuju ujian selanjutnya, petualangan kami masih jauh dari kata selesai.