Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Ada yang aneh



"Hama, apakah itu desanya?" tanya Ken.


"Tapi kita baru dua belas kilometer. Sejak kapan ada desa disini?"


"Ya, mungkin saja desanya pindah. Lansung kesana aja yuk!" kata Flash.


"Tapi bagaimana mungkin desa pindah secepat itu?" kata Hama dengan wajah bingungnya.


"Maksudnya?" tanya Jasmine ikut bingung.


"Ya, beberapa minggu yang lalu aku dan Ayahku sempat mengunjungi desa ini. Mustahil desa ini pindah hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Secara garis besar desa ini tuh luas. Kalaupun desa kecil pun memang bisa pindah secepat itu? Setidaknya butuh waktu beberapa bulan untuk memindahkan semuanya."


"Ya sudah, kita kunjungi dulu desanya. Nanti kita pasti tau juga apa yang terjadi." kata Flash.


Kami berlima melangkah menuju desa itu. Di papan di pintu masuk terdapat ukiran "Selamat datang di Desa Purba". Penduduk di desa ini menggunakan pakaian seperti pada zaman purba dulu. Hanya berlapiskan bahan yang terbuat dari kulit hewan. Juga wajah mereka yang terdapat coretan tiga garis putih dan merah di setiap pipi kanan dan kiri, juga di dahi mereka.


"Nah! Ini Desa Purba. Desa yang kau bilang tadi kan?" tanya Flash.


"Iya, ini desanya! Tapi mustahil desa ini bisa pindah secepat itu."


"Mungkin saja kau salah menghitungnya. Sudah yuk! Kita cari tempat berteduh untuk makan." kata Flash.


"Mungkin...Ya sudah, kita ke rumah Bibi Poh! Dia tukang masak yang hebat disini." balas Hama mencoba mengerti.


"Apakah dia ramah?" tanya Ken.


"Sangat ramah, kami bahkan sudah seperti ibu dan anak." kata Hama lagi.


"Lalu dimana Ibu kandungmu, Hama?" tanyaku tanpa berpikir.


"Dia sudah meninggal saat usiaku baru tiga tahun."


"Oh, maaf. Aku tidak tau,"


"Apakah kau sudah sering mengunjungi desa ini?" tanya Jasmine.


"Sejak Ibuku meninggal, Ayahku selalu membawaku kesini setiap satu bulan sekali. Dan kami selalu mengunjungi rumah Bibi Poh, bagiku dia adalah ibuku."


"Kau dan Ayahmu berjalan dari Desa HOAM ke Desa Purba?" tanya Ken.


"Emm...ya! Kami membutuhkan waktu setidaknya dua hari untuk bisa sampai kesini."


"Desa ini masuk ke Hutan Misteri karena apa?" tanya Ken lagi.


"Karena keberadaannya yang sudah tidak diinginkan. Sesuai namanya "purba", desa ini tidak lagi dikenal dan diinginkan oleh masyarakat pada zamannya karena dianggap terlalu kuno. Oleh sebab itu seseorang memindahkannya kedalam hutan ini."


"Siapa seseorang itu?" tanya Flash,


"Tidak ada yang tau," kata Hama sembari menaikkan kedua bahunya.


Hama berhenti melangkah di depan sebuah rumah tua. Bukan! lebih pantas disebut gua karena rumah tersebut tidak memiliki pintu ataupun jendela. Hanya terdapat sebuah karpet yang lagi-lagi terbuat dari kulit hewan. Dan beberapa batu besar yang diperkirakan adalah sebuah meja dan kursi.


"BIBI POH! APAKAH KAU DIDALAM?" teriak Hama.


"Siapa itu diluar?" seru suara seseorang.


"Ini aku! Hama!"


"Hama?" seorang wanita lanjut usia yang diperkirakan Bibi Poh itu melangkah keluar dari balik bayangan gua. "Astaga! Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Hama, anakku!"


"Ah! Bibi jangan melebih-lebihkan, deh! Kita bahkan baru bertemu beberapa minggu yang lalu."


"Oh ya? Bibi pasti sudah lupa! Siapa itu yang dibelakangmu?"


"Ah, Mereka...Satria." ucap Hama berbisik apalagi saat di kata terakhir.


"Sungguh? Berarti hari ini Bibi kedatangan tamu yang sangat spesial dong. Mari masuk!"


"Ayo!" ajak Hama kepada kami.


"Aduhhh! Kau kenapa sih, Hama?" gerutu Flash.


"Bibi Poh! Sejak kapan kau menaruh dupa di depan gua? Bukankah kau adalah orang yang sangat tidak suka dengan dupa?" tanya Hama.


"Ah! I...itu adalah perintah dari Kepala Desa. Kepala Desa memerintahkan untuk didepan setiap gua harus diberikan dupa sebagai pelindung. Karena tidak ada yang menolak, ya akhirnya Bibi terpaksa menerimanya."


Hama mengeryitkan dahinya.


"Setauku, Kepala Desa sendiri pun juga tidak menyukai dupa." kata Hama masih bingung.


