Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Desa Purba bersorak gembira



"Jadi para Robirmal itu sudah dikalahkan?" Kepala Desa bertanya dengan antusias.


"Benar, Pak! Kalau Robirmal itu sudah tidak ada lagi, maka ini kesempatan yang tepat untuk membuat normal kembali desa ini." Ken menjawab mantap.


"Sebenarnya di gudangku, ada banyak sekali persediaan bibit tanaman dan sayuran. Aku berencana membagikannya ke seluruh warga sebelumnya, tetapi keberadaan Robirmal ini akan sia-sia. Beruntungnya Robirmal itu sudah dikalahkan. Maukah kalian membantuku untuk membagikan bibit-bibit itu?" Kepala Desa memohon.


"Tentu saja. Kami dengan senang hati akan membantu. Tapi bisakah kami menunggu? Teman kami yang tersisa sedang mengurus Robirmal yang baru saja kami kalahkan. Mungkin satu atau dua jam lagi dia akan datang menyusul kami kesini." Ken mengingat Flash.


"Oh, tentu, tentu. Tidak perlu terburu-buru. Aku juga ingin bertemu dengan temanmu itu. Dia pasti orang yang hebat. Bisa mengurus Robirmal itu sendirian. Sungguh tulus dan besar jiwanya..." Kepala Desa memuji Flash.


Aku dan Jasmine hampir saja tertawa mendengar ucapan Kepala Desa. Flash? Tulus dan besar jiwanya? Dia bahkan harus kami paksa dulu baru mau melakukannya. Sedangkan Ken hanya tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dihadapan Kepala Desa. Lihat saja dia pasti akan mengomel panjang lebar nanti, tidak bisa berhenti walau hanya sesaat. Apanya yang disebut tulus?


Mungkin dia akan kembali mengomel, melontarkan banyak pertanyaan, setelah tau jika setelah ini kami masih harus berkeliling desa membagikan bibit tanaman dan sayuran. Atau tidak melipat dahinya, tak terima harus berkeliling desa setelah bolak-balik mengambil Robirmal dan memindahkannya ditempat lain. Berjiwa besar apanya?


"Siapa nama kalian semua?" Kepala Desa bertanya hal lain.


"Saya Ken, dan yang disebelah saya ini bernama Qlessie, sedangkan yang disebelahnya lagi bernama Jasmine. Kalau teman kami yang belum datang itu bernama Flash." Ken membalas dengan sopan.


"Nama-nama yang bagus sekali. Perasaanku sekarang menjadi lebih baik setelah ada kalian, beban pria tua ini seketika hilang begitu saja." ujar Kepala Desa lagi.


Kami hanya tersenyum dan mengangguk kepada Kepala Desa. Satu jam kedepan kami habiskan dengan mendengarkan ocehan Kepala Desa tentang bibit tanaman apa saja yang dia miliki, tentang desa ini ketika masih berada di dunia luar, tentang leluhur dan kepercayaan mereka, tentang ladang, gua, warga, tentang bagaimana cara mereka melindungi diri dalam kondisi gua yang tidak memiliki pintu, bagaimana jika orang lain masuk tanpa diketahui pemilik gua, dan mash banyak lagi yang dibicarakan Kepala Desa


Aku hanya tertarik pada pembahasan Kepala Desa tentang gua-gua itu. Cara perlindungan diri mereka sangat unik. Walaupun desa mereka berasal dari masa lampau dan sangat kuno, hal ini tidak menutup kemungkinan mereka juga sama seperti desa yang lain. Yang memiliki kelebihan dan ciri khas tertentu. Berasal dari zaman yang sangat tua, tidak membuat warga disini berkecil hati. Mereka justru membuat sebuah pelindung yang hanya dimiliki oleh desa mereka sendiri.


Pelindung itu berupa detektor tak kasat mata yang berada di samping gua. Kami saja yang tidak pernah memperhatikannya sebelumnya. Kegunaannya hampir sama seperti CCTV di dunia kami. Jika CCTV merekam orang dan suaranya lansung, maka detektor ini hanya akan merekam pergerakannya saja. Ia bisa lansung mengetahui jika ada gerak-gerik orang yang mencurigakan sedang mendekat. Sungguh efektif sekali.


