Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Bibi Poh yang misterius



"Hama? Apakah itu kau? Rasa rindumu padaku begitu besar ya? Seingat Bibi kau sudah mengunjungi desa ini beberapa bulan yang lalu bersama Ayahmu bukan? Atau memang Bibi saja yang tidak rindu padamu?" kata Bibi Poh begitu kami sampai di depan gua yang tentunya berada di Desa Purba yang asli. Desa Purba yang sesungguhnya. Tanpa ilusi dan tanpa kebohongan.


"Hahaha, Bibi bisa saja! Sekarang buatkan kami sup sayur dan daging panggang andalan Bibi itu. Jangan yang bohongan ya? Kami sudah kesal makan makanan ilusi." balas Hama seperti seorang anak yang merengek meminta sesuatu pada ibunya.


"Makan makanan ilusi? Maksudnya?" Bibi Poh dibuat bingung dengan pernyataan Hama.


"Ceritanya panjang, Bibi! Nanti sambil makan, akan kuceritakan. Janji!"


"Baik, baiklah! Apakah kau tidak mau memperkenalkan teman-teman barumu kepada Bibi? Mereka kelihatannya asing, dan pakaian mereka aneh. Apakah mereka baru saja diasingkan disini?" Bibi Poh masih saja bertanya.


"Aduhhh, Bibi! Nanti saja saat makan akan kami ceritakan perinci bagian-bagiannya. Dijamin detail!" ucap Hama lagi dengan nada dibuat-buat. Rasanya hubungan kedua orang ini memang lebih dari sekedar kerabat jauh.


"Sifatmu ini rupanya masih sama saja seperti saat kau masih berusia delapan tahun. Bibi sampai sekarang tidak percaya usiamu hampir tujuh belas tahun sebentar lagi. Lihatlah! Kau memaksa Bibi seperti Bibi ini ibumu saja!" Bibi Poh menggelengkan kepalanya.


"Kau memang ibuku kan? Ibu tak sedarah itu biasanya lebih dekat." balas Hama tak mau kalah.


"Debat dengan kau memang tak ada habisnya. Ya sudah, suruh teman-temanmu masuk dan duduk. Bibi akan buatkan apa yang kau minta." kata Bibi Poh yang setelah itu pergi meninggalkan kami.


"Kau dan Bibi Poh sejatinya memang seperti itu ya?" tanya Flash saat Bibi Poh sudah menghilang di baling bayangan.


"Emm...Ya! Bukankah aku sudah pernah bilang kalau hubungan kami jauh melebihi hubungan seorang ibu dan anak."


"Mudah-mudahan makanan kali ini bukan lagi ilusi. Aku pasti akan pingsan jika itu terjadi. Lelah tau, menahan lapar seperti ini. Apalagi kita habis bertarung melawan kelinci raksasa pemarah tak berwujud itu." Flash mengeluh sendiri.


"Kelinci raksasa pemarah tak berwujud? Maksudnya tak berwujud?" tanya Jasmine menanggapi Flash.


"Ya, kelinci itu kan wujudnya gak jelas! Tadi saat mengejar kita kecil seukuran kelinci normal, saat melawan kita malah besar seperti gajah dewasa. Kelinci aneh!" kata Flash menahan rasa kesalnya.


"Itukan kesalahan kau sendiri! Kalau kau tidak mengejek kelinci itu, dia tidak akan berubah menjadi gajah seperti itu kan?" kata Jasmine masih mencoba bergurau dengan Flash.


"Sebelum gurauan berubah menjadi musibah, sebaiknya kita semua masuk dan menunggu makanannya siap." ucap Ken ikut bergurau.


"Apa maksud perkataanmu itu, Ken? Kau mau kubuat gosong seperti Flash waktu itu ya?" ancam Jasmine.


"Tentu saja tidak! Orang bodoh mana yang mau gosong? Ckck..." balas Ken yang setelah itu menarik tanganku untuk masuk kedalam gua bersamanya.


"Siapa yang menyindir siapa?" Jasmine menyengir.


