
Saat kita semua selesai mengucapkan kalimat itu, tubuhku terasa seperti dibawa oleh angin, terasa ringan sekali. Ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di dalam hutan yang lebat, penuh dengan pohon dan tanaman hijau lainnya, tetapi suasana di hutan ini sangat seram dan sesuai namanya hutan ini penuh dengan misteri, bau-bau kemisteriusan mulai memasuki hidungku. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, disekitarku tidak ada siapa-siapaa selain aku seorang diri. Apa yang terjadi? Bukankah aku tadi datang bersama Jasmine, Flash, dan Ken? Mengapa sekarang mereka tidak ada ? Apa mereka meninggalkanku?
Pikiran-pikiran itu memenuhi kepalaku sepuluh menit terakhir, sampai akhirnya aku memutuskan untuk menyusuri hutan dan memanggil nama-nama mereka.
"KEN!JASMINE! FLASH! "
Terdengar sahutan dari berbagai arah memanggil namaku. Dan itu adalah suara mereka. Aku tidak tau harus mengarah ke suara yang mana, karena arah suara itu berasal sangat tidak jelas. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke arah kanan.
Saat aku hendak melewati dua pohon yang berhadapan, badanku terpelanting dengan sendirinya ke belakang, seperti ada sebuah tembok besar yang menghalangiku untuk melewati tempat itu. Kucoba sekali lagi, namun hasilnya tetap sama.
Aku memutar otakku dan mengingat artefak milikku. Mungkin caranya sama seperti saat masuk ke hutan ini. Kurubah artefakku menjadi Magic wand dan menempelkannya ke sela-sela dua pohon itu.
Terdengar bunyi letusan air, dan kulihat Ken berdiri dengan wajah yang terkejut, yang kemudian sebuah senyuman tipis terukir di wajah tampannya. Aku cukup terkejut dengan yang Ken lakukan selanjutnya, walaupun dia sudah pernah melakukannya sekali, tapi tentu saja ini membuatku terkejut ketika ia tiba-tiba memelukku. Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa, pada akhirnya aku memilih diam dan membiarkan Ken memelukku.
"Huh! Syukurlah! Kukira aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi, Qlessie! " ucap Ken dengan lirih.
"Eh? Kenapa kau berpikir seperti itu? " tanyaku bingung.
" Selama 1 jam terakhir, aku selalu mencari cara untuk melewati penghalang sialan itu! Maka dari itu, ketika aku melihatmu, aku terkejut dan senang . Dan, eh... maaf aku memelukmu secara tiba-tiba." ucap Ken seraya melepas pelukannya.
"Tidak apa-apa,Ken! Aku tidak masalah kok! Lagipula aku juga cukup nyaman dan senang." ucapku tanpa sadar.
"Tadi kau berkata apa,Qlessie? " tanya Ken menyelidik.
"Bodoh!Kenapa aku bisa kelepasan bicara sih?! " ucapku dengan pelan, tetapi Ken masih bisa mendengarnya.
Aku melihat Ken terkekeh dan entah menahan tawa atau tersenyum. Astaga, aku yakin wajahku sudah persis seperti kepiting rebus sekarang.
"Eh? Lupakan....Lupakan! Aku tadi salah bicara! Sekarang masalahnya, dimana Jasmine dan Flash?!" tanyaku mengalihkan topik percakapan. Rupaya pertanyaanku berhasil membuat raut wajah Ken berubah serius.
"Emm...Qlessie, bagaimana caramu memecahkan penghalang tadi?"
"Aku mengaktifkan artefak dan merubahnya menjadi senjata, lalu menempelkannya di sela-sela pohon itu." kataku menjelaskan.
"Waw, bagaimana bisa kau berpikir cara seperti itu? Tubuhku bahkan sudah sangat sakit, terpelanting berulang kali ketika aku mencoba menembus penghalang itu."
"Emm... Aku hanya teringat bagaimana cara kita masuk ke tempat ini!"
"Baiklah, tadi aku mendengar suara Jasmine dan Flash dari arah jarum jam 3 dan jarum jam 9, coba kau ke arah jarum jam 3 sedangkan aku ke arah jarum jam 9!" kata Ken dengan mantap tapi lembut.
