Jungle Girl Adventure

Jungle Girl Adventure
Mencari Jasmine



Diantara kita bertiga yang paling heboh menyerukan nama Jasmine adalah Flash. Entahlah, mungkin dia merasa bersalah karena telah memilih meninggalkan Jasmine daripadamencarinya terlebih dahulu. Ia berjalan sangat cepat sekali. Aku dan Ken hampir tidak bisa mensejajarkan langkah. Padahal yang biasanya berjalan lambat adalah


Flash, sekarang malah dia yang berjalan cepat seperti mobil balap super.


Makin lama langkah kaki Flash semakin cepat. Ia tidak lagi seperti berjalan tetapi setengah berlari mengejar. Kami


berdua yang tertinggal jauh dibelakang akhirnya juga ikut berlari menyusulFlash. Teriakan demi teriakan yang Flash keluarkan juga semakin keras. Suaranya menggema di tengah-tengah hutan yang semakin dalam ini.


“Apakah dia benar-benar, Flash?” tanya Ken setengah berbisik kepadaku yang berada disebelahnya.


“Jika kau saja yang sudah berteman dengannya selama bertahun-tahun tidak tau, bagaimana aku yang baru berteman dengannya selama beberapa bulan akan tau?” Aku memutar kedua bola mataku sembari menstabilkan nafas yang semakin tidak teratur.


 “Sejak kapan dia bisa berlari secepat itu? Apakah ia kerasukan roh?” Ken berbicara sendiri memandang Flash yang sudah semakin jauh.


Dan perkataannya itu membuat langkahku terhenti sejenak. Kerasukan roh? Hal ini membuatku teringat akan sesuatu yang berada dalam tubuhku. Apakah yang ada dalam tubuhku ini juga roh? Pikiran itu terus mengusikku. Terlebih aku baru menyadari bahwa keanehan dalam diriku terjadi setelah kami semua meninggalkan Sumur Perak dan mengunjungi Desa Purba ilusi.


“Qlessie! Apa ada masalah?” tanya Ken yang memecah lamunanku.


“Eh, bukan apa-apa. Astaga!! Dia sudah sampai sejauh itu? Ayo cepat kita susul, Ken!” seruku ketika aku melihat Flash sudah sangat kecil atau dengan kata lain dia telah menjauh dan hampir menghilang dari pandangan.


“Kenapa kau tadi berhenti?” tanya Ken lagi yang sekarang tengah berlari kecil disampingku.


“Tidak, hanya kakiku yang rasanya seperti kemasukan kerikil.” Aku mengarang jawaban seadanya.


“Kemasukan kerikil? Sini coba kulihat!” kata Ken yang mau menunduk untuk menyentuh kakiku. Aku terkejut dengan tindakannya dan segera menolak.


“Ah, tadi kerikilnya sudah aku keluarkan. Kau tidak perlu seperti itu. Lebih baik kita kembali fokus untuk mencari


Jasmine. Gara-gara tingkah anak satu itu yang berubah drastis kita jadi kehilangan fokus seperti ini.”


Ken kembali menegakkan badannya dan tertawa kecil. Setelah itu kami berlari lagi menyusul Flash yang juga sudah semakin jauh. Walaupun begitu terjadi kecanggungan diantara kami berdua.  Ken terlihat salah tingkah yang juga membuat aku menjadi gagal fokus. Aku hampir terjatuh berkali-kali karena tidak melihat ada sebongkah batu didepan. Karena melihatku yang juga salah tingkah, Ken menyunggingkan senyum kecil dan akhirnya setiap aku hampir tersandung batu, ia menyingkirkan batu-batu itu dengan kekuatannya.


“JASMINEE!!! KAU DIMANA? JASMINEE!!” Flash berteriak lebih kencang lagi.


“JASMINEE!” Aku juga ikut berteriak


“JASMINEE!!” Ken juga berteriak tidak kalah kencangnya.


Napasku tersengal. Begitu juga dengan Ken. Tetapi karena dia laki-laki jadi tidak seberapa kelihatan. Sedangkan Flash sedetik pun dia tidak berhenti menyerukan nama Jasmine. Aku mulai curiga apa Flash menaruh rasa pada Jasmine? Atau dia memang benar-benar merasa bersalah? Tapi ini bukan Flash yang kami kenal. Jika ia merasa bersalah dia tidak akan sepanik ini, malah dia biasanya jauh lebih santai seolah semua hal akan benar baik-baik saja.


CTARRR!!!


Suara seperti petir terdengar disekitar kami setelah Aku dan Ken kembali berhasil melangkah disamping Flash. Suaranya seperti ada seseorang yang sedang bertarung. Kami bertiga terdiam mencari sumber suara kegaduhan itu.


CTAAARRRR!!!


Suara kegaduhan itu kembali terdengar, kali ini lebih kencang dari yang sebelumnya. Dan suara itu berasal dari arah utara. Tanpa diberitahu pun, kami bertiga dengan cepat berlari kearah suara kegaduhan itu berasal. Ada firasat dalam hati kami yang mengatakan bahwa itu adalah Jasmine yang sedang bertarung dan ia sedang membutuhkan pertolongan.


Dan benar saja. Saat kami semakin dekat dengan suara-suara itu kami melihat sosok Jasmine sedang melawan delapan ekor singa yang kelaparan. Singa-singa itu mengaum buas, hendak menerkam Jasmine. Jasmine melawan singa-singa itu dengan kewalahan. Lebih tepatnya dia sama sekali tidak melawan, tetapi melindungi dirinya sendiri dengan sinar api berputar miliknya.


