Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Bertemu dengan Kepala Desa



"Hah! Akhirnya! Sekarang apa yang akan kita lakukan terhadap para Robirmal ini?" seru Flash, menyengir dengan penuh kemenangan.


"Biarkan saja! Nanti juga mati sendiri terus jadi bangkai." Jasmine menyengir tidak kalah lebarnya dengan Flash.


"Tapi kalau mereka menjadi bangkai, bukankah baunya akan sangat menganggu para penduduk? Atau kemungkinan yang lebih parah, bangkai itu dapat mencemari sungai ini." kataku memperingatkan.


"Qlessie benar. Kita harus memindahkan mereka ke suatu tempat yang tidak akan berdampak buruk pada lingkungan. Percuma saja jika kita mengembalikan kondisi desa pada keadaan normal, bangkai-bangkai Robirmal ini bisa menganggu indra penciuman." Ken mendukung


"Tapi Ken, bagaimana cara kita memindahkan semua Robirmal-robirmal ini?" Flash bertanya dengan raut wajah tidak terima.


"Kan ada kau yang memindahkannya dengan angin hebatmu itu." Jasmime menjawab dengan raut wajah tanpa dosa.


"Aku??!!" nada bicara Flash meninggi dengan kata lain jika menilik dari wajahnya, ia sungguh keberatan.


"Tepat sekali! Maaf Flash kami tidak bisa membantumu, masalah kau akan memindahkannya dimana kita diskusikan dengan Hama, siapa tau saja dia tau tempat yang cocok untuk memindahkan para Robirmal ini."


"Hei! Aku belum setuju dengan hal ini. Bagaimana jika salah satu Robirmal berhasil terbang kembali saat aku membawanya?" tanya Flash masih dengan keberatan.


"Kondisi mereka pasti sudah tidak sebagus saat kita melawan mereka diawal, Flash. Tinggal kau serang sedikit, mereka pasti sudah pingsan kembali!" kataku menyengir.


"Sudahlah. Lain kali kami akan membantumu. Tugas ini lumayan untuk menurunkan perutmu yang mulai membesar itu." kata Ken, bergurau.


"Apa kau bilang?" Flash menatap Ken tajam.


"Bukan apa-apa. Lupakan!" kata Ken masih dengan menahan senyumnya begitu juga dengan kami.


***


"Hemmm...Aku tau tempat yang cocok untuk itu. Di dalam hutan ini ada beberapa daerah yang sudah kering dan tak terawat lagi. Dan kebetulan ada tempat seperti itu di dekat sini." kata Hama setelah kami memberitahunya tentang rencana kami.


"Bagus, seberapa jauh dari sini?" tanya Ken.


"Kurang lebih hanya tiga kilometer ketika kalian keluar dari desa ini." sahut Hama lagi.


"Nah, Flash! Jalankan tugasmu." kata Jasmine menoleh ke Flash.


Sedangkan yang sedang dipandang, hanya menghembuskan nafasnya kemudian berjalan kembali ke Sungai Pas untuk mengurus para Robirmal yang sedang sekarat. Entahlah apa yang akan dia katakan kepada Robirmal ketika sedang membawa mereka. "Dasar kau! Menyusahkanku saja! Kenapa kalian tidak memilili sedikit kesadaran dan berjalan sendiri sih?"


Aku tidak dapat membayangkannya. Menilik dari ekspresi wajahnya sekarang, tidak salah sebentar lagi dia akan mengomel panjang lebar.


"Ada yang punya ide agar kita bisa membantu para warga untuk mestabilkan kondisi desa ini?" tanya Ken memulai rapat pada pagi hari itu. Lebih tepatnya pagi menjelang siang.


"Kalau menurutku hanya Kepala Desa yang bisa mengatasinya. Bagaimana jika kita menyembuhkan Kepala Desa terlebih dahulu? Campur tangannya sangat dibutuhkan dalam hal ini." Jasmine mengusulkan.


"Aku mengerti. Langkah pertama adalah kita harus menyembuhkan Kepala Desa terlebih dahulu dengan teknik penyembuhan Qlessie. Baru setelah itu kita pikirkan langkah selanjutnya bersama Kepala Desa."


"Bagaimana dengan Flash?" tanyaku, karena mengingat bahwa anak itu sedang mengurus Robirmal.


"Dia mungkin akan kembali saat siang hari nanti. Sambil menunggu dia kembali, kita akan ke gua Kepala Desa dan menyembuhkannya. Kalau dia kembali akan ada Bibi Poh atau Hama yang memberitahunya agar segera menyusul kita " sahut Ken.


"Kalian akan ke kediaman Kepala Desa? Mau kuantar?" tanya Hama yang baru saja datang membawakan kami susu hangat.


"Baiklah! Minumlah susunya baru setelah itu berangkat. Gua Kepala Desa dekat. Kalian hanya perlu mengikuti jalan setapak yang di seberang sana itu." Hama menunjuk jalan kecil di seberang gua. "Kemudian jalan ke kanan sedikit, kalian akan melihat gua yang bewarna cokelat dan hijau disertai dengan tanaman rambat sebagai hiasannya, sangat mencolok. Kalian akan mudah menemukannya."


"Terima kasih, Hama!" ujarku.