Aku mengangguk dan berlari ke arah jarum jam 3, ketika aku menempelkan Magic Wand ke sela-sela pohon, terdengar suara gelembung air meletus dan munculah Jasmine, yang dilanjutkan dengan ia yang memelukku. Lagi? Why? Selalu saja aku mendapat pelukan secara tiba-tiba! Untung saja bukan Flash, jika itu dia maka wajahnya sekarang sudah tidak berbentuk lagi.
"Untunglah ada kau, Qlessie! Jika tidak aku pasti sudah menjadi orang gila sekarang!" kata Jasmine setelah melepas pelukannya.
"Hehe.....Ada-ada saja!" balasku.
"Baiklah, sekarang dimana Flash dan Ken?" tanya Jasmine.
"Ikuti aku saja!" kataku santai.
Aku melangkah menuju arah jarum jam 6, tempat aku menemukan Ken tadi. Ketika kita sudah tiba, disana juga sudah ada Ken dan Flash. Ya seperti biasa, Flash mengoceh, bertanya ini itu, mengomentari dan tidak ada habisnya selain bicara, bicara, dan bicara.
"Hah! Itu mereka! Qlessie,Qlessie bagaimana bisa kau mendapatkan ide gemilang itu? Mengubah artefak menjadi senjata untuk memecahkan penghalang? Apakah kau cenayang? Tidak mungkin kan, kau tiba-tiba hanya mengingat cara kita masuk ke tempat ini? Tidak mungkin otakmu sejenius itu, perasaan di kelas nilaimu rata-rata hanya 70,80,90! Bahkan Ken yang nilainya 90,95,100 saja tidak terpikirkan cara sesederhana itu!" kata Flash mengintrogasiku.
"Oh! Jadi kau menyindirku begitu? Hah! Enak saja! Lihatlah, nilaimu sendiri saja hanya 10,20,30!" ucapku tidak terima.
"Aduhh! Mengapa kau malah fokus ke bagian itu, Qlessie?! Yang harus kau jawab itu adalah bagaimana caramu mendapatkan ide itu?" tanya Flash sekali lagi.
"Flash, bisakah kau berhenti bertanya? Tidak bisakah kau hanya bertanya sekali, berkata waw, dan selesai? Aku beritau ya, ide itu muncul secara tiba-tiba dan bisa terjadi kepada siapapun. Jadi tolong jangan banyak tanya lagi! " ucap Jasmine dengan kesal.
"Nah, tuh dengerin! Aku sendiri saja sudah lelah menghadapi ocehanmu dari perjalanan tadi hingga saat ini! Entah aku kerasukan apa, sampai bisa bertahan berteman denganmu, Flash! Bertahun-tahun lagi! " ucap Ken seraya memegang dahinya.
" Cih! Iya,iya! Dan ada apa dengamu, Jasmine? Apa kau tidak penasaran? " tanya Flash untuk kesekian kalinya.
"Arghh! Sudahlah Flash! Kau ini!!!!!Aku bahkan tidak peduli lagi , jika Qlessie mengeluarkanku dengan cara kotor sekalipun! Yang penting aku selamat saja, sudah bersyukurnya minta ampun! Seharusnya kau juga seperti itu Flash! Bukannya banyak tanya seperti wartawan televisi." balas Jasmine.
"Ternyata tidak buruk juga! Kalian berhasil melewati ujian pertama! " ucap seorang nenek yang berusia sekitar 60-an dan berdiri di hadapan kami.
Sontak saja, kami berempat lansung menoleh ke sumber suara .
"Kalian tidak perlu tau siapa aku, yang jelas kalian akan benar-benar memasuki Hutan Misteri sekarang! "
"Hah! Jadi kita ada dimana sekarang?"
"Kalian berada di pintu masuk Hutan Misteri! Dan kalian baru saja melewati ujian pertama dari hutan tersebut."
"Astagaa, baru ujian pertama saja, sudah sesulit ini? Bagaimana dengan ujian selanjutnya? " Protes Flash.
"Cih! Manusia zaman sekarang, mentang-mentang zaman sudah modern mereka selalu mencari cara paling sulit untuk menyelesaikan sebuah masalah, padahal dibalik semua itu mereka lupa, bahwa seharusnya kita hanya memikirkan cara paling sederhananya saja!" ucap nenek tua itu lagi.