Tidak perlu kita memperhatikan didepan layar monitor, memandangi camera CCTV selama dua puluh empat jam penuh. Detektor ini bekerja secara otomatis, begitu dia merasakan hal-hal aneh maka ia akan lansung mengirimkan sinyal kepada pemilik gua untuk berhati-hati.


Jika pemilik gua tidak menerima sinyal tersebut, maka detektor sendiri inilah yang mengurusnya. Begitu orang mencurigakan itu masuk dan menginjakkan kakinya ke gua itu, maka detektor ini akan menyerang mereka menggunakan sengatan listrik dalam tegangan tinggi.


Tidak heran disini jarang sekali ada yang namanya mencuri. Orang berhasil mencuri pun paling hanya karena detektornya sedang rusak dan tidak diketahui pemiliknya. Atau tidak saat ia membawa kabur barang curiannya, detektor-detektor di gua yang lain akan mendeteksinya dan mengirimkan sinyal kepada warga sekitar. Mereka akan bekerja bersama-sama untuk meringkus pencuri itu. Tidak akan ada yang berhasil lolos ketika mencuri di Desa Purba. Begitulah yang dikatakan Kepala Desa.


"Aha! Kemana temanmu itu? Sudah sejam lebih kita mengobrol dan aku sudah kehabisan bahan percakapan. Apakah dia tidak jadi datang?" Kepala Desa bertanya.


"Mungkin dia sedang dalam perjalanan kesini, Pak. Atau mungkin saja dia sedang kesulitan mengurus Robirmal yang hendak kabur atau semacamnya." Ken berkata sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Oh, ya, ya, aku mengerti. Mengurus para Robirmal itu memang sangat sulit. Benar-benar anak hebat jika ia bisa mengurus para Robirmal itu sendirian." Kepala Desa masih saja memuji Flash.


Kami menunggu sampai beberapa menit lagi sebelum mendengar suara yang sangat amat familiar di telinga kami. Flash! Dia telah kembali dari tugas melelahkannya.


"Ken? Jasmine? Qlessie? Kalian didalam? Astagaaa!!! Jangan kira para Robirmal itu menurut saja ketika kubawa, sebagaian dari mereka sampai harus aku tabrak-tabrakan ke pohon-pohon sekitar baru pingsan." Flash mengeluh sendiri.


Benar kan apa yang kubilang. Sampai disini dia pasti mengomel, mengomel, dan mengomel. Bayangkan saja, dia mengomel di rumah Kepala Desa. Entah dia berpikir atau tidak bahwa ada Kepala Desa disini. Aku penasaran tanggapan Kepala Desa setelah ini.


"Eh? Selamat sore, eh, siang, Kepala Desa!" ujar Flash dengan cepat begitu ia menyadari terdapat Kepala Desa disamping kami.


Gagah? Gagah apanya? Ya ampun, bagaimana bisa Kepala Desa beranggapan seperti itu kepada Flash?


"Nah! Sekarang, ayo kita bagi-bagikan bibit-bibit ini kepada warga sekitar. Puk! Ambilkan semua bibit di dalam gudang dan serahkan kepada anak-anak ini." seru Kepala Desa kepada pelayannya yang tadi menyambut kami.


"Membagikan bibit kepada warga sekitar? Maksudnya?" tanya Flash, kebingungan.


Sedangkan Jasmine menyengir mendengar pertanyaan tersebut.


"Kita punya tugas baru, Flash! Untuk membantu para warga memulihkan ladang yang telah hancur karena dirusak oleh Robirmal, kita akan membantu membagi-bagikan bibit-bibit ini kepada mereka. Mungkin kita juga akan membantu untuk menaburnya di ladang." kata Jasmine sok serius.


"Kita akan berkeliling desa? Membawa karung-karung bibit? Lalu kembali lagi untuk mengambil karung yang baru begitu karung bibit yang kita bawa sudah habis? Setelah itu masih harus membantu menabur bibit lagi?" Flash bertanya dengan membelalakkan matanya.