Setelah meminum susu hangat, kami bertiga berpamitan kepada Bibi Poh dan Hama untuk pergi ke kediaman Kepala Desa. Sesuai instruksi Hama tadi, kita hanya perlu menelusuri jalan setapak, ke kanan dan sampai. Benar saja, gua itu ada disana, sangat mencolok dari yang lain. Bewarna hijau tua dan cokelat tanah. Guanya juga besar daripada gua yang lain dan gua tempat tinggal Bibi Poh.


Kami memasuki gua itu dan melihat perabotan yang ada di dalamnya. Walaupun dibilang sedikit, tetapi perabotan yang ada dalam gua ini lebih banyak ketimbang perabotan yang ada pada gua Bibi Poh.


Didalamnya sudah terdapat sebuah batu yang memang benar-benar didesain seperti sebuah kursi pada umumnya, lain halnya dengan punya Bibi Poh yang hanya sebuah batu pendek. Juga terdapat meja berbentuk lingkaran, tidak ketinggalan kaki-kakinya. Juga lantai batu yang diselimuti oleh karpet yang terbuat dari kulit hewan, juga hiasan-hiasan di dinding yang hampir semuanya berlukiskan hewan-hewan purba pada zaman dulu seperti dinasaurus pertama dan dinasaurus terakhir yang tinggal sebelum akhirnya punah.


"Maaf, kalian siapa?" kata seorang wanita muda yang kelihatannya adalah pelayan pribadi Kepala Desa.


"Kami datang untuk menjenguk Kepala Desa. Bisakah kami bertemu dengannya sekarang?" jawab Ken tanpa basa-basi.


"Baik, kearah sini, Tuan!" ujar pelayan itu.


Pelayan itu mengantar kami ke pojok gua yang disana terdapat sebuah dipan tua yang diatasnya terbaring lemah seorang pria lanjut usia, berbadan besar dengan rambut ubannya, pakaiannya yang terbuat dari kulit hewan yang sudah kusut, serta jenggot yang sangat panjang dan tak terurus. Dialah Kepala Desa. Walaupun penampilannya tidak seperti selayaknya, auranya tetap memancarkan aura sang pemimpin yang berwibawa.


"Bolehkah saya mencoba menyembuhkannya?" tanyaku meminta ijin kepada pelayan itu.


Pelayan itu terlihat terkejut dengan permintaanku yang sepertinya mustahil untuk dilakukan.


"Apakah anda seorang tabib? Kepala Desa hanya mengalami depresi berat dan hanya butuh istirahat. Kau akan menyembuhkannya seperti apa?" tanya pelayan itu, menyelidik.


"Bukan. Saya akan menyembuhkannya dengan cara yang berbeda. Kalau saya jelaskan nanti anda akan semakin bingung. Lebih baik saya menunjukkannya." ujarku menyakinkan pelayan tersebut.


Pelayan itu terlihat bimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk memperbolehkanku menyembuhkan Kepala Desa. Karena tidak ingin melewatkan kesempatan beharga ini, aku lansung menghampiri dipan Kepala Desa dan menyentuh lengannya.


Aku memberikan sugesti hangat yang kemudian aku salurkan ke seluruh tubuhnya. Dia tidak terluka, dia hanya depresi sehingga menyebabkan tubuhnya lemah dan jatuh sakit. Jadi tidak sulit menyembuhkannya, hanya menyalurkan energi tambahan saja dia pasti perlahan-lahan akan membaik.


Setelah selesai mengirimkan sugesti, Kepala Desa yang sebelumnya lemah, bahkan untuk membuka mata saja sulit mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Tangannya bergerak, matanya mengerjap-ngerjap. Dia mencoba untuk membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu kepada kami.


"A...aku mendengar se...semuanya. Te...terima kasih, anak muda!" ujar Kepala Desa dengan gagap karena kondisinya.


"Anda mau saya ambilkan minum, Pak?" tanya pelayan yang wajahnya kembali bersemangat ketika melihat majikannya telah pulih.


Kepala Desa mengangguk kepada pelayannya. Setelah pelayan itu pergi terjadi keheningan beberapa saat diantara kami semua. Kepala Desa ingin membiasakan tubuhnya kembali.


Tiga menit yang terasa satu jam berlalu. Kepala Desa membuka suaranya kembali.


"Siapa kalian? Dan darimana asal kalian?" itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Kepala Desa.


"Kami Satria. Kami berasal dari dunia luar. Keberadaan kami disini adalah dengan tujuan menjalankan ujian dan juga menyelesaikan misi untuk menyelamatkan dunia. Dan alasan lainnya kami datang ke kediaman anda adalah untuk membantu mengembalikan kondisi desa ini dalam kondisi seperti sedia kala." ujar Ken menjawab pertanyaan Kepala Desa.


"Benarkah? Kalian sungguh ingin membantu kami?" Kepala Desa tersenyum senang sekaligus menunjukkan ekspresi semangatnya memandang kami semua bergantian.


"Benar, kami datang kesini ingin berdiskusi lansung dengan Kepala Desa. Ijinkanlah kami membantumu." ujar Jasmine yang lansung ditanggapi Kepala Desa dengan senyum lebar dan pancaran sinar harapan dari mata indahnya.