Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Bertarung kembali



"Bibi Poh, kami pamit dulu. Ada misi yang harus kami selesaikan." ucap Hama pamit.


"Sayang sekali. Padahal Bibi ingin berbicara banyak dengan kalian. Tapi apakah kalian pergi begitu saja?"


"Apa maksud, Bibi?" tanya Ken.


"Kalian tidak ingin menjalankan ujian ke-4 nya?"


"U...ujian ke-4? Bukankah kami baru saja menjalankan ujian ke-2?" kataku.


"Apa dalam perjalanan kalian tidak menemukan rintangan?"


"Rintangan?"


Sejenak kami teringat akan serigala yang kami lawan beberapa waktu lalu. Kami sama sekali tidak menyadari bahwa ujian ke-3 sudah selesai kami lewati.


"Sudah siap?" tanya Bibi Poh.


"Tentu. Kami siap menjalankan apapun ujiannya." kata Jasmine.


"Pergilah ke taman di sebelah balai desa! Temukan dan tuntaskan ujiannya."


"Baik, Bibi Poh! Hama, antar kami!" kata Ken.


Hama kembali memimpin jalan dan menuntun kami ke taman yang dimaksud Bibi Poh. Taman itu dikatakan besar juga tidak, dikatakan kecil juga tidak pantas. Hanya seukuran


halaman rumah orang kaya di dunia kami.


"Ujian apa yang akan kita hadapi?" tanya Flash.


"Katanya kita harus menemukannya sendiri." balas Jasmine.


"Cara menemukannya?"


"Ya, aku juga tidak tau."


"Hama?" panggilku


"Ini ujian kalian, hanya kalian yang bisa menemukannya. Tugasku hanya membantu saja. Tapi saranku kalian berhati-hatilah. Aku merasa aneh akan ujian kali ini, terutama kepada Bibi Poh. Bisa saja dia menipu kalian dengan ujian palsu."


Kami berempat saling pandang sebelum mengangguk satu sama lain. Kami menelusuri sekitar taman berharap ada sesuatu yang memungkinkan untuk dijadikan ujian. Tetapi disini yang kami lihat hanyalah tumpukan batuan yang dijadikan kursi dan beberapa bunga dengan beraneka macam ragam dan warna yang tumbuh di bawah pohon, dan di sekitar semak-semak.


Sama sekali tidak ada objek yang bisa dijadikan sasaran ujian. Desa ini merupakan jelmaan dari desa pada zaman purba dulu, jadi yang ada di taman ini adalah benda-benda peninggalan pada zaman tersebut. Terasa sangat sederhana dan kuno.


Kami terlalu memperhatikan bagian bawah dan sekitar taman, tapi tidak memperhatikan bagian atas. Inilah kesalahan kami! Kami tidak menyadari bahwa diatas sana terdapat ratusan bahkan ribuan burung purba sedang melayang terbang dari utara ke arah kami.


"Teman-teman! Lihat ke atas!" seru Flash.


"Burung apa itu?" tanya Jasmine.


"Apakah ini ujiannya?" tebakku.


"Apakah itu sejenis Pterosaurus?" tanya Ken.


Dalam segi sayap burung itu memang mirip Pterosaurus. Salah satu jenis Dinosaurus yang bisa terbang. Tetapi dari segi wajah burung itu aneh. Tidak memiliki paruh seperti kebanyakan burung lainnya. Burung ini memiliki mulut seperti layaknya manusia normal. Ia memiliki bulu mata juga di bagian matanya.Burung ini juga memiliki hidung yang sangat panjang, jika diukur bisa mencapai tiga jengkal.


"Sepertinya memang ini ujiannya. Tidak ada hal lain yang bisa kita jadikan objek ujian disini. Buktinya burung itu mengarah kearah kita." kata Ken.


"Ya sudah, kita lawan lansung saja. Kalau mereka yang menyerang duluan nanti kita kewalahan duluan sebelum sempat menyerang." kataku.


Lagi-lagi itu bukan aku yang ingin mengatakan begitu. Itu bukan kata-kata dari hatiku, itu seperti kata-kata dari bagian tubuhku yang lain. Situasi ini membuatku semakin bingung saja.


Sekumpulan burung aneh itu semakin mendekat ke arah kami, semakin dekat, semakin cepat gerak sayapnya. Begitu ia tersisa dua meter dari kami, kami bersiap siaga.


Burung itu mengeluarkan sesuatu yang berduri tajam dari mulut anehnya. Aku menghalanginya dengan tembok es transparan milikku. Tetapi dengan cepat juga duri tajam itu merobeknya. Ken mendorong duri tajam itu dengan pukulan berdentum sehingga duri tajam itu jatuh dan terpelanting beberapa meter ke belakang.


BUM! BUM! BUM!


Burung aneh itu mengeluarkan duri tajam itu lagi dari mulutnya, tetapi kali ini mereka mengeluarkan lebih banyak lagi dari sebelumnya. Burung-burung itu menembakkan duri tajam tersebut ke berbagai arah. Mereka berencana membuat kita kewalahan dengan duri-duri itu.


Aku mengeluarkan dentuman es untuk menghalangi duri tajam itu yang akan mengarah kearahku. Ken kembali mengeluarkan teknik andalannya, pukulan berdentum. Flash mengeluarkan badai angin level tinggi. Dan Jasmine mengeluarkan sinar api berputar sebagai perisainya.