***


"Jadi begitu ceritanya. Menurut dugaan kami sih desa itu hanya memanfaatkan kami untuk mengusir burung-burung aneh itu." kata Hama mengakhiri ceritanya kepada Bibi Poh.


"Desa ilusi itu memang sudah menjadi perbicangan hangat di desa ini dan desa-desa lainnya. Desa ilusi tersebut sudah sering menyamar sebagai desa lain dan membuat banyak orang tertipu seperti kalian."


"Contohnya, beberapa hari lalu Paman Pati sedang ingin menjual barang dagangannya ke Desa Muju, tetapi saat diperjalanan, permasalahannya sama dengan kalian. Lokasi Desa Muju tidak berada di tempat yang seharusnya. Lokasi Desa Muju maju sepuluh kilometer dari yang biasanya. Paman Pati menganggap mungkin itu hanya perasaanya saja, atau tidak, mungkin dia salah menghitung jaraknya."


"Apalagi di desa itu juga tidak ada keanehan sama sekali. Dupa memang sudah menjadi ciri khas desa tersebut. Jadi Paman Pati menganggap itu hal biasa. Begitu ia selesai menjual barang dagangannya dan keluar dari desa itu, desa itu menghilang bagai sebuah cahaya lampu yang tiba-tiba mati. Uang hasil jualannya juga menghilang dalam saku bajunya."


"Paman Pati rugi besar dan kehilangan modal untuk membeli bahan dagangan bulan ini. Para warga yang lain juga tidak dapat membantu, karena desa ini juga sedang mengalami musibah." jelas Bibi Poh panjang lebar seperti kereta sepuluh gerbong.


"Musibah apa yang terjadi kepada desa ini, Bibi Poh?" tanyaku dengan sopan.


"Burung-burung aneh yang kalian ceritakan itu bernama Robirmal. Sayapnya seperti Pterosaurus, sedangkan wajahnya seperti manusia normal pada umumnya. Robirmal ini memakan habis hasil panen bulan ini. Banyak warga pula yang resah dan juga gelisah dengan kejadian ini. Kondisi keuangan mereka sangat buruk, sehingga buat makan sekarang pun mereka hanya bisa memakan sayur sisa panen beberapa bulan lalu."


"Kepala Desa juga sama pusingnya dengan hal ini, dia bahkan sudah jatuh sakit sejak dua hari lalu. Situasi ini semakin membuat kritis desa ini tanpa Kepala Desa yang mengurusnya." jelas Bibi Poh lagi.


"Jadi alasan desa itu memberikan ujian kepada kami apa? Bukan semata-mata hanya iseng kan?" tanya Jasmine memastikan keadaan.


"Desa ilusi akan memberikan apa yang kalian inginkan, tetapi keinginan itu tidak bisa dimiliki selamanya. Kalian ingin mendapatkan ujian, maka desa itu memberikannya. Kalian ingin mendapatkan uang desa itu juga akan memberikannya. Tetapi seperti tadi, itu hanyalah ilusi semata. Hanya itu yang Bibi ketahui dan Bibi dengar. Entahlah, mungkin ada yang tidak Bibi ketahui atau Bibi melupakan sesuatu mungkin." jelas Bibi Poh sekali lagi.


"Apakah ujian kami yang sesungguhnya adalah melawan Robirmal dan mengembalikan desa ini dalam situasi normal?" tanya Ken ragu-ragu.


Bibi Poh mengangguk.


"Kapan kita akan memulai ujiannya?" tanyaku setelah menghela nafas pelan.


"Itu pilihan kalian. Kalau ingin memulai ujiannya kalian bisa menemukan Robirmal di belakang taman dekat Sungai Pas. Sebentar lagi mereka akan datang." jawab Bibi Poh.


"Kita beneran mulai sekarang?" tanya Flash menoleh ke kanan dan ke kirinya. Memastikan kebenaran.


"Kalau aku pribadi sih, mau mulai kapanpun ya siap-siap saja!" kata Jasmine.


"Aku juga setuju dengan Jasmine." ucapku.


