
“Angin terbakar! Apakah kalian orangnya?”
Pria berbadan kurus tersebut menyapa kami. Kami terdiam selama beberapa saat, masih bertanya-tanya darimana munculnya pria tersebut. Dan kenapa dia menyebutkan angin terbakar?
“O..orang apa?” tanya Flash dengan lugu.
Pria itu tertawa kecil mendengar pertanyaan Flash.
“Maksudku, apakah kalian Satria generasi ini?”
“Kau Satria?” celetuk Flash tiba-tiba.
“Angin terbakar! Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, tetapi sudah bertanya balik. Baiklah, ya aku Satria. Satria angin, seribu tahun yang lalu.” balas pria itu dengan nada dibuat ketus.
Kami semua memandang pria itu dengan tatapan takjub. Tidak dapat dihitung betapa beruntungnya kami sekarang. Bertemu dengan Satria sebelum kami itu sungguh hal yang luar biasa.
“Kenapa kalian hanya diam? Berapa kali aku harus mengulangi pertanyaan tersebut? Apakah kalian Satria?” nada bicara pria itu mulai meninggi.
“Ya, kami Satria pada generasi ini.” jawab Flash cepat.
“Sungguh kehormatan besar aku bisa bertemu dengan kalian. Siapa nama kalian? Kalau kau pasti sama denganku bukan?” ujar pria itu lagi yang ditujukan kepada Flash.
“Ya…..Namaku Flash dan itu Ken, Jasmine, dan Qlessie.”
“Siapa musuh terbesar kalian? Maksudku kalian akan melawan siapa?”
“Raksasa bayangan.” kali ini Ken yang menjawab,
“Raksasa bayangan?”
Kami berempat mengangguk.
“Hemm…Setauku sejak seribu tahun yang lalu cerita tentang Raksasa bayangan ini sudah sangat melegenda di kalangan penduduk Dunia Elemen. Bahkan jauh sebelum itu. Kabarnya akan ada yang membebaskannya bukan? Dan kalian sedang mencegah itu terjadi dengan mengikuti ujian di Hutan Misteri ini lalu mendapatkan jawabannya dari Kitab segala bentuk?” ucap Pria itu, menebak.
“Ya, kau benar!” seru Flash antusias.
Terjadi keheningan tidak mendasar diantara kami semua setelah itu. Hama yang menatap kejadian ini dengan tenang, Aku dan Jasmine yang masih menatap bingung, Ken sama seperti Flash antusias melihat pria tua didepan kami ini. Atau lebih tepatnya, Satria.
“Oh! Hahaha! Aku lupa mengenalkan namaku. Tart! Panggil aku Tart!” ujar pria tua itu ketika menyadari kecangunggan diantara kami.
“Hanya Tart?” tanya Jasmine.
“Orang-orang pada zaman dulu tidak pernah pusing dalam mengambil nama. Hanya satu suku kata, selesai. Namanya juga tidak memiliki arti, hanya mengambil nama yang menurut mereka bagus untuk diberikan kepada anaknya.”
“Apakah kau ingin ikut bersama kami?” tanyaku ragu-ragu.
“Ikut?” Tart menaikkan sebelah alisnya.
“Hemmm…..Kalau soal mengajarkan kalian beberapa teknik, maaf aku tidak bisa melakukannya. Kekuatan setiap Satria berbeda-beda. Jangan mengandalkan teknik orang lain, teknik-teknik hebat apapun itu semuanya berasal dari diri kalian sendiri. Jangan salah memahaminya. Kalian belajar teknik dari tokoh dunia paling hebat sekalipun, kalian tidak akan bisa menyamakan kekuatan kalian dengannya walaupun jenis teknik yang digunakannya sama.”
“Tapi kalau soal menceritakan pengalaman-pengalamanku kepada kalian, mungkin aku bisa menceritakan sedikit.
Ayolah, otak pria tua ini sudah tidak sebagus dulu, entah aku bisa mengingat semuanya atau tidak. Semoga saja ini berguna untuk kalian. Ah! Aku pasti menganggu perjalanan kalian ya? Bagaimana kalau aku menceritakannya sambil kita berjalan?” ujar Tart lagi.
