
Sepanjang perjalanan, musik-musik alam terus mengiringi kami. Suara burung berkicau di pagi hari, hangatnya sinar matahari yang menembus badan, suara daun yang menari-nari diterbangkan angin. Sayang kalau kami harus merusaknya dengan pertarungan kami melawan Robirmal
itu.
"Siap di posisi masing-masing!" perintah Ken.
Jasmine dan Flash segera menyebrangi Sungai Pas dan bersembunyi dibalik pohon besar dan tinggi. Aku dan Ken juga melakukan hal yang sama. Kami berempat hanya tinggal menunggu para Robirmal itu muncul.
"Ken, apakah kau yakin Robirmal itu akan muncul?" tanyaku, berbisik.
"Maksudmu?" balas Ken, menanggapi.
"Bisa saja, Robirmal itu mengira bahwa kita sudah mati. Oleh sebab itu mereka tidak datang."
"Pasti datang. Robirmal itu akan melewati sungai ini untuk menuju ke pemukiman atau ladang penduduk. Jadi itulah kenapa, Bibi Poh menyuruh kita untuk melawan para Robirmal itu disini. Pertama, tempat ini sangat jauh dari pemukiman. Kedua, ini adalah tempat Robirmal itu datang, jika diartikan ini adalah bandara, tempat keluar masuknya Robirmal." jelas Ken dengan sabar.
"Apakah Robirmal itu akan datang sepagi ini? Bagaimana jika mereka datang saat siang hari atau sore hari?" tanyaku untuk kesekian kalinya.
"Mereka pasti akan datang saat pagi hari, saat dimana desa masih dalam kondisi sepi. Itulah saat yang tepat untuk menyerang ladang penduduk. Kalau kemarin mungkin saja para Robirmal itu merasa terpanggil dengan kita yang berdiri secara terbuka di depan Sungai Pas."
Aku ber-oh pelan dan mengangguk-angguk kepada Ken. Dia memang cerdas, selalu tau tanpa diberitahu. Berbeda denganku yang selalu bingung akan segala hal. Sudah diberitahu pun masih bingung sendiri.
"Shttt!!! Lihat! Mereka datang!" seru Ken memperingatkanku sekaligus memberi isyarat kepada Jasmine dan Flash yang berada di seberang.
Robirmal itu datang, jumlahnya masih sama seperti waktu terakhir kali kami melawan mereka. Wajah dan rupanya juga masih sama. Mata kecil dan sipit, ditambah dengan bulu mata yang panjang, hidung yang juga sangat panjang melebihi panjangnya hidung pinokio, ditambah dengan mulutnya yang bimoli itu (Bibir maju lima centi).
Mungkin mereka berpikir bahwa kita sudah tidak ada, oleh sebab itu mereka datang dengan jumlah tetap. Tidak semudah itu Robirmal!
"Ken! Sekarang?" tanyaku tidak sabaran.
"Tunggu, tahan sebentar! Dalam hitungan ketiga, kita lansung membuat mereka semua menjadi batu dan es."
Ketika Robirmal itu akan melewati Sungai Pas, Ken memulai berhitung satu sampai tiga. Aku sudah bersiap-siap dibalik pohon tempatku bersembunyi menunggu hingga Ken selesai berhitung.
"Tiga...!" seru Ken akhirnya.
Aku dan Ken dengan kompak melancarkan serangan dentuman es dan dentuman batu kearah para Robirmal yang masih terbang diatas. Kami berdua keluar dari tempat persembunyian dan memulai pertarungan dengan sengit.
Para Robirmal itu tidak menduga akan mendapat serangan mendadak dari kami. Melihat hal ini, Flash dan Jasmine pun beraksi. Jasmine mengeluarkan laser api dari tangannya dan mengarahkan ke sayap-sayap Robirmal. Flash mengeluarkan gelombang angin kepada kawanan tersebut. Kami bekerja sama dengan sangat kompak.
Aku dan Ken masih mempertahankan dentuman es dan dentuman batu. Jasmine tetap mengarahkan laser apinya ke sayap-sayap Robirmal. Flash masih saja mengirimkan gelombang angin yang lebih besar. Kita uji mereka dengan serangan empat gabungan ini.
