
Gumpalan es yang awalnya hanya sebesar batu perlahan-lahan mulai berubah menjadi monster salju raksasa. Monster itu separuh badannya diselimuti salju, sedangkan mata, hidung, mulut, telinga, dan jari-jari tangan maupun kakinya berwujud es.
Monster itu sangat tinggi dan juga besar, tingginya mengalahkan tinggi pohon kelapa di dunia kami, besarnya mengalahkan monster yang pernah dibuat Elsa dalam film Frozen.
Monster itu meraum kencang dan merobohkan semua pohon yang ia lihat. Dan begitu ia melihat kami, raumannya menjadi semakin kencang hingga akhirnya menimbulkan angin yang kencang pula.
Flash menahan angin yang besar itu dengan tangannya, tetapi sama sepertiku tadi ia kewalahan dan akhirnya ia hampir terbawa angin tersebut. Untung saja Ken menahan tangannya dan menyuruhnya untuk berhenti.
"Flash! Sudah lepaskan tanganmu itu! Percuma kau menahannya dengan sekuat tenanga, angin itu malah akan membawamu terbang nantinya!"
"Ck...!" geram Flash. Kemudian ia melepaskan tangannya dan turun sebelum ia semakin terbawa angin. "Terus bagaiman sekarang? Bagimana cara kita melawan monster itu?"
"Emm.....Hal yang membuat dia takut apa?" tanya Ken.
"Kurasa panas!" kataku.
"Mungkin...Kita coba saja! Jasmine, kirimkan energi panas ke arahnya!"perintah Ken.
Jasmine mengangguk dan segera melakukan perintah Ken. Monster itu berhenti karena merasakan panas di sekitarnya, sedetik kemudian mulutnya yang membuat ia kelihatan datar berubah menjadi sebuah senyum yang bagian ujungnya melekuk kebawah.
"Bagus! Untuk kesekian kalinya cara kita berhasil!" ucap Flash sembari memukul telapak tangannya.
Monster itu perlahan-lahan mulai meleleh. Mata, hidung, telinga, mulut yang sebelumnya menghiasi wajahnya jatuh kebawah berserakan, begitu juga dengan jari-jari tangan dan kakinya. Semua bagian tubuhnya yang terbuat dari es jatuh kebawah dan meleleh menjadi air.
Salju-salju di tubuhnya juga mulai berguguran. Tetapi kejadian yang tidak diinginkan oleh kami muncul secara tiba-tiba. Dari arah berlawanan muncul monster salju lainnya yang tidak kalah besar dari yang sedang kami hadapi sekarang. Ia merobohkan pohon-pohon di sekitarnya dan meraum kencang persis seperti monster yang sedang kami hadapi saat ini. Rupanya serigala itu membuat monster salju lainnya untuk kami. Ia tau energi kami sudah terkuras habis saat melawannya tadi. Benar-benar serigala licik!
"Hei, apa-apaan ini? Gak adil! Kita hanya berlima tapi disuruh melawan dua monster sekaligus!" Flash menggerutu.
"Ya tidak ada jalan lain! Mau tidak mau kita harus melawan keduanya! Lagipula monster yang pertama sudah berhasil kita kalahkan! Jasmine, kau lelehkan monster yang baru!" kata Ken.
"Tapi dia belum sepenuhnya meleleh." kata Jasmine.
"Biarkan saja! Dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan tubuh seperti itu!" kata Ken dan Jasmine pun lansung menghentikan aktifitasnya untuk melelehkan monster itu.
"Hama, apa kau tidak tau tentang monster ini? Apa ada cara untuk mengalahkannya?" tanyaku.
"Aku hanya tau kalau monster ini sangat sulit untuk dikalahkan! Dia sangat kuat!" balas Hama.
"Sulit untuk dikalahkan? Yang benar saja! Buktinya terkena energi panas kecil seperti itu dia lansung meleleh!" cemoh Flash.
"Energi panas kecil katamu?" Jasmine melotot.
"Iya! Kenapa?"
"Energi panas paling kecil pun tetap saja membutuhkan tenaga yang besar tau! Intinya sama aja, mau kecil apa mau besar semuanya menguras hampir separuh tenaga!" kata Jasmine.
"Oh!" gumam Flash.
Jasmine kali ini menyerang monster yang sedang meraum dan merobohkan banyak pohon itu. Tapi baru setengah jalan melelehkannya, hal lain pun datang mengejutkan kami lagi. Monster yang sebelumnya kami kalahkan itu perlahan-lahan membentuk tubuhnya kembali seperti sedia kala.
"Apalagi sekarang?" gerutu Flash.
"Jasmine akan kewalahan bila melelehkan keduanya sekaligus!" cemasku.
"Ken, apa kau punya solusinya?" tanya Flash.
Ken menggelengkan kepalanya. Dia sama bingungnya dengan kami sekarang.
"Hama?" tanyaku.
"Tenang saja! Aku bisa bertahan kok!" ucap Jasmine ditengah kefokusannya melelehkan dua monster itu sekaligus.