"Ken?" panggil Jasmine


"Kalau kalian siap aku siap!"


"Kau?" panggil Jasmine yang ditujukan kepada Flash.


"Emmm...aku sih ya ikut-ikut saja. Kemanapun kalian pergi, aku juga ikut." kata Flash.


"Kalau begitu tunggu apalagi? Kita lawan sekarang saja!" kataku.


"Benar. Lagipula kita sudah tau bagaimana cara melawan mereka. Yaitu, dengan geruji tajam es milik Qlessie." kata Ken dengan menunjukkan kedua ibu jarinya.


"Kekuatan Robirmal juga berbeda-beda. Tergantung kondisi tempat yang akan mereka serang. Jika sebelumnya kalian menyerang mereka di desa ilusi maka kekuatan mereka saat itu masih sangat rendah. Desa kami asli, dapat dilihat orang dan menetap di tempat. Kemungkinan kekuatannya akan lebih besar dari yang kalian hadapi sebelumnya." kata Bibi Poh yang sukses membuat semangat kami yang membara menjadi redup.


"Ya sudah besok saja!" kata Flash sedangkan Jasmine, Ken, dan aku hanya mengangkat bahu, bingung.


"Dimana jiwa Satria kalian? Kalau menghadapi Robirmal yang lebih kuat saja kalian ragu-ragu. Musuh yang akan kalian target justru lebih kuat dari Robirmal ini. Benar kan?" ucap Bibi Poh memberi nasehat kepada kami.


Sekarang kami dibuat bungkam oleh pernyataan tersebut. Benar juga kata Bibi Poh. Target kami, yaitu Raksasa Bayangan pasti akan lebih kuat dibanding Robirmal ini. Kalau menghadapi musuh yang dibawahnya saja kami ragu-ragu, bagaimana kita akan menghadapi Raksasa bayangan?


"Aku akan tetap pada pendirianku. Aku akan melawan mereka siap tidak siap, kita harus bekorban," ucap Jasmine tiba-tiba.


"Aku ikut denganmu." Aku mendukungnya.


"Aku juga!" Ken ikut mendukung.


"Aku juga ikut dengan kalian. Tidak mungkin dan tidak akan kubiarkan kalian bertarung tanpaku." kata Flash dengan cepat.


"Kalau begitu pergilah. Temukan dan tuntaskan ujiannya." kata Bibi Poh dengan tersenyum.


"Baiklah, kami permisi dulu, Bibi! Jaga kesehatanmu selalu karena setelah menyelesaikan ujian, kami akan lansung pergi melanjutkan misi." pamit Hama.


"Siapa yang menyuruhmu untuk ikut dengan mereka, Hama? Apakah kau tidak mau berbincang sedikit dengan Bibi sekaligus ibu kesayanganmu ini?"


"Tapi bagaimana dengan mereka?" tanya Hama.


"Kau akan melakukan apa bersama mereka? Bukankah kau hanya menonton saja? Lebih baik kau duduk disini bersamaku. Itu ujian mereka." kata Bibi Poh masih dengan tersenyum.


"Kau disini saja, Hama. Benar, apa yang dikatakan Bibi Poh!" seru Flash.


"Baiklah, jika itu mau kalian." kata Hama pasrah.


"Lalu bagaimana kalian akan mengetahui lokasi Sungai Pas?" tanya Hama lagi.


"Tenang saja, kami akan mencoba bergaul dan bertanya dengan warga sekitar. Itu mudah!" kata Ken.


Akhirnya kami keluar dari gua itu, meninggalkan Hama dan juga Bibi Poh yang masih memandang kami pergi. Saat kami baru saja berjalan dua meter, ada sebuah suara memeringatiku. "Berhati-hatilah! Ada sesuatu yang bersemayam didalam tubuhmu. Jangan sampai terpengaruh! Jangan!"


Itu suara Bibi Poh! Astaga! Telepati? Bibi Poh menelepati diriku. Tapi bagaimana dia bisa mengetahui kalau memang ada sesuatu didalam tubuhku? Bibi Poh memang misterius.