Apakah para Robirmal itu bisa mempertahankan tubuh mereka agar tidak berubah menjadi es dan batu? Ditambah dengan laser api yang menyerang sayap mereka, bisakah mereka mempertahankan sayap mereka agar tidak terbakar? Atau bisakah mereka mempertahankan diri mereka agar tidak terbawa angin oleh gelombang angin milik Flash?
Bayangkan kalian sedang mempertahankan kekuatan yang mengarah kepada kalian dari keempat sisi sekaligus. Pasti sulit bukan? Tapi yang kami lihat disini, para Robirmal itu terlihat baik-baik saja. Tidak menununjukkan ekspresi akan adanya kesulitan menghadapi serangan ini. Mereka justru menundukkan kepala mereka seperti sedang konsentrasi akan sesuatu, juga menelangkupkan sayap mereka guna menghindari serangan laser api Jasmine.
Kami berempat tentu bingung dengan perilaku para Robirmal tersebut. Karena merasa akan terjadi sesuatu, kami menambah kekuatan kami menjadi lebih tinggi. Aku dan Ken semakin mengerahkan tenaga untuk mengeluarkan dentuman es dan dentuman batu. Jika tadi hanya menggunakan satu tangan, maka sekarang kami menggunakan dua tangan dan dua dentuman. Aku dua dentuman es di tangan kanan dan tangan kiri. Ken dua dentuman di tangan kanan dan kirinya pula.
Flash dan juga Jasmine juga sama. Jasmine membuat dua laser api dari kedua tangannya, juga Flash, gelombang anginnya semakin besar, besar, dan besar.
Mungkin dialah yang memimpin para Robirmal ini. Sampai sekarang kami masih tidak mengetahui apa yang sedang para Robirmal itu lakukan. Mereka membentuk sebuah formasi, jika dilihat dari bawah itu seperti piramida.
Sepertinya mereka membuat formasi itu untuk mengirim serangan balik kepada kami. Ya, itu hanya perkiraanku. Kalian taulah aku tidak sepandai Ken dalam mengartikan sesuatu. Para Robirmal itu dengan cepat kembali fokus mengikuti pemimpin mereka.
"Apakah kita harus menggunakan rencana B?" tanyaku ditengah pertarungan.
"Sepertinya begitu. Tapi tunggu aba-aba dariku." balas Ken yang juga memberi isyarat tertentu kepada Flash dan Jasmine.
"Intinya bertahan selama mungkin hingga diujung tenaga." ucap Ken sekali lagi kepadaku.
Aku mengangguk. Tidak diperingatkan Ken pun aku juga sudah mengerahkan semua kemampuanku. Aku sudah berusaha menambahkan kekuatanku agar lebih besar. Setiap satu menit setelah menghembuskan nafas, aku selalu menambah kekuatanku menjadi lebih besar dan lebih kuat.
Tentu, tidak hanya aku saja yang melakukan itu. Yang lain pasti juga sama walaupun caranya berbeda. Mereka pasti berusaha untuk selalu menambahkan kekuatan mereka. Bahkan musuh kami, Robirmal juga melakukan hal yang sama. Piramida yang mereka buat juga semakin kokoh dan besar. Pemimpin mereka yang berada di puncak piramida melebarkan sayapnya dan sekejap kemudian duri-duri tajam andalan mereka meluncur keluar dan terjun kebawah, kearah kami.
Jika kemarin mereka mengeluarkan api putih terlebih dahulu, maka kali ini mereka lansung mengeluarkan api bewarna-warni. Rupanya sekarang mereka menyadari bahwa lawan yang sedang mereka hadapi bukanlah lawan biasa. Ada baik dan ada buruknya. Baiknya mereka tidak lagi menganggap kita berempat lemah, buruknya mereka tidak main-main sekarang, dengan begitu mereka akan menunjukkan kekuatan yang lebih hebat dan akan membuat kami kelelahan.
"Ken, rencana B?" seruku lagi untuk kesekian kalinya.
"Ya! Sekarang!" seru Ken dengan kencang agar dua orang diseberang yang tidak lain adalah Jasmine dan Flash mendengarnya.
Aku lansung membuat tembok es transparan, disusul Flash dengan angin kombo sekuat mungkin, lalu Jasmine dengan sinar api berputarnya yang membuat tameng kita menjadi merah darah dan terakhir Ken yang berusaha memperkuat tameng dengan ribuan batu.
