
"Ini sudah menit keberapa?" tanya Flash.
"Baru 7 menit." ucap Hama.
"Ck...Boleh duduk?"
"Boleh saja!"
"Kenapa enggak dari tadi?" gerutu Flash dan lansung duduk di tanah, diikuti kami semua.
"Kenapa kita tidak kabur saja?" tanya Jasmine.
"Percuma, serigala itu akan mengejar kita. Lebih baik tunggu saat dia menjadi Serigala Orange, serigala dengan mode penakut. Ia akan berlari sendiri menghindari kita!" jelas Hama.
"Hemmm.....Buang-buang waktu dong kalau begitu! Toh, akhirnya serigala itu kabur!" Flash bergumam.
"Tinggal 8 menit lagi bertahan aja! Cuma sebentar kok!" kata Hama lagi.
"Cuma sebentar? Apakah kau tidak lelah menunduk seperti ini?" tanya Flash lagi.
"Tidak tuh! Desa kami memang melatih kekuatan fisik kami dari saat kami masih sangat kecil, itu karena kita tidak memiliki kekuatan apapun dan seperti cerita ayahku tadi, peristiwa penyerangan Desa HOAM yang terjadi 500 tahun lalu menewaskan banyak penduduk, sehingga sejak saat kita sudah berada disini mereka menjadi semakin waspada dan sangat waspada."
"Oh! Pantas saja saat kita datang kemarin mereka lansung menyerang kita tanpa sebab." kata Jasmine.
"Kemarin? Kejadian itu sudah seminggu yang lalu." Hama menjawab enteng tapi masih menundukkan kepalanya.
"A...apa kau bilang? Seminggu...yang lalu?" tanya Jasmine dengan terkejut dan tanpa sadar menoleh ke arah Hama dan tidak sengaja juga menatap mata serigala itu.
"JANGAN DILIHAT!" teriak Hama.
"Eh?Eh?" Jasmine tersadar karena teriakan Hama dan lansung menundukkan kepalanya kembali.
"Apa yang kau maksud dengan seminggu yang lalu, Hama? Lalu apa yang kami lakukan selama seminggu ?" tanyaku.
"Pingsan."
"Tidak ada yang kami lakukan sama sekali selain pingsan? Jalan sambil tidur gitu?" tanya Flash.
"Tidak. Seminggu penuh kalian hanya pingsan, pingsan, dan pingsan."
"Bagaimana kau tau kalau kami hanya pingsan?" tanya Flash lagi.
"Karena yang menjaga kalian itu kan hanya aku."
"Apa kami pingsan itu karena sesuatu yang diberikan orang-orang yang menyerang kami waktu itu?" Ken bertanya.
"Emm... Ya!"
"Emang itu apa?" kali ini aku yang bertanya.
"Serbuk sinar emas. Serbuk itu bisa membuat orang pingsan untuk waktu yang lama."
"Apa serbuk itu hanya berlaku bagi manusia?" tanyaku lagi.
"Ya serbuk itu dibuat khusus untuk manusia dari dunia luar, baik yang memiliki kekuatan ataupun tidak. Kami yang sudah tinggal menetap di hutan tidak akan terpengaruh apa-apa."
"Orang-orang disini memang semuanya misteri ya!"gumam Flash.
"Semua yang tinggal disini memang misterius, oleh sebab itulah dinamakan Hutan Misteri!"
"Kalau boleh tau, kalian kan tidak memiliki kekuatan, tapi mengapa saat kita melawan Serigala Merah, tombak ditanganmu tiba-tiba muncul?" tanya Ken.
"Tombak itu sudah terikat denganku, jadi aku hanya memanggilnya lewat pikiran, maka tombak itu akan terbawa angin dalam mode menghilang lalu muncul di tanganku."
"Kalau tombak itu dibawa angin, seharusnya aku bisa merasakannya bukan?" kata Flash.
"Kekuatan kalian masih belum seberapa, kalian terlalu fokus ke serigala itu dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar."
"Owh! Tinggal berapa menit lagi sekarang?" tanyaku kepada Hama.
"3 menit."
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanyaku lagi.
"Aku menghitungnya."
Kami berempat terkejut tetapi masih bisa mengendalikan diri.
"Serius??" tanya Jasmine.
"Iya..."
"Saat kita mengobrol kau masih bisa menghitung?" tanya Ken.
"Iya!"
"Kau berhitung 1-900 detik?" tanyaku
"Iyaa..."
"Kau pasti pandai matematika ya?" tanya Jasmine.
"Apa itu matematika?" tanya Hama bingung.
"Matematika itu nama pelajaran berhitung di sekolah."
"Sekolah? Sekolah itu apa?"
Kami berempat mengeryitkan dahi, bingung.
"Oh, tempat itu! Kami juga punya tempat seperti itu, namanya Losen. Tapi disana kami hanya diajarkan tentang lingkungan dan berhitung."
