Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Rencana



"Apa yang terjadi?"


Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulutku ketika aku kembali merasakan udara, bau dedaunan, suara air mengalir, dan tentu saja suara teman-temanku.


"Qlessie, apa kau baik-baik saja? Kau sudah sadar? Kau terbanting lebih keras dari kami bertiga, kau sungguh tidak apa-apa kan?"


Itu suara Ken. Ken menggoyangkan tubuhku berkali-kali, aku dapat merasakannya. Jasmine dan Flash pun juga ikut menyerukan namaku.


"Apa yang terjadi?" Aku mengulangi pertanyaan itu lagi. Entahlah mereka mendengarnya atau tidak, aku mengucapkannya dengan sangat pelan. Mulutku hanya terbuka kecil. Kurasa mereka tidak mendengarnya.


"Kurasa benturannya parah, bahkan untuk bicara saja dia sulit." kata Flash sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Qlessie, kau bisa mendengar kami kan?" tanya Jasmine.


Perlahan kesadaranku mulai pulih sepenuhnya. Aku mencoba membuka mataku dengan paksa. Kepalaku sakit, badanku sulit digerakkan, mulut terasa lengket, sangat sulit untuk dibuka sepenuhnya.


"Qlessie...?" panggil Ken untuk kesekian kalinya


"Ken?" ucapku lirih.


"Kau tidak apa-apa?" lanjut Jasmine.


"Ya..." balasku lagi dengan mencoba mengangkat kepala yang masih saja pusing.


"Sini kubantu!" ucap Ken seraya memegang kepala dan tanganku untuk membantuku duduk.


"Dimana Robirmal itu?" tanyaku.


"Begitu kami sadar, Robirmal itu sudah tidak ada. Mungkin mereka kabur seperti pengecut. " Flash mengumpat.


"Kurasa ujian kali ini kita gagal menyelesaikannya. Robirmal itu terlalu kuat." kata Jasmine dengan raut wajah kecewa.


"Kita kembali ke tempat Bibi Poh. Kita akan menyusun rencana kembali disana. Qlessie, kau masih bisa berjalan kan?" kata Ken memutuskan langkah selanjutnya.


"Sebentar!" balasku. Aku ingin menggunakan kekuatanku yang lain, entahlah kita harus menyebutnya apa, yang jelas ini sebuah teknik penyembuhan. Aku menyentuh kepalaku yang sakit, dan menyembuhkan bagian-bagian yang sakit. Aku juga menyalurkan energi itu ke seluruh tubuh untuk memulihkan bagian dalam yang lain. Sekarang aku merasa lebih baik, walaupun luka dan bengkak di tubuh tidak dapat disembuhkan, setidaknya rasa sakitnya tidak terasa sekarang.


Aku juga membantu yang lain memulihkan diri walaupun luka mereka tidak separah diriku. Mereka kebanyakan hanya terbentur di bagian punggung, tangan, dan bahu. Hanya aku yang terbenturnya mengenai kepala. Mungkin saat tameng itu pecah, karena tameng itu tercipta oleh tembok es transparan yang kubuat, jadi kemungkinan terbaiknya aku terkena tambahan serangan dari kekuatanku sendiri.


Waktu itu juga, saat tameng pecah, di detik-detik terakhir, aku masih saja memaksa diriku untuk mempertahankan tameng tersebut. Akhirnya, seperti yang kalian lihat, kondisiku memprihatinkan.


"Terima kasih, Qlessie! Aku merasa lebih baik sekarang." ucap Ken.


Kami melihat sekeliling, biasanya jika kita bertarung maka jejak-jejak pertarungan akan terlihat jelas. Seperti sisa-sisa senjata yang digunakan, kondisi tanah tak berbentuk, pohon-pohon tumbang, benda berserakan, dan sebagainya. Tetapi yang kami lihat sekarang, adalah suasana yang sama seperti sebelum memulai pertarungan dengan Robirmal. Seperti tidak pernah terjadi pertarungan disini.


"Apakah burung juga bisa bersih-bersih?" Flash geleng-geleng kepala.


"Rajin sekali burung-burung itu kalau begitu." tanggap Jasmine.


"Tidak masuk akal. Mana ada burung bersih-bersih?" kata Ken membantah.


"Kan ini dunia asing. Semua hal tidak mungkin menjadi mungkin." kata Jasmine lagi sembari menaikkan kedua bola matanya.


"QLESSIE! KEN! JASMINE! FLASH!"


Seseorang berteriak menyerukan nama kami dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Hama. Di belakangnya juga terdapat Bibi Poh yang memandang kami dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Hal ini membuat kami bergidik ngeri. Apakah Bibi Poh marah? Ataukah kecewa? Kesal? Itulah isi kepala kami berempat sekarang ini. Apakah Bibi Poh akan mengatakan "Dimana jiwa Satria kalian?"


"Apakah kalian terluka? Kalian berhasil mengalahkan Robirmal itu?" tanya Hama.


"Emm...Kami kalah!" kataku menunduk.


"Apakah pertarungan kami tadi terdengar sampai ke pusat desa?" tanya Ken.


"Tidak juga. Tempat ini jauh dari pemukiman warga. Mungkin hanya warga yang tinggalnya dipinggir pasar yang dengar. Kalau dengar sekalipun, mungkin mereka hanya mengira itu suara gaduh yang tidak penting." jelas Hama.


"Lalu mengapa kalian kesini? Padahal kan kalian bisa menunggu." kata Flash dengan tatapan menyelidik.


"Aku yang memaksa Bibi Poh untuk menyusul kalian. Karena ini sudah empat jam, kalian belum kembali juga."