“Tentu, itu lebih baik daripada menunda perjalanan.” Jasmine yang menjawab.
Kami melanjutkan perjalanan, kami pikir Tart akan berjalan disamping kami lalu bercerita seperti Hama jika ia melakukan hal yang sama. Nyatanya, Tart kembali berubah menjadi angin dan bercerita dalam wujud itu. Anginnya sedang, hanya kami berlima yang dapat mendengar dan merasakannya.
“Coba saja aku juga bisa berubah menjadi angin, pasti seru.” gumam Flash tanpa sadar.
“Kau bisa mempelajarinya kalau kau mau.” kata Tart dalam wujud angin.
“Sungguh?”
“Yang pasti bukan dari aku.” Tart melanjutkan perkataannya. Flash berdecak kesal sekaligus kecewa. Tidak ada yang tertawa, ini semua karena kehadiran Tart.
“Hemm……Coba kuingat-ingat lagi memori itu. Awal aku memulai petualangan seperti kalian adalah ketika aku dan kawan-kawanku melawan Kaum Siluman yang memang pada waktu itu sangat meresahkan penduduk elemen. Pak Geor, selaku guru kami dululah yang mempertemukan kami semua. Pria tua itu juga tidak kalah pintarnya, dia mempersatukan kami dengan menjadi guru di salah satu sekolah lalu menaruh kami semua di kelas yang sama. Cerdas bukan? Zaman itu sekolah belum wajib. Hanya anak laki-laki saja yang boleh sekolah, sedangkan perempuan bekerja menjadi tukang masak, tukang nyapu, dan melakukan pekerjaan kasar.”
“Satria pada zamanku terdiri dari empat orang. Laki-laki semua. Tidak ada yang perempuan. Ada Zet pemilik elemen api, Kurt pemilik elemen batu, Hob pemilik elemen es, dan aku, Tart pemilik elemen angin. Sama seperti kalian, petualangan kami dimulai ketika memasuki hutan ini. Mendapatkan petunjuk dari sebuah perkamen tua di perpustakaan tua milik Pak Geor. Kami berhasil menyelesaikan semua ujian dan mendapatkan jawaban dari
Kitab Segala Bentuk. Sebuah kekuatan baru selalu muncul ketika kita mendapatkan sebuah pelajaran dari hutan ini. Sama seperti ketika kita membaca buku, kita mengerti isinya, maka kita mendapatkan ilmu baru didalam kepala. Nah, ketika kalian berhasil mendalami sesuatu yang baru, baik itu tentang ajaran hidup, gaya bertarung, teknik langkah, atau perbuatan baik yang sudah kalian lakukan dengan ikhlas maka sebuah kekuatan yang hebat muncul dalam diri kalian.”
“Kalian saja yang tidak menyadarinya. Kutebak saat melewati rintangan atau ujian sebelumnya kalian hanya menggunakan teknik yang selama ini kalian pelajari dan ketahui kan? Pernahkah kalian mencoba sesuatu yang baru? Mencoba sesuatu itu bukan sok tau, melainkan membuka harapan baru yang lain. Dengan mencoba kita akan tau hal lain yang tidak kita ketahui. Walaupun hasilnya berbeda dengan yang kita pikirkan, setidaknya kita tau kan kalau itu percuma, dan tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. Berusaha boleh, tetapi jika hanya fokus pada satu usaha, buat apa? Padahal kita tau bahwa itu tidak bisa dilakukan. Buang-buang waktu! Lebih baik, cari pintu yang lain, cari usaha yang lain, cari harapan yang lain. Itu akan lebih berguna.”
“Setiap waktu yang kulewati, tiada hari tanpa kekuatan baru. Aku selalu medalami hal-hal baru yang bahkan teman-temanku pun sulit memahami maksudnya. Hal paling sederhana dan kecil. Kata-kata itulah yang selalu aku dengar hingga saat ini. Memikirkan kemungkinan paling sederhana terlebih dahulu, baru memikirkan kemungkinan yang susah. Karena inilah kesalahan orang-orang, mereka selalu berimajinasi tinggi dan memikirkan solusi-solusi hebat yang membuat mereka menjadi dikagumi karena kecerdasan mereka. Padahal ketika mereka menemukannya, justru jawabannya adalah yang sudah diketahui semua orang.”