Duri-duri itu kembali jatuh ke tanah, tetapi setiap duri itu selesai kita jatuhkan selalu datang kembali duri-duri yang baru. Berulang kali juga kami menepisnya dengan berbagai teknik. Setiap duri-duri itu jatuh, duri-duri selanjutnya malah semakin banyak. Yang awalnya puluhan menjadi ratusan, yang awalnya ratusan menjadi ribuan, yang awalnya ribuan menjadi puluhan ribu hingga menjadi ratusan ribu.


Teknik yang kami keluarkan juga semakin besar seiring dengan bertambah banyaknya duri-duri itu. Kami awalnya hanya menggunakan teknik level rendah tetapi semakin banyak duri itu membuat kami terpaksa menggunakan teknik level tinggi dan semakin tinggi. Melawan duri-duri ini seperti melawan serigala biasa di dunia kami dengan jumlah ratusan ribu.


Sekarang datang lagi masalah baru. Belum selesai kami menemukan cara mengatasi duri-duri ini dengan mudah, sekarang ditambah dengan burung-burung itu yang ikut menyerang kami dengan sayap lebarnya. Duri-duri yang masih tersisa di udara menjadi tidak dapat dilihat dengan jelas karena pandangan kami ditutupi oleh sayap burung itu.


Satu tangan kami gunakan untuk menghalangi duri-duri itu, dan satu tangan lagi kami gunakan untuk menepis sayap-sayap burung. Ampunn! Kami sama sekali tidak menyadari bahwa semakin lama sayap burung itu semakin lebar dan besar. Sayap-sayap itu berhasil menutup pandangan kami sepenuhnya.


Untuk menghalangi duri-duri yang masih terus-menerus menyerang kami, aku terpaksa membuat tembok es transparan sekuat mungkin. Tetapi sekuat apapun aku meningkatkan level tembok es transparan itu, semakin kuat juga duri-duri itu berusaha merobeknya.


Kekuatanku juga terbatas, di lain sisi aku menghadapi sayap-sayap burung ini yang sangat menganggu dan di sisi lain aku juga menahan kuatnya tembok es yang kubuat ini. Yang lain juga berusaha membantuku, Ken membantu dengan mengeluarkan batu besar untuk menahan tembok es ini tidak robek. Jasmine membantu menahannya dengan sinar api berputarnya. Flash membantu dengan menebalkan tembok esku dengan angin kombonya.


Duri-duri itu tidak kuasa menahan gabungan empat kekuatan sekaligus, dan akhirnya duri-duri itu terpecah belah dan jatuh ke tanah seperti nasib duri-duri sebelumnya. Sekarang kami dapat fokus kepada burung-burung ini.


Aku tidak tau sebesar apa sayap burung-burung ini, perasaan semakin lam semakin besar saja. Besarnya tidak dapat diukur dengan meteran apapun. Aku menghempaskan sayap itu dengan dentuman es kembali. Tapi itu kesalahan fatal! Sayap itu terpental dan kembali menabrak diriku hingga aku jatuh terpelanting beberapa meter ke belakang.


"QLESSIE!" seru Ken.


Aku terbatuk karena ketika aku terjatuh tadi, debu dari tanah di taman mengepul dan menaik tinggi kemudian masuk ke saluran pernafasanku hingga menyebabkan sesak nafas.


"KAU BAIK-BAIK SAJA?!" teriak Ken ditengah usahanya membela diri dari sayap-sayap tersebut.


"Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir." seruku kembali kepada mereka semua.


Aku kembali bangkit berdiri dan berlari kearah burung-burung tadi. Aku mengeluarkan air es besar membentuk seperti ombak di pantai, berharap burung-burung itu akan lumpuh karena sayapnya basah dan tidak bisa terbang kembali.


Tetapi burung ini sangat kuat, dia mengeluarkan air es yang diserap kulit sayapnya kembali kearahku. Alhasil, aku kembali basah kuyup oleh ulahku sendiri.


Tapi tentu aku tidak menyerah begitu saja dengan kesialanku ini, aku kembali menerbangkan hujan es berbentuk seperti geruji tajam seperti hujan yang diciptakan oleh Serigala Biru yang kami lawan beberapa waktu lalu.


Geruji tajam es tersebut menancap di semua bagian tubuh burung-burung yang aku serang. Alhasil, burung-burung itu kesakitan dan jatuh ke tanah. Sayapnya yang awalnya sebesar samudra itu kembali mengecil seperti sedia kala.


Karena semua burung yang aku hadapi sudah tumbang, aku membantu teman-temanku yang lain dan melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan sebelumnya, hingga burung-burung itu habis tak bersisa. Semuanya telah terbaring tak berdaya di tanah karena geruji tajam yang kubuat tersebut.


"Itu tadi hebat sekali, Qlessie!" puji Ken.


"Bukan apa-apa." jawabku nyengir walaupun agak malu-malu.


"Hama, kenapa kau tidak membantu kami tadi?" tanya Flash.


"Aku akan membantu kalau situasinya mendesak. Bukankah aku sudah mengatakan bahwa ini ujian kalian, dan aku hanya membantu saja."


"Oh iya, jadi apakah kita lulus ujiannya?" tanya Jasmine.


Tidak ada yang menjawab pertanyaan tersebut, karena memang tidak ada yang tau. Hama sendiri menaruh rasa curiga kepada Bibi Poh. Apalagi kami yang tidak mengetahui apa-apa.