Kini kami semua terdiam dan saling menatap satu sama lain.
" Kecuali kau, Qlessie! Kau memang berbeda dari yang lain!Kau spesial! " ucap nenek tua itu dengan nada yang serius.
Aku merasa deja vu mengingat satu kata tersebut" spesial" Ya, entah Master Geor yang berkata atau nenek tua ini.
"Kunci untuk keberhasilan ujian ke-2 adalah hal paling kecil dan sederhana! Selalu ingat itu anak-anak! Kita harus selalu merendahkan diri kita dan hidup dalam kesederhanaan."
"Geor benar! Tim kalian berbeda dengan tim-tim pada generasi sebelumnya! "
" Terkadang kita hanya perlu sebuah pemahaman kecil, untuk menerima sebuah kenyataan! "
"Itu bukan petunjuk, melainkan kata-kata bijak yang harus kalian ingat setiap saat! Selamat berjuang semuanya!" ucap nenek tua itu untuk terakhir kali dan lansung menghilang bagai debu.
Lagi-lagi aku merasa deja vu, keadaan ini sama persis dengan hari itu, hari dimana Master Geor memberikan artefak itu kepadaku, artefak yang mengubah segalanya. Eh tunggu, bagaimana nenek ini mengenal Master Geor?
"Apa maksud nenek tua itu? " tanya Flash.
"Ya, yang pastinya misterius! Buktinya saja nenek itu mengenal Master Geor! " kata Ken.
"Apakah dia penjaga hutan ini?" tanya Jasmine khawatir.
"Sejak kapan hutan dijaga manusia, Jasmine? Yang ada itu, hutan dijaga oleh makhluk halus yang tak tau diri! " ucap Flash sok tau.
"Jangan sok tau deh! Kau sih, kebanyakan nonton film horror! " balas Jasmine.
"Aku mulai berpikir, apakah nenek itu istri Master Geor? " tanya Flash lagi.
"Tidak tau! " jawabku.
" Tapi Master Geor tidak pernah cerita bahwa ia punya istri, mungkin saja nenek itu sudah berusia ribuan tahun seperti Master Geor, dan keperawakan aslinya adalah manusia berumur 40 tahunan! " ucap Ken.
Selama 5 menit kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Lalu Flash mulai bicara kembali.
"Oh ya, Qlessie! Aku ingin bertanya lagi, kenapa kau berani sekali memanggil nama-nama kami, saat kita masih terselubung penghalang sialan tadi? " tanya Flash.
"Maksudnya? " tanyaku bingung.
"Ya aku sendiri saja takut bergerak apalagi berbicara! "
"Sama aku juga! Sebenarnya aku mengikuti kata-kata Ken sih! Ken pernah bilang dalam situasi apapun kita harus diam. Dan dia juga selalu berkata "Shttt! Silent is golden! " Jadi ya aku hanya diam saja tadi! " kata Jasmine.
Aku mengeryitkan dahi dan menoleh ke arah Ken. Apa maksud perkataanya itu? Silent is golden?? Tidak masuk akal!
"Emm.... Sekarang bagaimana cara kita melanjutkan ujian keduanya? " kata Ken mengalihkan topik percakapan.
Dan pertanyaan itupun terjawab, kami berempat pusing bersamaan dan jatuh pingsan. Kurasa dalam setiap ujian kita harus pingsan dulu baru bisa memulai ujian selanjutnya. Aduh!!
💗💗💗
Halo semuanya!! Tidak terasa ELEMENT sudah mencapai 10 Chapter. Terima kasih untuk dukungan kalian semua yang sudah mengikuti dan membaca ELEMENT dari Chap 1 sampai Chap 10.
Author hanya ingin menyampaikan bahwa, author akan hiatus dan akan kembali di bulan juni mendatang. Tidak diketaui pasti tanggalnya, tapi kalian tunggu saja ya! Jaga kesehatan dan terus semangat! Bye-bye and see you next time! I love you 😘😘💗
Bagi yang ingin mengenal author boleh mengunjungi instragam saya di @cherylanne__clarecia