Tiga menit telah berlalu, dan Jasmine mulai kehabisan nafas karena kelelahan. Andai saja aku bisa melelehkan es juga. Aku ingin membantunya. Tapi.....Bukankah seharusnya bisa? Jika aku bisa membuat es maka aku bisa melelehkannya juga kan? Sama halnya dengan Jasmine yang bisa membuat dan memadamkan api.
Tapi bagaimana cara melakukannya? Master Geor belum pernah mengajarkanku tentang itu. Tapi Jasmine juga tidak pernah diajarkan Master Geor tentang bagaimana caranya memadamkan api, dia malah sudah bisa di hari pertama latihan. Hemm.....
Apakah aku bisa melakukannya? Wajah Jasmine semakin memerah karena menahan rasa lelah, juga nafasnya yang semakin tidak teratur. Kemudian aku teringat kembali perkataan Master Geor di hari pertama latihan waktu itu "Baiklah! Kunci untuk mengendalikan kekuatan adalah kalian harus mengendalikan pikiran! Biarkan pikiran kalian jernih dan tenang saat mengendalikan kekuatan!"
Mengendalikan pikiran? Biarkan pikiran itu jernih dan tenang? Aku menghembuskan nafasku perlahan dan membiarkan pikiranku tenang. Aku membayangkan sebuah energi besar mengalir dalam tubuhku kemudian merambat hingga tangan kemudian menyusul jari jemariku dan.....WUSHH!
Aku mulai merasakan kehangatan dan kehangatan itu kukeluarkan perlahan-lahan dari tangan dan kuarahkan ke monster di sebelah kanan. Kalian tau apa yang terjadi? Ya.....AKU BERHASIL!
Monster itu semakin cepat meleleh dan Jasmine yang sebenarnya sudah mau pingsan kembali menjadi semangat karena separuh bebannya terangkat. Ken dan Flash yang berdiri tidak jauh dariku pun sama terkejutnya melihatku bisa melelehkan tubuh monster itu.
"Qlessie, bagaimana...?" kata Jasmine bingung sekaligus senang.
"Kau urus monster yang satunya, yang satu ini ada dalam genggamanku sekarang!"
"Oh...Okeh!"
Monster itu meleleh dan meleleh, dan hampir sedikit lagi aku dan Jasmine akan melelehkan seluruhnya, tiba-tiba mereka hilang bagai debu. Seperti ada yang menekan sebuah tombol...
"Kemana perginya?" tanyaku yang masih terkejut.
"Gak mungkin mereka tiba-tiba hilang begitu saja tanpa sebab!" tambah Jasmine.
"Mungkin saja! Hanya ada satu kemungkinan, serigala itu telah merubah warna tubuhnya kembali!" kata Hama
Kami semua pun menoleh ke belakang, dan benar saja serigala itu telah merubah warna tubuhnya menjadi ungu. Dan dia sangat manis...Matanya bulat seperti bulan purnama, mulut besar yang berubah menjadi imut, dan masih banyak yang membuat ia sangat lucu di mata kami.
"Lucunyaa...!" ucapku dan Jasmine, sedangkan Ken dan Flash hanya mengangguk-angguk setuju karena akan terlalu norak bila menyebut kata "lucunya..."
"Jangan terbawa pengaruhnya, kalian bisa terhipnotis nanti!" kata Hama memperingatkan.
Tetapi tidak ada dari kami yang memalingkan wajahnya dari serigala itu, kami sudah terbawa dalam pengaruhnya. Mataku seolah-olah berputar, berputar, dan berputar. Aku tidak lagi bisa merasakan keadaan disekitarku, pandanganku hanya serigala, serigala, dan serigala yang manis itu.
"Teman-teman?" panggil Hama.
Tetapi lagi-lagi tidak ada dari kami yang mendengarkan.
"Gawat! Mereka sudah terhipnotis! Aduhh!"
Hama tidak tau apa yang harus ia lakukan, akhirnya dengan terpaksa ia menarik lengan kami satu persatu hingga akhirnya kami tersadar dan kembali ke kenyataan.
"Huuh! Apa yang terjadi? "tanya Jasmine.
"Kalian jangan melihat mata serigala dalam mode ini! Kalian bisa terhipnotis oleh tingkah manisnya!"
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Flash.
"Kita hanya tinggal menunggu selama 15 menit! Biarkan saja serigala itu bertingkah semaunya, kalian jangan hiraukan!"
"Hanya berdiri? Tidak melakukan apapun?" tanya Flash sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, tatap ke bawah! Jangan ada yang melihat serigala itu sampai 15 menit kedepan!" kata Hama dengan sabar.
Kami semua pun menatap kebawah sesuai perintah Hama. Akan tetapi menunduk seperti ini dan hanya berdiam diri sangat melelahkan daripada berjalan puluhan kilometer. Leher sakit, kaki pegal. Emmm... Hanya 15 menit kan? Tapi kenapa 15 menit terasa seperti satu jam? Rasanya belum sampai 5 menit mami menunduk tapi leher belakang kami sudah sangat sakit. 15 menit kedepan akan menjadi saat-saat yang susah bagi kami berempat kecuali Hama tentunya. Sangat beruntung menjadi Hama karena memiliki fisik yang kuat dan tidak mudah lelah seperti kami.