Ken mengeluarkan batu dengan jumlah yang sangat besar, dan dengan cepat pula batu-batu itu menempel dan menutupi tameng. Ini adalah tameng terkokoh yang pernah kita buat. Kalau sampai duri-duri tajam berapi milik Robirmal bisa menembusnya, maka akan kuresmikan mereka adalah burung terkuat dan terekstrim di seluruh alam semesta. Bahkan matahari, sang surya pun akan kalah dengan keganasan Robirmal ini.
Duri-duri itu dengan segera mengenai tameng kami. Duri-duri itu mencoba menembus dan merobeknya, tetapi tidak akan semudah kemarin. Ken dengan gesit meninjukan tangannya ke udara sehingga batu yang menutupi tameng memental ke atas.
BUM!
Kalau saja situasinya bagus, aku akan berseru "wow" . Entahlah, itu sangat indah. Duri-duri itu terpental dan jatuh oleh dentuman tameng kita tadi. Ini durinya yang memang sebetulnya lemah atau kami saja yang bertambah kuat?
Kemarin saja kami harus bersusah payah sampai menguras tenaga dan keringat hanya untuk mempertahankan tameng yang akan ditembus dan dirobek oleh duri-duri itu. Sekarang? Satu dentuman saja berhasil menjatuhkan ratusan bahkan ribuan duri tajam yang berapi?
Aku melepaskan tanganku begitu juga yang lainnya. Tameng megah kami menghilang. Para Robirmal diatas langit juga sama terkejutnya dengan kami. Wajah terkejut mereka sangat aneh! Membuat rupa mereka semakin jelek saja. Mata sipit yang tiba-tiba berubah menjadi besar, hidung yang bertambah panjang, mulut bawahnya yang bertambah lebar. Ini jelas bukan bimoli lagi. Astagaaa!!! Bibir anehnya itu semakin maju saja, berapa centi pastinya aku juga tidak dapat memperkirakannya.
Masih dengan wajah terkejut, Robirmal itu menyerang kami secara bersamaan. Mereka tidak terima duri-duri mereka dikalahkan begitu saja, mungkin inilah keputusan mereka. Membuktikan seberapa kuat dan seberapa hebatnya kami berempat.
Para Robirmal itu melebarkan sayapnya, sangat lebar. Bahkan lebar awan paling besar pun kalah. Aku mencoba mengalahkan mereka dengan geruji tajam es milikku. Cara ini pernah berhasil mengalahkan mereka saat di desa ilusi. Mungkin saja ini berhasil kembali, tapi tentu aku tidak akan membuatnya dengan ukuran yang sama.
Aku membuat geruji tajam es yang lebih besar bisa dibilang raksasa. Satu geruji aku lemparkan kearah Robirmal yang semakin dekat. Geruji itu berhasil mengenai salah satu sayap Robirmal dan menembusnya. Robirmal yang sayapnya terkena gerujiku itu lansung jatuh dan ambruk di tanah.
Aku berseru "Yes!" dalam hati. Teman-temanku yang lain juga terus menyemangatiku untuk membuat geruji tajam yang lebih besar lagi dan lagi. Formasi Robirmal yang semula rapi itu hancur berantakan. Mereka sesekali menoleh ke belakang melihat teman mereka yang satu persatu ambruk di tanah.
Mereka berusaha mencegahnya dengan sayap lebar mereka, tetapi geruji tajamku malah mengenai yang melindungi. Sanking dekatnya mereka, hampir tidak ada jarak sedikitpun yang memisahkan, beberapa kali aku sampai bisa menusuk tiga sayap Robirmal sekaligus. Kali ini melebarkan sayap mereka adalah keputusan terburuk yang pernah ada.
Robirmal itu semakin terbang tak tentu arah. Posisi mereka seperti itu membuatku dengan mudah menusuk sayap mereka. Hingga sejam berlalu, tak terasa para Robirmal itu semakin berkurang hingga akhirnya habis tak bersisa. Mereka semua ada yang jatuh di tanah, ada yang jatuh di sungai sembari merintih kesakitan dan mencoba untuk terbang kembali. Namun apalah daya, geruji tajamku terlalu berat. Ini adalah akhir dari Robirmal di Desa Purba!