"Hanya itu saja?" tanya Ken.
"Tidak diajarkan bahasa-bahasa lain?" tanyaku.
Hama menggeleng.
"Kami sudah punya serbuk penerjemah, jadi tidak perlu lagi untuk mempelajari bahasa lain."
"Ooh"
"Siap-siap! Waktu kurang 30 detik lagi! Kemungkinan serigala itu akan berubah menjadi Serigala Coklat, serigala dengan sifat rakus." kata Hama yang kemudian berdiri diikuti kami.
Tidak ada yang bersuara lagi, kami semua tegang menunggu 30 detik selesai.
"5...4...3...2...dann...1!"
Serigala di depan kami merubah warna tubuhnya menjadi coklat tua, sifat manis yang dapat menghipnotis kami berubah menjadi galak dengan adanya taring yang ia keluarkan. Serigala itu menggertakkan giginya lalu menjulurkan lidahnya dan menatap kami tajam.
Serigala itu menerjang kearah Ken. Bukan, ia tidak mengincar Ken tetapi mengincar karung yang dibawa Ken.
Ken menghindar, dan membuat serigala itu semakin buas.
"Hei! Hei! Ini bukan daging! Hush!Hush!" usir Ken.
"Serigala itu pemakan segala! Tidak peduli daging atau bukan!" kata Hama.
"Terus bagaimana?"
"Berikan beberapa buah aja, Ken!" kataku.
Ken mengambil satu buah pisang dan melemparkannya ke arah serigala. Serigala itu melahap habis buah itu dalam sekali telan. Kali ini Ken melemparkan 10 buah pisang sekaligus ke arah Serigala.
Lagi-lagi satu buah pisang dia habiskan dalam sekali telan, sehingga 10 buah pisang itu habis dengan cepat, tidak sampai 2 menit.
"Persediaan buah-buahan kita akan habis kalau begini!" kata Ken.
"Emm...berikan roti aja!" usul Jasmine.
Ken melemparkan 3 helai roti ke serigala, dan kali ini dia lansung melahap habis 3 helai itu dalam sekali telan.
"Aduhhh!!!" keluh Flash.
"Apakah di sekitar sini tidak ada pohon buah?"
"Ah! Aku melihat pohon apel disana!" ucap Flash.
"Bagaimana kita mengambilnya?" tanya Jasmine.
Flash menatap buah apel yang ada di semua pohon itu, ia mengeluarkan angin berniat menjatuhkan buahnya dari atas pohon. Semua buah apel itu jatuh ke tanah,Flash kembali memanggil angin dan membawa semua apel itu ke arah kami. Flash melemparkan apel itu ke serigala yang sedang dilawan Ken.
"Thanks, Flash!" kata Ken.
"Kita menunggu lagi nih?" tanya Flash.
"Ya, begitulah!" kata Hama.
"Sisa berapa menit?" tanya Jasmine.
" 10 menit."
"Serigala itu tidak akan berbuat apa-apa selama kita memberikannya makan kan?" tanyaku.
"Ya...dia rakus dan bisa menjadi ganas seperti Serigala Merah. Tetapi selama kita memberinya makan dia tidak akan menyerang kita."
"Apakah serigala itu akan menghabiskannya dalam waktu 10 menit? Atau kurang dari itu?" tanya Ken.
"Aku tidak tau, kita tunggu saja! Kalau itu terjadi maka terpaksa kita akan menyerangnya."
Kami menunggu dengan tegang , serigala itu lahap sekali makannya. Kami takut kalau serigala itu akan menghabiskannya sebelum 10 menit berlalu.
"Kurang berapa menit?" tanyaku.
"4 menit." kata Hama.
"Apakah dia tidak kenyang makan apel sebanyak itu?" tanya Flash.
"Dia serigala bersifat rakus, jadi kecil kemungkinan dia akan kenyang." kata Hama.
Kami menunggu lagi, lagi, dan lagi. Semakin berkurang apel dihadapan serigala, semakin kami tegang akan waktu.
"Berapa menit lagi?"
"15 detik lagi."
"Seharusnya cukup kan? Kurang 10 apel lagi yang belum dia makan."
"Kurasa cukup."
Dan saat yang ditunggu pun tiba, serigala itu merubah warna tubuhnya menjadi Orange. Serigala yang semula rakus berubah menjadi sangat penakut. Ketika ia melihat kami, ia lansung berlari-lari menjauh dan melolong keras.
"Akhirnya! Bye-bye! " kata Flash menyengir dan melambaikan tangannya ke arah hilangnya serigala itu.
Kami semua kembali melanjutkan perjalanan kami yang sempat terhenti. Perjalanan yang seharusnya bisa kami tempuh sangat jauh malam ini menjadi harus dilanjutkan keesokan harinya.