"Kepala Desa entah mengapa beberapa baru ini sangat mengagumi dupa. Emm...Di mulai suka mencari khasiat dupa di prasasti lama."


"Dupa belum ada pada zaman kalian masih di dunia luar. Bagimana mungkin ada prasasti kalian yang mencatat tentang dupa?" Hama berkata dengan dahinya yang semakin terlipat.


"Emm...Masalah itu Bibi tidak mengetahuinya. Kepala Desa sendiri yang mengatakannya. Bibi akan buatkan daging panggang. Kalian masuk dan tunggu saja ya!" Bibi Poh berjalan meninggalkan kami.


"Aneh! Bibi Poh tidak pernah gugup saat berbicara, tapi mengapa dia keliatannya sedang menutupi sesuatu dariku?" Hama bergumam.


"Apakah ini ada kaitannya dengan dugaanmu tentang anehnya lokasi desa ini yang tidak sesuai dengan yang seharusnya?" tanyaku.


"Justru keanehan itu diperjelas dengan sifat aneh dari Bibi Poh!" balas Hama


"Kau tanyakan saja mengapa lokasi desa ini berbeda dengan yang sebelumnya." usul Flash.


"Percuma, dia pasti akan gugup dan memberikan jawaban yang tidak diinginkan." kata Hama.


"Hemmm...Kita masuk saja. Siapa tau ada informasi yang berguna." kata Ken.


"Ya benar, sekalian menyantap sepotong daging panggang. Kan lumayan..." ucap Flash sembari memegang perutnya.


"Kalau sudah selesai makan, kita lansung lanjutkan perjalanan saja!" kataku.


Ken dan yang lainnya menoleh kepadaku.


"Kenapa ingin cepat-cepat?" tanya Ken.


Dan aku pun mulai menyadari ucapanku sendiri. Hei! Aku tidak berniat ingin mengatakannya, aku juga tidak ingin cepat-cepat makan. Apa yang terjadi? Perasaan aku tidak melamun apa-apa daritadi, tidak mungkin aku bicara ngelantur.


"Eh? Ya, aku hanya ingin cepat melanjutkan misi ini kemudian kembali ke dunia kita untuk menyelamatkan para manusia yang sedang kesusahan karena para raksasa itu."


"Owh! Kau khawatir karena percakapan kita semalam ya?" tanya Jasmine..


"I...Iya!"


"Aku juga memikirkannya semalam, dan aku hanya memikirkan kita harus berjuang bersama, menikmati moment yang ada dan ya tidak mengapalah berkorban sedikit demi sebuah kebersamaan. Kalaupun nanti banyak manusia tidak berdosa mati di tangan para raksasa itu, mungkin manusia yang tersisa akan melahirkan kembali anak-anak yang hebat, dan memunculkan era dan generasi baru berikutnya yang tentunya lebih baik." kata Jasmine dengan penuh penghayatan.


"Hemm...Kau benar!" kataku, karena hanya itu yang bisa kukatakan. Apakah terjadi sesuatu pada diriku? Mengapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda bersembunyi dalam tubuhku?


"Eh? Kalian tidak masuk kedalam? Kenapa hanya berdiri di depan terus? Ayo masuk! Sebentar lagi daging panggangnya siap." kata Bibi Poh yang baru muncul kembali.


Hama mengangguk dan melangkah masuk kembali ke dalam gua yang tadi sempat terhenti karena keanehan sebuah "dupa". Kami duduk di atas karpet yang terbuat dari kulit hewan tersebut. Berbeda dengan Desa HOAM yang bentuk bendanya tidak seperti kelihatannya. Yang sebenarnya keras malah halus seperti kain sutra. Disini karpet yang kita duduki sangat kasar, mungkin efek karena sudah sangat tua dan diawetkan, tetapi rasanya juga sangat ringan seperti tidak ada karpetnya. Intinya tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


"Silakan dinikmati. Selagi kalian makan, bolehkah aku mengetahui nama para Satria itu?" tanya Bibi Poh yang baru saja kembali dengan membawakan daging panggang.


"Ini Jasmine, itu Flash, dan di sebelahnya Ken, lalu disebelahnya lagi si spesial Qlessie." kata Hama memperkenalkan kami.


"Spesial? Maksud kau..." Bibi Poh menatap Hama.


"Iya dia!"


"Wah! Wah! Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu, Putri." kata Bibi Poh menundukkan kepalanya.


Entah apa yang kulakukan, aku malah mengangguk-angguk dan tersenyum canggung ke arah Bibi Poh. Sebenarnya aku ingin bilang "Eh! Jangan melebih-lebihkan, Bibi Poh! Saya tetap hanya manusia yang tidak mengerti apa-apa tentang diri saya sebenarnya!" Tapi yang kulakukan hanya senyum tak jelas dan mengangguk? Ini jelas bukan diriku.


Kami memakan daging tersebut dengan lahap, rasanya enak, seperti rasa daging sapi di dunia kami. Mungkin beginilah makanan pada zaman purba dulu. Kami juga sempat berbicang sedikit dengan Bibi Poh, hingga tak terasa makanan kami telah habis.