“Aku berhasil mengumpulkan teknik-teknik hebat hingga tak terhitung jumlahnya. Contohnya, seperti sekarang ini. Aku menyatu dengan angin yang kubuat. Jika kita pikirkan caranya memang susah, tetapi ketika kita mencoba dan menjalaninya itu terlihat mudah dan menyenangkan untuk dilakukan. Teknik hebat lainnya adalah badai angin.Badai angin yang kubuat pernah mencapai ratusan juta kilometer di dunia manusia. Itu sungguh badai terbesar yang pernah kubuat. Kau juga bisa melakukannya, Flash! Kalau kau mau belajar, pastinya.”
Flash mengangguk, hendak bertanya sesuatu tapi Tart kembali melanjutkan ceritanya.
“Hemm……Apalagi ya yang bisa aku bagikan dengan kalian? Melawan musuh berkekuatan hebat apalagi untuk yang pertama kalinya pasti membuat kalian merasa gugup bukan?”
Kami berempat mengangguk dengan serempak, kecuali Hama yang hanya menonton dan mendengarkan percakapan kami dengan saksama, tanpa berkomentar sedikitpun. Tentu saja kami gugup. Beberapa bulan lalu kami hanyalah seorang remaja biasa yang menjalani kehidupan normal bersama teman-teman yang tidak memiliki keistimewaan tertentu. Sekarang? Kami harus mencari solusi untuk mencegah terbangunnya Raksasa Bayangan? Apalagi jika saat kami berhasil menemukan solusinya, di dunia kami sana Tula-Cula telah berhasil membebaskan Raksasa Bayangan. Siapa yang tidak gugup?
“Aku tau. Aku juga merasakannya saat pertama kali berada di hutan ini. Zet, Kurt, dan Hob juga sama khawatirnya denganku. Seperti kataku tadi, demi semua orang, kami mencoba dan berusaha menjalaninya. Hasilnya tidak seburuk yang kita pikirkan. Kita justru mendapatkan pengalaman seru yang tidak bisa kita lupakan hingga dini hari. Pesanku untuk semuanya. Jangan terburu-buru dalam menjalani setiap moment. Nikmati waktu yang diberikan selagi kalian memilikinya, jangan pernah menyia-nyiakan waktu tersebut. Karena bisa saja, waktu itu diambil kembali oleh yang kuasa sebelum kita benar-benar dapat merasakannya. Waktu berjalan begitu cepat saat kita menikmatinya, tetapi jika kita malas atau tidak suka dengan moment tersebut, maka waktu akan berjalan
dengan sangat lambat. Lambatnya mengalahkan jalan seekor siput. Jangan sampai moment-moment itu menjadi kenangan buruk bagi kita. Moment yang seharusnya indah ketika dikenang menjadi kenangan buruk sepanjang hidup kita. Jangan sampai!”
Apa yang Tart maksud? Moment indah menjadi kenangan buruk? Apakah itu memang benar-benar bisa terjadi? Sejenak aku memikirkan kaliamat terakhir yang diucapkan Bibi Poh beberapa waktu lalu. “Qlessie, ingat pesan ini baik-baik. Jangan terpengaruh! Sesuatu yang berada dalam tubuhmu itu bisa melukaimu bahkan teman-temanmu. Mungkin awalnya dia hanya mengontrol tubuhmu, tetapi selangkah demi selangkah dia akan mempengaruhimu untuk melukai orang-orang yang berada di sekitarmu”
“Tidak mengapa jika kalian kalah. Kalah bukan berarti gagal. Lebih baik kalah bersama-sama, daripada merasakan kemenangan dengan rasa kesepian.” ujar Tart lagi.
Flash yang hendak bertanya jadi mengurungkan niatnya ketika mendengar kata-kata Tart. Kami bertiga, Aku, Jasmine, dan Ken juga sama. Menjadi terdiam seribu bahasa. Tidak tau bagaimana menanggapi dan apa yang harus dilakukan.