Setiap salah satu singa mengenai sinar api berputar yang menyelimuti tubuhnya itu singa itu akan tersengat panas dari sinar api tersebut. Suara tersengatnya seperti petir, dan itulah suara yang kami bertiga dengar tadi. Sepertinya Jasmine menemukan kekuatan baru dalam tubuhnya.


Melihat itu, Flash juga dengan cepatbertindak untuk menolong Jasmine. Mungkin otaknya lagi bekerja jadi dia dengan mudah berpikir untuk menggunakan batu sebagai senjata untuk melawan singa-singa itu. Ia melihat batu besar yang berada disamping kanannya. Flash mengeluarkan angin dan mengangkat batu itu kemudian melemparkannya ke singa yang berada paling dekat dengannya.


Singa itu merupakan singa biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun. Jadi dengan mudah dia ambruk ke tanah dan kesulitan berdiri karena tubuhnya yang terbilang cukup besar.


“Ken! Buatkan aku batu lagi!” seru Flash kepada Ken. Ken yang mendengar itu segera melakukan apa yang Flash minta.


Sedangkan aku menghampiri Jasmine dan membantunya membuat tameng.


“Terima kasih, Qlessie.” ujar Jasmine lirih.


Flash juga sepertinya sempat berpikir sebelum menyerang mereka dengan angin. Angin malah akan membuat singa-singa itu semakin marah. Terlebih para singa itu belum menyadari kehadiran kami. Menyerangnya dengan angin akan memperburuk masalah.


Flash dan Ken bekerja sama dengan sangat kompak. Ken terus membuat batu dan Flash dengan seluruh kekuatannya melemparkan batu-batu itu kepada para singa yang masih tersisa. Singa-singa yang masih


belum menyadari apa yang sedang terjadi juga dengan cepat tumbang ke tanah. Singa-singa itu memang tidak bisa berdiri, badan mereka terlalu besar.


Merasa situasi sudah aman, Aku dan juga Jasmine melepas pertahanan masing-masing. Tersisa dua singa lagi yang belum tumbang. Satu diantara kedua singa itu rupanya menyadari kesempatan emas yang dimiliki. Melihat sudah tidak ada lagi pertahanan singa itu yang baru saja sadar dari kenyataan segera menyerang kami berdua.


Beruntungnya aku dengan cepat merasakan pergerakan singa tersebut dan mengeluarkan dentuman es kearahnya sehingga ia menjadi es. Singa yang lain juga sudah berhasil dikalahkan oleh Flash. Ketujuh singa tersebut tergeletak di tanah dengan tak berdaya. Mereka tidak mati, hanya saja kesulitan berdiri dan itu menjadi beban untuk mereka semua.


Flash menghampiri Jasmine dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti.


“Dasar payah! Kau yang mengutukku akan diserang hewan buas. Buktinya kau sendiri yang diserang.” Ujar Flash dengan ketus.


“Ooo… jadi sekarang kau menyalahkanku? Kalau kau tidak mengeluh ini itu, aku juga tidak akan meninggalkanmu. Ini semua salahmu!” sahut Jasmine tidak kalah ketusnya.


“Ya, ya, ya! Aku memang yang salah! Tapi kan aku sudah minta maaf. Kau saja yang tidak mau memaafkan. Apa susahnya sih menahan amarahmu sebentar saja? Jangan sedikit-sedikit jutek, sedikit-dikit marah.” Flash menaikkan intonasi suaranya.


“Kau menyalahkan sifatku sekarang? Harusnya kau yang peka! Kalau sudah tau sifatku seperti itu ya jangan berulah!” Jasmine mendengus kesal.


“Sudah, sudah! Jangan tengkar terus! Semuanya salah, semuanya benar! Sudah! Pertengkaran ditutup. Tok… tok… tok…” Ken mencoba bergurau.


“Gak ada yang benar, gak ada yang salah!” seru Jasmine dan Flash hampir bersamaan, membenarkan ucapan Ken.


“Ya… ya… ya sudah! Kalau sudah tau gitu ya sudah. Tidak usah kalian perpanjang. Lebih baik kita diskusikan petunjuk itu.” Ken beralih ke topik seriusnya.


“Petunjuk apa?” Jasmine bertanya.


“Petunjuk yang ditemukan Flash.” Aku yang menjawab


“Dimana?” Jasmine mengajukan pertanyaan kepada Flash.


“Di bawah pohon tempatku duduk tadi.” Flash menjawab dengan menyengir.


“Apa isi petunjuknya?” Jasmine bertanya lagi kepada Ken setelah ia memputar kedua bola matanya.


“Ini…bacalah!” Aku menyodorkan kertas yang sudah menguning tersebut kepada Jasmine.


        Siapakah dia?


       Siapa yang membuat sang Putri mati?


       Apakah ada yang mau membantu?


       Seandainya ada orang yang rela mengambil lima buah saja,


       Dan seandainya ada orang yang ingin bertemu dengan Raja


       Seandainya jika ada orang yang membuatnya menghilang,


       Maka sang surya yang berada diatas langit tidak lagi bewarna


       kuning, melainkan menyatu dengan langit.


“Masalah yang kita temukan adalah taman bunga yang bunga-bunganya layu dan tak terawat. Kami menafsirkan bahwa sang Putri yang diceritakan disini adalah bunga-bunga tersebut. Dan Raja adalah Raja Bunga. Apa kau mengetahui sesuatu tentang hal ini?” Aku menjelaskan.


“Emm…tidak! Tapi tadi aku tidak sengaja melihat ada sebuah bunga yang besar sedang bergerak. Diatas sana! Tepat sebelum singa-singa itu mengepungku….” Jasmine menunjuk sebuah tebing yang berada diatas kami.