
Aku terbangun dari tidurku ketika merasakan sinar terang menusuk bagian mataku dan diperjelas lagi dengan Hama yang meneriakkan nama-nama kami.
"Ken! Jasmine! Flash! Qlessie!" kata Hama dengan suara yang keras.
"Ada apa, Hama? Bukankah baru sejam yang lalu aku berjaga? Kenapa kau membangunkanku lagi?" kata Flash sambil menguap.
"Waktunya bangun! Matahari sudah berada di atas langit sedari tadi. Kita ambil air di Sumur Perak untuk kita bawa dalam perjalanan nanti."
Mendengar Sumur Perak disebutkan, membuat kami lansung tersadar. Tidak ada lagi kata setengah hidup-setengah mati. Kami benar-benar sungguh tersadar dari alam mimpi.
"Apa katamu? Me...mengambil air di sumur? Sumur Perak? Sumur yang ada rohnya itu? Roh yang kau ceritakan semalam?" tanya Flash bertubi-tubi.
"Iya, Flash!"
"Emm...Apakah roh itu tidak akan marah jika kita mengambil air di sumurnya pagi-pagi begini?" tanya Jasmine dengan mimik wajah khawatir dan takut karena tidak menduga bahwa kami akan menemui roh itu nantinya.
"Aku yakin dia justru akan senang nanti!" ucap Hama yang lansung beranjak pergi.
"Tun...tunggu, Hama!" seru Flash.
Kami semua beranjak berdiri dan mengikuti langkah Hama. Astaga! Aku benar-benar tidak menduga bahwa kami akan menemui roh itu. Memang benar kita adalah orang yang suka menonton atau membaca hal-hal yang berbau horror, tetapi menemui roh lansung? Di dunia asing? Sungguh hal yang tidak akan kami duga.
"Bukankah kalian sendiri yang bilang kalau kalian suka menonton apa itu namanya? Fim..." kata Hama lupa.
"Film horror!" perjelas Jasmine.
"Iya, tapi bertemu dengan roh lansung, kami sungguh tidak pernah!" ucapku menambahkan.
"Selama kalian bersikap baik, roh itu tidak akan melukai kalian. Percayalah!"
"Apakah itu sumurnya?" tanya Ken yang menunjuk ke arah depan dan membuat kami menoleh mengikuti arah tangan Ken.
Di depan sana terlihat tumpukan batu hitam disusun membentuk lingkaran dan sudah berlumut. Disebelahnya juga terdapat sebuah ember yang keliatannya digunakan untuk mengambil air. Ember itu mempunyai tali di bagian penyangganya dan tali itu dikaitkan di tiang di atas sumur.
"Ya, itu sumurnya! Ayo!"
Kata-kata Hama semakin membuat kami tegang. Bagaimana dia bisa sesantai itu?
"Siapa kalian semua? Ada perlu apa kalian datang ke daerahku? Apakah kalian mau mengambil air disini? Silakan! Ambil yang banyak! Ambil sebanyak yang kalian butuhkan! Kalau perlu habiskan saja airnya. Aku tidak masalah!"
"Su...suara apa itu?" tanya Flash ketakutan.
"Kurasa itu rohnya!" kataku.
"Lalu dimana rohnya? Di sebelah mana?" tanya Jasmine menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Dia berada dalam sumur!" kata Hama.
"Apakah roh itu tidak bisa keluar?" tanya Ken.
"Aku tidak pernah mendengar roh itu bisa keluar. Setauku dia dihukum oleh dewa dan rohnya dipenjarakan."
Kami mendekat ke arah sumur tersebut.
"Kami meminta ijin untuk mengambil air dari sumurmu. Kami harap kau tidak keberatan." Hama mengatakannya sambil berbungkuk seperti memberi hormat. Karena melihatnya begitu, kami pun mengikutinya.
"Ya, ya! Silakan! Dengan senang hati aku akan memberikannya." ucap roh itu dengan nada sinis.
"Tunggu! Kita akan menampung airnya dimana?" tanya Ken.
"Keluarkan botol kosong bekas susu kalian kemarin, Ken! Aku akan menggandakannya."
"Baiklah!"
Ken mengeluarkan botol itu sesuai perintah Hama. Hama memanggil tombaknya dan menggandakan botol itu menjadi sepuluh. Hama mengambil ember dan memasukannya kedalam sumur dan menariknya kembali mengunakan tali kemudian menumpahkannya kedalam botol. Hama mengulanginya sampai sepuluh kali.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu, kami permisi dulu!" ucap Hama ketika sudah selesai pada botol terakhir.
"Kalian hanya mengambil sedikit saja? Ayo ambil lagi, ambil yang banyak!" roh itu berbicara dengan nada yang memaksa.
"Maaf! Tapi kami hanya butuh ini saja! Terima kasih." ucap Hama yang kemudian menyuruh Ken untuk memasukkan botol-botol itu kedalam karung.