"Sepertinya kita pingsan cukup lama ya?" kata Jasmine manggut-manggut.


Aku melihat Bibi Poh yang masih saja diam di tempat. Kurasa dia benar-benar kecewa kepada kami. Aku memberanikan diriku untuk membuka suara,


"Bibi Poh...Kami minta maaf. Kami gagal menyelesaikan ujian kali ini, tapi kami akan berusaha untuk menyelesaikannya. Kami akan bertanggung jawab."


Bibi Poh tersenyum kecil hampir tidak kelihatan sama sekali sebelum menjawab perkataanku.


"Atas kehendak apa kalian meminta maaf? Apalagi meminta maaf pada wanita tua ini? Kalah bukan berarti gagal. Kalah hanyalah tahapan sebelum kalian menang. Dengan kalah, itu akan membuat kalian sadar akan kesalahan yang kalian buat, membuat kalian lebih siap untuk besok lusa. Jika kalian berpikir aku akan marah karena kalian kalah itu kesalahan besar."


"Aku tidak punya kehendak untuk marah. Aku juga tidak mempunyai kehendak untuk memaksa kalian menang. Siapakah aku ini, sampai-sampai mempunyai hak untuk melakukan itu semua? Lakukanlah apa yang kalian bisa. Kalian sudah berjuang keras, itu adalah tanda-tanda kemenangan kalian. Seperti buah yang jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya, maka perjuangan keras juga tidak akan pernah mengkhianati hasil."


Kami menunduk menyadari ucapan Bibi Poh. Masih ada harapan, kami tidak boleh menyerah. Pasti ada solusi disetiap masalah. Dan pelajaran ini akan kami bawa hingga esok lusa mendatang.


***


"Kita akan menyerangnya dari empat sisi yang berbeda. Flash dan Jasmine akan berjaga di seberang sungai. Sedangkan aku dan Qlessie akan berjaga di tempat semula. Begitu para Robirmal itu datang dan melemparkan duri-duri itu, Aku dan Qlessie akan mengubah mereka menjadi batu dan es. Sedangkan kalian akan menyerang Robirmal itu dari arah belakang. Dengan begitu, kita bisa mengepung mereka dari beberapa sisi." ujar Ken menyampaikan rencananya ketika kita sedang berdiskusi di gua Bibi Poh.


"Bagaimana jika rencana itu gagal?" Jasmine khawatir.


"Kita buat rencana B!"


"Rencana B?" tanya aku, Flash, dan Jasmine bersamaan.


"Kalau serangan pertama gagal, kita akan membuat formasi tameng empat sisi. Seperti sebelumnya, Qlessie akan membuat tembok es transparan terlebih dahulu, dilanjut Flash dengan angin kombonya, lalu Jasmine yang mengeluarkan sinar api berputar dan sebarkan di tameng kita nanti, sedangkan aku akan mencoba mengeluarkan batu dalam jumlah yang banyak sehingga menutupi tameng."


"Apakah Robirmal bisa dibekukan oleh batu dan es semudah itu?" tanya Jasmine lagi.


"Aku juga tidak tau, kita coba saja terlebih dahulu. Kita tidak akan tau sebelum mencobanya. Keluarkan semua kekuatan yang kalian miliki, dimana ada keyakinan disitu ada jalan." Ken berkata tegas seperti biasanya.


"Selama kita bersatu, kita pasti bisa mengalahkan mereka. Mereka selalu mengejutkan kita dengan duri-duri tajam mereka, sekarang giliran kita yang mengejutkan mereka dengan kerjasama luar biasa kita." ucapku dengan penuh semangat.


"Aku akui aku bodoh, tapi jika menyangkut soal seperti ini, aku mengerti dan akan terus berjuang dengan sekuat tenaga, dan dengan seluruh kemampuan yang kumiliki. Aku akan berjuang demi dunia dan juga orang-orang yang kusayangi." Flash berkata dengan bijak untuk pertama kalinya. Aku merasa inilah perkataan bijak Flash untuk pertama kali setelah kata-kata konyol yang biasanya dia ucapkan itu.


"Aku menyetujui apa yang kalian setujui. Rasa saling percaya dan kerjasama memang sangat dibutuhkan kali ini. Mungkin tadi kita kalah, tetapi kali ini kemenangan akan berada di pihak kita. Seperti kata Bibi Poh tadi kekalahan adalah tanda akan munculnya kemenangan." kata Jasmine dengan mata yang berkobar-kobar.


"Kita sekarang siap dengan persiapan matang, presentasi kemenangan kita sangat besar." ujarku lagi.


"Bersiaplah untuk hari esok teman-teman! Untuk dunia dan untuk keadilan." kata Ken mengakhiri rapat pada hari itu.


Dua orang yang mengawasi kami sedari tadi juga ikut tersenyum melihat kami yang menyusun rencana dengan kompak.


"Salah jika kita menganggap hanya Qlessie yang spesial, karena sesungguhnya mereka semua adalah orang paling spesial di seluruh alam semesta. Satria terpilih seperti mereka, semua orang pasti juga bangga." kata Hama kepada Bibi Poh.


"Mereka spesial bukan dari itunya saja, mereka spesial juga karena hati mereka yang kuat akan pemahaman yang mendalam tentang linkungan dan sesama. Satria generasi ini memang berbeda, sangat berbeda." tanggap Bibi Poh.


Hama menoleh kepada Bibi Poh menatapnya bingung.


"Kau nanti juga akan mengerti, Hama! Hanya soal waktu kau akan mengerti atau tidak." kata Bibi Poh membalas tatapan bingung Hama.