"Ya, tentu saja! Itu yang akan kita kerjakan nanti." kataku menjawab pertanyaan bertubi Flash dengan menatap matanya lekat seolah-olah memang sedang serius-seriusnya.


Flash melipat dahinya memandang kami semua bergantian. Kerja lagi? Tugas baru? Aku kan baru saja mengurus para Robirmal itu! Seperti itulah maksud tatapannya itu.


"Ini sudah semua karung di gudang, Pak. Apakah akan lansung mereka bawa kepada para warga?" tanya pelayan yang baru saja selesai mengumpulkan semua karung bibit.


"Ya, berikan kepada mereka!"


Karung ini tidak berat. Jadi mudah membawanya. Oleh sebab itu masing-masing dari kami membawanya dua karung sekaligus. Kami mulai berkeliling desa, kami memulainya dari gua disebelah gua Kepala Desa. Masing-masing gua mendapatkan satu karung.


Kami dapat melihat senyum dari orang-orang yang menerima karung pemberian kami. Wajah yang kusut, kantung mata yang menghitam sirna begitu saja ketika kami memberikan karung bibit tersebut. Ditambah ketika kami melihat seorang wanita yang berlari kedalam gua dan memanggil suami beserta anaknya begitu ia menerima karung bibit dari kami.


Suami dan anaknya yang masih kecil ikut bersorak bahagia ketika melihat karung yang berada di tangan wanita itu. Mereka bertiga bergandengan tangan dan meloncat-loncat lalu berputar-putar seperti anak-anak kecil ketika baru saja mendapatkan mainan baru.


Juga ada warga lain yang sampai bersujud didepan kaki kami, sanking bahagia dan senangnya. Ada juga warga yang sampai memeluk kami senang dan tidak mau melepaskan pelukannnya. Membantu orang memang menyenangkan, benar kata orang. Bahagia itu bisa kita rasakan setiap saat, tetapi kebahagiaan itu akan terus bertambah ketika orang lain juga merasakan apa yang kita rasakan. Melihat orang lain bahagia sudah membuat diri kita sendiri bahagia.


Kami terus membagi-bagikan karung berisi bibit itu, hingga tak terasa semua karung di gua Kepala Desa telah habis dan jumlahnya pas. Semua gua di Desa Purba mendapatkannya. Tidak lebih tidak kurang.


Dari kejauhan terdengar seruan para warga yang balap-balapan mengucapkan banyak terima kasih kepada kami.


"Kalian akan membantu kami menabur bibit ini juga kan? Tidak lama kok. Hanya beberapa jam saja sampai tumbuh benih hingga siap di panen." kata seorang remaja wanita seumuran kami. Mungkin lebih tua sedikit.


"Hanya beberapa jam? Sudah dipanen?" Jasmine sontak bertanya karena terkejut. Sebenarnya Kepala Desa sudah memberitahu kami tentang hal ini ketika ia berceloteh tadi, tapi tetap saja kami terkejut karena kami pikir awalnya Kepala Desa hanya bergurau.


"Benar. Sistem ladang kami berbeda dengan ladang di desa lain. Ladang kami memiliki teknologi super canggih agar bisa menumbuhkan tanaman dengan cepat. Prosesnya sama hanya waktu berkembangnya saja yang lebih cepat berkali-kali lipat." jelas remaja itu.


"Baiklah, dengan senang hati kami akan membantu kalian." ujarku.


Kami membantu menaburkan bibit-bibit itu disetiap ladang warga. Kami baru menyadari bahwa perbatasan antar gua dibatasi oleh ladang-ladang dan lahan kosong. Sesekali terdapat jalan setapak di tengah-tengah ladang. Dan benar saja, setelah kami selesai menaburkan bibit-bibit itu ke semua ladang , ladang yang pertama kami taburkan bibitnya mulai memunculkan benih dan beberapa jam kemudian siap dipanen. Sungguh menakjubkan. Hanya kata itu yang ada dalam pikiran kami berempat. Coba saja kalau di dunia kami ladang juga dibuat seperti ini, maka petani tidak perlu repot-repot menunggu beberapa bulan agar tanamannya siap dipanen.