"Baiklah, kalau begitu aku ingin memberikan sesuatu! Hei, kau yang berbaju biru, mendekatlah!"
"A...Aku?" aku menunjuk diriku sendiri.
"Sepertinya. Hanya kau yang menggunakan baju biru disini!" kata Jasmine mengangguk-angguk khawatir.
"MENDEKATLAH!" roh itu berteriak.
Akhirnya aku mendekat tepat dipinggir sumur itu.
"Qlessie, hati-hati!" peringat Ken cemas. Aku mengangguk dan menatap air dalam sumur tersebut. Tiba-tiba aku merasakan ada yang aneh sedang berada di sekitarku, bulu kudukku berdiri. Aku merasa cemas, apa yang mau dilakukan roh itu kepadaku?
Aku tegang, menunggu roh itu berbicara kembali. Kesiur angin kencang menerobos tubuhku, seperti ada yang masuk. Aku merasakan bagian dalam dadaku sesak dan panas, kurasa karena tegang aku menjadi seperti kehilangan oksigen. Lalu tadi itu apa yang masuk kedalam tubuhku?
"Qlessie, kau baik-baik saja?" tanya Ken.
"Eh? Tentu! Aku baik-baik saja!"
"Kau kelihatan seperti sesak nafas dan wajahmu pucat. Kau yakin baik-baik saja?" tanya Ken lagi.
"I...iya! Aku baik-baik saja! Roh itu mau apa?" tanyaku.
"Dia tidak mengucapkan apa-apa dari tadi, apa kau merasakan sesuatu?" tanya Jasmine.
"Aku hanya tegang, itu saja!"
"Ya sudah! Kita lanjutkan perjalanan kita." kata Hama.
Kami semua mengarah ke arah barat, meninggalkan Sumur Perak. Dalam perjalanan kami hanya diam, karena Hama bilang sebelum menuju ke jalan utama, kita harus tetap waspada dan memperhatikan sekitar dengan baik.
"Apakah kau merasakan bahaya, Hama?" tanya Ken.
"Sebelum kita sangat jauh dari Sumur Perak, kita harus tetap berhati-hati. Sanking misteriusnya sumur itu membuat daerah di sekitarnya juga terkena dampaknya."
"Apa dampaknya?" tanyaku.
"Memanggil arwah makhluk lain." kata Hama yang membuat kami berempat terkejut bukan main. Jadi di sekitar kami sekarang terdapat arwah yang sedang bergentayangan?
"Dua puluh kilometer dari sini terdapat sebuah desa yang lumayan besar bernama Desa Purba. Mungkin disitulah kalian akan menjalankan ujian kalian selanjutnya!"
"Apakah ujiannya bertarung?"
"Kalau soal itu aku tidak tau, aku hanya menghafal seluruh bagian -bagian dari Hutan Misteri, tapi aku kurang tau tentang apa saja adat kebiasaan mereka..."
"Apakah kita tidak makan pagi? Aku lapar!" kata Flash.
"Kita berjalan lima kilometer lagi baru setelah itu makan." kata Hama.
"Baiklah!" ucap Flash pasrah.
"Seandainya saja kita bisa berteleportasi. Pasti akan seru!" kata Jasmine.
"Kalian mau teleportasi?" ucap Hama menoleh ke arah kami.
"Emang bisa?" giliran Flash bertanya.
"Bisa saja! Tapi kita harus selalu berpegangan tangan, dan jangan sampai terlepas. Kalau kita terpisah kan bisa gawat!"
"Okeh! Hanya berpegangan tangan kan? Mudah!" kata Flash dan lansung mengambil tangan Ken dan Jasmine yang berada di kanan dan kirinya. "Maaf Qlessie! Aku tidak bisa memegang tanganmu, aku tidak memiliki tiga tangan, aku hanya memiliki dua tangan. Kau bergandengan dengan Ken saja!"
Aku melotot ke arah Flash. Siapa juga yang mau bergandengan tangan dengannya? Dasar! Jadi orang kok kepercayaan dirinya tingkat surga.
"Baik! Kau pegang tanganku, Jasmine!" kata Hama yang dilanjutkan dengan ia yang memanggil tombaknya untuk datang. "Bersiaplah, teman-teman!"
"Ayo!" kata Ken lalu mengambil tanganku yang masih berada di bawah. Aku pun tersenyum dan menggengam erat tangan Ken.
Hama mulai mengayunkan tombaknya dan dalam sekejap kami melompat kesana kemari. Hilang muncul seperti hantu dalam wujud kereta.
"Kalau begini, kita lansung menuju desanya aja ya! Aku akan menambahkan kecepatan teleportasinya menjadi lima kilometer dalam sekali teleportasi."
"Siap!" kata Flash.
Tapi entah kenapa, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Kira-kira apa ya?